Morning Dew

Morning Dew
54


__ADS_3

Semua orang yang merupakan bagian dari Pasukan Pangeran Riana merasa tegang. Tetapi wanita bertudung hitam yang berdiri di tempat tersembunyi jauh lebih tertekan ketimbang semua orang yang ada di sana.


Dia merasakan benturan kekuatan yang berlawanan dengannya. Sepasang tangan menariknya ke belakang dengan cepat, membawanya pergi dalam sekejap.


Pendeta Serfa baru saja datang bersama Bangsawan Voldermont dan pasukannya. Mereka tiba tepat waktu untuk membantu Pangeran Riana.


Kekuatan gelap yang dirasakan beberapa detik lalu telah pergi. 


"Jangan membunuh jika tidak perlu, tangkap Mereka semua !!' perintah Pangeran Riana di sela-sela pertempuran.


Denting pedang beradu memekakkan telinga. Orang yang menutupi wajah dan rambutnya dengan kain berada di depan Yuki dan menyerang siapapun yang berusaha mendekati Yuki. Gerakannya cukup terlatih. Dia bukan orang sembarangan.


Yuki terdorong hingga punggungnya merapat ke sebuah pohon besar. Dia melihat pedang berlumuran darah di dekat kakinya, Yuki membungkuk dan mengambilnya. Pikirannya kosong.


Akhirnya kekacauan dapat dikendalikan. Pangeran Riana dan pasukannya berhasil melumpuhkan semua Prajurit Kerajaan yang terhipnotis. Tidak sedikit yang terluka dan ada pula yang terbunuh.


Yuki memandangi itu semua di tempatnya. Dia tidak bergeming. Diam bagaikan patung. Orang yang melindunginya berpaling pada Yuki sesaat sebelum pergi menghilang ke dalam hutan. Sesaat Yuki seperti mengenalinya, sosoknya terasa familiar baginya.


Pangeran Riana memerintahkan pasukannya untuk memisahkan Prajurit yang terluka dan Prajurit yang tewas. Pendeta Serfa segera merampal mantra yang menyadarkan Para Prajurit yang terhipnotis.


Mereka tampak kebingungan, saling pandang satu sama lain mencari jawaban atas apa yang terjadi. Seperti seseorang yang bangun dari tidur panjangnya dan menyaksikan lingkungan tempatnya bangun sudah jauh berubah dari sebelumnya.


Pangeran Riana memastikan semua terkendali.m sebelum akhirnya Dia menoleh ke arah Yuki yang masih berdiri terpaku di tempatnya. Yuki masih memegang erat pedang berlumuran darah di tangannya. Dia tampak kebingungan dan shock.


"Yuki.."


Panggil Pangeran Riana pelan ketika Dia hanya beberapa langkah dari Yuki. Bola mata Yuki bergerak menatap Pangeran Riana. Wajah Yuki datar namun waspada. "Tidak apa-apa, Kau sudah aman...semua sudah selesai" 


Ada noda cipratan darah segar di wajah dan tubuh Pangeran Riana yang berasal dari lawan pertempurannya. 


Pangeran Riana menyerahkan pedangnya pada Bangsawan Xasfir yang mengikuti di belakang. Berjalan mendekati Yuki dengan hati-hati, agar Yuki tidak ketakutan.


"Kau sudah aman sekarang" ulang Pangeran Riana lagi pelan namun tegas "berikan pedangmu padaku"

__ADS_1


"Pedang ?!" Tanya Yuki linglung. 


Pangeran Riana menunjuk ke tangan Yuki. "Di tanganmu" 


Yuki mengangkat tangan dan terkejut menemukan pedang panjang berlumuran darah di tangannya. Dia semakin panik.


"Yuki tidak apa-apa, Kau aman" perintah Pangeran Riana lagi. "Berikan sekarang padaku"


Yuki menyerahkan pedangnya, masih linglung. Pangeran menerima pedang Yuki dengan perasaan lega dan langsung memberikannya pada Bangsawan Xasfir. Yuki mundur ketika Pangeran Riana mendekat. Seperti anak ayam yang kehilangan induknya, sementara Dia sedang terpojok saat di depannya ada hewan lain yang siap memangsa.


"Dia mengalami shock, lebih baik Kau tampar Dia supaya cepat sadar" 


Pangeran Riana menatap Bangsawan Voldermon memprotes. Dia kembali memalingkan pandangan pada Yuki. 


"Kau aman Yuki, tidak akan ada yang menyakitimu"


Yuki menggelengkan kepala. Dia membalas tatapan Pangeran Riana dengan tatapan frustasi. 


"Tidak apa-apa, Kau boleh menangis jika Kau mau"


Air mata Yuki tumpah, Dia menangis histeris. Menumpahkan semua beban di dadanya.


