Morning Dew

Morning Dew
74


__ADS_3

Serfa sedang memeriksa denyut nadi Yuki dengan kedua jarinya, ketika Yuki pada akhirnya bangun dan membuka matanya perlahan.


Yuki tidak mengatakan apapun, hanya melihat sekeliling untuk menilai situasi.


Pendeta Serfa tersenyum hangat di dekatnya. "Anda sudah bangun Putri ?" Tanyanya pelan.


"Ya.." jawab Yuki lemah.


Pendeta Serfa menekan nadi Yuki dengan ujung jarinya yang lain. "Aku akan memberikan terapi alkupuntur untuk Putri, agar dapat menenangkan syaraf yang tegang"


Yuki tidak menjawab, namun Dia juga tidak memberikan penolakan. Pangeran Riana masih duduk di dekatnya mengawasi.


Pendeta Serfa mengeluarkan kotak kayu di sakunya. Kemudian membentangkan kain yang terdapat di dalamnya. Ada berbagai jarum dengan ukuran dan panjang yang berbeda. Tersimpan rapi di dalam kotak.


Pendeta Serfa memilih sebuah jarum, mengambilnya dengan cekatan.


Yuki membiarkan saat Pendeta Serfa mulai menusuk jarum ke lengannya. Kemudian Pendeta Serfa melanjutkan menusuk bagian pelipis dan kepala Yuki.


Pangeran Riana masih duduk di samping Yuki. Dua tangannya memegang satu tangan Yuki yang bebas. Pandangannya lurus ke depan dan tampak serius memikirkan sesuatu. Dia sama sekali tidak mengatakan apapun. 


"Sudah selesai" kata Pendeta Serfa akhirnya. Dia mencabut jarum terakhir di tubuh Yuki. Yuki merasa lebih ringan. Perasaannya jauh lebih baik dari sebelumnya. 


"Terimakasih" ucal Yuki tulus 


"Aku akan meracikan obat untuk Putri, usahakan agar Putri cukup istirahat dan cukup makan. Kondisi tubuh Putri belum sepenuhnya pulih akibat kejadian terakhir, jangan di tambah dengan pikiran yang tidak perlu. Itu akan mempengaruhi kesehatan Putri" tegur Pendeta Serfa langsung.


"Aku akan memberikanmu daftar menu makanan untuk di makan Putri ke depannya. Hari ini minta juru masak untuk membuat sup burung walet untuk Putri" perintah Pendeta Serfa kepada Rena.


Rena langsung membungkuk memberikan hormat dengan sikap takjim. "Terimakasih atas kebaikan Pendeta" 


Pendeta Serfa mengemasi barang-barangnya dan memasukkan kembali ke dalam sakunya. Dia berdiri dengan tenang di samping tempat tidur. Menghadap ke arah Pangeran Riana untuk melapor.


"Tidak ada masalah kesehatan yang serius pada Putri Yuki. Putri hanya butuh banyak istirahat dan menenangkan pikiran. Besok pagi Saya akan kembali untuk memeriksa Putri dan memberikan alkupuntur" ujar Pendeta Serfa kepada Pangeran Riana.

__ADS_1


"Aku mengerti, sekarang Aku juga ingin beristirahat, Kalian semua boleh keluar"


Semua orang memberi hormat kepada Pangeran Riana dan beranjak meninggalkan kamar. Hanya ada Yuki dan Pangeran Riana berdua di dalam kamar sekarang. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Apa semua baik-baik saja ?" Tanya Yuki akhirnya.


"Bukankah Aku yang harusnya bertanya seperti itu ?. Katakan padaku apa untungnya Kau menolak makan dan tidur seperti sekarang ?" Tanya Pangeran Riana pelan. 


"Maafkan Aku" ujar Yuki menyesali kesalahannya.


"Aku mengerti Kau sangat tidak nyaman dengan mimpi-mimpimu. Tapi Kau harus ingat, Kau sudah tidak lagi hidup di duniamu yang dulu. Kau juga adalah bagian dari kerajaan sekarang. Akan ada banyak pertumpahan darah yang terjadi di sekelilingmu. Kau harus menghadapinya dengan kuat. Jika Kau lemah, Kau akan mudah terbunuh" tegur Pangeran Riana tegas. "Aku akan berusaha melindungimu, tapi tidak selamanya Aku bisa selalu berada di dekatmu"


"Apa Aku boleh bertanya sesuatu ?" Tanya Yuki dengan rasa penasaran.


Pangeran Riana diam. Tapi sikapnya menunjukan Yuki boleh bertanya apapun padanya.


"Kapan Pangeran pertama kali membunuh orang ?"


Pangeran Riana diam lagi. Wajahnya tetap tenang. Dia pandai menyembunyikan emosinya di saat-saat yang tepat, sehingga orang jarang bisa menebak pikirannya.


"Apa ?"


Delapan tahun ?.


