Morning Dew

Morning Dew
267


__ADS_3

Yuki membuka jendela kamar secara perlahan. Ternyata tidak di kunci. Dia mencondongkan tubuhnya ke luar dan melonggok. Kamar ini terletak di lantai tiga bangunan sekolah. Dia tidak punya kemampuan seperti Lekky atau Curly untuk meloncat dengan selamat keluar dari jendela kamar. Cara satu-satunya yang bisa Dia lakukan adalah merambat di selusur tembok bagian luar. Menuju ruangan lain yang ada di sebelahnya tanpa menggunakan pengaman sedikit pun.


Yuki tidak punya pilihan lain. Dia khawatir Lekky akan tiba sewaktu-waktu. Jika Dia datang dan mengetahui masalah ini, Yuki khawatir Lekky akan melanggar janjinya dan langsung membunuh Pangeran Riana saat itu juga. Jadi Dia harus memikirkan cara untuk segera pergi meninggalkan kamar ini selagi masih ada kesempatan. 


 


 


Di luar angin berhembus cukup kencang. Jika nenilik awan yang mengantung di atas langit, sebentar lagi akan turun hujan.


Yuki memindahkan beberapa barang yang ada di atas meja. Kemudian Dia naik ke sana, dengan hati-hati melangkahkan kaki keluar dari jendela. Merambat di dinding menuju ruang yang ada di sebelah kamar rahasia milik Pangeran Riana.


Yuki menghela nafas lega saat akhirnya Dia berhasil masuk dengan aman ke ruang kosong. Tidak ada siapapun. Dia segera berlari keluar menuju lorong sekolah dan bergegas meninggalkan gedung sekolah.


 


 


Semua orang yang di lewati Yuki menatap Yuki dengan tatapan penasaran. Yuki berlari dengan cepat seperti seseorang yang sedang di kejar sesuatu. Dia tidak mengenakan alas kaki. Tapi Yuki tidak perduli. Di pikirannya, Dia harus segera meninggalkan sekolah dan bersembunyi di suatu tempat sebelum Pangeran Riana menyadari Yuki telah berhasil kabur atau Pangeran Sera mencari Yuki karena mengetahui kemunculan Yuki di sekolah.


Yuki tidak membawa uang sama sekali. Dia hanya membawa Gulf di sakunya. Namun apa gunanya, Yuki tidak memiliki siapapun sekarang untuk membantunya. Dia juga tidak mau menghubungi salah satu anggota keluarga Darmount untuk membantunya. Yuki tidak mau memecah konsentrasi Mereka. 


Hujan turun dengan derasnya. Beberapa orang berlari pergi untuk mencari perlindungan. Yuki kembali berlari menuju sebuah bangunan yang terletak di tengah kota.


 


 


Saat Yuki duduk di sebuah gang kecil untuk beristirahat sejenak terasa getaran di saku bajunya. Ketika Dia mengambil Gulf yang di simpannya, Dia terkejut ketika melihat ternyata Bangsawan Voldermontlah yang menghubunginya. 


Yuki tidak pernah memberikan kode Gulf miliknya pada Bangsawan Voldermont, Bangsawan Voldermont juga tidak pernah memintanya. Jadi bagaimana Dia bisa mengetahui kode Gulf milik Yuki. Sementara di sini hanya keluarga Darmount saja yang memiliki akses untuk menghubungi Yuki.


"Yuki Kau ada di mana sekarang ?" Tanya Bangsawan Voldermont begitu Yuki mengangkat panggilannya.


"Aku..."

__ADS_1


"Ada laporan yang masuk, Kau terlihat di area gedung sekolah. Sera baru saja meninggalkan ruang rapat untuk mencarimu. Kau ada di mana sekarang. Aku akan menjemputmu"


Yuki tidak punya pilihan. Dia langsung menyebutkan lokasi persembunyiannya.


"Baiklah, tunggu Aku di sana" ujar Bangsawan Voldermont menutup panggilan.


 


 


"Yuki.." Bangsawan Voldermont muncul tidak sampai setengah jam setelah Dia menghubungi Yuki. Dia membawa payung dan sebuah mantel di tangannya. Menghampiri Yuki yang duduk di sudut gang, menggigil dengan tubuh basah karena terkena air hujan. Seperti seekor kucing yang kepayahan. 


Bangsawan Voldermont langsung menyelimuti Yuki dengan mantel yang di bawanya. 


"Apa yang terjadi ?. Aku pikir Kau ikut dengan Lekky"


Yuki menggelengkan kepala dengan bibir bergetar karena kedinginan. Hujan turun sangat deras disertai angin kencang yang meliukkan pohon di sekitarnya.


"Tidak, Aku ada pekerjaan lain" jawab Yuki berbohong. 


 


Yuki menganggukan kepala setuju.


