
Yuki menganggukan kepala mengerti.
Dia baru saja akan mengatakan sesuatu ketika sebuah suara di belakangnya menghentikan niatnya. "Sedang apa Dia di sini ?"
Saat Yuki berbalik, Putri Nadira dan teman-temannya sedang berdiri beberapa langkah dari Yuki. Memandang Yuki sinis dengan tatapan hina.
"Ada apa sampai para Putri kemari ?" Tanya Putri Magitha memandang dengan wajah polosnya. Dia bersikap seolah tidak tau situasinya.
"Kami kemari karena melihat Putri Magitha menyepi di tempat terpencil seperti ini. Jika Putri tidak keberatan Kita bisa bermain bersama dan berkumpul untuk menikmati sore yang indah ini" ajak Putri Nadira sopan.
"Terimakasih atas perhatiannya. Aku sedang bermain catur dengan Putri Yuki. Tempat yang terlalu ramai tidak cocok untuk di pakai bertanding, membuatku kurang berkonsentrasi" tolak Putri Magitha halus.
"Jika Putri senang bermain catur, Aku bisa menemani Putri bertanding" tawar seorang Putri antusias.
"Benarkah. Kalau begitu Ayo Kita bermain bersama" Putri Magitha menunjuk bangku kosong di depannya tenang.
Putri Nadira memandang muak kepada Yuki yang masih duduk di tempatnya. "Kami tidak bermain dengan Putri Yuki" ujar Putri Nadira sinis.
Yuki langsung berdiri. Dengan sopan memberi salam pada Putri Magitha yang duduk dengan tenang di tempatnya. "Kalau begitu Aku akan kembali ke kamar. Silahkan Para Putri melanjutkan aktifitas Kalian"
Putri Magitha menahan Yuki dengan mencekal tangannya. Mencegah Yuki untuk pergi. Yuki terpaksa duduk kembali. Dia memandang dengan khawatir ke arah Putri Magitha. Yuki tidak menyukai situasi yang ada.
"Kenapa ?" Tanya Putri Magitha dengan tenang kepada Putri Nadira.
"Putri Yuki telah menggunakan cara licik untuk merayu Pangeran sehingga Dia mengucapkan sumpah ksatrianya. Dia ingin menguasai Pangeran seorang diri. Melarangnya untuk menikah dengan orang lain. Kami dengar Pangeran Riana dari Garduete pun pada akhirnya melepaskan semua wanitanya karena Putri Yuki tidak menyukai keberadaan Mereka di sisi Pangeran Riana" jelas Putri Nadira sinis. "Dia juga telah menjelek-jelekkan Kami di depan Pangeran Sera sehingga Pangeran menjauhi Kami. Melihat sifat buruk Putri Yuki yang seperti itu, Kami merasa tidak pantas menjalin hubungan pertemanan dalam hal apapun bersama Putri Yuki"
"Aku bersumpah, Aku tidak pernah melakukan semua itu" ujar Yuki membantah tuduhan Putri Nadira padanya.
"Bagaimana Kami bisa percaya ?. Dulu Pangeran Sera sangat baik kepada Kami. Tetapi semenjak kedatanganmu, Pangeran mengacuhkan Kami semua. Kau wanita jahat. Pasti Kau mengguna-gunai Pangeran Sera" tuding Putri Nadira sambil menunjuk muka Yuki dengan kasar.
"Mohon maaf jika Saya bersikap lancang. Putri Yuki tidak pernah menjelek-jelekkan siapapun terutama di hadapan Pangeran Sera. Saya berani bersumpah" Bela Rena yang berdiri tenang di samping Yuki.
__ADS_1
"Diam Kau. Kau ini hanya seorang pelayan. Apa pantas Kau menyela ucapanku. Pelayan tampar budak tidak tahu diri ini"
Yuki bergegas maju menghalangi seorang pelayan yang akan menampar Rena.
"Dia pelayanmu, sudah pasti Dia membela tuannya" tuding Putri Nadira lagi dengan mata melotot tajam kepada Yuki.
"Pelayan itu berkata benar. Putri Yuki tidak pernah melakukan apapun yang Kalian tuduhkan. Dia juga tidak pernah menjelekkan Kalian di depan Kakak" ujar Putri Magitha menimpali. "Justru Kalian yang selalu bersikap kurang sopan pada Putri Yuki. Ketika Kakak menegur Kalian, bukannya menyadari kesalahan. Kalian justru menuduh Putri Yuki dengan tuduhan yang tidak berdasar. Seharusnya Kalian semua intopeksi diri. Bukan malah menyalahkan orang lain"
"Jika bukan Dia, lalu siapa yang mengadukan Kami ?" Tuntut Putri Nadira masih tidak puas.