Yuki tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Dia terkejut dan tidak percaya dengan apa yang telah di dengar.


Saat berumur delapan tahun, anak seusia itu biasanya hanya mengenal bermain dan bermain. Tetapi Pangeran Riana malah sudah membunuh orang. 


"Bagaimana itu bisa terjadi ?" Tanya Yuki lagi semakin penasaran. Biasanya Pangeran Riana jarang mau terbuka dengan kehidupannya. Tapi sepertinya, hari ini suasana hatinya sedang bagus.


"Saat itu, ketika Aku baru saja berlatih memanah seorang diri. Pengkhianat istana datang mencoba membunuhku. Para Prajurit pelindung sudah di lumpuhkan. Hanya tersisa Aku yang masih bertahan, mencoba berlari untuk menyelamatkan diri. Jika Aku mati, Negara akan kacau. Ayah akan kehilangan kepalanya karena di nilai sebagai raja yang gagal meneruskan kekuasaan. Semua orang-orang Ayah akan di bunuh. Potensi terjadi keruntuhan besar, karena itu Aku harus membunuhnya untuk menyelamatkan negeriku" Pangeran Riana membuka kedua telapak tangannya, merenung memandangi Mereka. Pikirannya kembali ke masa ketika Dia berumur delapan tahun. "Aku memegang panah dan membunuh Mereka semua tanpa ragu. Kerajaan sangat bangga saat mendengar kemampuanku. Kau tahu, Ayah langsung membuat istana ini sebagai hadiah untuk keberanianku" 


Yuki sama sekali tidak menyangka, beban yang di tanggung Pangeran Riana begitu besar. Di usia delapan tahun, Pangeran Riana bahkan sudah harus memikirkan apa yang tidak selayaknya di tanggung anak seusianya.

__ADS_1


Pangeran Riana sudah berulang kali menghadapi percobaan pembunuhan yang nyaris merenggut nyawanya. Yuki tidak dapat membayangkan bagaimana kuatnya Pangeran Riana menghadapi itu semua. Memahami semua itu, membuat hati Yuki menjadi sesak. Di balik megahnya istana kerajaan dan kemewahan yang tersedia di dalamnya, tersembunyi begitu banyak bahaya yang mengancam.


"Di istana, Kau harus mengingat ini. Tidak ada teman atau lawan yang abadi. Di dalam istana, Kau akan merasa sendiri. Semakin tinggi posisimu, Kau akan menemukan bahaya yang terus mengancam"


"Bagaimana perasaanmu, setelah membunuh pasukan pengkhianat kerajaan. Saat itu umurmu baru delapan tahun" tanya Yuki dengan nada simpatik.


"Kenapa tiba-tiba Kau menanyakan hal itu ?" Ujar Pangeran Riana balik bertanya.


"Pangeran masih mengingat kejadian itu sampai sekarang. Artinya kejadian itu bukan suatu hal yang mudah Pangeran lupakan" ujar Yuki dengan sedih. "Aku tidak bisa membayangkan, kengerian seperti apa yang Pangeran hadapi waktu itu. Orang mengatakan Pangeran begitu hebat, karena di usia yang masih kecil sudah mampu menaklukan lawannya. Tapi apa setelah itu Pangeran mendapat pertolongan ?"


"Untuk apa ?"


"Tentu saja untuk menyembuhkan traumamu" kata Yuki langsung tanpa berbasa-basi. "Meski semua mengatakan hebat, Tapi Pangeran tetaplah hanya seorang anak kecil waktu itu"


Pangeran Riana diam. Dia mengangkat gelas di tangannya dan meminum isinya. "Tidak ada yang pernah berkata seperti ini padaku sebelumnya"


"Meski Pangeran menyebalkan, tapi Pangeran sudah banyak membantuku. Lain kali, jika Pangeran dalam kondisi yang tidak menyenangkan, Kau bisa datang padaku. Aku janji akan membantumu meringankan bebanmu" ujar Yuki tulus.


"Kau berbicara seperti itu, seolah Kau sendiri sudah mengatasi masalahmu" ejek Pangeran Riana untuk membalas ucapan Yuki.


Yuki langsung memberengut. Merasa kesal. "Setidaknya Pangeran bisa mengapresiasi niat baikku" tuntutnya kesal.


Pangeran Riana tidak menjawab, Dia justru mengulurkan tangan untuk.mengacak-acak rambut Yuki. Yuki berjengit mundur, menolak sikap Pangeran  Riana.


"Hentikan" seru Yuki kesal.


 


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Yuki sudah pergi ke istana Raja untuk bertemu dengan Baginda Raja dan Pendeta Serfa. Pangeran Riana sudah tidak ada di tempatnya ketika Yuki bangun. Dia sudah pergi sebelum fajar menyingsing bersama Bangsawan Voldermont. 


Para Prajurit penjaga tidak ada yang tahu kemana Pangeran Riana pergi.


 

__ADS_1


 


__ADS_2