Morning Dew

Morning Dew
227


__ADS_3

Pintu kamar di buka perlahan. Yuki di ampit oleh dua orang pelayan di kanan kirinya yang membantu Yuki berjalan sambil menjaga keseimbangan. Di belakangnya berbaris rapi para pelayan kerajaan yang mengikuti langkah Yuki. 


Mereka menuju ke tempat upacara pernikahan, tempat di mana Yuki akan melakukan sumpah pernikahan yang suci bersama Pangeran Sera. 


Di mana moment ini sekaligus mempertemukan Yuki kembali dengan Pangeran Sera setelah seminggu lamanya Mereka di pisahkan dan di pingit di dalam kamar masing-masing.


Yuki menundukkan kepala sepanjang perjalanan. Dengan berat melangkahkan kakinya ke depan. Sebentar lagi Dia akan menjadi istri sah dari Pangeran Sera. Terus terang hati kecil Yuki masih ragu untuk melakukannya. Tapi Dia kembali teringat janji yang telah dibuatnya bersama Pangeran Sera.


Dan lagi, Pangeran Riana ada di sini. Jika sampai pernikahan ini gagal, Yuki tahu kemana Pangeran Sera akan melampiaskannya. Dia tidak ingin hal itu terjadi.


"Putri..." Pelayan di samping Yuki menyentuh lengan Yuki dengan lembut. 


Ketika Yuki menoleh untuk melihatnya, Dia melihat pelayan itu memandang ke depan dengan raut wajah yang ketakutan. 


Spontan Yuki mengikuti arah pandang Pelayan itu. Jantungnya seolah berhenti ketika melihat sosok Pangeran Riana. Berdiri di depannya. Menghalangi jalan Mereka.


 


Mata Pangeran Riana sangat dingin dan tidak bersahabat. Dia menatap Yuki lurus dengan rahang terkatup rapat. 


Yuki mengepalkan kedua tangannya di dada. Menahan mati-matian keinginan untuk berlari ke pelukan Pangeran Riana dan memintanya membawa Yuki pergi meninggalkan pernikahan ini.


"Kalian tunggu di sini sebentar" pinta Yuki pada para pelayan.


Setelah cukup berhasil menguasai perasaannya. Yuki memasang wajah tanpa ekpresi. Berjalan dengan tenang ke depan. Menghampiri Pangeran Riana yang telah menunggunya.


Saat Yuki sudah berada di depan Pangeran Riana. Dia kembali goyah. Ada keinginan kuat di dalam hatinya untuk memeluk sosok di depannya. Berkali-kali Yuki harus mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak menangis. Bukankah Dia sudah bertekad seperti itu.


Tanpa peringatan, Pangeran Riana mengangkat tangannya dan melempar undangan pernikahan ke badan Yuki dengan kasar. Yuki mundur satu langkah tapi Dia tetap memasang ekpresi datar. Undangan pernikahan itu jatuh di bawah kaki Yuki.


"Apa ini...Apa maksud semua ini. Bisakah Kau jelaskan padaku Yuki ?" Tanya Pangeran Riana dingin.


"Bukankah semua sudah jelas Pangeran. Aku akan menikah dengan Pangeran Sera. Apa lagi yang ingin Kau tanyakan ?"


"Bukankah waktu itu Kau sangat ingin pergi dari sini. Bukankah Kau ingin pergi denganku Yuki"


Yuki menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum lembut. "Pangeran salah, Aku memang ingin pergi dari sini tapi tidak bersamamu" ujar Yuki penuh makna. "Pangeran sendiri yang menyalah artikan ucapanku. Coba di ingat, apakah Aku pernah mengatakan akan pergi denganmu ?"

__ADS_1


Pangeran Riana semakin menatap Yuki dingin.


Dengan tenang Yuki kembali berkata. "Saat itu Aku dan Pangeran Sera sedikit berselisih. Tapi semua sudah usai. Kami sudah berdamai kembali. Lagipula Aku hanya mempermainkanmu waktu itu. Aku ingin membalas dendam dan membuatmu mengerti bagaimana rasanya di buang seperti yang Kau lakukan pada bayiku. Jadi, jangan terlalu memandang tinggi pada dirimu Pangeran. Hubungan Kita sudah berakhir. Tidak ada alasan yang dapat membuat Kita akan kembali lagi. Jadi sekarang pergilah..temukan wanita lain yang bisa Kau..."


Plakk 


Perkataan Yuki terputus ketika Pangeran Riana melayangkan tangannya untuk menampar Yuki. 


Yuki langsung terdiam.


 Pipi Yuki panas bekas tamparan Pangeran Riana. Suasana seketika hening mencekam. 