"Aku yang memberitahu masalah ini pada Kakak"
Pangeran Arana muncul dari belakang Para Putri. Berjalan dengan tenang ke tengah, menjadi penghalang antara kelompok Yuki dan kelompok Putri Nadira.
"Aku tidak menduga seorang Pangeran dari kerajaan besar mau ikut campur mengurusi masalah sepele macam ini" cibir Putri Nadira keras.
"Kedudukan Putri Yuki sah di mata kerajaan. Apalagi sekarang Kakak telah mengucapkan sumpah ksatrianya. Secara otomatis hanya Putri Yuki yang bisa menjadi istri dan pendamping Kakak ketika Dia menaiki tahtahnya. Kalian sama sekali bersikap kurang sopan pada Putri yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari Kalian. Magitha sebagai seorang Putri Raja seharusnya Kau mengajari Mereka dengan benar" sindir Pangeran Arana balik.
Putri Magitha menghela nafas, menatap Pangeran Arana dengan perasaan bersalah. "Aku memang tidak pandai untuk bersikap sehingga Mereka sangat berani kurang ajar seperti sekarang. Maafkan Aku Kakakm sebagai tebusan kesalahan, Aku akan meminta saran kepada Ibu Ratu agar bisa mengajariku bagaimana mendidik Putri yang tidak tau adat"
Putri Nadira mengertakan giginya kesal. Dia berbalikz menghentakan kakinya sebelum melangkah pergi meninggalkan kerumunan diikuti yang lain.
Ketika semua Putri telah pergi, Putri Magitha berbalik menatap Yuki yang masih terdiam di tempatnya. "Putri jangan pikirkan omongan Mereka, Mereka hanya iri terhadap Putri sehingga bersikap tidak pantas seperti itu"
Yuki tidak menjawab. Hatinya cukup sakit. Dia tidak tahu sampai kapan bisa bertahan dengan lingkungan yang sekarang di tempatinya.
__ADS_1
Yuki sedang duduk bersandar dengan nyaman di ranjang ketika penjaga pintu mengumumkan kedatangan Pangeran Sera. Dia bergegas bangun dari posisinya dan membenahi gaun tidur yang di kenakannya.
Pangeran Sera masuk dan langsung menghampiri Yuki. Rambutnya basah, aroma sabun tercium dari tubuhnya.
"Kau masih belum tidur ?" Tanya Pangeran Sera lembut.
"Aku ingin menyelesaikan buku yang sedang ku baca. Pangeran baru saja datang ?" Sapa Yuki tenang.
"Kau tidak bisa tidur apa karena memikirkan masalah Nadira dan teman-temannya ?"
Yuki diam. Pangeran Sera menghela nafas. Dia mengulurkan tangan mengusap pipi Yuki lembut. "Aku sudah mendengar mengenai masalah hari ini. Apa Kau baik-baik saja Yuki ?" Tanyanya lagi.
Yuki tersenyum sembari mengganggukan kepalanya. Pangeran Sera menarik pinggang Yuki mendekat. Keduanya berdiri dengan jarak yang cukup dekat. Yuki mendongak dan pandangan Mereka saling bertemu. Dahi Pangeran Sera bersentuhan dengan dahi Yuki. "Maafkan Aku Yuki" bisik Pangeran Sera lirih.
Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.
Rena dan pelayan yang ada di dalam ruangan diam-diam berjalan keluar. Dalam sekejap Mereka hanya tinggal berdua di dalam kamar. Rena menutup pintu kamar dengan sangat berhati-hati.
"Aku akan menutup istana agar Mereka tidak bisa lagi datang untuk menganggumu"
Yuki menggelengkan kepala menolak. "Tidak perlu Pangeran, Jika masalah seperti ini saja Aku tidak bisa menghadapinya. Bagaimana nanti Aku bisa menghadapi masalah yang lebih besar"
"Baiklah, tapi berjanjilah Padaku satu hal. Jika nanti Kau merasa masalah ini semakin berat, Kau harus segera mengatakan padaku"
"Aku mengerti. Tapi untuk sekarang Pangeran tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja"
Pangeran Sera memeluk Yuki hangat. Yuki menyandarkan kepalanya di dada Pangeran Sera. Berusaha mencari kenyamanan dari diri Pangeran Sera.
Yuki sangat lelah. Tapi Dia berusaha bersikap tidak terjadi apapun. Dia tidak ingin terlihat lemah dan menyusahkan Pangeran Sera lebih banyak lagi.
__ADS_1