Morning Dew

Morning Dew
3


__ADS_3

"Siapa bangsawan yang tadi" Tanyaku pada Elber. Kami makan siang bersama di ruang makan gedung Kuldhi. Elber mengajakku makan dengan kelompoknya. Beberapa bangsawan mencoba berbicara denganku. Aku menjawab sesedikit mungkin lalu menghindar. Pikiranku terpaku pada kejadian tadi.


Elber mengernyit binggung. "Siapa?" tanyanya balik.


"Bangsawan yang terjatuh di koridor tadi"


"Astaga, kenapa Kau begitu penasaran dengannya ?"


Aku memainkan jari jariku. "Hanya penasaran"


"Begitu banyak bangsawan yang Kau temui, Kau malah tertarik dengan sang terkutuk" gerutu Elber.


Dalto Radit atau biasa disebut Bangsawan Dalto, adalah putra dari keluarga tua yang penuh misteri di negeri ini. Dia anak yatim piyatu, ibu dan ayahnya adalah seorang penjahat yang telah dihukum pancung 13 tahun lalu karena mengunci sebuah kuil dari luar dan membakar semua orang didalamnya sampai tidak ada yang tersisa. Sebenarnya dia memiliki bibi, tapi karena peristiwa itu, bibinya memutuskan membawanya pindah ke negara lain. Entah kenapa, lima tahun lalu Bangsawan Dalto kembali seorang diri.Bibinya sudah beberapa kali menjemput namun Dia tetap kembali. Dia bersekolah dan langsung mendapat bulyian serta siksaan setiap hari dari para murid yang keluarganya menjadi korban. Bahkan ada anggapan jika berteman dengannya akan mendapatkan kesialan. Dia disebut sebagai sang terkutuk.


Itukah sebabnya Dia tidak mau menyembutkan namanya saat itu ?. Sekarang Aku mengerti.


Aku paham bagaimana rasanya harus menerima hukuman yang bahkan kita tidak melakukannya. Dulu saat Aku SMP, Aku sempat dibully. Setiap hari buku, tas dan sepatuku hilang. Aku menemukannya di tempat pembakaran. Raymond selalu membelaku, tapi itu malah menjadikanku semakin dibenci oleh gadis-gadis yang menyukainya. Beberapa kali Aku pulang ke rumah, dengan tubuh luka atau seragam kotor karena dipermainkan mereka. Aku ingat, dulu Aku selalu menyimpan seragamku di dekat rumah dan mengantinya. agar Mama tidak mengetahui kondisiku.


Hal sepele waktu itu, seorang lelaki beristri, lawan main Mama dalam sebuah film mengejar Mama. tapi Mama tidak pernah mengubris. Istrinya yang tidak terima membuat berita besar besaran seolah Mama yang mengoda. Sialnya salah satu anaknya satu sekolah denganku. Dialah yang menjadi provokator untuk membuly dan menjauhiku.


pada akhirnya, Aku tidak bisa menyembunyikan apa yang kualami. Mama menemukanku masuk ke toilet umum ditaman dekat rumah untuk mengganti seragam. Besoknya Mama membuat konfrensi pers dan membeberkan fitnah yang menimpa dirinya serta bukti bukti kuat bahwa Mama tidak bersalah. Dia juga menuntut suami istri itu ke polisi. Mama menemui kepala sekolah untuk melaporkan bulying yg Aku alami.


Setelah itu kedamaian kembali dikehidupanku. Tapi luka akibat bulying itu masih membekas sampai sekarang.


Aku baru saja akan menyuapkan nasi kedalam mulutku ketika terdengar suara gemelentang piring disusul suara jatuh berdebam yang keras. Ditengah ruangan, Bangsawan Dalto jatuh, makanannya membasahi badannya. Dia kembali di bulying oleh kelompok yang sama. Aku menatap ke sekeliling, ada yang pura-pura tidak peduli, ada yang merasa kasihan tapi tidak berani membantu dan ada pula yang ikut menertawakannya. Aku menatap bangsawan Dalto, teringat ketika Aku pernah dalam posisinya sekarang. Jadi bahan cemohan dan tertawaan.


