Morning Dew

Morning Dew
82


__ADS_3

"Aku tidak peduli siapa yang ada di dalam hatimu sekarang !!" Tegas Pangeran Riana dengan suara dingin yang menusuk. "Apakah itu Dalto ataupun Sera atau bahkan laki-laki lain yang tidak kukenal. Dengarkan Aku Yuki" bentak Pangeran Riana membuat Yuki yang memberontak terdiam. "Bahkan meski Kau mempunyai sayap sekalipun, Aku akan dengan senang hati menangkapmu, akan kupatahkan sayapmu dan memenjarakanmu dalam istanaku. Jika saat itu tiba, akan kupastikan Kau tidak akan bisa keluar selangkahpun dari sana" 


"Di mana nuranimu ?" Tanya Yuki ketakutan. Ancaman Pangeran Riana sangat nyata, membawa kengerian dalam diri Yuki. Yuki tahu Pangeran Riana tidak sedang omong kosong dengannya. Pangeran Riana serius dengan ycapannya. Membuat buku kuduk Yuki langsung berdiri. 


Pangeran Riana tersenyum mengejek.


"Kesabaranku sudah habis. Kau sudah berani mempermainkanku bahkan mengobral omong kosong tentang perasaan padaku. Sekarang, tanpa perduli akan perasaanmu atau hal-hal lainnya akan kujadikan Kau milikku. Kau selalu berpikir Aku ini bajingan bukan ?. Akan kutunjukan padamu seperti apa Aku sesungguhnya"


"Tidak, Aku mohon Pangeran jangan.." pinta Yuki ketakutan. Ada keseriusan dalam mata Pangeran Riana yang tidak bisa di bantahkan. 


Yuki memalingkan wajahnya ketika Pangeran Riana mendekat. Dia berusaha memberontak ketika ciuman mendarat di bibir dan lehernya. Pangeran Riana mencium seluruh wajah dan leher Yuki dengan beringas. 


Yuki terpekik saat Pangeran Riana menarik kasar kerah baju Yuki sampai pakaiannya robek. Pangeran Riana seperti kehilangan akal sehatnya. Dia terus saja mencabik kain yang menutupi tubuh Yuki. Dia seolah tidak mendengar tangisan Yuki yang meminta Pangeran Riana untuk berhenti. Justru tangisan Yuki semakin memotivasinya untuk terus melakukan keinginannya sampai selesai. 


Pakaian yang di kenakan Yuki copang-caping, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang belia. Seperti bunga mawar yang baru mulai mekar. Segar dan menggoda.


Pangeran Riana sudah lama menahannya, sekarang Dia akan menikmatinya. 


Pangeran Riana menarik kedua kaki Yuki mendekat, Dia memposisikan pinggulnya di antaranya. Yuki menggeleng menolak, air mata bercampur liur Pangeran Riana sudah membasahi wajahnya. Tapi Pangeran Riana menahan kedua kakinya sedemikian rupa, menahannya dengan berat tubuh Pangeran Riana sehingga Dia tidak bisa bergerak bebas untuk melepaskan diri.


"Jangannn...Aaaa...Sa...Sakiit" kuku jemari Yuki menancap kuat di lengan Pangeran Riana. Dia menahan nafas dengan wajah kesakitan ketika sesuatu berusaha memasuki tubuhnya. 


Ketika Pangeran Riana memajukan pinggulnya, rasa nyeri di antara pangkal pahanya menghantam Yuki seketika. Dia melengkungkan punggungnya berusaha melepaskan diri. Jeritannya terdengar memilukan dalam ruangan yang sepi. 


Pangeran Riana tidak peduli Yuki berteriak kesakitan, memohon untuk di lepaskan. Dia merasakan sensasi yang memabukkan ketika memasuki tubuh Yuki.

__ADS_1


Gadis ini jauh lebih nikmat daripada yang di bayangkannya. 


Pangeran Riana bukan kali ini menyentuh seorang wanita, tapi Yuki memiliki rasa yang berbeda dari wanita lainnya. Seperti anggur langka berkualitas tinggi yang tersimpan lama. 


Keringat mengalir di tubuh kedua manusia itu. Pangeran Riana melepaskan cengkramannya ke posisi bersiap. Dia mulai menggerakan pinggulnya. Terdengar rintihan kesakitan Yuki di bawahnya.


Hasrat dan emosi menyatu di mata Pangeran Riana. Hal yang paling di takutkan Yuki akhirnya terjadi. Tidak ada yang menghentikan Pangeran Riana kali ini. Keberuntungan tidak lagi berpihak pada Yuki yang membuatnya terbebas dari masalah.


Suatu sentakan keras semakin merobek Yuki. Dia menjerit, meronta mencoba melepaskan diri dari rasa sakit yang di timbulkannya. 


