
Bangsawan Voldermon akhirnya berdiri. Dia merenggangkan ototnya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Dia tidak ada di sini, Aku akan mencarinya sebelum Kau menghancurkan sekolah ini karena tidak menemukannya"
Terdengar suara pintu di buka dan tidak berapa lama ditutup.
Yuki masih diam di posisinya menunggu. Dia tidak dapat melihat apakah masih ada orang di dalam. Dia tidak mau mengambil resiko.
Yuki mencoba menajamkan pendengarannya, tapi Dia tidak mendengar apa-apa selain detak jantung Pangeran Sera.
Sinar matahari menyilaukan, Yuki memincingkan mata. Peluh keringat mengalir di dahinya.
"Panas" bisik Yuki lirih. Pangeran Sera menunduk dan melihat Yuki tampak kepayahan. Dia mengangkat tangannya dan menghalangi sinar matahari dari wajah Yuki.
Yuki mendongak untuk berterimakasih tapi justru gerakannya itu membuat bibirnya nyaris bersentuhan dengan bibir Pangeran Sera.
Keduanya diam. Pangeran Sera menatap Yuki dalam dan intens. Tidak ada pria yang pernah menatap Yuki seperti itu sebelumnya. Yuki merasa malu, jantungnya semakin berdebar kencang. Dia mengingatkan dirinya sendiri dengan tegas statusnya.
Dia adalah kekasih Pangeran Riana.
Tidak pantas jika berpikiran lain terhadap Pria selain Pangeran Riana.
Yuki menundukkan kepala, menghindari tatapan Pangeran Sera yang seolah mampu membuatnya lepas kendali.
"Pangeran !"
Deg
Jantung Yuki nyaris berhenti. Ternyata Pangeran Riana masih berada di dalam ruangan. Dia tidak mengeluarkan bunyi apapun sehingga Yuki nyaris saja keluar dari persembunyiannya.
"Apa Kalian sudah menemukannya ?" Tanya Pangeran Riana tidak ingin berbasa-basi.
"Mohon maaf Pangeran, Kami masih mencari" ujar Prajurit Kepala melapor.
"Lalu untuk apa kalian kemari ?" Tanya Pangeran Riana lagi dengan sinis.
"Pasukan kerajaan mengirimkan pesan dari Yang Mulia agar Pangeran segera menemuinya sekarang juga"
__ADS_1
Pangeran Riana tidak mengatakan apapun. Dia langsung keluar. Hanya terdengar langkah kaki dan pintu yang terbuka dan tertutup. Selanjutnya hening.
Yuki terus menunggu dengan waspada sampai Dia merasa cukup aman untuk keluar.
Setelah yakin, Keduanya beringsut keluar dari persembunyian Mereka. Yuki segera menundukkan kepala dengan sopan untuk memberi hormat kepada Pangeran Sera.
"Terimakasih Pangeran atas bantuannya. Sekarang Aku permisi dulu"
Tanpa menunggu persetujuan Pangeran Sera, Yuki langsung melarikan diri. Dia tidak ingin melibatkan Pangeran Sera dalam masalah lagi.
Yuki berjalan menyusuri lorong, beberapa Putri yang dilewatinya di sepanjang jalan menatapnya sinis. Beruntung, Bel pelajaran berbunyi. Semua murid masuk ke kelasnya masing-masing. Suasana sekolah menjadi sepi.
Yuki tidak tahu harus kemana. Dia hanya berjalan tidak tentu arah. Ketika Dia sampai di anak tangga teratas. Bangsawan Dalto muncul dari bawah.
Yuki melangkah turun perlahan. Keduanya berpapasan.
Bangsawan Dalto melewati Yuki dengan acuh seolah Mereka tidak saling mengenal.
"Apa Kita akan terus seperti ini ?" Yuki sudah tidak tahan lagi. Jadi Dia berbalik dan bertanya pada Bangsawan Dalto yang sudah tiba di anak tangga teratas. Bangsawan Dalto menghentikan langkahnya namun tidak berbalik untuk melihat Yuki. "Tidak bisakah Kita kembali seperti dulu ?"
Belum pernah Dia merasa bersemangat seperti ini. Dia berjalan penuh percaya diri. Kekuatannya semakin meningkat.
Sebentar lagi orang akan mengenalnya. Dia akan menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya. Dia menghirup nafas senang.
Pemburuan kali ini jauh lebih menyenangkan daripada sebelumnya. Dia akan melihat wajah-wajah musuhnya memohon padanya untuk tetap hidup. Pikirannya melayang, Dia sudah membuat daftar dalam kepalanya dan apa yang akan dilakukannya pada Mereka.
Dia tersenyum.
