Morning Dew

Morning Dew
303


__ADS_3

Lekky datang saat malam tiba. Ketika hujan kembali turun dengan derasnya dan petir sambar-menyambar di atas langit. Dia masuk ke dalam rumah dengan kondisi basah kuyup. 


 


Yuki dan yang lainnya sedang duduk diam di ruang tengah saat Lekky muncul. Sepasang sayap hitamnya meneteskan air dari bulu-bulunya yang basah.


"Lekky" panggil Yuki lega saat melihat Lekky datang. Dia segera berdiri untuk menghampiri Lekky.


Bangsawan Xasfir tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat melihat sayap hitam yang ada di punggung Lekky. Dia menatap Lekky dengan pandangan tidak percaya. Sepertinya Dia baru pertama kali melihat sayap yang ada di punggung Lekky.


Atau Bangsawan Xasfir tidak menduga, jika Lekky ternyata memiliki sepasang sayap di punggungnya.


Lekky mengibaskan sayapnya untuk membuang sisa air di sayapnya. Kemudian sayap itu tertekuk di punggungnya dan menghilang begitu saja.


"Sebenarnya, Mahkluk apa Kau ini ?" Tanya Bangsawan Xasfir tidak mampu menyembunyikan perasaannya.


"Setidaknya, Aku bukan jin" jawab Lekky seenaknya.


 


 


George dengan sigap membawa nampan berisi handuk kering dan jubah mandi untuk Lekky. Lekky melepaskan sepatunya dan menyingkirkannya begitu saja di samping pintu. Kemudian Dia melangkah ke tengah ruangan dengan hanya bertelanjang kaki.


"Apa yang terjadi ?" Tanya Pangeran Riana.


Lekky menarik lepas kemeja yang di pakainya. Memperlihatkan kulit badannya yang putih bersih, melapisi lekuk otot yang sempurna. Yuki selalu merasa minder saat melihat warna kulit Lekky. Jauh lebih putih dan bersih di bandingkan Yuki sebagai seorang perempuan.


 


Yuki memberikan handuk kering yang di ambilnya dari nampan yang di bawa George. Membantu Lekky untuk mengeringkan badannya. Dia kemudian memakaikan jubah mandi pada Lekky.


"Seorang Murid Pendeta Suci berkhianat dan membocorkan rencana Kita. Sekarang Pendeta Suci di culik. Besok Kita akan memulai perjalanan untuk menyelamatkannya"


"Aku mengerti" kata Pangeran Riana kemudian.


 


Lekky berjalan melewati Pangeran Riana. Menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya. Sementara Yuki terus mengekori Lekky di belakangnya.


"Oh ya, Aku lupa....Suamimu, akan ikut dalam tugas menyelamatkan pendeta suci bersama Kita" ujar Lekky tiba-tiba. Dia berhenti tanpa peringatan, membuat Yuki menabrak punggungnya dengan keras dari belakang. Yuki memegangi hidungnya yang kesakitan.


"Aku mengerti" kata Yuki tertahan.


Kemudian Yuki terdiam saat Dia sudah mencerna dengan baik ucapan Lekky.


 


Yuki memandang Lekky yang juga memandangnya. Lekky mengatupkan rahangnya sesaat. Menatap Yuki dalam. "Aku sudah muak dengan permusuhan yang terjadi Yuki. Jangan sampai Aku yang turun tangan dan menghentikan semuanya" kata Lekky kembali menyuarakan pikiran seseorang.

__ADS_1


Pangeran Riana mengatupkan rahangnya erat. Tangannya mengepal dengan keras. Dia menantikan bertemu dengan Sers untuk membuat perhitungan atas apa yang telah di perbuatnya. Tapi di lain pihak, Dia tidak ingin Yuki bertemu kembali dengan Sera. 


 


"Jangan khawatir, Semua akan baik-baik saja" kata Yuki lirih meskipun Dia sendiri merasa tidak yakin dengan apa yang akan terjadi.


 


Lekky kembali berjalan. Dia bersungut-sungut dengan kesal. Berhenti sebentar di depan kamar Ferlay untuk mengecek anaknya dari balik pintu. 


Melihat Ferlay yang sudah tertidur, Lekky memutuskan untuk tidak menganggunya dan berjalan menuju kamarnya sendiri yang terletak di samping kamar Ferlay, bersebrangan dengan kamar Yuki.


 


Yuki menatap ke semua orang sesaat. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Jadi Dia memutuskan untuk pergi menyusul Lekky dan membantu Lekky jika Dia membutuhkan sesuatu.


 


 


Pintu kamar Lekky tertutup sesaat setelah Yuki masuk ke dalam kamar.


"Besok pagi Kita bersiap" kata Pangeran Riana akhirnya. Dia melangkahkan kaki menuju kamar yang di siapkan untuknya. Semua Bangsawan pergi ke kamar masing-masing.


