
Gong berdengung karena di pukul oleh seorang algojo bertubuh kekar. Dia mengenakan penutup kepala berwana hitam yang menyamarkan identitasnya.
Para penonton serentak memusatkan pandangan pada pintu di sebelah utara yang terbuka. Tiga orang pejabat pengadilan keluar dan menuju trimbun utama. Suasana sunyi seketika. Riuh rendah menghilang seketika.
Seorang pejabat yang paling tinggi pangkatnya maju ke depan. Mengeluarkan gulungan kertas dan mulai membacakan isinya. "Titah dari Yang Mulia Raja Bardana, Raja penguasa negeri Garduete". Baju kebesaran berwarna hitam dan merah berkibar tertiup angin. Saat Dia membacakan lantang dengan sikap takjim. Tampak jelas wibawanya sebagai seorang hakim tetua kerajaan.
Rakyat membungkuk sebagai tanda penghormatan. Terdengar seruan Mereka yang terdengar jelas di seluruh penjuru gedung. "Hidup Raja Bardana..Hidup Dewa Aiswara, Dewa pelindung Negeri Garduete. Berkatilah Kami dengan anugerahmu"
"Setelah mendengarkan saksi, melihat bukti dan fakta dalam persidangan, dan pertimbangan hukum negara dengan berberapa ahli hukum. Sebagai Raja Negeri ini, Aku memutuskan bahwa Dalto Radit, anggota keluarga Bangsawan Radit telah terbukti secara sah dan benar, melakukan sederet tindak kejahatan berat yang tidak dapat di tolerir. Melakukan percobaan makar terhadap kerajaan dan merencanakan percobaan pembunuhan terhadap Pangeran Penerus tahtah kerajaan dan anggota kerajaan. Serta melakukan upaya teror pembunuhan yang meresahkan disertai penggunaan sihir terlarang. Maka, dengan ini Aku melalui pengadilan kerajaan menjatuhi hukuman gantung kepada Dalto Radit tanpa menerima penangguhan hukuman"
Gemuruh suara terdengar tepat ketika Hakim kerajaan membacakan keputusan. Berdengung seperti kumpulan lebah yang mengintari sarangnya.
Seorang ibu yang telah renta bersujud di tanah sembari mengusap air matanya.
Seorang Ayah bersama istrinya menangis berpelukan bersama anak-anaknya.
Seorang wanita muda yang tengah mengandung, duduk di pojok. Sedikit tersembunyi. Menangis tergugu sembari membawa foto seorang Pria yang di letakan dalam figura. Anaknya yang masih kecil duduk di sebelahnya di ampit oleh neneknya yang juga mengusap air mata kelegaan.
Mereka semua masih mengenakan pakaian berkabung. Mereka semua adalah keluarga dari korban yang tidak bersalah, yang telah di bunuh oleh Bangsawan Dalto dengan kejam.
Begitu banyak nyawa yang melayang untuk mencapai tujuan Bangsawan Dalto. Tangannya telah berlumuran darah.
Yuki melihat pemandangan itu dan mengerti, alasan kerajaan tidak bisa memberinya pengampunan terlepas kenyataan bahwa sebenarnya Dia juga korban dari Iblis Balgira.
Bangsawan Dalto telah membuat seorang ibu kehilangan anaknya. Seorang istri kehilangan suaminya. Seorang kekasih yang seharusnya menikah akhir bulan ini, justru harus mengadakan pemakaman untuk pasangannya.
Begitu banyak duka dan kepedihan.
__ADS_1
Setiap korban yang Dia bunuh mempunyai keluarga, orang-orang yang kehilangan dan berduka.
Orang-orang yang tidak bersalah. Bahkan mungkin sebagian besar tidak mengenal Bangsawan Dalto. Mereka hanya orang-orang yang berada di tempat dan waktu yang salah, ketika nafsu membunuh Bangsawan Dalto muncul.
Pintu jeruji di sisi lain gedung berderit nyaring ketika terbuka. Suaranya memekakan telinga.
Bangsawan Dalto di tarik keluar dengan tangan terikat ke belakang. Dia di kawal ketat oleh empat orang prajurit. Saat Melihat Bangsawan Dalto keluar, sontak terdengar caci maki dan sumpah serapah yang di tujukan untuk Bangsawan Dalto.
Para prajurit yang berjaga di sekitar tribum penonton berjaga untuk menghindari adanya penonton yang merangsek masuk ke lapangan. Seorang Nenek melempar batu hingga mengenai dada Bangsawan Dalto.
