Morning Dew

Morning Dew
68


__ADS_3

"Perdana Menteri Olwrendho memutuskan mempercepat kepulangannya dan menginstruksikan kepala pelayan untuk memberi pesan kepada Raja, Sudah pasti Dia mengetahui identitasmu" ungkap Pangeran Riana menyuarakan pikiran Yuki.


Perdana Menteri Olwrendho tahu jati diri Yuki, Dia tahu seseorang mengincar darah Yuki. Jika sampai Yuki jatuh ke tangan yang salah, kekuatan itu tidak hanya membunuh Yuki, tapi juga mengancam keselamatan seluruh umat manusia.


Semua telah terjawab. Yuki merasa Dia adalah penyebab semuanya. Perasaannya menjadi tidak menentu. 


Sekarang Dia mempercayai ucapan Bangsawan Voldermont. Pembunuhan para Bangsawan adalah peralihan. Dia lah sasaran utamanya. Dialah orang yang menjadi target utama.


Nyawa Mereka adalah hiburan kecil untuk pembunuh itu.


Pangeran Riana menatap dengan ekpresi mengerti ketika Dia selesai membaca kembali berkas kasus di meja. Semua misteri sudah terjawab. Dia kini yakin seratus persen siapa dalang di balik semua kejadian ini.


Cukup mudah baginya mengetahui identitas Yuki sebagai Ciel, jika Dia bisa mendapatkan sedikit darah Yuki. Sihir hitam mampu mengenali Ciel dari bau darahnya. Tidak perlu menusuk Yuki untuk membuatnya berdarah, cukup kejadian kecil yang tidak di sengaja. Membuat Yuki mengeluarkan darah yang dapat di ambilnya ke suatu benda. 


Semua harus terlihat wajar di lakukan bahkan Yuki sendiri tidak akan menduga jika saat itu Dia sedang di test.


Pangeran Riana berdiri dari duduknya dan membawa berkas di tangannya. 


"Kau beristirahatlah dulu, Aku ada pertemuan dengan para menteri sekarang" ujar Pangeran Riana berbohong.


Dia akan menemui Pendeta Agung Hiro. Beberapa hari yang lalu Raja Bardana Mengundang masuk ke dalam istana, Pangeran Riana menduga Mereka sedang membahas masalah ini. 


Pangeran Riana pergi sebelum Yuki sempat menjawab. 


Pangeran Riana bersama dengan Bangsawan Voldermont memasuki ruangan tempat Pendeta Agung Hiro sering mengasingkan diri. Di dalam ruangan ini tidak ada apapun. Tempatnya sangat luas, dengan pilar-pilar besar dan lantai terbuat dari mamer.

__ADS_1


Cendela besar berjajar di dinding bagian utara dan selatan. Pendeta Agung Hiro duduk di atas sebuah alas terbuat dari kain yang cukup tebal.


Matanya terpejam, bibirnya terus bergerak lirih mengucapkan doa-doa. Pangeran Riana dan Bangsawan Voldermont duduk bersila tak jauh dari Pendeta Agung Hiro. Menunggunya menyelesaikan doa-doanya dengan tenang.


Ketika pada akhirnya, Pendeta Agung Hiro selesai berdoa. Dia berbalik siap untuk berbicara dengan Pangeran Riana.


"Aku ingin tahu dari mana sihir hitam ini berasal" tanya Pangeran Riana serius.


"Pangeran pasti sudah mendengar mengenai kutukan Ciel yang anak-anaknya di bunuh dengan kejam di depannya. Sebelum terbunuh dan mengeluarkan kutukan, Ciel menjual jiwanya kepada iblis. Kebencian dan dendamnya di masukkan ke dalam sebuah buku kecil. Buku itu, berisi cara menguasai sihir terlarang. Manusia yang menguasai sihir terlarang, bisa menjelma menjadi seorang iblis yang dapat menghancurkan dunia ini dengan mudah. Mengubah keindahan menjadi kehancuran, kebahagiaan menjadi tragedi, persis seperti apa yang di rasakan seorang ibu yang melihat anak-anaknya meninggal di depannya" jelas Pendeta Agung Hiro tenang. "Kuil suci sudah lama mengejar buku ini untuk di netralisir dari dendam yang menguasainya. Tapi setiap manusia yang memegang buku ini, sifat jahat yang terpendam di dalam dirinya akan keluar. Di mana buku ini berada, tragedi pasti akan terjadi"


"Di mana buku itu sekarang berada ?" Ujar Pangeran Riana ingin tahu. 