"Sakitt.." Renggek Yuki sambil berlinang air mata. "Sakit sekali"


Pangeran Riana menyibakkan rambut Yuki, menggengamnya dan menariknya agar Yuki mendongak untuk menatap matanya. Ada sirat kepuasan di dalam diri Pangeran Riana.


Nafasnya tersenggal-senggal. Buliran air mata mulai kembali memenuhi rongga matanya. 


Pangeran Riana memberi Yuki jeda waktu untuk bernafas. Ketika akhirnya Dia melihat Yuki sudah bisa menerima dirinya di dalam tubuh Yuki, Pangeran Riana bersiap untuk menikmati lebih banyak lagi manisnya tubuh Yuki, yang seolah menjadi candu untuk Pangeran Riana. 


Malam itu, bulan yang terlihat di langit dari cendela yang terbuka begitu kelam. 


Yuki melemaskan cengkramannya, tidak lagi melawan. Dia memalingkan wajah. Tidak ingin melihat Pangeran Riana yang begitu bernafsu mengaduk-aduk dirinya.


Perasaan Yuki hancur. Menyadari kesucian yang selama ini di jaga. Dengan mimpi untuk di berikan kepada suaminya kelak, di malam pertama pernikahan Mereka. Telah di renggut paksa oleh Pangeran Riana.


Pangeran Riana merasa Dia sudah akan mencapai puncak kenikmatannya. Segera Dia merengkuh wajah Yuki dan ******* penuh tuntutan bibir mungil gadis itu.

__ADS_1


Yuki diam. Dia tidak melawan atau membalas Pangeran Riana. Perasaan aneh seolah menggelitik rahimnya. Sensasi yang tidak pernah Dia bayangkan sebelumnya. Nafasnya tersenggal-senggal ketika Pangeran Riana melepaskan ciumannya untuk bergerak lebih cepat di dalam tubuh Yuki. 


Tubuh Yuki beegerak maju mundur mengikuti irama gerakan Pangeran Riana. Pangeran Riana menarik bahu Yuki, menekan tubuhnya kuat ke gadis itu. Erangan panjang terdengar dari mulutnya, di susul semburan rasa hangat yang keluar menyebar di dalam rahim Yuki. 


Pangeran Riana ambruk di atas tubuh Yuki. Desah kepuasan terdengar di telinga Yuki. Pangeran Riana tidak melepaskan diri dari posisinya. Berat badannya di tumpukan seluruhnya pada Yuki. Dia berharap tidak ada sisa dirinya yang tertinggal di luar tubuh Yuki. Pangeran Riana berharap Yuki segera hamil. Agar Yuki tahu siapa yang berhak atas dirinya.


Nafas Yuki masing tidak beraturan. Dia tidak bergerak, seluruh tenaganya seolah terkuras habis. Pangeran Riana mencium pipi Yuki puas. Tidak ada penyesalan. Hanya ada kemenangan yang di tunjukan atas diri Yuki.


Setelah diam beberapa saat, Pangeran Riana akhirnya bergerak melepaskan diri dari penyatuan tubuh Mereka. Dia bangkit dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Yuki. Ada noda darah di atas sprei. 


Darah perawan milik Yuki yang berhasil di renggutnya.


Pangeran Riana bangkit, berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Sementara Yuki masih diam di tempatnya.


Dia menutup matanya, buliran air mata jatih mengalir di pipi. Rasa sakit mendera di sekujur tubuhnya. Dia berharap semua ini adalah bagian dari mimpi buruknya.


Sinar matahari menerobos dari bilik cendela yang terbuka. Pangeran Riana berjalan keluar kamar mandi. Rambutnya basah. Dia hanya mengenakan jubah mandi. Yuki memalingkan badannya, tidak ingin melihat Pangeran Riana yang berjalan mendekatinya. 


Yuki kelelahan. Semalaman, Pangeran Riana tidak membiarkannya tidur dengan nyenyak. Memaksa Yuki untuk terus melayaninya di atas ranjang sampai pagi menjelang. 


Terasa gerakan di belakang Yuki ketika Pangeran Riana duduk di atas kasur. Pangeran Riana puas melihat tanda merah bekas ciumannya menyebar di sepanjang leher dan dada Yuki. 


Pangeran Riana masih punya tenaga untuk melanjutkan permainan Mereka, Yuki menjadi candu baginya. Tubuh gadis itu melebihi apa yang di harapkannya. Tapi, Dia harus menahan diri untuk menunda sementara. Yuki sudah kelelahan nyaris pingsan. Sedangkan Xasfir baru saja menghubunginya, Sera semalam membuat keributan di depan istananya.


 

__ADS_1


__ADS_2