Morning Dew

Morning Dew
211


__ADS_3

Kutukan gadis itu terpenuhi. Raja Trandem meninggal dunia dalam keadaan terhina di bunuh oleh keponakannya sendiri. Dia tidak punya keturunan. Bahkan tidak ada yang bersedih atas kematiannya.


"Bagaimana dengan Ratu Cilia ?" Tanya Yuki setelah Dia selesai berpakaian.


Walaupun Raja Trandem seorang penjahat tapi Dia tetaplah suami Ratu Cilia. Kedua pelayan saling berpandangan sejenak, kemudian menundukkan kepala sedih.


"Ada apa ?" Tanya Yuki dengan nada tidak mengerti.


"Sesaat setelah mendengar Raja Trandem meninggal. Ratu pergi seorang diri ke kuil yang ada di tepi sungai, tempat Beliau berdoa setiap hari untuk memohon ampunan pada Dewi Barinda, Dewi yang menjaga Negeri ini. Agar Negeri Rasyamsah terbebas dari kejahatan dan perbuatan jahat yang menyengsarakan rakyatnya. Ratu menceburkan diri ke dalam sungai, sebagai persembahan pada Dewi Barinda, seperti janjinya pada Dewi Barinda jika permohonannya di kabulkan, Dia akan mengorbankan nyawanya" 


Ratu Cilia mengorbankan dirinya agar rakyatnya terbebas dari kesengsaraan. Namun apakah Ratu Cilia tidak berpikir sekarang rakyatnya justru akan jauh lebih sengsara di bawah pemerintahan Rafael.


Selama ini ada Ratu Cilia yang menjaga rakyatnya. Membatasi gerak Raja Trandem. Jika Ratu Cilia pergi, siapa sekarang yang akan menjaga Mereka ?.


Siapa yang akan menjaga rakyatnya ?.


"Ratu Cilia percaya ramalan itu akan segera tiba. Makanya Dia mengorbankan dirinya dengan harapan agar rakyatnya segera terbebas dari bencana"


"Ramalan ?" 


"Ya Putri. Ramalan terahir yang di ucapkan Pendeta Agung Kerajaan, yang selama hidupnya bertugas untuk menjaga Raja Barinda dan Negeri ini. Setelah Raja Barinda meninggal dunia, Dia di hukum oleh Raja Trandem karena di anggap tidak becus menjaga Raja. Dia di siksa dan di bunuh dengan kejam. Sebelum kematiannya, di hadapan rakyat yang menyaksikan eksekusinya. Dia memberikan ramalan terakhirnya"


Pangeran Arana pun pernah bercerita mengenai ramalan pendeta agung.


Akan ada seorang wanita yang datang ke Rasyamsah dengan di dampingi dua kekuatan besar di belakangnya, yang akan membawa kekalahan besar pada negeri ini tapi menjadi kemenangan bagi rakyatnya. Gunung-gunung akan kembali menghijau dan sungai akan kembali mengalir airnya.


"Ratu Cilia percaya, Putri Yuki adalah orang yang di maksud. Putri adalah wanita yang di lindungi oleh dua kerajaan besar. Meskipun Negeri Rasyamsah akan kalah pada pertempuran, tapi menjadi kemenangan bagi rakyatnya yang selama ini menderita"


Yuki terdiam.


Dia tidak tahu harus bagaimana mengatakan bahwa Dia bukan lagi calon ratu dari negeri Garduete. Bahkan ada atau tidaknya Yuki, tidak memiliki pengaruh lagi pada kerajaan Garduete. Siapa Yuki sekarang ?. Mereka tidak memiliki alasan apapun untuk menyelamatkan Yuki.


Yuki tidak berharap Bangsawan Voldermont akan kemari. Dia tidak ingin membuat Bangsawan Voldermont terancam bahaya jika sampai nekat datang kemari. Dia bisa celaka seorang diri di sini.


 


Dari jendela kamar, Yuki bisa menyaksikan jenasah Ratu Cilia di tandu menyusuri sungai. Dalam sebuah upacara pemakaman yang cukup sederhana. 

__ADS_1


Rafael sungguh kejam.


Dia tidak memberikan upacara yang layak untuk orang yang paling berjasa di negeri ini. Namun meskipun sederhana, Yuki melihat banyak sekali bunga yang di letakan di tepi sungai untuk menghormati kepergian Ratu Cilia. 


Membeludak nyaris memenuhi sepanjang sungai.


Bunga dari Rakyat yang mencintai Ratu Mereka.


