
"Berhenti" teriakku dengan nafas terenggah. "Berhenti...Aku sudah tidak kuat lagi"
Aku terus berlari, mengikuti tarikan tangan di depanku.
Tangannya menggengamku erat, memaksaku untuk terus mengikuti langkahnya. Menerjang kerumunan, berbelok ke sudut gang sempit. Aku hampir saja terjatuh ketika kami menuruni tangga kayu. Suara langkah kaki Kami terdengar bergema di gang ini.
"Aku sudah tidak kuat lagi" kataku ketika akhirnya berhasil memegang tiang kayu sebuah bangunan. Keringat menetes di pelipisku. Aku mengambil nafas, menghirup udara banyak-banyak. Paru-paruku terasa kering kerontang membutuhkan suplay udara.
Aku jarang berolahraga semenjak datang ke dunia ini. Mungkin sekarang Aku harus mulai mengatur waktuku. Berlari sebentar saja sudah membuatku seperti ini.
"Pangeran....biarkan Aku bernafas sebentar"
Pangeran Sera membuka kain yang menutupi wajahnya, Aku terduduk di tanah kepayahan.
Entah dari mana, Pangeran Sera muncul dan membawaku pergi tepat ketika para penjaga sibuk melerai pertingkaian didepan jalan kami. Dia mengenakan pakaian kain biasa, menutupi wajah dengan kain, Aku dapat mengenalinya ketika melihat mata dan rambutnya.
"Kita harus berjalan kembali sebelum para prajurit menyadari Kamu menghilang"
Aku heran karena Pangeran sama sekali tidak terlihat kelelahan. Nafasnya teratur tidak sepertiku. Pangeran kembali menarikku supaya Aku berdiri. Aku terpaksa menurutinya. Namun, untungnya Pangeran tidak memaksaku berlari kembali. Kali ini Kami hanya berjalan cepat menyusuri jalan sempit diantara bangunan yang ada. Jalan yang Kami lewati cukup sepi, nyaris tidak ada orang yang terlihat. Saat di ujung gang, Pangeran membelok ke kiri, menuju sebuah bangunan kecil yang tertutup. Dindingnya kusam dengan beberapa poster menempel disana-sini. Pangeran mengetuk pintu keras, beberapa saat kemudian terlihat mata mengintip dari dalam bangunan.
"Kita dimana ?" Tanyaku binggung.
Belum sempat pangeran menjawab pintu terbuka. Seorang pemuda muncul dengan hormat.
"Ayo Yuki" Ajak Pangeran Sera sembari mendorong lembut punggungku. Aku masuk ke dalam diikuti Pangeran Sera dibelakangku. Pintu ditutup dari dalam. Ini adalah halaman belakang sebuah rumah. terdengar keramaian dari kejauhan.
"Kita dimana ?" Tanyaku lagi. Mengikuti Pangeran Sera yang berjalan tenang disampingku.
"Toko pakaian, Gantilah baju dulu baru nanti kita akan berbincang" Ujar Pangeran lembut.
Kami menaiki tangga, sampai pada ruang ganti pakaian yang privasinya terjaga dengan baik. Pangeran duduk menungguku sementara Aku berganti pakaian di bilik kecil yang ada di ruangan itu. Aku mengenakan pakaian dari kain biasa yang kuambil secara asal dari tumpukan yang dibawa pelayan, menolak tawarannya untuk mencoba baju lain, baju yang kupilih berwarna biru dengan motif bunga-bunga kecil berwarna pink. Gaun tali satu yang sangat nyaman, bahannya adem dan pas di tubuh.
Seorang pelayan membantuku melepaskan perhiasan di rambut dan tubuhku. Dia mengumpulkannya di sebuah kantung kain. Aku mengelung rambutku sedemikian rupa. membersihkan make up diwajahku dan hanya mengenakan bedak tipis-tipis serta sedikit lipstik berwarna soft. Aku sengaja tidak mengenakan perhiasan apapun. Terakhir Aku menganti sepatu hak tinggi dengan sepatu biasa yang lebih nyaman untuk dikenakan.