 


Bangsawan Voldermont berhasil menyelundupkan Yuki kembali ke rumahnya tanpa ketahuan. Sesampainya di kamar, Yuki langsung mandi dan berganti pakaian. Dia mengenakan pakaian dengan kerah tinggi untuk menutupi bekas ciuman Pangeran Riana di lehernya.


Setelah mandi, seorang pelayan datang dan mengantar Yuki ke ruang baca sekaligus ruang kerja milik Bangsawan Voldermont. Saat Yuki datang, perapian telah lama di nyalakan. Ruangan terasa hangat. Yuki memilih duduk di sofa dekat dengan perapian. Menjulurkan telapak tangannya mendekati api untuk mencari kehangatan.


Bangsawan Voldermont berdiri di dekat Yuki sembari menuangkan segelas coklat hangat untuk Yuki. Yuki menerimanya dengan senang.


Di luar hujan masih terdengar. 


"Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Kau tiba-tiba muncul di sekolah dengan kondisi seperti tadi ?" Tanya Bangsawan Voldermont sambil duduk di seberang Yuki. Ada gelas anggur yang baru di isi di tangannya.

__ADS_1


Yuki diam. Tidak bisa menjelaskan.


Bangsawan Voldermont memandang Yuki tenang, menunggu jawaban.


"Kau tidak bisa mengatakan padaku ?" Tanya Bangsawan Voldermont lagi setelah hening sesaat dan Yuki tidak juga menjawab pertanyaannya.


Yuki menggelengkan kepala dengan tatapan bersalah. "Maafkan Aku, Aku tidak bisa"  Aku Yuki. Yuki tidak mungkin mengatakan bahwa selama dua minggu ini Dia di sekap di dalam kamar rahasia Pangeran Riana dan di paksa untuk melayani nafsu Pangeran Riana berkali-kali. 


"Aku mengerti. Tapi jika Kau butuh bantuanku, katakan saja padaku"


"Terimakasih" ujar Yuki lirih.


"Para pelayan sedang mempersiapkan makanan, sebentar lagi Mereka akan datang"


Terdengar ketukan pintu. Menghentikan pembicaraan yang terjadi. Kemudian pintu di buka. Bangsawan Asry muncul dengan raut wajah lelah. Beban berat karena kemunculan Iblis Balgira di rasakan oleh semua orang tanpa terkecuali. "Kalian berdua ada di sini rupanya, apakah ada sesuatu yang bisa ku makan ?"


"Minumlah ini dulu" kata Yuki menyodorkan coklat panas yang belum sempat di minumnya kepada Bangsawan Asry yang baru duduk di sebelahnya. Bangsawan Asry langsung menerima dengan tatapan penuh rasa terimakasih dan meminumnya sampai tinggal sisa setengah.


"Mana yang lain ?" Tanya Bangsawan Voldermont kemudian.


Para pelayan masuk ke dalam ruangan dan menyajikan makan malam di meja. Bangsawan Asry sangat lapar. Dia langsung mengambil makanan di atas piring.


"Sedang dalam perjalanan kemari" 


Jika yang di maksud adalah Pangeran Riana. Yuki harus memikirkan cara untuk segera kembali ke dalam kamar tanpa menimbulkan kecurigaan.


"Apa Kau sudah menemukannya ?" Tanya Bangsawan Voldermont sambil memakan makanannya.


Bangsawan Asry menggelengkan kepala. "Kau yang lebih tau bagaimana sifat Riana. Dia bisa lebih tertutup dengan siapapun daripada biasanya. Di tambah Marsha yang kesetanan seperti orang gila, membuatku semakin sulit untuk menyelidikinya"


"Ada apa ?" Tanya Yuki tidak mengerti.


"Kurang lebih dua minggu yang lalu, Raja Bardhana memanggilku untuk menyelidiki siapa wanita yang telah tidur dengan Riana. Identitas wanita itu harus Kami dapatkan karena Dia berhasil membuat Riana membiarkannya untuk meninggalkan bekas ciuman di tubuh Riana. Selama ini Kami telah mencoba membuat Riana bersama dengan wanita tapi selalu gagal" kata Bangsawan Asry dengan wajah frustasi. "Riana tidak pernah mau menyentuh wanita semenjak...." Bangsawan Asry diam sejenak. Namun semua orang sudah tahu apa yang akan di katakan selanjutnya. Setelah berdehem sekali, Bangsawan Asry kembali berkata "Sedangkan kerajaan membutuhkan keturunan agar kondisi negeri semakin stabil. Bekas di leher Riana tidak mungkin ada jika Mereka tidak tidur bersama, dan Riana bukan orang yang akan membiarkan seorang wanita meninggalkan bekas di badannya jika wanita itu tidak penting untuknya"


 

__ADS_1


 


__ADS_2