
"Kau sudah mendapatkan apa yang Kau mau. Sekarang apa lagi yang Kau inginkan. Aku mohon lepaskan Aku" pinta Yuki lagi mencoba bernegosiasi dengan Pangeran Riana. Yuki menarik selimut yang menutupi tubuhnya ke dada. Dia tidak mengenakan selembar kainpun di tubuhnya selain selimut yang menutupi badannya.
Pangeran Riana meletakan jari telunjuknya ke bibir Yuki. Menyuruhnya berhenti bicara. Dengan kasar Yuki menepis tangan Pangeran Riana marah.
"Dengarkan Aku, Aku akan keluar dari sini untuk mengurus pekerjaanku. Ada makanan di atas meja dan pakaian di lemari. Manfaatkan itu semua dengan baik selama Aku pergi dan jangan berpikir untuk meninggalkan ruangan ini atau Aku akan membuat semua orang mengetahui bagaimana panasnya Kita semalam bermain di atas ranjang"
Yuki mengatupkan gigi marah. Pangeran Riana mengambil rantai besi yang kebetulan ada di dalam kamar.
"Kau tidak bisa melakukannya" protes Yuki saat menyadari niat Pangeran Riana pada rantai di tangannya.
Dengan dinginnya Pangeran Riana merantai pergelangan kaki kiri Yuki dan menghubungkannya dengan tiang di kepala tempat tidur. Dia mengabaikan semua protes Yuki.
Tanpa mengatakan apapun lagi. Setelah memastikan semua sesuai keinginannya. Pangeran Riana mengambil kunci di lantai dan membuka pintu kamar.
Terdengar suara klik saat pintu di kunci dari luar.
Yuki tertegun di dalam kamar. Dia tidak percaya Pangeran Riana akan nekat menculiknya dan memasungnya di dalam kamar seperti sekarang. Yuki tidak tahu harus berbuat apa. Setelah di rasa tubuhnya cukup kuat, Yuki menyambar pakaian milik Pangeran Riana dan memakainya. Kemudian mencoba turun dari tempat tidur. Rantai di kakinya bergemericing saat Yuki melangkahkan kaki. Menggeledah seluruh laci dan meja, untuk menemukan sesuatu yang bisa Dia pergunakan untuk kabur dari cengkraman Pangeran Riana dan belenggu besi di kakinya. Namun setelah sekian lama mencari, Yuki tidak dapat menemukan apapun untuk membantunya.
Dia hanya menemukan Gulf di saku bajunya. Namun Yuki tidak mungkin menghubungi keluarga Darmount dan menceritakan semua yang Dia alami.
Yuki juga tidak mempunyai kenalan lain yang bisa dihubunginya untuk membantu Yuki sekarang. Di kontaknya Dia tidak menyimpan siapapun selain keluarga Darmount.
Menyadari ketidakberdayaannya, Yuki kembali duduk dengan lemah di atas tempat tidur. Terpekur memandangi dinding di depannya dan melamun.
Tatapannya kosong.
Yuki memikirkan semua yang telah terjadi.
"Riana...tunggu katakan padaku, siapa wanita itu" Putri Marsha mengejar Pangeran Riana yang berjalan dengan dingin di depannya. Mengabaikan keberadaan Putri Marsha.
__ADS_1
"Aku tidak punya waktu untuk mengurusimu Marsha" tolak Pangeran Riana dingin. Menepis pegangan Putri Marsha di lengannya.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum tau siapa wanita ****** yang Kau tiduri itu" kata Putri Marsha lagi tidak mau kalah.
Siang ini, Putri Marsha mendapatkan kabar dari pelayan kepercayaannya bahwa Raja Bardhana memanggil Pangeran Riana secara pribadi ke ruangannya terkait bekas ciuman yang ada di leher Pangeran Riana.
Hal ini tentu sangat mengejutkan semua pihak karena selama ini Pangeran Riana menolak untuk menyentuh wanita manapun yang di sodorkan padanya, termasuk Marsha tunangannya sendiri. Dia selalu menghindar dengan dingin. Bersikeras menolak meskipun mendapat tekanan dari berbagai pihak agar segera memberikan perwaris baru bagi kerajaan Garduete.
Segala cara telah di lakukan untuk meruntuhkan pertahanan Pangeran Riana, namun tidak ada yang berhasil.
Dan sekarang....
Para pelayan wanita di istana Pangeran Riana yang bertugas untuk melayani keperluan Pangeran Riana, melihat dengan jelas bekas ciuman di leher Pangeran Riana dan langsung melaporkan temuannya pada Ibu Jaena.
Oleh Ibu Jaena masalah itu langsung di sampaikan ke Ibu Suri dan terdengar pula ke telinga Raja Bardhana.