Pendeta Agung Hiro menggelengkan kepala pelan. "Buku itu terus berpindah-pindah karena banyak manusia yang saling membunuh untuk menguasai buku itu dan kekuatan di dalamnya"


"Jika mempelajari sihir hitam di buku itu, apakah bisa seorang manusia menjadi iblis ?" Tanya Bangsawan Voldermont masih tidak percaya. 


"Jika begitu, bukankah ada banyak yang telah menguasai ilmu itu ?" 


"Tidak Pangeran, jika Mereka tidak selesai mempelajari sihir hitam itu, Maka Mereka akan mati di telan kekuatan itu sendiri. Selama ini tidak ada yang berhasil menguasai dengan sempurna, karena sebelum mereka mempelajari sampai akhir, buku itu sudah berpindah tangan"


"Dan sekarang seseorang di Garduete memiliki buku itu dan sedang mempelajari sihir di dalamya"


"Kalian akan berurusan dengan buku kuno itu, entah siapa yang akan memegang dan terpengaruh jika buku itu kembali berpindah tangan. Aku akan memperlihatkan sesuatu pada Kalian agar kelak Kalian berhati-hati menghadapi buku itu"  


Pendeta Agung Hiro berdiri dari duduknya. Tanpa di duga Dia melepaskan pakaiannya. Bangsawan Voldermont nyaris melompat mundur ketika melihat pemandangan di depannya. Setengah tubuh Pendeta Agung Hiro seolah tidak memiliki kulit, terlihat otot-otot dan bagaimana serabut syaraf di tubuhnya bekerja.

__ADS_1


"Sampai mana Kau mempelajarinya ?" Tanya Pangeran Riana dingin.


"Aku hanya mengucapkan mantera di halaman pertama dari buku kuno itu dan Aku mendapatkan penderitaan yang berkepanjangan. Sekarang Kalian mengerti bagaimana mengerikannya kekuatan buku itu. Jika Kalian bisa mendapatkannya, segera bakar dan tahan diri kalian dari pengaruhnya jika kalian tidak ingin menyesal sepertiku"


Hari ini Raja Bardana mengumpulkan perwakilan kerajaan di berbagai negara untuk membahas masalah yang sedang terjadi. Semenjak pagi, Yuki sudah di kelilingi oleh para pelayan yang mendadaninya. 


Yuki menghela nafas, Dia merasa tidak nyaman dengan penampilannya yang sekarang. Bukankah ini jamuan untuk membahas pemberontakan istana dan bukan acara perayaan kerajaan ?. Tapi Kenapa Dia malah di dandani semewah ini.


Ketika Dia berada di dalam kereta bersama Pangeran Riana. Yuki nekat melepaskan lebih dari setengah perhiasan yang melekat di badannya sambil menggerutu panjang lebar. Pangeran Riana hanya diam dan membiarkan Yuki melakukan apa yang membuatnya merasa nyaman. 


Mereka sampai di istana Raja. Ada begitu banyak kereta kuda yang berbaris rapi di gerbang masuk. Pangeran Riana membantu Yuki turun dari kereta. Berjalan dengan menggengam tangan Yuki tanpa merasa canggung sedikitpun.


Masuk ke dalam aula istana, di mana dua buah meja panjang penuh berisi makanan sudah di siapkan. Para pelayan sibuk berkeliling mengatur makanan ssmentara tamu-tamu yang sudah datang saling mengobrol satu dengan yang lain. Raja Bardana sedang berbicara dengan seorang tamu ketika Yuki dan Pangeran Riana datang memberi hormat. Keduanya duduk di samping Raja Bardana.


Yuki terkejut ketika melihat Pangeran Sera duduk tak jauh dari tempatnya. Pangeran Sera bersikap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Pangeran Riana pun tampak acuh dan tidak perduli akan kehadiran Pangeran Sera.


Yuki merasa hanya Dia sendiri di ruangan ini yang terlalu tegang.


Perjamuan makan di mulai. Para Tamu saling berbicara menyuarakan pendapatnya. Kadang, Mereka juga saling berbantah. Yuki berusaha mengikuti arah pembicaraan, tapi malah membuatnya pusing.


"Aduh !" Yuki meletakan sendok di tangannya. Menyentuh lidahnya dengan ujung jari. Saat mengunyah daging, tanpa sengaja lidahnya tergigit.


"Ada apa ?" Tanya Pangeran Riana sembari menyentuh bahu Yuki. Meminta Yuki untuk menoleh ke arahnya.


"Aku mengigit lidahku sendiri" jawab Yuki. Matanya berkaca-kaca menahan sakit.

__ADS_1


 


__ADS_2