
Yuki mengambil sapu tangan di saku dan menempelkannya di lidah. Dia menunjuk ada setitik darah di sana.
"Tinggal makan saja Kau tidak bisa" ujar Pangeran Riana menggelengkan kepala melihat tingkah Yuki.
Pangeran Sera berdiri dari duduknya dan tanpa rasa canggung mendekati Yuki. Dia bahkan tidak memperdulikan keberadaan Pangeran Riana.
"Tempelkan ini di lidahmu agar lukanya cepat mengering" perintah Pangeran Sera sembari menyodorkan sapu tangan ke arah Yuki.
Yuki terkejut dengan tindakan Pangeran Sera. Tapi Dia tidak ingin memperpanjang situasi yang tidak menyenangkan, di tambah semua mata memandang Mereka dengan sorot penasaran. Yuki segera mengambil sapu tangan Pangeran Sera, Dia menundukan kepala mengucapkan terimakasih.
Sapu tangan yang di berikan Pangeran Sera telah di basahi dengan air es sebelumnya. Yuki menempelkan ke lidahnya yang terluka. Rasa dingin menyebar di dalam mulutnya.
"Terimakasih, Sekarang rasanya jauh lebih baik" kata Yuki dengan sopan. Dia tidak ingin menyinggung Pangeran Riana atau Pangeran Sera.
Pangeran Riana berdiri, menatap langsung Pangeran Sera siap untuk bertarung. Sementara Pangeran Sera masih bersikap acuh, dagunya terangkat dengan senyum kemenangan tersungging di bibirnya. Para tamu yang hadir menjadi gelisah, Khawatir terjadi pertingkaian yang justru memperkeruh masalah.
"Semua, tolong kembali ke tempat masing-masing" perintah Raja Bardana tegas, membuat suasana yang tegang mulai mencair.
Yuki menarik tangan Pangeran Riana, menyuruhnya duduk. Pangeran Sera sendiri sudah berjalan dengan tenang, kembali ke tempatnya.
Yuki menghela nafas lega. Dia berterimakasih kepada Baginda Raja Bardana, karena memisahkan kedua Pangeran di waktu yang tepat.
Yuki sudah tidak berselera lagi untuk makan. Ketegangan yang telah terjadi membuat nafsu makannya menghilang. Dia meletakan lap makan ke meja dan mendongak dengan sopan kepada Raja Bardana.
"Maafkan Aku Yang Mulia, Apakah Aku boleh ke balkon untuk merawat lukaku" pinta Yuki dengan nada memohon.
Yuki tahu, Pangeran Riana tidak akan membiarkannya pulang sendirian atau pergi dari hadapannya selama Pangeran Sera berada di sini. Jadi Dia memilih balkon aula yang dapat di lihat olehnya sewaktu-waktu.
"Ya pergilah, tunggulah Kami di sana sampai selesai" perintah Raja menyetujui permintaan Yuki.
__ADS_1
Yuki tampak senang, setidaknya Dia tidak perlu berada di suasana yang mencekam seperti sekarang. Dia segera berdiri sebelum Yang Mulia Raja Bardana berubah pikiran, dan bergegas menuju balkon aula.
Yuki duduk di balkon, menyaksikan pemandangan di depannya dengan perasaan takjub. Lampu-lampu menyinari seluruh penjuru kota. Tidak ada yang percaya telah terjadi pembunuhan brutal di Ibukota jika melihat semua keindahan yang terpampang dari tempat Yuki berada.
Bahkan dari posisinya, Yuki bisa melihat Aula utama, tempat di mana untuk pertama kalinya Yuki menginjakkan kaki ke istana. Waktu terasa cepat berlalu, seolah semua kejadian yang pernah terjadi bagaikan mimpi.
Perjamuan yang di adakan Raja Bardana untuk menyambut kedatangannya, Dengan di temani Perdana Menteri Olwrendho, Yuki memasuki aula. Yuki masih ingat bagaimana Perdana Menteri Olwrendho tertawa lepas dan bangga ketika memperkenalkan Yuki kepada teman-temannya.
Air mata kembali menetes di pipi Yuki, mengingat setiap moment berharga yang pernah di lewati bersama Perdana Menteri Olwrendho dan para pelayan di rumah. Dia sangat merindukan suasana rumahnya.
Tidak ingin larut dalam kesedihan, Yuki memalingkan pandangannya. Dia melihat ke arah balkon, tempat di mana Bangsawan Dalto menemukannya yang saat itu bersembunyi dari ajakan dansa para Bangsawan. Bangsawan Dalto membawakan seikat besar bunga mawar merah yang sangat cantik. Mereka berdansa. Menikmati alunan musik berdua.