Berjalan pergi dengan langkah ringan.
Yuki tiba di gerbang istana kediaman Pangeran Riana. Dia berhasil menemukan para Prajurit yang sedang mencarinya, meminta Mereka untuk membawanya pulang.
Ketika menuruni kereta, Dia terkejut melihat pasukan berkuda telah bersiap di barisannya.
Bangsawan Xasfir sedang mengecek pembekalan. Yuki menghampirinya sembari bertanya dalam hati. Belum sempat Dia mengatakan sesuatu, Pangeran Riana muncul di belakangnya dengan mengendarai kuda hitam miliknya.
__ADS_1
"Kau sudah pulang ? Bagaimana ?, Puas berkencan dengan Sera ?" Sindir Pangeran Riana langsung. Pangeran mengenakan jubah panjang berwarna gelap. Dia tampak sudah siap untuk melakukan perjalanan.
"Aku tidak berkencan dengannya" bantah Yuki cepat.
Pangeran Riana turun dari kuda dan menghampiri Yuki.
"Kalian akan kemana ?" Tanya Yuki mencoba mengalihkan pembicaraan yang bisa memicu kemarahan Pangeran Riana.
"Penduduk desa menemukan prajurit Perdana Menteri Olwrendho di hutan, Dia terluka parah tapi tabib di sana berhasil menyelamatkan nyawanya. Sekarang Dia sudah siuman. Jadi Kita akan ke sana untuk bertanya langsung padanya" jelas Pangeran Riana sembari memasangkan jubah yang telah dipersiapkan ke bahu Yuki. "Sebenarnya cukup berbahaya membawamu ke sana karena Kita belum tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada Perdana Menteri, tapi Aku tidak akan tenang meninggalkanmu sendiri di sini bersama dengan para lelaki yang mengelilingimu. Kau akan ikut denganku"
Tanpa menunggu persetujuan, Pangeran Riana langsung mengangkat Yuki ke atas kuda. Yuki memeluk Pangeran Riana erat begitu Pangeran Riana menyusulnya. Yuki belum terbiasa menaiki kuda, Dia takut jatuh.
"Tidak biasanya Kau berani memelukku lebih dulu" sindir Pangeran Riana.
Yuki hanya diam. Dia tidak mau bertengkar. Pangeran Riana memacu kudanya, Diikuti pasukannya dari belakang.
Pangeran Riana dan pasukannya terus melaju seolah tidak mengenal waktu. Hanya beristirahat untuk mengisi perut dan memberi makan kuda. Setelah itu, Mereka akan melanjutkan perjalanan. Pangeran Riana tidak ingin membuang waktu. Siapapun pelaku yang menyerang Perdana Menteri jelas tidak ingin ada saksi mata. Semua pasukan di bunuh tanpa ampun. Jika Dia mengetahui ada satu orang yang masih hidup, prajurit itu akan di buru dan bisa jadi seluruh penduduk desa akan menjadi korban.
Pangeran Riana tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Ada banyak nyawa yang tidak bersalah di pertaruhkan.
Mereka tiba di hari ke tujuh. Kepala Desa menyambut Mereka dengan wajah lega. Jelas sekali, Dia tampak tertekan karena masalah ini. Rombongan dibawa ke sebuah penginapan yang telah di sediakan.
Yuki langsung mandi begitu Dia mendapat kamar. Tujuh hari tanpa menyentuh air membuat badannya terasa lengket. Dia tahan lagi dengan kondisi badannya dan segera membersihkan diri serta mencuci rambutnya. Seorang pelayan membantunya berdandan.
Yuki memilih mengenakan pakaian terbuat dari kain biasa, Dia menggunakan sedikit make up agar tampak segar. Rambutnya di kepang longgar ke belakang. Yuki tidak mengenakan perhiasan apapun selain kalung pemberian Putri Ransah.
"Putri sangat cantik meskipun mengenakan pakaian seperti ini, Pangeran sangat beruntung mendapatkan Putri. Semoga calon ratu nanti secantik Putri" kata pelayan itu membuat Yuki canggung.
"Terimakasih" Ujar Yuki tidak tahu harus mengatakan apa.
Pelayan itu meminta izin pergi setelah menyiapkan keperluan Yuki.
Yuki ditinggal sendiri di dalam kamar. Pangeran Riana memerintahkan para penjaga untuk memastikan Yuki tetap berada di dalam kamar sampai Dia kembali.
Pangeran Riana sendiri langsung pergi menemui prajurit yang terluka setelah Dia membersihkan diri. Yuki melihat di meja makanan belum tersentuh, Pangeran Riana bahkan belum makan apapun semenjak siang. Sekarang hari sudah mulai gelap.
__ADS_1