Raja sangat marah ketika mendengar kabar penyerangan terhadap Pangeran Riana. Tetapi sebagai seorang Raja, Dia menekan perasaan dan tidak menunjukannya secara gamblang.


Raja memanggil pendeta Hiro, Pendeta Hiro adalah pengawal pendeta yang ditugaskan untuk menjaga Ayahnya. Dulu Pendeta Hiro yang melatih Pendeta Calberi, Pengawal pendeta Raja Bardana, tetapi Pendeta Calberi meninggal dunia dalam tugasnya ketika menumpas sihir hitam yang pernah menghantui kerajaan sepuluh tahun lalu. 


Ketika mendengar kematian Muridnya, Pendeta Hiro keluar dari persembunyiannya dan membersihkan para pengikut sihir hitam. Setelah kejadian itu Pendeta Hiro menetap di kuil yang terletak di pinggiran ibukota sampai sekarang.


Terkadang, Raja Bardana akan mengundang Pendeta Hiro ke istana untuk bermain catur atau sekedar makan siang bersama. Jadi ketika Pendeta Hiro memasuki ruang kerja Raja Bardana hari ini, tidak ada seorang pun yang merasa aneh.


Pendeta Hiro duduk berhadapan dengan Raja Bardana. Di hadapan Mereka ada meja kecil berisi penganan dan teko teh dengan kualitas tinggi. Keduanya duduk sambil bermain catur. 


Raja Bardana telah memerintahkan kepala pelayan untuk mengusir semua orang keluar. Jadi, hanya tinggal Mereka berdua di dalam ruangan, bermain catur tanpa gangguan.

__ADS_1


"Aku bertemu dengan Pangeran dalam perjalanan kemari, Dia jauh lebih dewasa ketika terakhir kali Aku datang ke istana..sepertinya calon ratu berhasil membawa perubahan ke arah yang  lebih baik" ujar Pendeta Hiro sembari mengangkat bidaknya untuk memakan bidak Raja Bardana.


"Gadis itu cukup baik, tidak sempurna sebagai seorang Ratu, tapi juga tidak buruk" Raja memindahkan bidaknya ke kotak putih.


"Di dunia ini, apa ada manusia yang sempurna ?"


Raja Bardhana terdiam sesaat. "Bagaimana dengan kematian sepuluh gadis perawan, apakah ada korban lain ?"


"Aku sudah lama mengundurkan diri dari urusan kerajaan, ada Serfa, kualitasnya jauh lebih cukup untuk mengawal Pangeran. Biarkan Aku yang sudah renta ini hidup tenang"


"Yang muda masih membutuhkan yang tua untuk meminta pendapat"


Pendeta Hiro meminum tehnya. Dia menatap lurus ke depan, berpikir dengan serius. "Hanya sepuluh korban" 


"Hanya sepuluh ?!" Raja Bardana menatap Pendeta Hiro untuk meminta kepastian. Lima belas tahun lalu, ketika kekuatan hitam mulai bangkit, setelah kematian sepuluh gadis perawan yang baru mendapatkan haid pertama mereka, lebih dari tiga ratus gadis perawan di culik dan di bunuh, bahkan bayi perempuan yang baru lahir diincar untuk dikorbankan. 


"Jika Dia berhenti melakukan ritualnya setelah membunuh sepuluh gadis perawan yang baru mendapatkan haid pertama, bukankah kekuatan hitam justru akan memakan jiwanya dan menariknya ke neraka terdalam ?" Tanya Raja Bardana tidak mengerti.


"Menurutku Yang Mulia, alasan Dia tidak membunuh seribu perawan setelah ritual pertamanya selesai adalah karena Dia mendapatkan sesuatu yang bisa mengantikan seribu perawan itu"


"Tidak ada seorang Ciel di kerajaan ini, kuil suci sendiri bahkan menyingkirkan setiap Ciel yang diketahui untuk mencegah bencana terjadi seratus tahun lalu"


Pendeta Hiro menjentikkan pion Raja hingga terguling. "Masih ada Ciel yang hidup, Mereka menyembunyikan dirinya dengan baik atau ada orang lain yang melindungi keberadaan Mereka"


Raja terpekur sesaat. Dia bergulat dalam pikirannya. "Sejatinya Mereka hanya manusia biasa"


Raja tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia diam memainkan pionnya. Berakhir dengan kekalahan Pendeta Hiro, pion rajanya terjepit tidak bisa bergerak.


"Anda selalu memiliki strategi dan perencanaan matang semenjak muda, sangat sulit mengalahkan anda dalam permainan ini"


"Sayangnya Aku tidak menyukai permainan ini, Kita mengorbankan satu pion untuk tetap bergerak, tidak peduli siapa pion itu"


 

__ADS_1


__ADS_2