Beberapa saat kemudian, tanpa mengatakan apapun lagi. Pangeran Riana berbalik dan meninggalkan Yuki. Tanpa menoleh ke belakang lagi.


Hati Yuki terasa sakit. Dia mengerjap berusaha menahan air mata yang ingin keluar dari matanya.


Kakinya seolah ingin berlari mengikuti Pangeran Riana. Mengejarnya dan memberikan  penjelasan mengenai apa yang terjadi. Tapi tidak mungkin. Yuki tidak boleh melakukannya.


Dia harus menahan diri dan meneruskan pernikahan ini sampai selesai.


Dan Demi Garduete....


"Apa Putri baik-baik saja ?" Tanya pelayan di sampingku dengan perasaan cemas.


"Semua yang terjadi jangan sampai di dengar siapapun. Jika Aku menemukan berita ini sampai bocor keluar. Tidak perduli siapa yang menyebarkannya, Aku akan memerintahkan para Prajurit untuk mencambuk kalian semua sampai mati. Apa Kalian mengerti ?" Ancam Yuki dingin, mengindahkan pertanyaan pelayan padanya.


Para pelayan menundukan kepala penuh hormat tanda mengerti.


"Bagus, Sekarang Kita lanjutkan perjalanan"


Sontak, para pelayan langsung membentuk kembali barisan dengan rapi. Rombongan kembali bergerak. Menuju altar pernikahan. Tempat Pangeran Sera sudah menunggu Yuki.


Yuki harus menunaikan kewajibannya. Dia telah berjanji pada Pangeran Sera untuk menikah dengannya.


 


Pintu terbuka perlahan diiringi riuh rendah dan tepukan tangan yang membuncah. Kemudian ketika Yuki perlahan masuk ke dalam ruangan yang di jadikan tempat untuk mengucapkan sumpah setia. Taburan kelopak bunga mawar berwarna merah bagaikan hujan yang turun ke bawah. Menghiasi setiap langkah Yuki. Para saksi pernikahan memandang Yuki. Menjadikan Yuki sebagai pusat perhatian. Musik lembut di mainkan oleh para pemusik kerajaan.

__ADS_1


Di ujung ruangan, di altar pernikahan, Pangeran Sera sudah berdiri menunggu dengan senyum sumringah. Dia tampak sangat bahagia dengan pernikahan ini. Saat Yuki mendekat, tangannya terulur membantu Yuki berdiri di sampingnya.


"Kau sangat cantik Yuki" puji Pangeran Sera memperhatikan penampilan Yuki yang luar biasa.


Yuki tersenyum lembut membalas ucapan Pangeran Sera.


Keduanya berdiri berdampingan.


Pendeta Naru berdiri di samping Pangeran Sera sebagai pendamping mempelai laki-laki. Putri Magitha yang bertugas mendampingi Yuki, sudah berada di samping Yuki semenjak Yuki memasuki ruangan.


Upacara pernikahanpun di mulai.


Pangeran Sera telah mengucapkan sumpah pernikahannya di hadapan Dewa. Begitu juga dengan Yuki.


Kemudian Yuki dan Pangeran Sera mengelilingi api suci sebanyak tiga kali dengan di iringi doa-doa dari pendeta yang memimpin jalannya pernikahan.


Pendeta Naru memotong sedikit rambut Yuki dan Pangeran Sera. Kemudian menyatukannya dan membakarnya di dalam api suci.


Yuki menangis.


Dia tidak tahu apakah ini tangis kebahagiaan ataukan tangis kesedihan. Bekas tamparan Pangeran Riana masih terasa di pipi Yuki. Ini pertana kalinya Pangeran Riana memukul Yuki. Yuki melihat kekecewaan yang besar di matanya ketika pergi meninggalkan Yuki. Pangeran Riana tidak kembali ke kursi yang di sediakan untuknya. 


Yuki hanya melihat Bangsawan Voldermont dan Bangsawan Asry di tempat Mereka. Selain itu hanya kursi kosong yang di tinggalkan pemiliknya.


Pangeran Sera menyelipkan cincin bermata biru safir di jari manis Yuki. Perhiasan yang di berikan kepada Mempelai Wanita untuk menandakan bahwa wanita itu telah resmi menjadi istrinya. Yang akan mengarung hidup dan mati bersamanya.


Sekarang Yuki sudah sah menjadi istri dari Pangeran Sera. Namanya telah sah berubah menjadi Yuki Madza mengikuti nama Pangeran Sera.


Tepuk tangan kembali terdengar di seluruh ruangan. Ucapan-ucapan selamat atas pernikahan Mereka saling bersahutan dari para tamu undangan. Rona kebahagiaan mewarnai setiap sudut ruangan. Di luar petasan kembali di nyalakan untuk memeriahkan suasana.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2