
Yuki masih duduk di meja rias, memastikan penampilannya kembali sebelum melangkah keluar.
Perlahan Dia mengulas kuas ke wajahnya. Dia menangis semalaman sampai tertidur. Ketika bangun, Dia mendapati wajahnya sembab dan matanya terlihat bengkak. Penampilannya sungguh mengerikan.
Yuki sudah mengompres wajahnya dengan es dan menutupi sisanya dengan makeup. Sebenarnya Dia tidak ingin masuk sekolah hari ini. Tapi Bangsawan Dalto menelephonenya, mengingatkan Dia bahwa ada ujian etika sosial hari ini. Yuki tidak mau mengulang sendirian di ruangan Nyonya Dolsom, jadi Dia terpaksa masuk meski suasana hatinya sedang tidak bagus.
Dengan kesal Dia membanting kuas keatas meja. Kemudian Dia berdiri dan mengambil bukunya, berjalan keluar kamar menuju ruang makan.
Rasanya semalam seperti mimpi buruk. Yuki sungguh berharap Pangeran Riana sedang mabuk dan tidak serius dengan perkataannya.
Meskipun diangkat menjadi wanita dari seorang pangeran perwaris tahtah kerajaan sebesar Garduete berarti memiliki harta dan status tinggi di dunia ini, Yuki sama sekali tidak berminat.
Dia sudah cukup bersyukur dengan apa yang Dia punya. Dia tidak pernah bermimpi menjadi anggota kerajaan.
Yuki berusaha membuang jauh-jauh kejadian semalam dari ingatannya. Sebentar lagi Dia akan bertemu dengan Bangsawan Dalto. Dia tidak mau Bangsawan Dalto curiga atau mengetahui apa yang terjadi setelah Dia pergi.
Jadi Dia memasang senyum ceria.
Yuki sudah mempersiapkan jika ditanya Bangsawan Dalto kenapa matanya sembab. Dia akan beralasan menangis karena terharu membaca jalan cerita sebuah novel. Untuk meyakinkan ceritanya, Yuki juga membawa buku yang dimaksud.
Yuki memang mudah tersentuh dengan cerita-cerita sedih. Dia bahkan bisa ikut menangis ketika menonton atau membaca sesuatu adegan yang menyentuh hati. Bangsawan Dalto sudah beberapa kali melihat Yuki menangis. Jadi jika Yuki bercerita Dia menangis karena membaca novel, Bangsawan Dalto akan mempercayainya dan tidak lagi bertanya.
Tapi, ketika masuk ke ruang makan, Yuki tidak menemukan keberadaan Bangsawan Dalto. Hanya ada seorang pelayan yang sedang sibuk menata hidangan di atas meja. Yuki melihat kesekeliling, mencari sosok Bangsawan Dalto.
Aneh sekali, Dia menelephone lima belas menit yang lalu, mengatakan Dia sudah dekat dengan rumah Yuki dan akan menjemput Yuki untuk berangkat bersama.
Biasanya jika Yuki belum selesai berdandan, Dia akan menunggu di ruang makan dan mereka akan sarapan bersama.
__ADS_1
Andaikanpun jika Dia berhalangan datang, Bangsawan Dalto akan menelephonenya untuk mengabarinya. Yuki mengambil gulf dan mencoba menghubungi Bangsawan Dalto.
"Apa Bangsawan Dalto belum datang ?" Tanya Yuki pada pelayan sembari duduk di sebuah bangku, di depannya sudah tertata hidangan untuk sarapan. Milik Bangsawan Daltopun juga sudah siap.
Pelayan itu tampak kebingungan, Dia melirik kearah pintu keluar dengan wajah takut.
Bangsawan Dalto tidak mengangkat telephone Yuki. Yuki menutup panggilan. Memandang kearah pelayan dengan curiga.
"Ada apa ?" Tanya Yuki lagi ketika Dia tidak menjawab pertanyaan Yuki.
"Dia sudah datang, tapi Aku menyuruhnya pergi. Aku juga sudah memberitahukan statusmu yang sekarang dan memperingatkannya untuk tidak mendekati dan menjaga jarak denganmu" Pangeran Riana masuk ke dalam ruangan, Yuki sampai melotot dibuatnya.
Dengan angkuhnya, Dia duduk di meja yang dipersiapkan untuk Bangsawan Dalto.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk membiarkannya masuk dan mengusir tamuku" Yuki menghardik pelayan marah.
Jangankan pelayan itu, bahkan Ayahnya saja tidak mungkin melawan Pangeran Riana dengan selamat.
"Maafkan Aku, Kau boleh pergi" kata Yuki akhirnya pada pelayan didepannya.
Pelayan itu langsung memberi hormat dan pergi.
