Morning Dew

Morning Dew
101


__ADS_3

Yuki mengusap air matanya. Kembali berusaha memindahkan pot ke dalam ruang perlindungan. Mengabaikan kenangan bersama Bangsawan Dalto yang mengalir keluar, seolah Dia masih ada di sini. Bersama Yuki. Seolah apa yang di lihatnya dalam mimpi tadi, hanyalah ilusi semu.


Praangg !!


Yuki tanpa sengaja menjatuhkan sebuah pot ketika menggeser pot yang lain di dekatnya. Dengan panik Yuki berjongkok. Memunguti tanah yang berceceran. 


"Bodoh, bukan seperti itu caranya. Kenapa Kau tidak bisa lembut seperti wanita ?" Pasti saat ini jika Bangsawan Dalto ada bersamanya. Dia akan mengolok Yuki karena telah merusak mawarnya.


Yuki tidak dapat melihat jelas karena air mata semakin mengalir deras di pipinya. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan. Mulai menangis tersedu.


Sebuah luka yang cukup dalam menggangga di dalam diri Yuki.


Rasanya menyakitkan.


Krak !


Terdengar suara ranting di pijak, di susul langkah kaki mendekat dengan cepat. Ketika Yuki mendongak, Pangeran Sera berdiri di depan Yuki. Memandang Yuki dengan tatapan sedih dan terluka.


Sejurus kemudian, Pangeran Sera berjongkok dan memeluk Yuki yang masih duduk  berlutut di tanah. 


"Jangan begini Yuki. Aku mohon.." bisik Pangeran Sera lembut di telinga Yuki. 


Yuki terisak di pelukan Pangeran Sera. "Dia sudah pergi..Aku tidak tahu harus bagaimana lagi"


Yuki memeluk mawar yang telah pecah potnya di dada. Mengabaikan duri yang menggores kulitnya. "Dia sudah pergi..mawar-mawar ini akan mati. Mereka semua akan pergi"


Tidak ada lagi yang tersisa jika semua mati. Bagaikan salju yang mencair suatu hari nanti..semua akan memudar dan tidak akan kembali.


Pangeran Sera melepaskan jubahnya dan menyelimuti Yuki yang masih menangis. Salju semakin turun dengan deras. Sebentar lagi warna musim gugur akan berubah menjadi hamparan luas berwarna putih.

__ADS_1


"Tidak akan mati jika Kita bergegas memasukkan Mereka ke dalam" ucap Pangeran Sera bersungguh-sungguh. Membuat Yuki mendongak menatapnya. "Duduklah di sana dan tenangkan pikiranmu terlebih dahulu. Setelah itu kembalilah untuk membantu. Aku akan memindahkan semua ke dalam selagi salju belum turun terlalu deras"


Pangeran Sera menuntun Yuki untuk duduk di kursi panjang yang terletak di teras. Kemudian Dia kembali sembari menyisingkan lengan bajunya dan mulai mengangkat semua pot mawar dengan telaten. Memindahkan mawar yang pot nya telah pecah sebelumnya ke pot kosong yang di temukannya. Setelah semua mawar terangkut dan tersusun rapi, Pangeran Sera menarik jaring-jaring yang telah di persiapkan Bangsawan Dalto sebelumnya untuk menutupi bagian samping ruang perlindungan. Memasang patok di tanah menguatkan jaring-jaring agar tidak bergeser.


Pangeran Sera tidak bertanga apapun mengenai kondisi Yuki. Dia cukup baik untuk berpura-pura tidak tahu apa yang Yuki alami. Dia menunggu Yuki sendiri yang bercerita. Hal ini cukup aneh mengingat Dia adalah tunangan Yuki.


Yuki bangun ketika perasaannya jauh lebih tenang. Menghampiri Pangeran Sera dan membantunya menyelesaikan pekerjaan yang tersisa. Pangeran Sera sama terampilnya dengan Bangsawan Dalto ketika mengurus bunga, berbeda dengan Yuki yang gegabah. Setelah semua selesai, salju masih turun dengan deras. Pangeran Sera berhasil membobol masuk ke dalam gubuk. Memutuskan Mereka akan kembali ketika salju telah reda.


Dia khawatir badai akan datang. Melihat dari kondisi cuaca di sekitar.


Akan berbahaya memaksakan perjalanan kembali ke sekolah dalam kondisi seperti ini.


Di dalam gubuk, di tengah ruangan ada tempat untuk membuat perapian. Pangeran Sera mengambil beberapa tumpukan kayu kering dari dalam gubuk dan mulai menyalakannya. Sementara Yuki duduk menggigil kedinginan di dekatnya.


