
Akhirnya, hari ulang tahun Pangeran Riana tiba. Yuki berhasil menyelesaikan Gererou tepat waktu. Meskipun tidak sebagus Gererou buatan Rena, tapi tidak buruk untuk di berikan sebagai hadiah.
Yuki sekarang mengerti kenapa orang malas membuatnya, sangat sulit dan butuh ketelatenan. Berkali-kali Yuki nyaris menyerah. Tapi ketika mengingat wajah Pangeran Riana, Dia kembali menguatkan niat untuk menyelesaikan untaiannya.
Gererou buatan Yuki dihiasi manik berwarna biru es. Persis seperti warna mata Pangeran Riana. Dingin dan gelap.
Yuki menatanya ke sebuah kotak perhiasan kecil. Di lapisi kain lembut bermotif burung murai biru. Yuki senang karena bisa menyelesaikan misinya tepat waktu. Dia bersenandung kecil sembari membungkus hadiahnya.
Namun, ketika Yuki meminta izin penjaga kamar untuk membiarkannya ke dapur istana, agar dapat membuat kue untuk Pangeran Riana. Para penjaga menolak bekerja sama. Yuki sudah berusaha meyakinkan Mereka, Tapi Mereka tidak mau melanggar perintah Pangeran Riana.
Di saat Yuki nyaris menyerah, Bangsawan Xasfir datang karena di perintahkan Pangeran mengambil dokument penting di ruang kerjanya, sekaligus untuk melihat keadaan Yuki. Saat mendengar cerita Yuki, Bangsawan Xasfir mengernyitkan dahinya merasa keberatan. "Aku tidak menyarankan Putri untuk melakukannya, tapi jika Putri bersikeras Aku bisa membantu Putri dengan menjaminkan diriku pada para penjaga"
"Benarkah ?" Tanya Yuki tidak percaya. Secercah harapan muncul lagi di matanya.
"Putri hanya akan membuat masakan saja kan ?" Ujar Bangsawan Xasfir menekankan permintaan Yuki.
Yuki menganggukan kepala serius. "Aku tidak akan mengkhianati kepercayaanmu"
"Baiklah, tapi Putri harus ingat. Riana tidak akan suka dengan apa yang Putri lakukan. Dia bisa marah besar. Apa Putri sudah siap dengan kemungkinan itu ?"
"Aku hanya berusaha membalas budi dengan sesuatu yang bisa Aku lakukan untuknya. Setidaknya Aku telah melakukan apa yang seharusnya ku lakukan. Jika Dia tidak menerima itu urusan Dia" jawab Yuki kalem.
Bangsawan Xasfir menemani Yuki ke dapur istana. Yuki mendapatkan semua bahan dan alat yang diinginkannya. Dalam sekejap Dia sudah sibuk untuk membuat Kue ulang tahun sederhana.
"Riana sangat beruntung gadis itu adalah Kau" kata Bangsawan Xasfir sembari berdiri di pintu. Memperhatikan Yuki membuat hiasan kue sementara bolunya sedang di panggang dalam oven.
Yuku menatap Bangsawan Xasfir dengan wajah kebingungan. Tapi Bangsawan Xasfir hanya memberikan senyum penuh arti pada Yuki.
Aroma kue yang menggugah selera menyebar di seluruh dapur istana. Bangsawan Xasfir dengan senang hati menerima tugas sebagai sesi incip-incip. Hampir dua jam lamanya Yuki berkutat di dapur.
Dia selesai menghias kue. Taburan coklat dan kenari mendominasi rasanya. Yuki juga memberikan Bangsawan Xasfir cupcake yang di buatnya. Sebagai ucapan terimakasih karena Bangsawan Xasfir mau membantu. Bangsawan Xasfir menerima kue pemberian Yuki dengan senang.
__ADS_1
"Di duniaku sana, Kami akan merayakan ulang tahun dengan meniup lilin yang di letakan di atas kue sambil membuat permohonan" jelas Yuki ketika melihat Rena tampak kebingungan saat Yuki meletakan lilin di atas kue buatannya.
"Jika di sini, Kami akan membuat bubur keberuntungan yang akan di minum orang yang berulang tahun" ujar Rena setelah Dia mengerti maksud dari lilin yang di tancapkan Yuki.
Yuki mundur beberapa langkah untuk melihat Kue yang di buatnya. Memastikan apakah bentuknya sudah bagus. Setelah puas, Kemudian Dia kembali berkata penuh pengharapan. "Semoga Pangeran mau menerima usahaku"
Yuki tidak berharap banyak, semua orang telah memperingatkan agar Yuki menghentikan niatnya. Tapi Yuki tidak mau menyerah begitu saja.