 


Besoknya, setelah sarapan. Semua orang mengemasi barang-barang yang telah di persiapkan sebelumnya.


 


Mata Yuki terlihat lelah. Semalaman Dia tidak bisa tidur dan hanya bergulang-guling di atas ranjangnya. Yuki memikirkan mengenai Pangeran Riana dan Pangeran Sera. Mereka akan segera pergi di tempat yang sama dengan Pangeran Sera berada.


Yuki tidak bisa menemukan alasan bagaimana Dia bisa bersikap di depan Pangeran Sera dengan semua yang telah terjadi. Yuki tidak mempunyai muka untuk bertemu dengan Pangeran Sera.


 


Yuki sudah terlalu sering menyakitinya. Pengkhianatan yang di lakukan Yuki sekarang sangat fatal. Tidak ada seorang laki-laki yang mau memaafkan istrinya yang tidak bisa menjaga diri hingga hamil dengan laki-laki lain.


 


Tidak ada...


 


Yuki merasa pernikahannya di ujung tanduk. Perasaan sedih menghantui Yuki. Rasanya seperti di iris-iris belati dari dalam.


 


Seseorang menempelkan gelas berisi minuman dingin ke pipi Yuki. Membuat Yuki tersadar dari lamunannya dan terkejut. Bangsawan Voldermont tersenyum sambil memegang gelas di tangannya. 

__ADS_1


"Hari masih pagi tapi kenapa wajahmu sudah jelek seperti itu ? Seperti seseorang yang akan menerima hukuman gantung saja" seloroh Bangsawan Voldermont sambil berdiri di samping Yuki.


"Kau benar, Aku memang seperti akan menjalani hukuman mati saat ini" kata Yuki tertahan. Yuki menerima gelas yang di ulurkan Bangsawan Voldermont. Keduanya terdiam sesaat sambil menatap langit di depan Mereka. Matahari bersinar hangat menerpa Mereka, perlahan merangkak dari peraduannya untuk menyinari dunia. Angin berhembus lembut.


 


"Jangan terus melarikan diri dari masalah. Melarikan diri tidak akan menyelesaikan apapun. Kali ini Kau harus menghadapinya. Di sana, Sera pasti sedang menunggumu untuk mendengarkan penjelasanmu. Katakan saja sejujurnya" kata Bangsawan Voldermont ketika Mereka terdiam cukup lama.


 


Yuki menghela nafas sesaat. Meneguk air dalam gelasnya, matanya menyipit memandang ke dasar kolam yang memantulkan bayangan matahari di dalamnya.


Dalam hati Dia menyetujui ucapan Bangsawan Voldermont. Yuki tidak bisa melarikan diri. Dia harus menemui Pangeran Sera dan menghadapi segala konsekuensinya. 


"Aku ingin menjadi Amoeba. Karena Dia bisa membelah menjadi dua bagian. Dengan begitu, tidak ada lagi yang akan tersakiti" kata Yuki lirih masih dengan wajah sedih.


"Kalau begitu, Kau harus membelah menjadi tiga. Satu untukku" Bangsawan Voldermont tersenyum.


Mau tidak mau Yuki membalas senyumannya. Hati Yuki terasa berat. Dia merasa sesak oleh masalah yang akan terjadi.


 


Dari jauh, Yuki melihat Bangsawan Asry melambai sambil berteriak kepada Mereka. Meminta Mereka untuk segera datang karena Mereka akan segera berangkat.


 


"Ayo" ajak Bangsawan Voldermont.


 


Yuki menganggukan kepala. Berjalan dengan tenang mengikuti Bangsawan Voldermont dari belakang.


 


Di halaman depan, semua sudah siap. Barang-barang sudah di naikan ke atas punggung Coracal. Pangeran Riana mengelus Radolft untuk berkomunikasi dengannya. 


 


Yuki memeluk Ferlay yang terus bergelayut manja di kaki Yuki semenjak Yuki tiba di halaman depan.


 


"Mama, Kenapa Aku tidak boleh ikut" kata Ferlay merengek sambil menatap Yuki dengan pandangan tidak berdaya.


Yuki berjongkok di depan Ferlay hingga kini Mereka dapat saling menatap dengan leluasa. Menarik Ferlay dalam pelukan Yuki dengan lembut dan penuh rasa sayang.


 


"Kau sudah mendengar bukan, ada Iblis jahat yang ingin menghancurkan dunia. Jadi Mama dan Ayah harus pergi untuk menyelamatkan dunia agar Kita bisa kembali bersama seperti dulu" jawab Yuki lembut. "Aku ingin Kau tetap disini dan mendengarkan kata Ayahmu. Doakan agar Kami semua cepat pulang dengan selamat"

__ADS_1


 


__ADS_2