"Putri semua pakaian dan perhiasan Putri sudah dikemas dalam kotak. Dimana Saya harus mengirimnya nanti ?"
"Kirimkan saja ke kediaman keluarga Olwrendho"
"Baik putri" Pelayan tampak sangat lega saat Aku memintanya mengirimkan ke kediaman Ayah. Mungkin dalam benaknya Dia tidak tahu apa yang akan dihadapinya jika Aku memutuskan untuk mengirimkan ke Istana Pangeran Riana.
Aku tidak tahu siapa.
Dari Rena Aku mendengar seseorang yang misterius telah datang seminggu setelah pemakaman Ayah. Dia tinggal disana selama dua hari sebelum Akhirnya menghilang tanpa jejak. Seorang pelayan yang setia kepada Ayah, Dan masih bertahan di kediaman Ayah sampai sekarang, Darinya Aku mendapatkan informasi jika orang tersebut jauh sebelum Aku datang sudah beberapa kali berkunjung. Perdana Menteri Olwrendho pernah memperkenalkan sebagai Putranya. Tapi selebihnya tidak ada yang tau siapa orang itu. Dia selalu datang dan menghilang secepat kilat, tanpa diduga dan sesuka hati.
Ayah tidak pernah mengatakan Dia memiliki seorang Putra sebelumnya. Mungkin Dia adalah Anak kawan lama Ayah yang sudah dianggapnya sebagai Putranya sendiri. Yang Aku tahu dari surat wasiat Ayah, Dia mewariskan setengah harta dari seluruh harta miliknya kepadanya.
Rena mengatakan orang tersebut sangat tampan dan berkharisma. Seseorang yang memiliki aura terang yang mampu menarik orang disekitarnya. Dia seperti merak jantan yang merentangkan sayap diantara merak betina untuk menarik perhatian.
Rena memberikanku bayangan mengenai sosoknya yang didapat dari para pelayan lama. Dia memiliki rambut lurus berwarna putih susu. Matanya tajam berwarna hijau jambrut. Tubuh tinggi dan langsing serta kulit putih pucat. Garis wajahnya jelas, namun selalu tanpa ekpresi. Bibirnya seperti busur panah berwarna merah. Banyak yang mengatakan Dia bukan Seratus persen Manusia, Manusia tidak akan sesempurna dia, Hanya Aku tidak mengerti maksud perkataan mereka.
Orang ini mengurus semua hal dalam sekejap, Dia mengutus orang untuk memperbaiki segala kerusakan, membayar semua pelayan untuk tetap bekerja di rumah dan mengurus semua bisnis yang Ayah tinggalkan. Pangeran sama sekali tidak mendapat informasi apapun mengenainya.
"Sudah selesai ?" Pangeran Sera datang, membuyarkan lamunanku. Aku menganggukan kepala canggung. "Ayo ikut" Ajaknya sambil mengandeng tanganku mesra. Dia memperlakukanku dengan lembut dan hangat. Kami menuruni tangga menuju ruang utama.
"Bagaimana bisa Pangeran berada dikeramaian itu ?" Tanyaku Akhirnya.
"Menurutmu ?" Tanya Pangeran balik.
Aku mengenyitkan alisku. "Kekacauan tadi, Apakah Pangeran yang mengaturnya ?"
Pangeran tidak menjawab,dia tersenyum lembut. "Kenapa Pangeran melakukan ini ?"
Posisinya sekarang sangat tidak menguntungkan semenjak kejadian penculikan itu. Dia tidak disambut lagi sebagai tamu kerajaan melainkan musuh kerajaan. Segala gerak-geriknya dipantau ketat oleh kerajaan. Jika kerajaan sampai mengetahui hal ini, Aku takut Dia akan mengalami kesulitan yang lebih besar.
"Aku hanya ingin bertemu dengan tunanganku. Apakah itu kejahatan ?"
