Morning Dew

Morning Dew
36


__ADS_3

"Kau sudah bangun ?" Tanya Pangeran Riana tenang membuyarkan kesunyian. Yuki masih diam membisu, jadi Pangeran Riana berbalik kepada tetua di depannya yang pernah menjabat sebagai Menteri di jaman kakeknya, yang sengaja Dia undang untuk membahas kasus yang terjadi lima belas tahun yang lalu. "Terimakasih telah datang memenuhi undangan ku, Aku akan mempelajari semua laporan ini, jika ada yang tidak ku mengerti Aku akan mengutus seseorang untuk menghubungi kalian kembali"


Dua tetua itu berdiri dan memberi hormat kepada Pangeran Riana. Sebelum pergi, Mereka melirik ke arah Yuki kemudian menggelengkan kepala dengan wajah yang suram, seolah Yuki baru saja membunuh orang di depan Mereka.


"Kenapa Kau tidak menjelaskan kepada Mereka ?" Tanya Yuki tersadar ketika Mereka hanya tinggal berdua di ruang kerja Pangeran Riana.


"Menjelaskan apa ?" 


"Menurutmu apa yang di pikirkan Mereka jika melihatku keluar kamarmu dengan penampilan seperti ini ?" Ujar Yuki gusar. "Mereka pasti menyangka Kita melakukan sesuatu yang tidak benar"


"Bagus Kan ?"


Yuki ingin memprotes. Tapi Pangeran Riana sedang serius dengan dokumen di depannya. Yuki tahu, Pangeran Riana menikmati apapun yang dipikirkan oleh para tetua itu. Demi kebaikan, Dia memutuskan untuk tidak membahasnya dengan Pangeran Riana.


"Bagaimana lukamu ?" Tanya Yuki mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Sudah sembuh" Jawab Pangeran Riana acuh, Dia masih sibuk menelusuri isi dokument di depannya. 


"Benarkah ?" Yuki melebarkan mata tidak percaya. "Tidak mungkin sembuh begitu cepat"


"Kau boleh memeriksa jika Kau mau"


"Apa Pangeran pikir Aku tidak akan melakukannya ?"


Yuki menghampiri Pangeran Riana dan langsung mengangkat tangan Pangeran Riana untuk memeriksa. Melihat reaksi Pangeran Riana yang datar, Yuki lantas menarik pakaian Pangeran Riana ke atas untuk melihat sendiri lebamnya.


"Aku tidak tahu kalau Kau seagresif ini Putri" 


"Jangan berbicara sembarangan" hardik Yuki, Dia menundukkan kepala untuk mengintip bahu Pangeran Riana dari balik pakaiannya. "Bagaimana bisa ?" Yuki tergangga tak percaya. Luka di lengan Pangeran Riana sudah tidak ada lagi, untuk memastikannya Yuki memaksa mendekat untuk melihat lebih jelas. Tapi Dia tidak menemukan kulit yang lebam seperti semalam.


Benar-benar sembuh total.


Pangeran Riana menyentakkan lengannya agar Yuki melepaskannya, Yuki mundur masih terlihat binggung. 


"Berkat obat yang diberikan Serfa" ujar Pangeran Riana menjelaskan kebingungan Yuki.


Yuki mulai memikirkan untuk belajar pengobatan dengan Pendeta Serfa. Tampaknya Dia peracik obat yang handal.


"Ngomong-ngomong Yuki, apa tidak ada yang ingin Kau jelaskan padaku ?" Tanya Pangeran Riana tenang sembari menutup bukunya. 


Yuki memandanginya dengan wajah kebinggungan. "Apa ?" Tanya Yuki tidak memahami arah pembicaraan Pangeran Riana. 

__ADS_1


Alih-alih menjawab Pangeran Riana justru menarik Yuki duduk di pangkuannya. Yuki terkejut namun Dia tidak dapat melepaskan dirinya karena Pangeran Riana sudah mengunci badannya dengan kedua tangan. 


"Apa yang Kau lakukan, lepaskan Aku atau Aku akan berteriak" ancam Yuki berusaha terlihat garang.


"Lihatlah dirimu, sekarang Kau menolak ku padahal semalam Kau berani mencium ku" 


"Aku tidak mencium mu" Yuki berusaha membebaskan diri tapi tenaganya tidak mampu mengimbangi kekuatan tangan Pangeran Riana. Pangeran Riana justru malah mempererat pelukannya. "Aku berusaha memasukkan obat ke dalam mulutmu karena Kau terus saja memutahkannya" lanjut Yuki dengan gusar.


Pangeran Riana tersenyum tipis. "Kau tahu kan sebentar lagi ada festival empat negara di sekolah ?" 


Yuki memandang Pangeran Riana dengan sikap waspada. Dia curiga Pangeran Riana merencanakan sesuatu padanya.


"Ya" jawab Yuki masih sambil berusaha melonggarkan cengkraman Pangeran Riana di pinggangnya.


Festival empat negara yang di selenggarakan empat tahun sekali untuk menjalin kerjasama dan hubungan baik sebagai negeri tetangga.


Negeri Argueda, Garduete, Hulmaira,Celfana dan beberapa negeri kecil di sekitarnya.