"Sialan, Kau membuat gaunku kotor" Seru seorang putri yang hatinya tidak secantik parasnya. Putri itu menendang piring Bangsawan Dalto ke arah Bangsawan Dalto kasar.


"Sudah kuperingatkan agar Kau tidak menampakan hidungmu ketika Aku makan. Kau pikir melihatmu Aku akan senang hah!!" seru bangsawan gemuk yang selalu membuly Bangsawan Dalto- Bangsawan Doldores. Bangsawan Doldores mengangkat kerah bangsawan Dalto hingga berdiri dan kemudian mendorongnya kebelakang. bangsawan Dalto mengepalkan tangan, menahan emosi. "Kau mau melawanku, oh lihat ekpresinya....Dia akan membunuh kita seperti yang orang tuanya lakukan"


"Bocah haram" Bangsawan lain melempar Bangsawan Dalto dengan mangkuk berisi kuah makanan. Mangkuk itu mengguyur rambut Bangsawan Dalto. Ejekan dan seruan kegembiraan membuncah di aula. Aku sudah tidak tahan lagi.


"Hey..Yuki ...Kau mau kemana ?" tanya Elber ketika Aku berdiri. Tapi Aku sudah tidak peduli lagi. Aku berjalan menuju kearah Bangsawan Dalto.


"Apa Kau baik baik saja" sontak semua terdiam. Bangsawan Dalto menatapku kaget. Aku menepiskan kotoran yang masih menempel dibajunya.


"Siapa Kau, berani sekali Kau membantunya. apa Kau tidak tau siapa Dia" seru putri yang kukenali satu kelas denganku di kelas musik-Putri Norah. Aku menatap putri Norah, Dia memelototiku sedemikian rupa sampai Aku takut bola matanya akan keluar.


"Aku tahu" kataku datar. "Sang terkutuk kan"


"Jika Kau tau, kenapa Kau masih saja membantunya" ujar Putri Norah berang.


"Aku tidak punya alasan kenapa Aku harus mengabaikannya seperti yang lain ?" jawabku lantang.


Plakk !!.


Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Sepasang tangan menarikku kebelakang. Bangsawan Dalto melindungiku dengan badannya. "Berani sekali Kau berbicara denganku seperti itu, Kau tidak tahu siapa Aku"


Putri Norah adalah anak dari kekasih ketiga Raja Bardana. Dia cukup cantik, namun sayang memiliki peringai yang sombong. Dibelakang Putri Norah teman-teman bangsawannya siap menyerang kami.


"Ada apa ini" sebuah suara meredakan ketegangan yang terjadi. Aku terkejut saat melihat sosok pria yang memasuki ruangan, seluruh murid langsung memberikan penghormatan. Bangsawan Dalto menarikku yang terbengong untuk ikut berlutut.


Aku mengenali pria itu, dialah yang membawaku kemari. Aku ingat sekali dengan rambut hitamnya yang mengeluarkan seburat warna biru keabu-abuan ketika terkena cahaya matahari dan matanya yang sedingin es itu. Aku tidak mungkin salah, dia bagaikan bulan yang dingin dan misterius. Seseorang yang angkuh, sadis dan tidak mudah didekati.


Jadi dia adalah Pangeran Riana yang diceritakan itu. Pangeran Riana datang bersama rombongannya. Seorang pendeta agung sekaligus pengawal pribadinya-Pendeta Serfa yang saat ini mengenakan jubah pendeta, rambutnya panjang sampai ke pinggang berwarna putih salju. Lalu ada tiga bangsawan yang merupakan sahabat baiknya semenjak kecil. Bangsawan Voldermon adalah bangsawan yang paling tampan di negeri ini, tetapi sayang dia menyadari itu dan menggunakannya dengan baik untuk mendapatkan wanita yang tak jarang, hanya untuk ditiduri. Bangsawan Voldermon anak dari adik raja yang menikah dengan pangeran dari negeri sahabat. Bangsawan Xasfir adalah anak dari keluarga tua di negeri ini, secara turun temurun keluarganya selalu memegang posisi sebagai panglima perang kerajaan yang cukup disegani. Tubuh Bangsawan Xasfir tinggi, kekar, memiliki otot yang menonjol sempurna. Pangeran Riana juga bertubuh kekar tapi tertutup oleh pakaiannya, sedangkan Bangsawan Xasfir, walau dia sudah berusaha menutupinya, otot ototnya tercetak jelas di balik pakaiannya. Yang terakhir adalah Bangsawan Arsy. Konon keluarganya adalah cendikiawan yang dipercaya raja untuk membantu dalam menjalankan roda perekonomian negara. Tubuhnya langsing dan dengan lesung pipit dikedua pipinya, membuatnya enak dipandang terutama ketika sedang tersenyum. Dia bangsawan paling pintar dalam pelajaran disekolah ini.