 


 


Rafael tidak mau menunggu lama. Dia langsung memerintahkan istana untuk menyiapkan upacara pengobatannya. Membersihkan istana dari para pengikut Raja Trandem dan lebih gilanya lagi, Dia menghadiahkan semua wanita yang pernah di tiduri Raja Trandem kepada prajuritnya. Bukan untuk di nikahi, tapi menjadikan Mereka sebagai wanita penghibur untuk prajuritnya yang berjumlah ribuan.


Sudah seminggu berlalu semenjak Yuki di tawan. Selama itu, Dia belum bertemu lagi dengan Rafael. Para pelayan mengatakan, Raja Mereka sedang sibuk dengan urusan negara dan para wanita yang di hadiahkan untuknya.


Yuki sedikit terhibur ketika mengetahui Putri Magitha dan Ratu Warda sudah berhasil masuk ke negeri Argueda dan sedang menuju Ibukota dengan di kawal oleh Pangeran Arana. Setidaknya, usaha Yuki tidak sia-sia.


"Mereka sedang apa ?".tanya Yuki pada pelayan yang menemaninya berjalan-jalan.


Yuki tidak bisa menghubungi siapapun karena Gulf miliknya di rampas Rafael. Dia mendapat semua informasi dari para pelayan yang menemaninya selama berada di istana kerajaan Rasyamsah.


"Mereka adalah tawanan perang dan penduduk sekitar yang di tugaskan untuk menggali sumur untuk mendapatkan cadangan persediaan air bagi istana"


Yuki melangkah maju untuk melihat lebih jelas. Dia menemukan banyak sekali tawanan perang yang di paksa bekerja di bawah matahari yang cukup terik membakar kulit. Para prajurit penjaga tersebar di beberapa tempat untuk mengawasi pekerjaan yang di lakukan.


Para tawanan bahu membahu menggali dan mengangkat tanah dari keranjang bambu. Seorang tawanan terjatuh. Penjaga di dekatnya langsung mencambuknya agar berdiri. Tapi karena Dia tidak juga bangun, akhirnya dua prajurit penjaga menyeretnya pergi.


"Akan di bawa kemana Dia ?" Tanya Yuki langsung.


"Jika nasibnya baik. Dia akan di bawa ke rumah singgah. Tapi jika nasibnya buruk, Dia akan langsung di eksekusi"


"Bagaimana bisa menghilangkan nyawa orang semudah itu. Tawanan itu terjatuh karena lelah bekerja. Apa Mereka mendapat makanan dan tempat tinggal yang layak ?"


"Sesuai perintah dari Raja Rafael, para tawanan hanya mendapat jatah makan sepotong roti dan setengah gelas air setiap hari sebanyak satu kali. Bagi tawanan yang sudah tidak mampu bekerja akan disingkirkan untuk mengurangi beban negara. Tapi yang hanya terluka, Mereka akan di bawa ke rumah singgah"


"Apa itu rumah singgah ?" Tanya Yuki lagi penasaran.

__ADS_1


"Rumah singgah adalah balai pengobatan untuk para pekerja dan tawanan perang yang di bangun oleh Raja Barinda"


"Penjaga, bawa Aku ke sana" pinta Yuki langsung.


"Mohon maaf Putri, Raja Rafael telah memerintahkan Kami untuk tidak membiarkan Putri keluar istana tanpa izin Raja. Jika Putri masih nekat pergi, Kami terpaksa memasang belenggu rantai dengan bola besi di kaki Putri"


Yuki berpikir sejenak. Dia tidak mau hidup dengan kedua kaki di rantai. Itu akan mempersulit pergerakannya. Mau tidak mau Dia harus pergi menemui Rafael untuk meminta izin.


"Di mana Raja kalian ?"


"Raja saat ini sedang berada di istana teratai"


"Apa yang di lakukannya di sana ?"


Penjaga yang berbicara pada Yuki tampak salah tingkah. Dia lalu menjawab dengan canggung "Raja...sedang bersantai dengan para selirnya"


Yuki terkejut saat mendengarnya. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa Rafael bersantai sementara Rakyatnya menderita didepan matanya.


"Bawa Aku menemui Raja Kalian" ujar Yuki lagi dengan cepat dan tidak ingin di bantah.


 


 


Yuki mendorong pintu di depannya dengan keras sehingga terbuka lebar.


Para penjaga dan pelayan tampak ketakutan di belakang Yuki. Ketika Yuki masuk ke dalam ruangan. Yuki tertegun ketika melihat pemandangan di depannya.


Sekitar sepuluh orang atau lebih wanita muda dan cantik, nyaris tanpa busana berada di dalam ruangan. 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2