
"Kenapa ?" Tanya Yuki yang terus mendengarkan cerita Pangeran Arana dengan raut wajah serius.
"Ada desas-desus yang beredar setelah kematian Raja Balqira. Bahwa sebenarnya Trandem adalah penyebab utamanya. Diam-diam Dia meracuni Raja Balqira, dan membuat seolah Raja Balqira meninggal karena jatuh sakit" kata Pangeran Arana kemudian. "Aku belum sempat membuktikan kebenarannya ketika Aku di paksa pulang oleh Raja Trandem, meninggalkan Rasyamsah. Semenjak itu hubunganku dengan Negeri Rasyamsah menjadi renggang. Sebenarnya, Aku sudah mencoba menghubungi Ratu Cilia beberapa kali. Tapi tidak ada jawaban."
"Hanya Dia yang masih perduli dengan rakyatnya" bisik Yuki lirih.
Yuki merasakan simpati pada Ratu Cilia. Dia harus menikahi Pria lain ketika suaminya baru saja di kuburkan untuk menyelamatkan Rakyatnya. Tapi ternyata, Pria yang di nikahinya justru membawa malapetaka bagi negerinya. Pria yang menggantikan suaminya berkelakuan sangat buruk dan menghancurkan apa yang telah di bangun oleh Raja Balqira, suaminya.
"Putri benar, Trandem memerintah dengan sangat otoriter. Dia di bantu oleh tangan kanannya, yaitu kemenakannya sendiri yang di besarkan oleh Trandem semenjak kecil. Yang Aku dengar, Dia adalah otak di balik kesuksesan Rasyamsah untuk menguasai negeri lain di sekitarnya. Aku belum pernah bertemu dengannya tapi Aku dengar Dia jauh lebih kejam dari Trandem"
Yuki melihat buku di pangkuannya yang masih terbuka lebar. Halaman yang terbuka memperlihatkan Negeri Rasyamsah dari kejauhan. Sebuah negeri yang sangat indah. Negeri yang sangat subur seperti negeri dongeng. Tapi sekarang malah hancur oleh keserakahan rajanya sendiri. Yuki nyaris tidak mempercayainya.
"Putri Yuki.."
Yuki menoleh dan mendapati Pangeran Arana memandanginya dengan tatapan yang di penuhi keraguan. Dia tampak bimbang akan sesuatu.
"Ya" jawab Yuki akhirnya untuk membantu Pangeran Arana meneruskan ucapannya. Pangeran Arana baru akan membuka mulut, ketika terdengar suara Pangeran Sera memanggil
"Sedang apa Kalian di sini ?"
Pangeran Sera berada di ambang pintu. Memperhatikan Yuki dan Pangeran Arana bergantian.
"Pangeran" panggil Yuki sembari tersenyum hangat.
"Apa yang Kalian lakukan di sini ?" Ulang Pangeran Sera lagi sambil berjalan mendekat. Yuki menunjukan buku di tangannya. "Pangeran Arana menceritakan padaku mengenai Negeri Rasyamsah. Ternyata jauh berbeda dengan apa yang di buku"
Pangeran Arana beringsut dari tempatnya sembari berdehem ringan. "Kakak, Putri Yuki, setelah ini Aku masih ada urusan. Jadi Aku permisi pergi lebih dahulu" ujar Pangeran Arana terburu-buru. Dia langsung melangkah pergi. Tidak berani menatap Pangeran Sera. Hanya menunduk saat melewati Pangeran Sera dan meninggalkan ruang kerja dengan cepat.
"Ada apa dengan Pangeran Arana ?" Tanya Yuki kebingungan saat menyadari sikap Pangeran Arana yang mendadak berubah secara tiba-tiba.
"Apa Dia mengatakan sesuatu yang aneh ?"
__ADS_1
"Soal apa ?" Tanya Yuki balik dengan pandangan tidak mengerti.
Pangeran Sera mendesah. Dia mengulurkan tangan mengusap pipi Yuki dengan lembut. "Lupakan saja" kata Pangeran Sera kemudian semakin membuat Yuki menjadi binggung.
Yuki duduk di dalam kamar sembari memandangi pemandangan dari jendela yang sengaja di biarkan terbuka. Beberapa pelayan sedang membersihkan ruangan. Yuki memutuskan untuk menunggu di dalam kamar daripada harus berjalan-jalan di luar.