Pangeran menatap kami satu persatu. Aku mengkeret ditatap seperti itu olehnya. Dominasinya begitu kuat hanya dari tatapannya.


"Apa yang terjadi disini" tanya Bangsawan Voldermon. "Hey kenapa baju kalian seperti itu" Bangsawan Voldermon berjalan menghampiriku seolah mengenali. Tanpa tendeng aling-aling Dia menyentuh daguku. Mendongakkan untuk menatapnya. "Bukankah Kau putri keluarga Olwrendho, astaga Kau cantik sekali"


Aku langsung menepis tangannya.Dari sudut mata, Aku melihat seorang putri dibelakang Putri Norah memberengut kesal. Aku bersembunyi dibalik lengan bangsawan Dalto. "Riana, kenapa Kau tidak mengatakan padaku kalau gadis yang Kau bawa tempo hari sangat cantik" protes Bangsawan Voldemon pada Pangeran Riana.


Pangeran menatapku acuh sesaat. "Apa untungnya Aku memberitahumu"


"Kalau begitu Kau setuju bahwa Dia sangat cantik" kejar Bangsawan Voldermon tidak mau kalah.


"Dia masih gadis kecil Vold" kata Pangeran Riana lagi malas.


"Aku rasa Aku harus mengundangmu untuk makan makam jika Kau bersedia" ujar Bangsawan Voldermon tanpa memperdulikan Pangeran Riana.


"Tidak terimakasih," tolakku langsung. Aku menggengam erat lengan Bangsawan Dalto, Tidak nyaman dengan situasi seperti ini.


"Kalian belum menjawab apa yang sedang terjadi disini" tanya Pangeran kembali membuat suasana tegang.


"Tidak ada apa apa kakak....ini hanya salah paham" Putri Norah menghambur manja ke arah Pangeran Riana.


"Lepaskan tanganmu" ujar Pangeran dingin.


"Kakak"


"Jika kau sayang tanganmu, lepaskan sekarang"


Putri Norah melepaskan tangannya setengah malu akan respon Pangeran. "Mohon maaf Pangeran, Saya mohon izin untuk pergi" Bangsawan Dalto menunduk memberi hormat lalu beranjak pergi. Aku mengenggam lengannya kuat kuat, takut dia akan lepas.


"Putri Yuki" Bangsawan Voldermon memanggilku ketika kami tiba di pintu keluar. Aku berbalik.


"Aku serius dengan ajakan makan malam tadi"


Aku memutar bola mata sebagai jawaban dan langsung pergi.


Kami duduk dipinggir kolam, di taman belakang yang cukup tersembunyi. Aku mengusap pipiku. Dari bayangan air Aku dapat melihat warna kemerahan akibat tamparan putri Norah.

__ADS_1


Tenaganya kuat sekali. Sialan.


Bangsawan Dalto duduk diam. Dia menatapku dengan pandangan sukar dipahami. Aku mengambil sapu tangan dari saku. Membasahinya dengan air. "Ini bersihkan bajumu" Kataku sembari mengulurkan sapu tangan padanya. Dia tetap diam tidak bergeming. Aku menunggunya beberapa saat.


"Kenapa Kau membelaku, tidak taukah Kau bahwa Aku ini sang terkutuk"


"Aku tahu"


"Kalau Kau tau, lalu kenapa Kau tetap melakukannya" katanya dengan nada naik satu tingkat.