Setiap Negeri akan mengirim Murid-murid terbaiknya untuk bertanding dan menunjukkan kebolehannya.


Tahun ini, Festival diadakan di Negeri Garduete, tepatnya di sekolah.


"Jika Kau mencium ku, Aku akan mengizinkanmu ikut ke sekolah hari ini bersamaku" 


"Tidak mau" tolak Yuki cepat. Dia tidak menyangka Pangeran Riana akan memberikan penawaran bersyarat padanya. "Kau kira Aku ini apa ?"


Alis Yuki berkerut menjadi satu. Jelas Dia merasa berat menerima persyaratannya. Pangeran Riana mengendurkan tangan, Yuki bergegas berdiri dengan kesal.


"Aku tidak mau memaksamu Putri" Pangeran Riana tampak acuh seolah bukan Dia yang membutuhkannya.


"Kau licik" tuduh Yuki kesal. 


Pangeran Riana jelas tahu Yuki sangat ingin pergi mengikuti proses persiapan Festival empat negara. Dia mengajukan penawaran yang tidak masuk akal. 


Ini satu-satunya kesempatan Yuki. Untuk bisa menghirup udara segar kembali, penawaran tidak akan datang dua kali mengingat mood Pangeran Riana yang berubah-ubah kepadanya.


Yuki memikirkannya dan sedikit goyah. Dia hanya harus menciumnya dan bebas. Tapi apa Dia bisa melakukannya ?. Meskipun ini sebuah ciuman ?.


"Licik sekali" bisik Yuki frustasi.


Pangeran Riana tersenyum penuh kemenangan. "Satu ciuman dan Kau bisa kembali ke sekolah" janji Pangeran Riana mempertegas ucapannya.

__ADS_1


"Hanya satu ciuman ?" Tanya Yuki meyakinkan. 


"Ya.."


Yuki cemberut. Dia tidak punya pilihan. Siapa yang mau dikurung dalam kamar berhari-hari seperti itu. 


"Baiklah" ujar Yuki menyerah. Yuki mendekati Pangeran Riana, sedikit ragu dengan keputusannya. "Jangan bergerak" pinta Yuki memperingatkan. Pangeran hanya diam.


Perlahan wajahnya mendekati Pangeran Riana. Dan..dengan cepat Dia mencium bibir Pangeran Riana.


"Apa itu ?" Tanya Pangeran Riana merasa dipermainkan. Yuki berdiri sembari mengusap bibirnya. 


"Ciuman kan ?" Jawabnya berlagak polos.


Pangeran mendesah. Dia menarik Yuki kembali, dalam sekejap Yuki sudah berbaring di atas sofa. Yuki terkejut dan langsung memberontak.


"Apa yang Kau lakukan"


"Diam" perintah Pangeran Riana. Dia mengusap pipi Yuki, Yuki memalingkan wajah tidak berani membalas tatapan Pangeran Riana.


"Seingatku Aku tidak membuat masalah apapun" Kata Yuki mengingatkan dengan nada histeris. Tubuhnya seolah membantu, Pangeran Riana hanya berjarak satu inci dengannya. Terlalu dekat untuk sekedar berbicara. Jantung Yuki berdebar. Dia memutar otak agar bisa melepaskan diri dari situasi yang sulit.


Hembusan nafas Pangeran Riana terasa panas di pipi Yuki. Yuki menutup mulutnya dengan punggung tangan. "Jangan berusaha melupakan janjimu, Kau bilang hanya satu ciuman" 


Pangeran Riana melihat wajah panik Yuki, pipinya bersemu kemerahan. Sangat menggoda. "Memang tapi Bukan ciuman yang kekanakan seperti tadi"


Pangeran Riana segera menarik tangan Yuki dan menekannya di samping kepalanya. Yuki ingin memprotes tapi bibirnya langsung di sambar oleh Pangeran Riana.


"Mmmmmm" Yuki berusaha memberontak untuk melepaskan diri. Namun, Dia tidak berdaya. Ciuman Pangeran Riana penuh tuntutan membuatnya kewalahan. Pangeran Riana bahkan tidak memberi kesempatan Yuki untuk bernafas.


Sejak pertama kali mencium gadis itu, Pangeran Riana menjadi candu akan bibir manis yang dimilikinya. Dia belum pernah merasa seperti ini sebelumnya pada wanita lain. Berkali-kali Dia selalu menahan diri untuk tidak menyeret gadis itu ke atas ranjangnya dan menikmati setiap inchi tubuhnya. 


Hanya soal waktu saja, Dia harus sabar menunggu sampai gadis itu berusia enam belas tahun.


Jantung Yuki berdebar cukup kencang. Entah berapa lama Pangeran Riana menciumnya. Saat Pangeran akhirnya melepaskan ciumannya, nafas Yuki sudah tersenggal-senggal. Wajahnya memerah, panas.


"Bersiaplah, jangan sampai aku berubah pikiran nanti" Kata Pangeran Riana tenang.


Yuki tidak menjawab. Dia bangun dan merapikan rambut serta pakaiannya kemudian berlari keluar kamar. Dia bahkan tidak menyapa Penjaga di depan kamarnya.


 

__ADS_1


__ADS_2