Setelah selesai membuat Kue dan membungkus kado. Yuki bergegas mandi untuk membersihkan diri. Dia berdandan rapi. Mengenakan make up tipis untuk menyembunyikan kantung matanya akibat bergadang.
Yuki duduk di dekat cendela. Rasa kantuk menyerangnya. Beberapa kali Dia menguap. Yuki menepuk pipinya untuk membantunya tersadar. Pangeran Riana belum juga kembali ke kamar. Padahal hari sudah sangat larut. Yuki menjadi khawatir Pangeran Riana memang tidak berniat kembali malam ini.
Dia mondar-mandir di dalam ruangan. Berusaha menenangkan diri.
Untungnya Pangeran Riana akhirnya kembalu ke dalam kamar ketika hari menjelang pagi. Yuki yang sudah setengah tertidur di atas meja, langsung terbangun begitu mendengar suara pintu di buka.
Pangeran Riana masuk ke ruang kerja. Yuki mengusap matanya dengan malas, duduk meringkuk di atas meja dengan menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan kepala.
"Kau sudah datang ?" Tanya Yuki sambil menegakan bahunya yang pegal, akibat terlalu lama meringkuk di atas meja.
"Sudah sangat larut. Kenapa Kau belum tidur ?"
"Aku menunggumu pulang" jawab Yuki ringan.
Pangeran Riana melepaskan jubahnya dan meletakkan di sandaran kursi. Dia memandang Yuki dengan malas. Ada sirat kesedihan di mata Pangeran Riana.
"Tidurlah" perintah Pangeran Riana singkat. Dia baru saja akan keluar kembali ketika Yuki mencekal pergelangan tangannya. Mencegah Pangeran Riana pergi.
"Tunggu dulu. Ada yang ingin ku berikan padamu" pinta Yuki mencoba membuat Pangeran Riana mendengarkannya.
"Ada apa ?. Aku sedang tidak ingin bermain-main Yuki" ujar Pangeran Riana dengan nada mengancam.
__ADS_1
"Hanya sebentar. Aku janji. Aku tidak akan menahanmu lama" bujuk Yuki kembali dengan nada memohon.
Pangeran Riana berdiri dengan tenang. Menunggu Yuki mengatakan keinginannya.
"Beri Aku lima menit saja" Yuki tidak menunggu Pangeran Riana menjawab. Dia berlari ke meja kerja tempatnya meletakan kue dan hadiah ulang tahun untuk Pangeran Riana. Dengan cekatan Dia menyalakan semua lilin di atas kue. Mengangkatnya berhati-hati mendekati Pangeran Riana.
"Selamat ulang tahun" Kata Yuki penuh semangat sembari menyodorkan kue ulang tahun di tangannya.
Braakkk
Kue ulang tahun jatuh ke lantai ketika Pangeran Riana menepisnya dari tangan Yuki. Bentuknya sudah hancur berantakan. Yuki mengerjap, terkejut dengan respon Pangeran Riana. Meskipun sudah banyak yang memperingatkannya. Yuki tidak menyangka respon Pangeran Riana benar-benar buruk.
"Apa yang Kau lakukan ?" Tanya Yuki setelah dapat menguasai diri.
"Aku tidak butuh itu semua. Untuk apa Kau melakukannya" jawab Pangeran Riana dingin.
"Aku sudah mempersiapkan dari jauh hari untuk memberimu kejutan. Apakah itu salah ?"
"Aku sudah bilang Aku tidak butuh itu semua" ulang Pangeran Riana lagi dengan wajah masam. Dia berjalan melangkahi kue ulang tahun di lantai. Seolah itu adalah seonggok sampah yang tidak berguna.
Yuki mengejarnya dari belakang. "Aku tahu Kau masih menyalahkan diri atas kematian ibumu. Tapi dengan Kau bersikap begini tidak akan bisa membuat ibumu kembali"
Pangeran Riana berbalik, menatap Yuki tajam. Dia langsung mencekal rahang Yuki kuat dengan satu tangannya. Yuki menggapai-gapai berusaha membebaskan dirinya.
"Tau apa Kau soal Ibuku" geram Pangeran Riana penuh amarah.
"Aku tidak tahu apapun soal Ratu, tapi yang ku tahu tidak ada seorang Ibu yang menyesal melahirkan anaknya. Tidak ada" kata Yuki lantang, menahan rasa sakit akibat cengkraman Pangeran Riana. "Aku pun sama sepertimu. Ayahku terbunuh karena melindungiku. Aku sangat menyesalinya. Tapi hidup harus tetap berjalan. Ayah tidak akan senang jika Aku terus bermuran durja dan menyalahkan diri"
Yuki tidak menyangka Dia mampu mengatakan semua perkataan ini. Padahal hatinya sendiri masih rapuh atas kematian Bangsawan Dalto.
__ADS_1