"Pangeran membahayakan diri Pangeran sendiri" keluhku tidak suka.
"Sudahlah, Kita lupakan dulu urusan kerajaan barang sejenak. Aku tidak menculikmu untuk membahas hal-hal macam begini."
"Jadi kenapa pangeran menculikku ?" Kataku akhirnya.
"Aku ingin mengajakmu bersenang-senang"
"Tapi..." Kataku ragu.
"Tenang saja Aku akan mengembalikanmu ke istana jika sudah waktunya"
Pangeran memasangkan cadar dan kerudung untuk menutupi wajah dan rambutku. Dia sendiri memasang kain yang menutupi wajah dan rambutnya. Kami keluar menuju jalan besar. Terlihat keramaian yang membucah. Aku sudah lama tidak menikmati keramaian seperti ini semenjak Pangeran membawaku ke istananya. Perasaanku jadi lebih ringan. Terlihat beberapa prajurit hilir mudik disekitar Kami. Mereka mencari keberadaan diriku. Aku merasa kasihan pada mereka, Tidak terbayang bagaimana reaksi Pangeran Riana jika mengetahui Aku menghilang dalam pengawasan mereka. Tapi...Aku sendiri memang butuh udara baru untuk beberapa saat. Aku butuh tempat bernafas, dimana Aku bisa menjadi diriku sendiri.
Tempat pertama yang Kami kunjungi adalah sebuah rumah makan yang cukup elegan. Kami duduk diruang privasi sehingga tidak ada satu orang pun yang mengetahui keberadaan Kami disini. Pangeran memesan lobster panggang yang begitu mengiurkan. bumbunya masih meletup ketika dibawa ke meja kami. Aromanya membuat cacing dalam perutku berdemo dengan ganasnya. Aku baru saja ingin mencicipi Lobster ketika pelayan kembali datang dengan udang bakar bumbu madu dan kerang dimasak pedas.
"Ayo kita makan, Biasanya pemilik restoran jarang sekali memasak sendiri masakannya tapi hari ini Kita mendapat keberuntungan bisa mencicipi masakannya" jelas Pangeran.
"Benarkah, darimana Pangeran tahu ?"
"Pemilik restoran ini adalah sahabat baikku, Dia khusus memasak ini untuk menyambut tunanganku"
Aku merasa malu karena Pangeran memanggilku tunangannya dengan wajah yang manis.
__ADS_1
Aku menikmati tiga masakan yang dihidangkan dengan penuh antusias. Aku sangat suka seafood, masakan hari ini sangat sesuai dengan seleraku. Bumbu rempah-rempahnya terasa pas bersatu dengan bahan dasar masakannya. Sembari makan Aku dan Pangeran berbincang.
Saat di hutan waktu itu, Dia yang mencariku karena Aku sudah tidak ada di danau, melihat Radolf milik Pangeran Riana. Pangeran langsung memutuskan untuk putar balik kembali ke Garduete saat menyadari apa yang terjadi. Keputusan yang sangat gegabah dan berbahaya. Aku tidak suka jika Dia berbuat seperti itu hanya untukku.
Selesai makan Pangeran mengajakku ke sebuah taman yang penuh dengan pohon berbunga mirip bunga sakura yang sedang berkembang. Lega ketika Akhirnya Aku berhasil melepaskan cadar diwajahku. Banyak orang duduk dan mengobrol menikmati keindahannya.
"Wuuuaahhhh" Seruku girang. Pemandangannya benar-benar menakjubkan. Aku terpana melihatnya. Bunga yang berguguran menutupi permukaan tanah disekitarnya.
Aku berlari, merentangkan tanganku lebar seolah memiliki sayap. dibawah pohon besar, Aku berputar menikmati gugur bunga.
"Apa Kau senang ?" Tanya Pangeran lembut.
