Morning Dew

Morning Dew
86


__ADS_3

Jadi di sinilah Yuki berakhir. Dia telah keluar dari keranjang berisi sayuran yang sudah layu. Pemilik Kereta berencana akan memakai sayuran itu untuk olahan pakan ternak miliknya.


Yuki duduk bersandar di keranjang besar sembari membersihkan sisa sayuran yang menempel di rambut dan tubuhnya. Setelah memastikan semuanya beres, Yuki mengikat rambutnya dan menganti pakaiannya dengan pakaian pelayan yang di curinya dari tempat menjemur pakaian di istana Pangeran Riana.


Yuki berusaha sebaik mungkin untuk tidak membuat kegaduhan. Dia tidak ingin pemilik kereta kuda menyadari kehadirannya dan malah berbalik untuk melapor ke istana Pangeran Riana. 


Dia duduk merenung sesaat. Memikirkan rencana selanjutnya begitu sampai di kota. Sambil menunggu Kereta yang membawanya masuk ke dalam kota, Yuki kembali membuka kertas pesan yang di tulis Bangsawan Dalto.


Kerutan di wajah Yuki tercetak jelas saat Dia kembali membaca pesan yang di pegangnya.


Bangsawan Dalto menulis, telah menemukan petunjuk mengenai pasukan pemberontak kerajaan dan sihir hitam yang akhir-akhir ini merajalela.


Dia akan menyelidiki petunjuk itu, dengan harapan dapat membersihkan nama.baik kedua orang tuanya. Juga untuk membalas dendam kematian Bibi nya.


Bangsawan Dalto menuliskan permintaan maaf kepada Yuki, karena telah mengacuhkan Yuki selama ini. Dia hanya ingin fokus pada tujuannya untuk menemukan petunjuk mengenai kejadian sepuluh tahun lalu. Bangsawan Dalto sangat yakin orang tuanya tidak bersalah. Mereka pasti mempunyai alasan kenapa harus membunuh semua orang ketika itu.


"Jika Aku tidak selamat malam ini, tolong beri tahukan kepada kerajaan mengenai kecurigaanku. Tapi Aku berharap sekarang hanya Kita berdua yang mengetahui masalah ini. Aku ingin memastikan sendiri dengan kepalaku demi orang tua dan Bibi Ku"


Sepenggal paragrah terakhir yang di tulis Bangsawan Dalto pada suratnya, membuat Yuki tidak habis pikir bagaimana bisa Dia senekat itu. Mencari petunjuk sihir hitam seorang diri. Apakah Dia sudah bosan hidup.


Siapapun pelaku kejahatannya adalah orang gila. 


Yuki tentu tidak akan membiarkan Bangsawan Dalto menempuh bahaya seorang diri. 


Ketika kereta sampai di kota, Yuki bergegas menyelinap keluar, saat Kereta berhenti sejenak di sebuah toko pertanian.


Dia menyusuri jalanan kota dengan cepat, menemukan penyewa kereta kuda yang mau mengantarkannya ke sekolah.

__ADS_1


Yuki bernafas lega ketika akhirnya Dia tiba di sekolah. Sekolahnya tampak sunyi. Selain karena saat Dia datang jam sekolah sedang berlangsung, juga hampir setengah dari jumlah total murid di sekolah ini sudah di pulangkan ke negaranya masing-masing untuk sementara waktu.


Yuki turun dari kereta kuda dan membayarkan ongkosnya. Dia masuk ke area sekolah, menyapa beberapa kenalannya sambil lalu. Yuki sebisa mungkin bersikap tidak terlalu mencolok, agar tidak ada yang curiga Dia datang kemari dengan cara melarikan diri dari kamar Pangeran Riana.


Yuki berjalan tenang menghindari keramaian. Berjalan menuju taman tengah dan berbelok menuruni bukit dekat pacuan kuda. Menyusuri jalan setapak dekat hutan di belakang sekolah. Yuki yakin Bangsawan Dalto berada di gubuk mawar. Dia harus ke sana segera untuk menemuinya.


Yuki menyusuri sungai kecil, berjalan dengan mantap tanpa keraguan. Ketika Yuki sudah mendekati gubuk mawar milik Bangsawan Dalto, Yuki menemukan Bangsawan Dalto berdiri melamun di atas batu besar yang berada di pinggir sungai.


Terjadi pergulatan batin yang cukup besar di dalam diri Bangsawan Dalto. Keraguan menyelinap di dalam hatinya. Kedua alisnya bertaut, memperlihatkan keseriusannya memikirkan masalah yang sedang di hadapinya.


Dia tidak bisa mundur lagi. 


"Bangsawan Dalto" panggil Yuki ketika Dia sudah berada cukup dekat dengan Bangsawan Dalto. 


