Morning Dew

Morning Dew
221


__ADS_3

Dalam kepanikan, Yuki melihat Pangeran Riana sekuat tenaga berenang untuk menghampiri Yuki. Yuki kembali menendang-nendang kakinya di permukaan, merentangkan tangannya untuk meraih Pangeran Riana. Ketika akhirnya Pangeran Riana berhasil menangkapnya, Yuki merasa lega.


Pangeran Riana menarik Yuki ke dalam pelukannya. Yuki terbatuk-batuk akibat meminum air saat Dia nyaris tenggelam tadi. Tubuh keduanya terus terseret arus air. Sementara itu dari atas sana terdengar teriakan Pangeran Sera dan derab langkah kuda yang berlari untuk kembali mengejar Yuki dan Pangeran Riana.


Pangeran Riana berenang sembari masih memeluk Yuki menuju tepi sungai. Dia lantas menyibakkan rerumputan tebal yang ada di pinggir sungai. Sebuah ceruk terlihat di batas air yang mengalir. Tidak akan terlihat jika rumput tidak di sibakkan.


"Ayo.." ajak Pangeran Riana pada Yuki untuk berenang memasuki ceruk itu. Tanpa keraguan Dia mengikuti Pangeran Riana masuk ke dalam. Menyelam ke dalam air menyusuri lorong yang hanya muat untuk satu orang. Terus maju hingga perlahan Yuki merasakan air semakin lama semakin menyusut dan permukaan tanah menjadi landai. Mereka meneruskan perjalanan dengan merangkak hingga Mereka sampai ke sebuah gua yang letaknya cukup tersembunyi dari pandangan. Saat Yuki melongok ke depan mulut gua, Dia mendapati gua itu berada di sebuah lekukan batu besar yang tertutup semak. Ada pohon pepaya di dekat gua. Yuki menemukan beberapa buah masak yang sudah tidak utuh karena di makan burung. Selain itu Yuki tidak melihat apapun lagi yang bisa di makan.


Ketika Yuki kembali ke dalam gua. Pangeran Riana duduk bersandar di dinding gua. Keringat dingin mengalir di keningnya.


"Sementara ini Kita akan bersembunyi di sini" ujar Pangeran Riana sambil menyandarkan kepalanya ke belakang. Yuki langsung menghampiri Pangeran Riana ketika Dia melihat sesuatu yang aneh pada Pangeran Riana.


"Biarkan Aku memeriksa" pinta Yuki perlahan.


Luka Pangeran Riana mengalami infeksi. Dia demam tinggi. Yuki merobek bagian bawah gaunnya dan langsung membebat luka Pangeran Riana untuk menghentikan pendarahannya. Nafas Pangeran Riana tersenggal menahan sakit.


"Kita harus menghubungi seseorang. Di mana Gulf Pangeran" tanya Yuki sembari menepuk-nepuk badan Pangeran Riana untuk mencari Gulf milik Pangeran Riana 


Namun Yuki tidak dapat menemukannya.


"Sepertinya jatuh ketika Kita masuk ke dalam air tadi" jawab Pangeran Riana pelan.

__ADS_1


"Di mana Gulf milikmu ?" Tanya Pangeran Riana balik.


Yuki menggelengkan kepala menyesal. "Aku meninggalkannya di dalam kamar. Aku minta maaf, Aku tidak tahu jika akan ada kejadian seperti ini"


Pangeran Riana tidak menjawab. Dia memejamkan mata. 


Tubuhnya mulai mengigil kedinginan. Yuki segera melepaskan pakaian Pangeran Riana yang masih basah, dengan panik Dia keluar gua untuk mencari sesuatu. Namun Yuki tidak tahu harus mulai dari mana atau kemana. Dia tidak punya pengalaman apapun untuk bertahan hidup di dalam hutan. 


Akhirnya Yuki mengambil daun-daun kering yang cukup lebar untuk di bawa masuk ke dalam gua. Dia membaringkan Pangeran Riana di alas yang di buatnya dari daun kering. Kemudian menimbun tubuh Pangeran Riana di atasnya dengan daun yang lain agar terasa hangat.


"Maafkan Aku Pangeran, gara-gara Aku Pangeran menjadi terluka sampai seperti ini" bisik Yuki sedih.


Yuki merasa semakin bersalah pada Pangeran Riana. Jika bukan karena Yuki, Dia tidak mungkin akan mengalami hal seperti ini. Yuki merasa Dia selalu membawa masalah untuk Pangeran Riana. Beberapa kali Pangeran Riana nyaris mendapat bahaya karena melindungi Yuki.