"Ya....terimakasih banyak pangeran" Kataku tulus. Kami duduk dibawah pohon, Pangeran membeli minuman dan sedikit cemilan untukku. Suasana hatiku sedang bagus membuatku bisa melahap apapun yang Dia berikan. Aku memperhatikan dua orang balita bersama kedua orang tuanya. Mereka bukan dari kalangan bangsawan jika menilik penampilan mereka. Tapi, Mereka sangat bahagia. Senyum lebar menghiasi wajah mereka.
"Ada apa ?" Tanya Pangeran pelan.
"Pangeran lihat keluarga kecil itu, Mereka sangat bahagia dengan hidupnya" Ujarku iri. Si Ayah duduk tenang sementara Ibunya sedang memberi Asi pada salah satu Anaknya. Anak yang lain bermain membentuk gunungan bunga didekat mereka. Si Ayah menyuapkan makanan untuk Anak dan Istrinya dengan penuh kesabaran. "Si istri, Dia tidak memiliki perhiasan atau pakaian bagus seperti yang biasa kukenakan. Tapi, Dia sangat bahagia memiliki seorang suami yang mencintainya dan anak-anaknya sedemikian rupa. Tidak semua wanita mendapatkan hal ini. Beruntunglah wanita seperti itu."
"Hidup memang tidak adil. Kita memiliki sesuatu tapi juga kehilangan sesuatu"
"Pangeran benar" Lanjutku menyetujui.
"Yuki..."
Aku berpaling menatap pangeran.
"Nanti, Aku memang tidak bisa menemanimu setiap waktuku. Kau mungkin juga Akan terikat ketika menjadi wanitaku. Hidupmu tidak akan sama seperti sebelumnya. Aku tidak bisa selalu memberimu kebahagiaan seperti wanita itu. Tapi ingatlah, Kau akan selalu menjadi satu-satunya untukku"
Pangeran menatapku dalam. Wajahnya serius menatapku.
Jantungku terasa berdebar kencang. Wajahku serasa panas. Pangeran mendekatiku perlahan. Tangannya menarikku mendekat.
"Pa...pangeran..." Kataku binggung.
Bibirnya semakin mendekatiku.
"Kakak sedang apa ?" Rasanya jantungku berhenti seketika. Aku berpaling dan melihat salah satu Anak dari keluarga kecil tadi sudah didekatku. Memandang Kami dengan mata kekanakannya yang polos. Dari jauh kedua orang tuanya memanggil dengan rasa bersalah.
Wajahku langsung memerah.
"Maafkan anak saya tuan" Ujar Ayahnya sembari menghampiri kami dengan rasa bersalah.
"Tidak apa-apa." Jawab Pangeran tenang. Pangeran menunduk melihat anak kecil itu lembut. "Gadis kecil siapa namamu ?"
"Qaisya" Jawab gadis kecil itu lantang.
Pangeran mengeluarkan sebungkus permen besar dalam kantongnya. "Ini untukmu...bagilah dengan adikmu"
"Terimakasih Tuan atas kebaikan untuk anak hamba" Ujar Ayah Qaisya sopan. "Maafkan Anak saya telah lancang menganggu kalian. Dia tidak bermaksud seperti itu"
"Aku dan istriku senang melihat keluarga kecilmu. Tetaplah menjadi Ayah yang baik untuk mereka"
"Mereka adalah harta saya yang paling berharga" Ujar pria itu mengakui.
"Siapa namamu ?"
"Hamba Bernades Qhalvaria tuan"
Pangeran kembali mengeluarkan kantong dari sakunya. "berikan ini untuk Anak dan istrimu. semoga kita bisa bertemu lagi dilain kesempatan"
"Tapi tuan" Bernades tampak terkejut saat menerima pemberian Pangeran Sera. "Hamba...hamba tidak bisa menerima ini"
"Kenapa ?"
"Walau hamba adalah orang tidak punya tapi hamba pantang meminta-minta untuk menghidupi Anak Istri" Aku salut dengan ketegasan yang dia milikki. Pangeran Tersenyum.
