Morning Dew

Morning Dew
103


__ADS_3

Pangeran Sera membawa Yuki ke sebuah ruangan kosong di salah satu gedung sekolah. Dari cendela terlihat aktifitas sekolah mulai kembali berjalan normal. Kereta kuda datang silih berganti, mengantarkan para murid yang sebelumnya memilih kembali ke rumah dengan alasan keamanan untuk melanjutkan pendidikannya. 


Suasana mencekam sudah berlalu. Teror yang menghantui sekolah berakhir hari ini. Semua orang bernafas lega.


Sementara itu murid yang sebelumnya masih bertahan, sedang melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas masing-masing bersama guru pengajar. 


Pangeran Sera berhasil menyelundupkan Yuki tanpa terlihat orang lain, memasuki area sekolah. Mereka menuju ruangan kosong yang sebelumnya di gunakan sebagai gudang peralatan berkuda. Tidak ada yang mau datang kemari karena ruangan ini sebelumnya menjadi salah satu ruangan tempat di temukan korban Bangsawan Dalto.


Yuki awalnya ragu ketika mendengarnya, tapi Dia tidak punya pilihan lain. Jika Yuki terlalu lama di ruang terbuka, akan ada yang melihat dan mengenalinya. Pangeran Riana pastinya akan menemukan keberadaannya dengan mudah. 


Jadi Yuki berusaha mengubur fakta mengenai ruangan itu di benaknya dan bersikap berani.


Yuki berdiri di sudut gelap dalam ruangan. Dia masih khawatir Pangeran Riana akan datang dan menemukannya. Dia sudah mempunyai kesempatan untuk kembali ke dunia asalnya. Pangeran Sera berjanji akan membantunya. Jadi Dia tidak mau semua sia-sia jika keberadaannya di temukan Pangeran Riana.


Pangeran Sera telah keluar ruangan lima belas menit yang lalu. Setelah meminta Yuki untuk menunggu dan bersembunyi di dalam ruangan. Yuki berdiri merapat ke tembok, di samping cendela. Udara di dalam ruangan sangat dingin. Nafas Yuki sampai berebun. Tapi Dia tidak berani menyalakan penghangat ruangan. Dia tidak ada orang lain yang curiga dan datang untuk memeriksa. Jadi Yuki berusaha untuk menahan rasa dingin yang membuatnya mengigil. 


Yuki menunduk, memandangi salju yang menetes di ujung sepatunya. Matanya masih sembab akibat Dia terlalu sering menangis akhir-akhir ini. Dari tempatnya, Yuki bisa melihat pasukan keraiaan yang berkumpul dalam barisan, mengarah ke hutan belakang sekolah. 


Jelas sekali Mereka sedang mencari keberadaan Yuki.


Mengetahui hal itu, Yuki hanya berharap jika Mereka akhirnya menemukan pondok mawar Bangsawan Dalto, Mereka tidak akan menghancurkan mawar-mawarnya dan membiarkan pondok itu tetap berdiri seperti apa adanya.


Punggung Yuki menegang ketika terdengar langkah kaki mendekat. Dengan perasaan was-was Yuki menatap ke arah pintu yang gagangnya mulai di gerakan dari luar. Pangeran Sera masuk bersama dengan Pendeta Naru.

__ADS_1


Yuki menarik nafas lega mengetahui kehadiran Pangeran Sera dan Pendeta Naru yang memang sudah di tunggunya sendari tadi.


Wajah Pendeta Naru masam. Sebelum kemari Dia telah memberikan saran kepada Pangeran Sera ketika Pangeran Sera datang dan memintanya membawa Putri Yuki kembali ke dunia asalnya. Tapi Pangeran Sera bersikeras pada keputusannya. Naru tidak dapat berbuat apapun. Dia terpaksa menuruti keinginan Pangeran Sera.


"Saya akan segera mempersiapkan" ujar Pendeta Naru datar setelah memberikan salam pada Yuki. Dia berjalan menuju meja di dekatnya dan meletakan sebuah kotak besar yang di bawanya ke atas meja. 


Yuki hanya diam berdiri di tempatnya, menperhatikan Pendeta Naru membuka kotak dan mengeluarkan satu persatu barang di dalamnya.


Pangeran Sera menggeser beberapa meja dan kursi yang ada di tengah ruangan ke tepi. Memberi ruang yang cukup luas untuk melakukan ritual. Pendeta Naru mengambil sebuah kapur dari mangkuk kecil terbuat dari tembaga. Dan mulai berjongkok di lantai untuk membuat tulisan yang berbentuk melingkar. Pangeran Sera berada di dekatnya, menaburkan abu di atas gambar yang di buat Naru dengan sigap.