Yuki melihat Pangeran Riana sedang menahan sakit. Tangan yang sedang menggengamnya terasa panas sekali. Pangeran Riana dalam keadaan setengah sadar ketika Yuki memutuskan melanggar perintahnya dengan berjalan kembali keluar gua untuk mencari daun-daun kering yang lebar agar bisa di gunakan sebagai selimut yang menutupi Pangeran Riana dan memberinya sedikit kehangatan.


Yuki mengambil pepaya dengan ranting. Membawanya ke dalam gua. Setidaknya pepaya ini bisa Mereka gunakan untuk mengisi perut selama bersembunyi di dalam gua.


Yuki membanting pepaya kuat ke atas batu hingga terbelah. Membersihkan isinya dan kembali mendekati Pangeran Riana.


"Makanlah ini..." Pinta Yuki sembari menyodorkan pepaya yang telah Dia bersihkan dari bijinya ke arah Pangeran Riana. Namun Pangeran Riana hanya diam sambil meringkuk dengan tubuh gemetaran. Yuki menyentuhnya, suhu tubuhnya semakin naik. Yuki yakin saat ini suhu tubuh Pangeran Riana sudah mendekati empat puluh derajat celcius atau lebih.

__ADS_1


Bibir Pangeran Riana terkatup rapat. Matanya terpejam. Dia tampak tidak berdaya. Luka di bahunya sangat mempengaruhi tubuhnya. Sepertinya Pangeran Sera mengolesi mata panah dengan racun yang bereaksi cepat pada tubuh yang terkena.


Yuki duduk menunggu. Tapi ketika pagi mulau berganti siang dan Pangeran Riana tidak juga bangun. Yuki menjadi cemas.


Pangeran Riana harus mempunyai tenaga untuk memulihkan diri. Tapi bagaimana Dia bisa sembuh jika Dia tidak makan apapun.


Akhirnya, Yuki memutuskan untuk menghaluskan pepaya dengan mengunyahnya, lalu memasukkan sedikit demi sedikit ke dalam mulut Pangeran Riana.


Yuki terus melakukannya sampai yakin Pangeran Riana sudah cukup memakannya.


Pangeran Riana belum juga bangun ketika hari menjelang sore. Yuki menyelimuti Pangeran Riana dengan pakaian yang telah Dia keringkan sambil menunggu Pangeran Riana sadar.


Ketika hari mulai beranjak malam, dan Pangeran Riana masih belum sadar. Yuki duduk, meletakan kepala Pangeran Riana di pangkuannya sambil berpikir. Mencoba untuk tenang dan tidak panik.


Yuki sangat mengkhawatirkan kondisi Pangeran Riana sekarang. Dan Dia tidak tahu sampai kapan Pangeran Riana akan sadar. Dia juga tidak bisa pergi meninggalkan gua untuk mencari bantuan. Selain Pasukan Pangeran Sera yang Yuki yakin masih berkeliaran untuk mencarinya. Yuki juga tidak tahu Dia sekarang berada di mana. Jika Yuki nekat keluar meninggalkan gua, Dia bisa tersesat dan malah tidak akan bisa menemukan letak gua ini lagi. Jika hal itu terjadi, tentu Pangeran Riana akan sendirian dalam keadaannya yang sekarang, jelas berbahaya bagi Pangeran Riana.


Bagaimana jika tidak ada yang menemukan tempat ini lagi sementara Pangeran Riana belum sadar dari pingsannya.


Jadi Yuki memutuskan untuk menunggu sampai Pangeran Riana sadar dan tidak meninggalkan gua ini terutama ketika hari sudah gelap seperti sekarang.


"Pangeran.. Aku mohon bertahanlah..." Bisik Yuki sedih. Kegelapan menyelimuti sekeliling. Hawa dingin mulai terasa. Berbanding terbalik dengan suhu tubuh Pangeran Riana yang belum juga normal.

__ADS_1


Hanya ada suara hewan yang menemani. Suara gemerisik angin meniupkan udara dingin yang membuat Yuki mengigil. Yuki tetap bertahan pada posisinya. Memeluk Pangeran Riana erat didadanya sembari memastikan tubuh Pangeran Riana tertutup dengan jubah yang Dia gunakan untuk menyelimuti Pangeran Riana.


__ADS_2