Sekarang hanya tinggal Mereka berdua. Pangeran memakan roti di depannya.
"Jika Pangeran ingin sarapan, Aku yakin istana menyediakan koki terbaik untuk Pangeran, tidak perlu datang ke rumahku sepagi ini hanya untuk makan makanan yang bukan disiapkan untuk pangeran, apalagi sampai mengusir tamuku" sindir Yuki kesal.
"Aku kemari untuk memperingatkanmu atau Kau akan mendapatkan lebih dari yang kulakukan padamu semalam"
__ADS_1
Yuki langsung mengkeret mendengar ancaman Pangeran Riana. Dia cukup yakin Pangeran Riana bukan orang yang bermulut besar. Dia akan melakukan apa yang dikatakannya. Yuki merasa tidak perlu membuktikan kebenaran kata-kata Pangeran Riana.
"Akan kupertegas disini, Kau diam dengarkan baik-baik karena Aku tidak akan mengulanginya lagi, jika di kemudian hari Kau berani mengindahkannya Kau akan langsung tahu apa akibatnya"
Pangeran Riana memasukkan dua balok gula kedalam cangkir teh dan mengaduknya dengan gaya angkuh.
"Pertama, Aku tidak ingin mendengar atau melihatmu berhubungan dengan lawan jenis tanpa persetujuanku. Kedua, jika Aku memerintahkan mu untuk datang, tidak peduli apa yang sedang Kau lakukan atau dimana Kau berada, Kau harus segera datang. Ketiga.."
"Cukup, buat saja peraturan konyol mu itu untuk calon ratumu" Yuki mengangkat satu tangannya dengan kesal, memotong ucapan Pangeran. Dia tidak ingin mendengar apapun lagi. Yuki merasa Dia harus menegaskan kembali keinginannya kepada Pangeran Riana. Jadi, Dia kembali berkata. "Aku telah memikirkan semalaman, mencoba mengingat kesalahan apa yang telah Aku lakukan pada kerajaan terutama padamu. Tapi sayangnya, selain permasalahan ku dengan Bangsawan Voldermon Aku tidak ingat telah menyinggung kerajaan ataupun Anda Pangeran. Jika Aku telah berbuat salah, Aku mohon Pangeran untuk memaafkan Aku, tapi tolong...tolong jangan menyiksaku seperti ini apalagi mengancam Keluargaku. Aku tidak tertarik padamu, juga tidak berminat untuk menjadi bagian kerajaan. Banyak gadis lain yang jauh lebih baik dariku yang bersedia untuk menjadi kekasihmu. Aku mohon padamu Pangeran, lepaskan Aku. Bisakah Kau melakukan itu ?"
"Kau memang tidak tertarik padaku, dan semua yang Kau katakan juga bukan sebuah kebohongan. Tapi Putri Yuki, permasalahannya adalah Aku menginginkanmu sebagai kekasihku dan kerajaan sudah menyetujui secara sah sebagai wanitaku. Di sini, Aku mengingatkanmu apa yang akan terjadi pada keluargamu jika Kau terus melawan kerajaan"
Pangeran menoleh kebelakang sesaat. Bangsawan Asry masuk bersama seorang Prajurit. Diikuti oleh Rena, kepala pelayan dan beberapa pelayan di kediaman Perdana Menteri Olwrendho.
"Dekrit Raja ditujukan untuk Putri Yuki dan seluruh keluarga dan pekerja di kediaman Olwrendho" Bangsawan Asry membuka amplop dengan stempel emas kerajaan. Seluruh Pelayan berlutut untuk menerima Dekrit.
"Atas nama Kerajaan Garduete, maka kerajaan mengangkat Putri Yuki Orrie Olwrendho, Putri pertama Perdana Menteri Olwrendho, menjadi wanita Pangeran Riana dan dianugerahi status kerajaan yang sah yaitu consort VIII dalam istana harem milik Pangeran Riana. Sebagai kekasih Pangeran Riana sampai Pangeran menikah dengan calon ratu yang sah di kemudian hari"
"Dekrit Kami terima, terimakasih atas anugerah Baginda Raja pada di kediaman Kami" ucap para pelayan serentak.
Yuki menghampiri Bangsawan Asry, merebut kertas di tangannya dan membaca sendiri seluruh isinya.
Tercetak jelas tandatangan dan stempel kerajaan. Pangeran Riana tidak berbohong. Yuki menjadi kesal, Dia langsung merobek kertas ditangannya marah dan melemparnya begitu saja ke lantai. Kemudian Dia kembali ke meja, nafsu makannya sudah hilang. Dia mengabaikan makanannya dan mengambil buku sekolahnya.
Berjalan cepat meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1