Bangsawan Dalto berpaling dan terbenggong saat melihat Yuki. Yuki berlari ke arah Bangsawan Dalto dengan penuh semangat. Dia sangat lega, usahanya tidak sia-sia. Dia belum terlambat menemukan Bangsawan Dalto.


"Syukurlah, Aku bisa menemukanmu tepat waktu. Aku sudah menduga Kau akan berada di sini" Kata Yuki riang saat sampai di dekat Bangsawan Dalto.


"Lebih baik Kita tidak usah membahasnya" jawab Yuki canggung.


"Kau datang kemari dengan siapa ?" Tanya Bangsawan Dalto dengan sikap tegas. Yuki memberengut kesal dengan sikap Bangsawan Dalto yang tidak senang melihatnya datang. 


"Aku datang sendiri" kata Yuki akhirnya.


"Sendiri ?" Tanya Bangsawan Dalto kaget. Dia menatap Yuki tidak percaya. Yuki menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 


"Aku kabur dari istana Pangeran" jawab Yuki lagi dengan perasaan bersalah.

__ADS_1


"Kabur ?!" Bangsawan Dalto semakin kaget mendengar pengakuan Yuki. "Kau..." Dia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa. Kata-katanya mengambang di udara.


"Aku kabur dari lantai dua dengan menggunakan kain yang ku ikat di tiang tempat tidur. Sudahlah....jangan lagi membahas hal ini. Ceritanya akan panjang kalau di teruskan. Aku tidak datang kemari untuk pamer atas usahaku melarikan diri dari istana Pangeran Riana" seloroh Yuki berusaha mengubah topik pembicaraan, Dia merasa tidak nyaman membahas topik ini karena mengingatkannya akan hukuman apa yang menantinya jika Dia kembali nanti. 


"Apa ada orang yang tahu usaha pelarianmu ?" Tanya Bangsawan Dalto masih menunjukan perasaan cemas. Yuki menggelengkan kepala dengan yakin.


Bangsawaan Dalto menarik nafas panjang. "Kenapa Kau bisa senekat itu. Kali ini Kau sangat ceroboh Yuki. Apa Kau tidak tahu kondisi sekarang bagaimana ?. Apa Kau tidak berpikir bahaya apa yang menantimu di luar sana.  Kau sama sekali tidak berpikir hal itu sebelum bertindak ?" 


"Kenapa Kau menyalahkanku. Aku kemari karena mengkhawatirkan dirimu" ujar Yuki kesal. "Kau sendiri akan melaksanakan misi bunuh diri, tapi bisa-bisanya Kau malah menceramahiku soal tindakanku. Apa Kau pikir tindakanmu jauh lebih baik dari apa yang telah kulakukan ?"


"Aku hanya akan mengecek kebenaran bukan bersikap ceroboh sepertimu" bantah Bangsawan Dalto tidak mau kalah.


"Aku tidak susah payah kemari hanya untuk berdebat denganmu"


Bangsawan Dalto tahu, Yuki tidak akan mau mengakui kesalahannya. Jadi Dia berpaling dengan acuh dan berjalan menuruni batu besar menuju pondoknya. "Sudah waktunya, sebaiknya Kau segera pulang" 


"Apa ?" Tanya Yuki tidak mengerti. Dia mengikuti langkah Bangsawan Dalto dan menyusulnya tepat di belakang Bangsawan Dalto.


Ketika Mereka sudah sampai teras pondok, Bangsawan Dalto membungkuk untuk merapikan peralatan yang telah disiapkan sebelumnya di atas bangku kayu, memasukkan ke dalam kantong kain. Yuki mengintip dari punggung Bangsawan Dalto dengan rasa penasaran.


"Kau mau kemana ?" Tanya Yuki lagi dengan sikap ingin tahu. Dia terus mengekori Bangsawan Dalto yang sibuk mempersiapkan barang-barangnya ke dalam tas.


"Malam ini bulan biru akan muncul dengan bentuk bulat sempurna. Aku harus segera pergi sekarang sebelum.terlambat. lebih baik Kau segera pulang, sebentar lagi sore. Aku tidak bisa mengantarkanmu pulang hari ini" jelas Bangsawan Dalto sembari menata barang-barangnya di dalam kantong.


"Kau tidak perlu mengantarkanku pulang" Kata Yuki santai.


"Memang tidak bisa. Sekarang Kau cepat pulang mumpung jalanan masih belum gelap" perintah Bangsawan Dalto lega.

__ADS_1


Yuki menatap Bangsawan Dalto tanpa keraguan. Kemudian masih dengan nada yang tenang Dia kembali berkata "Aku akan ikut denganmu"


 


__ADS_2