"Karena Aku tidak peduli" jawabku juga cukup keras.Bangsawan Dalto terdiam. "Tidak ada orang yang benar-benar baik atau benar benar jahat didunia ini.Semua memiliki porsi masing-masing." lanjutku lagi. "Hanya karena kedua orang tuamu melakukan kesalahan, Aku tidak punya hak menghakimimu itu yang Kupahami"


Bangsawan Dalto tiba tiba menunduk sambil tertawa getir. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aku cukup paham bagaimana rasanya menjadi Dia.


"Aku ingin menjadi temanmu" kataku akhirnya.


"Tidak ada yang ingin berteman denganku"


"Aku mau"


"Kau akan mengalami banyak hal berat jika nekat melakukannya"


"Ya, tapi sebagai teman Aku yakin Kau akan membantuku melewatinya"


"Aku sang terkutuk"


"Dan Aku gadis buangan"


Bangsawan Dalto tersenyum. "Aku sudah memperingatkanmu Putri"


"Jadi apa kita berteman"


Bangsawan Dalto mengulurkan tangan. Aku menjabat tangannya senang. "Aku anggap Kau setuju"


Bangsawan Dalto menepuk tempat disampingnya. "Duduklah, Aku akan mengompres pipimu. Wajahmu mengerikan sekali. Apa yang akan dipikirkan Perdana Menteri jika melihatmu seperti ini dihari pertamamu" Aku duduk. Bangsawan Dalto mengambil sapu tanganku.


"Kau juga lebih mengerikan dariku....Aduhhh aduhh..sakit ...pelan pelan" Bangsawan Dalto sudah menempelkan sapu tangan ke pipiku. Aku mengaduh.


"Diam" uiar bangsawan Dalto ketika Aku ingin memberontak.


"Putri itu harus mendapat pelajaran suatu hari nanti" ujarku kesal.


"Dia anak Raja, Kau bisa dipancung jika menyentuhnya"


"Dukungan yang bagus teman" dengusku. Bangsawan Dalto tertawa. Aku pun ikut tertawa.


Reaksi Ayah tidak begitu panik saat melihatku pulang dengan pipi lebam. Berbeda dengan Rena, dia terus-terusan mengomel sepanjang hari. "Putri adalah seorang putri bangsawan.Wajah dan tubuh putri adalah aset penting.Harusnya putri menjaga dengan benar. Tidak seperti ini" gerutu Rena saat membantuku menata rambut.


Semenjak hari itu Aku lebih sering bersama dengan Bangsawan Dalto. Baik disekolah maupun dirumah. Dia banyak membantuku belajar sehingga Aku dapat mengejar ketinggalan. Sering Aku diajak ke kota, Dia memperkenalkanku pada tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi sekaligus wisata kuliner ala orang biasa. Satu hal yang Aku tau dari bangsawan Dalto, Dia menyukai mawar dan pandai mengembak biakkan serta merawatnya. Bangsawan Dalto mempunyai pondok rahasia di hutan belakang sekolah yang cukup tersembunyi. Di area pondok itu Dia membuat kebun mawar yang ditata sedemikian rupa. Ada berbagai jenis dan warna. Disamping pondok terdapat sungai kecil yang airnya sangat jernih. Aku sering memperhatikan ikan-ikan kecil berenang, bersembunyi dibalik batu kecil untuk menyamar. Entah kenapa, suasana di pondok ini membuatku betah. Aku bisa tahan berjam-jam disini menunggu Bangsawan Dalto merawat mawarnya. Baginya, mawar tersebut penting karena itu adalah bunga kesayangan ayah dan ibunya. Hanya itu kenangan yang Dia ingat dari kedua orang tuanya.


"Yuki, hari ini sepulang sekolah Kau jangan kemana-mana ya" ujar Ayah saat kami sedang sarapan bersama. "Raja ingin bertemu denganmu. Dia mengadakan jamuan untuk menyambutmu"


"Raja ingin bertemu denganku ?" kataku tak percaya. "Kenapa ?"


"Ibumu dan Raja dulunya adalah sahabat karib. Raja ingin bertemu dengan putri dari sahabatnya sekaligus menyambut kepulangannya"


"Baiklah, aku mengerti Ayah"


Ayah mengusap rambutku senang.