"Jangan salah, Kau tidak meminta apapun padaku. Aku memberimu hadiah karena Kau sudah memperlihatkanku arti sebuah Keluarga. Kelak Kau bisa membalas ini jika Kau mau"
"Terimakasih banyak tuan" Kata Bernandes setelah diam yang cukup lama. Setelah memberi hormat, Dia kembali berjalan menuju keluarganya. Istrinya tampak terkejut dengan pemberian Pangeran Sera yang ditunjukan suaminya. Dia memberikan penghormatan sembari memegangi Anaknya.
"Apa mereka mengenali kita ?" Tanyaku was-was.
"Tidak, tapi untuk berjaga-jaga ayo kita segera pergi dari sini"
Aku mengangguk menyetujui. Kami kembali berjalan, menyusuri sungai.
"Apakah tidak apa-apa pangeran melakukan hal ini ?" Tanyaku pelan. "Pangeran adalah seorang perwaris tahtah kerajaan. Apa baik menculikku seperti ini."
"Kenapa kau menanyakan hal itu ?,Apakah Aku membuatmu tidak nyaman ?"
Aku mengeleng cepat. "Aku takut orang akan membicarakan yang jelek soal Pangeran"
"Kau justru harus mengkhawatirkan dirimu sendiri" Ujar Pangeran sambil menatapku dengan pandangannya yang seolah mampu membuatku leleh. Mata birunya sangat indah, Aku sering merasa terhipnotis jika melihatnya.
Aku menghela nafas. Benar, Setelah ini Aku harus menghadapi Pangeran Riana. Dia pasti sudah mengetahui Aku menghilang. Mungkin Dia sudah mengerahkan pasukan untuk mencariku. Atau malah Dia sendiri yang turun tangan mencariku. Aku tidak bisa membayangkan kemarahan seperti apa yang akan ditujukan padaku. Apakah Aku bisa menghadapinya atau tidak kali ini. Aku sadar aku tidak bisa selalu beruntung untuk lolos dari cengkramannya.
"Aku bisa membawamu pergi jika Kau mau ?" Ujar Pangeran Sera lagi seolah dapat membaca ke khawatiranku.
"Aku tidak bisa Pangeran, Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya Aku akan tetap disini untuk menutaskan misteri kematian Ayah"
__ADS_1
Aku menunduk, mengaitkan kedua tanganku di dada. Aku mengerti dia mengkhawatirkan diriku, Aku juga paham bahaya apa yang sekarang harus kuhadapi. Tapi melarikan diri bukan solusi. Aku tidak ingin terus kabur. Aku harus menghadapinya apapun resikonya.
"Apa tiga percobaan pembunuhan terhadapmu itu belum cukup untuk mengedurkan niatmu ?" Tanya Pangeran lembut. "Sekarang masih ada waktu Yuki, Kita bisa pergi dan sampai dengan selamat di istana sebelum bulan biru"
Aku terkejut. Pangeran mengetahui kaitan diriku dengan bulan biru. Dia mengetahui Aku adalah seorang Ciel.
Seolah membaca pikiranku, Pangeran mengelus pipiku lembut dengan jemarinya "Aku sudah katakan, Hanya Kau yang belum mengenalku" Bisiknya lirih.
"Aku tidak bisa" Kataku sambil mengalihkan pandanganku dari matanya. Jika Aku terus menatapnya, Aku takut akan makin tergoda padanya. "Maafkan Aku Pangeran" Kataku lagi kali ini dengan nada menyesal.
"Ketahuilah, kematian Perdana Menteri Olwrendho ataupun para pegawai di rumahmu bukan salahmu. Jadi jangan terlalu menyalahkan diri. Aku tidak ingin mendengar Kau mogok makan dan mogok tidur lagi sampai sakit"
Aku lupa, Dia bisa melihatku melalui cermin. Jadi inikah alasan Dia merencanakan untuk menculikku. Dia mengkhawatirkan kondisiku. Aku tidak menyangka perhatiannya padaku akan sebesar ini. Dadaku terasa panas.