"Pembunuh...kembalikan cucuku..apa salah Dia padamu !!" Teriak Nenek itu sembari menangis histeris. Seorang Penjaga berhasil menahannya dan menariknya menjauh.
Caci maki terus terdengar. Kemarahan dan kesedihan terlihat nyata. Yuki hanya berdiri bersandar di tempatnya. Tidak bergeming. Diam menyaksikan kejadian di depannya dengan bibir terkatup rapat.
Kerumuman penonton berusaha merangsek masuk. Lemparan batu yang di arahkan ke Bangsawan Dalto terus saja berdatangan. Para prajurit sampai harus menggunakan perisai besi untuk dapat berjalan membawa Bangsawan Dalto ke tempat eksekusi.
Yuki masih diam, sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Menyaksikan semuanya dari tempat persembunyiannya.
Yuki refleks bergerak ke balik bayangan tembok. Khawatir Bangsawan Dalto akan menemukannya meski rasanya tidak mungkin.
"Dalto Radit semua tuduhan telah di bacakan, apa Kau ingin mengajukan pembelaan untuk terakhir kalinya ?" Tanya Hakim Ketua dengan suara lantang.
"Tidak" Jawab Bangsawan Dalto tenang. Wajahnya tanpa ekpresi. Tidak ada ketakutan meski Dia tahu kematian akan datang sebentar lagi menyambutnya. Dia telah siap.
"Baiklah, laksanakan hukuman sesuai titah Yang Mulia Raja Bardana selaku Raja yang memimpin negeri ini" perintah Hakim tetua kepada Algojo yang sudah siap menerima perintah.
Hakim tetua mengulung suratnya, dan berjalan turun diikuti Hakim lainnya meninggalkan Mimbar. Algojo maju menarik Bangsawan Dalto ke posisinya. Kemudian meraih tali yang sudah tergantung, melingkarkannya ke kepala Bangsawan Dalto.
__ADS_1
Yuki berbalik. Dia berjalan pelan menuju pintu keluar. Tidak sanggup lagi untuk melihat seluruh prosesnya.
Bunyi derakan dari tuas yang di tarik, di susul sorak kegembiraan membahana terdengar ketika Yuki baru saja melangkahkan kaki menuju pintu keluar.
Lonceng di atas menara kembali di bunyikan berkali-kali dengan irama yang cepat. Tanda eksekusi telah di lakukan tanpa ada kendala.
Yuki seolah membatu. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Tidak tahu harus bagaimana.
Yuki menahan keinginannya untuk berbalik dan melihat. Dia mengepalkan tangannya sampai buku jarinya memutih.
Perasaannya hancur.
Semua sudah berakhir....
Yuki membuka mata ketika sentuhan dingin terasa di kulitnya. Hawa dingin menusuk hingga sum-sum tulang. Salju mulai turun dengan deras di atas langit. Salju pertama di musim dingin.
Dentang lonceng terdengar dari kejauhan. Yuki menatap langit di depannya. Berbaring diam di atas tanah membiarkan tubuhnya di selimuti salju.
Raja Bardana memerintahkan Pangeran Riana dengan tegas, agar membiarkan Yuki bebas di istana dan tidak lagi mengurungnya di dalam kamar. Yuki berhasil kabur dari istana Pangeran Riana meskipun sedikit susah, Karena penjagaan lebih di perketat oleh Pangeran Riana. Tapi pada akhirnya Dia berhasil lolos dan menuju gubuk mawar milik Bangsawan Dalto. Dan dengan sengaja tidur ketika waktu hukuman Bangsawan Dalto tiba.
Yuki merasakan perasaan sunyi di tempat ini. Sesuatu telah pergi. Suasana menjadi berbeda. Sekarang, tidak ada lagi yang akan merawat mawar-mawar itu.
Yuki teringat dengan mawar-mawar milik Bangsawan Dalto. Dia bergegas bangkit dan berlari menuju pondok. Bangsawan Dalto merawat Mereka semua dengan penuh kasih sayang. Mawar-mawar itu akan mati jika di biarkan tanpa perlindungan.
Bangsawan Dalto telah membangun satu tempat perlindungan tepat di samping pondok, yang rencananya akan di gunakan jika musim dingin tiba. Tanpa banyak bicara Yuki mulai mengangkat pot mawar satu per satu dan memindahkan ke dalam tempat perlindungan.
Air matanya mulai menetes ketika menyaksikan mawar-mawar yang belum sempat di angkat mulai tertimbun salju yang terus turun dengan derasnya.
__ADS_1