"Jari ini apa Kau akan datang diacara penyambutanku" tanyaku pada bangsawan Dalto saat Aku menemaninya di pondok mawar.


Bangsawan Dalto membungkuk, sibuk mengisi kantung plastik dengan pupuk. Dia tersenyum menggoda. "Aku akan pergi jika Kau berdandan cantik"


Aku langsung memberengut. "Kau menyuruhku memakai pakaian badut ala putri kerajaan"


Bangsawan Dalto terkekeh. Dia menepuk tangannya membuang sisa kotoran yang menempel. "Tolong ambilkan pisau itu" tunjuk bangsawan Dalto pada pisau disampingku, dekat dengan tumpukan mawar segar yang baru dipanennya.


"Aduh" karena tidak berhati-hati jariku tertusuk duri mawar. Aku menggigit jariku yang berdarah dan menghisapnya.


"Kau tidak apa apa" tanya bangsawan Dalto memeriksa tanganku yang masih mengeluarkan darah. Dia mengusap dengan sapu tangannya.


"Tidak apa apa. Banya duri mawar. Aku tidak berhati-hati tadi. Apa Kau sudah selesai ?"


"Ya, ayo kita kembali" ajak Bangsawan Dalto sembari mengulurkan tangan. Dia membawa mawar yang telah dipanennya dalam keranjang. Aku menerima uluran tangannya. kami langsung berjalan pergi menuju gedung sekolah. Sepanjang jalan banyak murid yang melihat kami sinis. Tapi Aku tidak perduli. Tidak ada seorangpun yang berhak mengaturku berteman dengan siapa.


Malam harinya seperti yang dikatakan Ayah, Dia membawaku menuju istana. Aku lega Ayah menjemputku. Rena dari tadi siang sudah ribut dengan persiapanku. Aku dimandikan dengan segala jenis perawatannya. Kuku ku dirapikan dan diberi perwarna. Aku juga mengenakan banyak perhiasan seperti putri pada umumnya. Aku sempat memprotes karena banyaknya perhiasan yang Kukenakan, tapi kali ini sepertinya Rena tidak mau dibantah.


"Besar sekali" bisikku pada Ayah ketika memasuki gerbang istana. Istana Raja sangat besar dan luas. Di taman ada banyak rusa, kelinci dan cicit burung.Ayah menuntunku menaiki tangga. Bangunan istana tinggi dan luas, dengan arsitektur penuh dengan kubah emas. Suasana istana sudah meriah.


Aku dibawa kesebuah aula yang cukup besar, terdengar gemuruh tamu disusul keheningan yang aneh ketika nama kami diumumkan masuk ke dalam aula. Pintu terbuka. Aku melangkah masuk ke dalam dituntun Ayah. Rasanya seluruh mata memandang kearahku, Membuatku gugup. Aku menundukkan kepala, melotot memperhatikan langkahku agar tidak terbelit gaun atau tersandung lantai batu disepanjang jalan yang kulewati. Sangat memalukan jika itu terjadi. Bisik-bisik tamu mulai terdengar. Aku melihat Putri norah diantara para tamu, memandangku tidak suka.


Diujung ruangan, diundakan tertinggi, Raja Bardhana-raja negeri ini duduk menunggu. Di samping kirinya diundakan bawah ada Pangeran Riana didampingi oleh pendeta Serfa yang berdiri dengan setia disampingnya.


Kami memberi hormat pada Raja dan Pangeran dengan sikap formal.


"Hormat kami pada Raja Bardhana, raja negeri ini. Hormat kami pada Pangeran Riana" Aku menirukan ucapan Ayah yang telah Aku pelajari sepanjang jalan.


"Ransah" Aku terkejut saat Raja memanggil nama Mamaku. Raja menatapku tidak percaya. Suaranya sedikit bergetar.


Aku agak kecewa melihat Raja, dia tidak seperti Pangeran Riana. Tubuhnya pendek,gepal dengan perut yang buncit. Rambutnya panjang sebahu dan sudah mulai memutih. Ada penderitaan yang dalam ketika Dia menyebut nama Mamaku.