"Pangeran, Apa Pangeran tidak ingin mencari wanita lain untuk pangeran ?" Bisikku. Dia langsung berhenti dan menatapku dengan padangan terkejut.
"Yuki..." Panggilnya tak suka.
"Aku hanya gadis biasa, Tapi Pangeran banyak berkorban untukku. Aku merasa tidak pantas untuk itu" Ujarku merasa bersalah. "Bersamaku Akan sangat berat. Aku datang kemari seolah dengan membawa dewa kematian bersamaku. Aku tidak ingin membuat Pangeran terluka...jadi Pangeran jika Pangeran menemukan gadis lain yang Pangeran cintai...Aku...mmpphhh"
Omonganku terputus saat Pangeran Sera menarikku dan langsung mencium bibirku. Aku tidak menduga dibalik tubuhnya yang ramping, dia memiliki tenaga yang besar
Lengannya begitu kuat merengkuhku sehingga Aku tidak dapat bergerak melepaskan diri.
Setelah berapa lama, Pangeran melepaskan ciumannya. Mata kami bertatapan dengan jarak yang cukup dekat. "Jangan lagi berkata seperti itu Yuki. Jangan....Jangan pernah menyuruhku pergi darimu" bisikknya dengan nada terluka. "Kerahuilah, Sedetikpun Aku tidak akan pernah menyerah soalmu. Kau milikku, bahkan sebelum Kau mengenalku"
Seharusnya Aku bisa bahagia dengan pernyataan Pangeran Sera. Tapi, kebalikannya, justru Aku merasa sedih. Pangeran Sera tidak berniat melepaskanku begitupula dengan Pangeran Riana. Kedua-duanya sama-sama ngotot mengklaim bahwa Aku milik.mereka yang sah. Jika diteruskan, Aku takut akan terjadi perperangan di kedua negara. Apa yang menarik dariku sehingga mereka bersikap keras kepala seperti itu. Aku hanya gadis biasa, Tidak memiliki tata krama dan keanggunan seperti seorang putri pada umumnya. Aku tidak pandai, jika mereka mengatakan Aku cantik...di sekitar Kami malah lebih banyak putri yang lebih cantik dariku. Aku benar-benar tidak mengerti mereka berdua.
Pangeran membawaku menonton teater. Aku menyaksikan pertunjukan dari bangku khusus yang tersembunyi dari sorotan manapun. Pangeran sengaja memesan untuk menghindari orang mengenal Kami. Mungkin karena Aku terlalu lelah bermain seharian, Atau memang udara yang mendukung serta musik yang mengalun merdu. Tanpa sadar Aku tertidur.
Di dalam mimpiku, Aku merasa tangan lembut membelaiku. Memperlakukanku seperti barang berharga. Rasanya sangat nyaman dan menenangkan. Terasa rasa manis dan hangat di bibirku menyadarkanku bahwa bahkan di dalam mimpipun Aku tidak sendiri. Aku menghela nafas lega menyadari kenyataan itu.
"Yuki...yuki" Seseorang berbisik padaku sembari mengoyangkan bahuku lembut. Aku membuka mata perlahan.
Pangeran sera duduk di sampingku, menatapku lembut. "Sudah bangun putri tidur ku?"
Aku mengerjap kaget. Memandang ke sekeliling dan menyadari Aku masih berada di ruang teater yang telah kosong. Berapa lama Aku tertidur. Pendeta Naru berada di dekat Kami dengan wajah tegang. Menyadarkanku Ada sesuatu yang salah.
"Ada apa ?" Kataku setelah kesadaranku pulih seutuhnya.
"Kerajaan Garduete baru saja menyerbu paksa penginapan tempat kami semua menginap, jika mereka mengetahui Pangeran berada bersama Putri..."
"Cukup Naru" Perintah Pangeran tidak suka. Naru langsung terdiam.
"Pangeran tidak boleh terlihat bersamaku. Pergilah Pangeran, Aku mohon"
"Yuki.." protes Pangeran lagi.