Suasana di dalam pondok menjadi hangat. Sementara angin kencang mulai berhembus di luar. Badai datang lebih cepat dari perkiraan. Yuki dan Pangeran Sera duduk berhimpitan menggunakan selimut tebal yang Mereka temukan di dalam gubuk. Pangeran Sera mendapatkan beberapa biji ubi jalar yang tersimpan dekat kayu bakar. Dia mengambilnya dan membakarnya di perapian. Menjerang air untuk membuat teh. 


Suara ranting pohon yang di goyangkan angin terdengar bergemerisik cukup keras. 


Pangeran Sera menyeduh teh dalam cangkir besar dan memberikan pada Yuki. Kemudian Dia membalikkan ubi yang di bakarnya agar matang merata. "Aku sudah memerintahkan orang untuk mengurus jenazahnya dan memberikan pemakaman yang layak untuknya" ucap Pangeran Sera akhirnya membuyarkan lamunan Yuki.


Mendengar perkataan Pangeran Sera, Yuki sadar harapan apa yang telah di lihatnya dalam mimpi hanya sebuah kebohongan telah sirna. 


Dia tidak bisa memungkiri kematian Bangsawan Dalto lagi.


"Terimakasih" Kata Yuki tulus setelah terdiam cukup lama.


Yuki terlalu larut dalam kesedihan sehingga tidak memikirkan mengenai pemakamannya. Bangsawan Dalto sudah tidak mempunyai sanak keluarga. Tidak ada yang mau repot-repot mengurus jenazahnya karena perbuatannya sebelumnya.


Tapi Pangeran Sera telah memikirkan semuanya dan menanganinya dengan baik. Yuki merasa segan pada Pangeran Sera, Dia adalah tunangannya tapi justru membantu Yuki mengurus orang yang di cintai Yuki. 

__ADS_1


Bahkan Pangeran Sera juga tidak keberatan ketika mendengar cerita Yuki mengenai Bangsawan Dalto ketika mereka bekerja di luar tadi. Pangeran Sera mendengarkan dengan tenang dan merespon penuh rasa simpati. 


"Minumlah selagi hangat" ujar Pangeran Sera memerintah. Yuki menurut, Dia menyerumput teh di tangannya. Rasa hangat menyebar ke tubuh. 


Pangeran Sera kembali berjongkok untuk menambah kayu, agar api tetap menyala dan ruangan tetap hangat. Suara angin mengetuk-etuk kaca cendela. 


Pangeran Sera berdiri dan memasang kunci untuk menahan cendela dari hembusan angin di luar. Setelahnya Dia kembali duduk lebih dekat sembari meminum teh nya sendiri. 


"Apa rencanamu setelah ini ?" Tanya Pangeran Sera lagi.


Yuki menundukan kepala. Matanya fokus memandang teh dalam gelasnya. 


Di luar angin menderu cukup kencang. Menandakan badai telah tiba. Dari cendela, Yuki dapat melihat pemandangan sudah mulai memutih, hamparan salju memenuhi sejauh mata memandang dalam sekejap.


"Aku ingin kembali keduniaku yang lama" Kata Yuki akhirnya setelah mempertimbangkan keputusannya. 


Yuki masih menunduk. Tidak berani menatap Pangeran Sera. Yuki tahu, Pangeran Sera masih ingin menikahinya. Jadi Dia tidak mungkin bersedia mengembalikan Yuli ke dunia asalnya begitu saja.


"Beri Aku satu alasan, kenapa Aku harus membantumu kembali ke dunia itu lagi ?" Tanya Pangeran Sera akhirnya setelah Dia terdiam cukup lama.


Yuki mendongak, menatap Pangeran Sera terkejut. "Apa Pangeran bisa melakukannya ?" 


Yuki tidak memikirkan sebelumnya, Jika Pangeran Riana mempunyai pendeta sehebat Serfa yang mengawalnya. Pangeran Sera juga mempunyai Pendeta Naru yang selalu mendampinginya meski Yuki tidak pernah melihat kekuatan Pendeta Naru selama ini. Tapi bukankah Pendeta yang mendampingi Pangeran di dapat dari seleksi yang cukup ketat dan tidak sembarangan ?.


Pangeran Sera diam. Tidak menjawab. Dia mengambil kayu untuk mengorek ubi di pembakaran yang telah matang. Tapi Yuki dapat melihat, sorot mata Pangeran Sera jelas mengatakan Dia dapat melakukannya. Hanya bagaimana Yuki harus meyakinkannya untuk membantu Yuki.


Kedua rahang Pangeran Sera terkatub rapat. Matanya masih menatap lurus ke depan. 


Yuki menghela nafas, kembali menatap cangkir teh di pangkuannya seolah benda itu sangat menarik untuk dilihat. "Aku butuh waktu untuk sendiri" jawab Yuki kemudian dengan suara lirih. Nyaris tidak terdengar.

__ADS_1


__ADS_2