__ADS_1


"Kau Ransah" tanya Raja lagi membuatku terdiam. Aku binggung harus mengatakan apa. Ayah secara tiba-tiba menarikku untuk menundukkan kepala, memberi penghormatan kembali pada Raja.


"Perkenalkan putri hamba Yuki Orrie Olwrendho" ujar Ayah tenang.


Raja mengerjap, tersadar dari imajinasinya. "Yuki ?" ulang Raja mencerna dalam kepalanya. Raja kembali bersandar, ketegangan hilang. Dia menghela nafas memandangku tidak percaya. "Putrimu sangat mirip dengan ibunya. Sekilas Aku hampir mengenalinya sebagai Putri Ransah"


"Yuki memang sangat mirip dengan ibunya yang mulia, Bahkan sifatnya pun hampir secara keseluruhan didapat dari ibunya"


"Benarkah" tanya Raja antusias. Raja tertawa geli masih menatapku. "Kalau begitu Kau pasti sangat repot, mengingat Ransah bukanlah putri yang mudah diatur"


Wajahku memerah mendengar seloroh Raja. Raja berbicara seperti dia sangat mengenal Mama. Wajar saja mereka adalah sahabat karib.


"Duduklah, Putri Yuki nikmati perjamuan hari ini. Aku mengadakannya khusus untuk menyambutmu"


"Terimakasih yang mulia"


Aku dan Ayah duduk di sebrang bangku yang ditempati Pangeran Riana. Dia tampak acuh. Musik sudah dimainkan. Para pelayan masuk membawakan makanan. Serfa sudah tidak ada ditempatnya. Sepanjang acara, Ayah tidak bosan bosannya mengajakku berkeliling untuk diperkenalkan secara langsung ke teman-temannya. Ada rasa bangga ketika d


Dia menyebutKu putrinya. Akhirnya ketika pesta dansa Aku berhasil memisahkan diri, Ayah sibuk membicarakan pekerjaan dengan menteri pertahanan. Aku menolak ajakan beberapa bangsawan yang ingin mengajakku berdansa. Menyelinap menuju pintu keluar. Aku tanpa sengaja bertubrukan dengan Pendeta Serfa. "Maafkan Aku Pendeta Serfa" ujarku kaget.


"Tidak apa apa Putri, apa anda baik baik saja ?"


"Ya Aku baik baik saja"


"Kalau begitu Saya permisi dulu" ujar Pendeta berlalu. Aku baru saja berbalik ketika menyadari ada bungkusan kain kecil dikakiku. Refleks Aku mengambil. Sepertinya ini milik pendeta Serfa. tapi, Aku celingukan mencari sosoknya, Dia sudah tidak ada. Pandanganku bertubrukan dengan bangsawan Doldores. Dia mengelap mulutnya. Dari gerak geriknya Dia ingin menghampiriku untuk mengajakku berdansa. Aku langsung menyingkir pergi. Siapa yang sudi berdansa dengannya.


Aku duduk di balkon yang cukup tersembunyi. Dari tempatku keriuhan pesta terdengar. Suara musik mengalun lembut tanda pesta dansa dimulai. Aku duduk di pagar, Melepaskan sepatuku. Kakiku lecet dan memerah. Aku tidak terbiasa mengenakan sepatu tinggi seperti ini. Andai Aku tadi membawa sepatu cadangan.


Seseorang menyodorkan seikat besar mawar merah yang masih segar.


"Kau datang" kataku girang.


Bangsawan Dalto tersenyum. "Aku sudah bilang akan datang kalau Kau berdandan cantik"


Aku menerima bunga yang disodorkan Bangsawan Dalto. Dia telah memotong duri mawar di setiap tangkainya. Aku mencium bunga itu. Aromanya menyenangkan. "Bagaimana Kau bisa menemukanku disini"


"Aku sudah mengikutimu sejak awal Kau datang, jadi begini caramu menolak para bangsawan, bersembuyi seperti ini"


"Aku tidak menerima protesmu" selorohku. "Kenapa Kau tidak menemuiku diawal k


Kau melihatku"


"Aku melihat Ayahmu sangat senang bersama denganmu. Rasanya kurang pantas kalau Aku menyela" Aku menganggukan kepala mengerti.