Yuki kembali bertanya pada dirinya apakah saat itu Bangsawan Dalto ingin menciumnya ?. Apakah Yuki akan menerima ciuman itu jika benar Bangsawan Dalto mencoba menciumnya ?. Berbagai pertanyaan terus terlintas di kepala Yuki.
Yuki menghela nafas. Dia juga sangat merindukan kebersamaan dengan Bangsawan Dalto. Rasanya sangat aneh jika melihat situasi Mereka berdua sekarang. Terpisah seolah tidak saling mengenal. Jika bisa memilih, Yuki bersedia menukar posisinya yang sekarang hanya untuk kembali menikmati hidupnya yang dulu.
Tiba-tiba dari sudut mata, Yuki melihat sesuatu bergerak dari arah balkon tempat di mana Dia pernah berdansa bersama dengan Bangsawan Dalto. Yuki memalingkan wajah untuk melihat lebih jelas. Dia tercekat.
Detak jantung Yuki meningkat cepat. Dia nyaris tidak dapat bernafas dan hanya terpaku menatap sosok di seberang.
Sosok itu bergerak, jubahnya berkibar tertiup angin. Terlihat busur dan anak panah di tangannya. Dia tanpa ragu mengangkat busurnya untuk membidik Yuki yang masih diam di tempatnya.
Busur di lepaskan.
Lari Yuki..Lari..
Teriakan di dalam kepalanya terdengar nyaring. Tapi Yuki tidak dapat bergerak, Dia merasa lemas dan tidak berdaya. Pikiran dan tubuhnya tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Sssyuuuuuuttttt
__ADS_1
Lengkingan anak panah yang di lepaskan, melesat dengan cepat. Menancap tepat di tembok tepat di samping Yuki. Suaranya terdengar cukup nyaring dan mengerikan.
Yuki ingin menjerit, tapi suaranyantertahan di tenggorokannya.
Seolah ada bongkahan kain yang menyumbat mulutnya.
Panah kedua kembali di luncurkan. Tepat saat panah itu melesat kuat di tembok, tepat di atas kepala Yuki, Yuki akhirnya mampu mengeluarkan teriakan.
Teriakan Yuki membuat suasana seketika hening di dalam aula. Pangeran Riana yang menyadarinya terlebih dahulu. Dia segera meloncat cepat, berlari menuju tempat Yuki.
Yuki mendongak dan memandang anak panah di atas kepalanya, Terlambat menunduk sedikit saja, anak panah itu akan menancap di tengkoraknya.
Panah lain kembali melesat, tepat Pangeran Riana datang. Panah itu menyerempet lengan Yuki, sebelum akhirnya menancap di tembok. Yuki bersandar ke belakang, darah merembes dari lengannya.
"Yuki ada apa ?" Tanya Pangeran Riana membuat Yuki nyaris pingsan saking leganya melihat kehadiran Pangeran Riana.
Yuki menatap Pangeran Riana ketakutan, tidak mampu bersuara. Tubuhnya terasa lemas dan tidak bertenaga. Giginya bergemeletuk ketakutan.
Pangeran Riana segera merespon rasa takut Yuki. Dia langsung menyadari adanya bahaya di dekat Mereka.
"Serangan !!, Ada serangan !!" Teriak Bangsawan Xasfir memberikan penanda. Para Pengawal memasang sikap siaga. Para tamu berdiri dengan waspada. "Lindungi Paduka Raja, Lindungi Pangeran dan Putri Yuki. Tutup semua cendela sekarang !!"
Pangeran Riana berhasil menggapai Yuki dan menariknya ke pelukannya, ketika anak panah kembali melesat, menggores punggung Yuki. Yuki berteriak kesakitan. Kulitnya terasa panas. Dia di seret masuk ke dalam ruangan. Semua pintu dan cendela di tutup rapat. Gorden di turunkan untuk menghalangi pandangan dari luar.
Pangeran Riana merengkuh Yuki erat, sementara Yuki masih menggigil ketakutan.
"Kalian ikut Aku ke aula utama sekarang, Blokir semua akses masuk dan keluar dari Aula utama. Tangkap semua yang mencurigakan" perintah Bangsawan Xasfir kepada pasukannya. Mereka sudah mencabut pedangnya dan langsung berjalan keluar untuk menangkap pelaku.
"Putri Yuki, apa Kau baik-baik saja ?" Tanya Raja Bardana cemas sembari menghampiri Yuki.
__ADS_1
Yuki menganggukan kepala menjawab pertanyaan Raja Bardana. Tetapi tubuhnya terlihat begitu rapuh dan menyedihkan.