Sekarang semua orang sedang mencari tau siapa wanita yang berhasil mematahkan pertahanan Pangeran Riana. Tentu saja kabar ini sampai ke telinga Putri Marsha. Dia sangat marah dan langsung pergi menemui Pangeran Riana untuk mengkonfrontasi Pangeran Riana.
"Cukup Marsha. Aku mau tidur dengan siapapun bukan urusanmu"
"Kalau Kau cukup pintar, Kau hentikan semua sikapmu ini sekarang. Tidak ada larangan untukku bersama orang lain meskipun Kau tidak menyukainya. Aku tidak membutuhkan persetujuan apapun darimu. Ini adalah harga yang Kau dapat dari posisimu yang sekarang"
"Kenapa Kau begitu kejam, selama ini Aku sudah melakukan semua yang terbaik untukmu" teriak Putri Marsha mulai meledak.
Pangeran Riana terus berjalan mengacuhkan Putri Marsha. Melewati Bangsawan Xasfir dan Istrinya yang berjalan mendekat karena mendengar pertingkaian yang sedang terjadi.
Putri Marsha jatuh terduduk di lantai. Menangis. Meskipun Dia sudah menunjukan semua cintanya, tapi Pangeran Riana bersikap dingin dan acuh padanya. Dia mendapatkan status sebagai tunangan wanita Pangeran Riana tapi tidak pernah mendapatkan cinta dari Pangeran Riana.
Hal itu membuatnya meradang.
Di tambah adanya wanita yang berhasil memberikan bekas ciuman di leher Pangeran Riana.
"Marsha hentikan jangan lagi mendesaknya" pinta Bangsawan Xasfir memperingatkan Putri Marsha.
"Aku tidak akan membiarkannya, tidak akan kubiarkan siapapun merebutmu dariku" ujar Putri Marsha dengan penuh emosi yang bergejolak didalam dirinya.
Marsha tidak akan membiarkan wanita itu merebut Pangeran Riana. Tidak ada yang boleh berada di sisi Pangeran Riana selain Dia.
__ADS_1
Putri Marsha sudah cukup banyak berjuang untuk mencapai titiknya yang sekarang. Dia tidak akan membiarkan siapapun merebut cintanya.
Empat hari berlalu.
Meski Yuki sudah sering memohon pada Pangeran Riana. Namun Pangeran Riana tidak mau melepaskannya dan membiarkan Yuki pergi. Yuki sudah tidak ingat lagi berapa kali Pangeran Riana memperkosanya selama itu.
Awalnya Yuki mengira dengan sengaja memberikan tanda ciuman di leher Pangeran Riana akan membuat gerak-gerik Pangeran Riana di awasi oleh kerajaan Garduete, sehingga Dia tidak bisa leluasa untuk datang ke kamar tempatnya menyekap Yuki.
Namun perkiraan Yuki salah. Pangeran Riana bahkan mempunyai alasan untuk tetap berada di dalam kamarnya yang ada di sekolah dan tidak pulang ke istananya karena merasa terganggu dengan berbagai pertanyaan yang di tujukan padanya. Terutama sikap histeris yang di berikan Marsha.
Untuk mengelabui semua orang, Pangeran Riana bahkan beberapa kali mengadakan rapat rahasia di ruangan luar. Membuat Yuki terpaksa berhati-hati dengan tidak menimbulkan suara yang memicu kecurigaan orang akan adanya seseorang di dalam kamar rahasia Pangeran Riana di sekolah.
Yuki duduk merenung di atas tempat tidur ketika terdengar suara kunci pintu di buka dari luar. Pangeran Riana masuk ke dalam sembari membawa kantung kertas berisi makanan. Dengan tenang, Dia mengunci kembali pintu kamar. Meletakan kantung makanan yang di bawanya di dekat Yuki.
"Apa ini waktunya memberi makan hewan peliharaanmu ?" Sindir Yuki sinis.
Pangeran Riana diam. Tidak mau menanggapi kemarahan Yuki. Dia mengeluarkan berbagai kue dan buah dari dalam kantung.
"Aku tidak mau memakannya" tolak Yuki cepat sembari memalingkan wajahnya ketika Pangeran Riana mencoba menyuapi Yuki.
Dengan kasar, Yuki menepis tangan Pangeran Riana sehingga kue yang ada di tangannya terjatuh ke atas lantai.
Pangeran Riana balik merespon dengan melempar kantung makanan ke lantai. "Baik, jika Kau tidak mau makan. Aku yang akan memakanmu"
Tanpa tendeng aling-aling Dia langsung menarik kedua kaki Yuki sehingga terjerembab di atas tempat tidur. Dan langsung membungkam perlawanan Yuki.
__ADS_1