"Kau tidak ingin berdansa" tanya bangsawan Dalto lagi ketika suara musik lembut mengalun.


Aku menunjukkan kakiku. "Mereka tidak bersahabat"


"Bisa diatur" ujar bangsawan Dalto tenang.


"Aku tidak mau kembali ke dalam"


"Aku juga"


Bangsawan Dalto mengulurkan tangannya. Dia menuntunku. Kedua tangannya memeluk pingangku. Kami berhadapan dalam jarak yang cukup dekat. Jantungku berdebar. rasanya Aku tidak sanggup untuk bernafas. Kami berdansa. Mengikuti alunan musik. Aku tidak berani menatapnya karena malu. Wajahku pasti sudah memerah saat ini.


Kami hanya diam, hanya ada suara musik dan gemerincing perhiasan saat kami bergerak. Bangsawan Dalto berhenti.Aku menatapnya binggung. Dia menelan ludah sesaat. "Maaf" bisiknya.


Bangsawan Dalto perlahan mendekatkan wajahnya. Waktu seolah berputar lambat. Namun, sebelum bibirnya sempat menyentuh bibirku, terdengar suara gulf. Mengagetkanku. refleks Aku mundur. Aku menunduk, tidak berani menatapnya karena malu.


"Yuki Kau dimana ?" tanya ayah khawatir.


"Aku berada di balkon aula, Aku akan kembali masuk" ujarku akhirnya.


"Baiklah Ayah tunggu"


Aku mengambil buket bungaku dan memasang kembali sepatuku. Bangsawan Dalto duduk dipagar. "Kau tidak ingin masuk kedalam ?"


"Tidak, kau masuklah. jangan membuat Perdana Menteri khawatir" Aku menganggukan kepala.


Ayah sudah menungguku di dekat pintu. "Sudah malam, ayo kita berpamitan pada yang mulia dan pulang" ujar Ayah menuntunku. Aku menganggukan kepala setuju.


Raja mengantarkan kami sampai kereta kuda.


Dia didampingi Pangeran Riana yang hanya diam. "Kau harus sering membawanya untuk mengunjungiku" Ujar Raja sebelum kami naik kereta. Ayah menunduk memberi hormat. Aku masuk kedalam kereta diikuti Ayah.


Sesampainya dirumah, Aku langsung mandi dan berganti baju. Rasanya lega sekali terbebas dari pakaian putri yang sangat menyiksa. Aku heran bagaimana para putri bisa tahan menggunakan perhiasan seperti sebanyak itu setiap hari. Rena baru saja keluar dari kamar mandi sambil menunjukkan bungkusan kecil milik Pendeta Serfa ditangannya. "Putri ini apa" tanyanya menghampiriku yang sedang membaca buku diatas tempat tidur.


"Ah itu milik temanku yang terjatuh. besok Aku akan mengembalikannya"


Rena memberikan bungkusan itu padaku.


"Jika sudah tidak ada yang diperlukan Saya permisi"


"Selamat malam Rena"


"Selamat malam Putri"


Rena berjalan keluar. Pintu ditutup. Alih-alih tidur Aku malah menimang bungkusan ditanganku.


Mungkin Aku harus mengeceknya. Siapa tau ini bukan milik Serfa, Pikirku membenarkan godaan dari dalam diriku untuk mengecek bungkusan itu. Siapa tau Aku salah.

__ADS_1


Aku membuka bungkusan itu, mengintip isinya. Ternyata isinya hanya batu kerikil. "Apa-apaan ini" Aku mengambil batu itu dan terkejut. Begitu menyentuh kulitku, batu itu bersinar terang, mengeluarkan pedar berwarna biru es. "Wuuuaahhhh" Kataku terpana. Aku memandang batu itu kagum. Tapi, tiba tiba saja fikiranku teringat Pangeran Riana. Warna matanya sama benar dengan cahaya batu ini. Aku langsung kehilangan minat pada batu ini. Aku kembali memasukkan batu tersebut kedalam kantung.Batu itu kembali menjadi batu kerikil biasa. Aku mengikat kantungnya dan memasukkan kedalam laci disamping tempat tidur. Tidak berapa lama Aku sudah tertidur saking lelahnya.


__ADS_2