"Aku mohon Pangeran, Aku tidak ingin terjadi masalah dengan mu. Ku mohon pergilah"
"Putri yuki benar Pangeran, Jika Pangeran Riana menemukan Putri Yuki dengan Pangeran, selain Pangeran Putri Yuki akan menjadi korban. Bisa jadi Dia menjadikan ini alasan untuk menyentuh Putri Yuki nantinya"
Aku bergidik mendengar kebenaran yang disampaikan Naru.
Pangeran Sera memandangku bimbang.
"Pendeta Naru benar, Pangeran sekarang Aku mohon pergilah. Jangan sampai Mereka menemukan Kita bersama" Seruku memohon.
"Aku mengerti" Ujar Pangeran dengan nada menyerah. "Yuki berhati-hatilah, Aku akan menyuruh para pengawal untuk menjagamu dari jauh"
Aku menganggukkan kepala tidak membantah. Pangeran membungkuk untuk mengecup pipiku. Dia berjalan bersama Naru. Sesekali Dia menoleh kearahku bimbang, Aku tersenyum untuk menguatkan Dia agar bersedia meninggalkanku. Pangeran menghilang di pintu keluar.
Aku menunggu beberapa saat sampai Pangeran Ku rasa sudah cukup jauh. Aku melangkahkan kaki. menyusuri jalan kota yang mulai sepi. Hanya satu dua orang pejalan kaki yang lewat. Aku memandang ke Atas, Malam begitu sunyi dan dingin. Bulan sedang tidak menjalankan tugasnya dengan baik karena tertutup oleh awan yang mengantung di langit.
Seseorang menarikku dari belakang. Membalikanku dengan paksa. Aku mencium aroma yang sangat kukenal ketika orang tersebut memelukku kuat.
"Bang..Bangsawan Dalto" Kataku tak percaya.
"Dari mana saja Kau, Apa Kau tidak berpikir...semua orang sedang cemas mencarimu" Teriak Bangsawan Dalto marah.
Dia menatapku cemas. Tidak Ada permusuhan di matanya. Hanya ada kekhawatiran. Dia tampak berantakan, keringat mengalir di tubuhnya. Apa Dia terus berusaha mencariku sampai seperti ini ?. Spontan air mataku menetes keluar, menyadari bahwa Dia telah kembali menjadi seperti yang kukenal"
"Kenapa Kau menangis" Tanya Bangsawan Dalto binggung. "Apa ada yang terluka, Apa aku terlalu keras membentakmu"
Aku mengelengkan kepalaku kuat. Tangisku pecah. Aku menutup mataku dengan satu lenganku, sementara tanganku yang lain berada dalam.gengamannya. "Aku pikir, Aku pikir Kau sudah tidak akan peduli padaku" gumanku disela isakanku.
Bangsawan Dalto tertegun. Dia diam memandangku yang masih menangis. Sejurus kemudian Dia mengusap rambutku. Menarikku kembali dalam pelukannya.
"Bodoh...mana mungkin Aku bisa membencimu" Bisiknya di telingaku.
Aku menyurukkan wajahku di dadanya. Perasaanku bercampur aduk jadi satu. Ada kelegaan sendiri saat bersamanya. Selama ini Aku selalu merindukan dapat bersama seperti ini kembali.
"Maafkan Aku Yuki...Maaf.." Bangsawan Dalto mengelus rambutku lembut. "Maaf atas sikapku selama ini. Sudah...jangan menangis"
Aku terus memeluk Bangsawan Dalto. Enggan untuk melepaskannya.
Terdengar rikikan kuda di belakangku. Seketika Hawa dingin seolah menusuk punggungku.
"Pangeran Riana" Bisik Bangsawan Dalto terkejut.
__ADS_1
Aku langsung berbalik.
Pangeran Riana berada tak jauh dari tempat Kami. Hawa membunuh terpancar dalam dirinya. Dia memandang Kami dingin. Aku menelan ludah, merasakan kemarahannya yang terasa bahkan sampai sumsum tulangku.