Tidak butuh waktu lama sampai Mereka berdua menyelesaikan simbol pemujaan di lantai. Kemudian Pendeta Naru menarik sebuah meja tak jauh dari lingkaran yang telah di buat. Menata dengan rapi semua barang yang di butuhkan ke atas meja. Pangeran Sera menghampiri Yuki dan membenahi mantel yang menutupi badan Yuki. Dia berdiri di dekat Yuki, mengandeng tangan Yuki tanpa mengatakan apapun. Matanya tenang memandang Pendeta Naru bekerja di dekatnya.


"Persiapan telah selesai. Ritual pemindahan dapat segera di lakukan" ujar Pendeta Naru kepada Pangeran Sera. Pangeran Sera beringsut dari posisinya. Menarik tangan Yuki agar mengikuti langkahnya. "Ayo Yuki..sudah waktunya" ajak Pangeran Sera lembut. Yuki menuruti keinginan Pangeran Sera.


Pangeran Sera membimbing Yuki berjalab ke tengah lingkaran. "Hati-hati perhatikan langkahmu, jangan sampai ada simbol yang bergeser atau terhapus" ujar Pangeran Sera mengingatkan.


Yuki menunduk, melangkah dengan hati-hati. Sedikit berjinjit hingga akhirnya Dia berhasil sampai di tengah lingkaran. Pangeran mengulurkan tangannya. Yuki menerimanya. Keduanya bergandengan tangan dan hanya di pisahkan oleh jarak lingkaran di lantai.


"Mohon maaf Pangeran, Saya berharap Pangeran menjauh dari lingkaran tersebut. Saya khawatir Pangeran akan ikut tersedot jika berada di dekat lingkaran itu." Pinta Pendeta Naru dengan nada gusar. "Saya akan segera memulai ritual pemindahan, jika Pangeran sampai ikut terbawa. Saya tidak dapat mengembalikan Pangeran sewaktu-waktu. Mohon Pangeran dapat mengerti" 


"Apapun yang terjadi jangan bergerak dari posisimu tanpa di perintahkan. Jika tidak, Kau akan tersesat ke dimensi lain yang bukan tujuanmu. Naru tidak bisa mengembalikanmu sewaktu-waktu" bisik Pangeran Sera mengingatkan Yuki. Sorot matanya tampak sedih. Dia tidak rela Yuki pergi. Tapi Keputusan Yuki sudah bulat. 


Pangeran Sera tahu Yuki membutuhkan waktu untuk sendiri dan memikirkan segalanya.  Yuki akan terpuruk jika di biarkan terlalu lama berada di dunia ini, Pangeran Sera akan memberi Yuki waktu untuk menyembuhkan lukanya.

__ADS_1


"Baiklah..Aku paham" kata Yuki sembari tersenyum lembut.


"Pangeran, harap menyingkir sekarang atau Kita tidak akan memulai ritual ini" ujar Pendeta Naru lagi dengan wajah masam.


Yuki mendongak, Dia berjinjit sembari mencondongkan tubuhnya untuk mencium pipi Pangeran Sera. "Terimakasih" bisik Yuki tulus.


Pangeran Sera membungkuk, menerima ucapan terimakasih dari Yuki.


Yuki kembali ke posisinya. Menatap Pangeran Sera dalam penuh makna. 


Tanpa Pangeran Sera, Yuki tidak mungkin dapat bertahan. Jika Pangeran Sera tidak menemukannya di pondok mawar, Yuki pasti sudah gila atau malah mati membeku dalam usaha menyelamatkan mawar-mawar milik Bangsawan Dalto.


Kebaikan hati Pangeran Sera tidak akan pernah Yuki lupakan seumur hidupnya.


Yuki sebenarnya sadar betapa egoisnya Dia saat ini. Hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli dengan sekitarnya. Pasti tidak menyenangkan bagi Pangeran Sera harus membantu Yuki mengembalikannya ke dunia asalnya. Mengingat Yuki adalah tunangannya tapi malah menangisi pria lain di depannya.


Mengacuhkan semua cinta dan perhatian Pangeran Sera dan memilih untuk kembali ke dunia asalnya. Sampai terlintas pertanyaan di benak Yuki, dari apa hati Pangeran Sera itu terbuat.


Dia sangat sabar menghadapi Yuki. Tidak mengeluh dan selalu tersenyum hangat ketika Yuki menangisi Pria lain. Bahkan Pangeran Sera juga tidak mempermasalahkan ketika mengetahui Pangeran Riana telah berhasil meniduri Yuki. 


Pangeran Sera tidak menuntut Yuki harus mencintainya sekarang. Dia memberi Yuki banyak waktu agar Yuki belajar mengenali dan melihat dirinya. Tidak memaksa Yuki seperti yang di lakukan Pangeran Riana.


 

__ADS_1


__ADS_2