Dari jendela tempatnya melihat, para Prajurit berbaris rapi dengan sikap terlatih. Hilir mudik keluar masuk istana membuat Yuki sadar, suasana semakin genting dan rawan terjadi pertempuran.
Berbagai perlengkapan perang di bawa masuk ke dalam istana. Kuda-kuda sudah di pilih. Semua persenjataan telah di siapkan dan di asah dengan baik.
Baru saja, beberapa orang prajurit membawa pakaian perang milik Pangeran Sera ke dalam kamar. Sekarang Pakaian itu terpajang sedemikian rupa di sudut ruangan. Terbuat dari baja yang kuat dan telah di poles sampai mengkilat.
Perasaan Yuki menjadi tidak enak setiap kali memandang pakaian perang milik Pangeran Sera.
Membayangkan Pangeran Sera berada di sebuah pertempuran membuat hati Yuki menjadi sesak. Ada semacam kekhawatiran dan perasaan tidak enak yang menyeruak.
"Baru saja ada laporan masuk. Orang-orang Argueda yang berada di Rasyamsah, khususnya di lingkungan istana kerajaan. Di tangkap dan semuanya di bunuh dengan kejam. Semua di lakukan ketika Raja Trandem mengetahui pergerakan Negeri Argueda. Sepertinya Raja Trandem telah mengetahui bahwa Kerajaan Argueda sudah mengendus keberadaan Ratu Warda dan Putri Magitha yang di tawan di Rasyamsah" kata Pelayan dengan wajah ketakutan.
Dari pelayan itu Yuki mengetahui bahwa Pangeran Sera masih melarang siapapun untuk menceritakan masalah negeri Rasyamsah kepada Yuki. Sikap Pangeran Sera membuat Yuki tambah yakin, ada sesuatu yang di sembunyikan Pangeran Sera. Mengingatkan Yuki juga akan keanehan sikap Pangeran Arana ketika Mereka terakhir kali bertemu.
Jika diingat lagi, Yuki tidak pernah melihat Pangeran Arana setelah itu. Situasi semakin genting. Yuki yakin saat itu Pangeran Arana ingin mengatakan sesuatu. Tapi keburu Pangeran Sera datang, sehingga Pangeran Arana mengurungkan niatnya.
Apa yang ingin di ceritakan Pangeran Arana ?.
Yuki mendesah. Dia berjalan hilir mudik di depan jendela. Masalah satu belum selesai, sudah timbul masalah lainnya. Dia berusaha memfokuskan dirinya, mengabaikan masalah yang tidak penting. Yaitu masalah Pangeran Riana dari dalam pikirannya.
Yuki tidak bisa membohongi dirinya. Bahkan sampai sekarangpun, adegan saat Pangeran Riana dan Putri itu berciuman masih terlihat jelas di pelupuk mata Yuki. Rasanya sungguh menyakitkan.
__ADS_1
Yuki berjalan dengan kesal ke tengah ruangan. Para pelayan masih ada. Mereka masih membersihkan ruangan. Yuki melihat sebuah gelas yang di letakan di atas nampan. Di atas sebuah meja kecil di samping sofa. Yuki mengambil gelas tersebut dan menemukan gelas itu berisi air teh. Dia sangat haus, jadi tanpa ragu Yuki langsung meminum habis semua isinya dalam sekejap.
Pikiran Yuki jauh lebih tenang. Seperti kepalanya telah di guyur oleh air dingin.
"Putri Yuki..Anda..." Seorang Pelayan berteriak kaget di belakang Putri Yuki, ketika Dia melihat Putri Yuki mengelap bibirnya. Sementara gelas yang Dia letakan di atas meja untuk Pangeran Sera berada di tangan Putri Yuki. Semua isinya telah habis di minum Putri Yuki.
Pelayan itu nyaris pingsan di buatnya.
Yuki mengerjap binggung saat melihat ekpresi tidak percaya yang di perlihatkan pelayan di depannya.
"Ada apa ?" Tanya Yuki tidak mengerti.
"Minuman yang Putri minum..." Kata Pelayan itu dengan raut wajah serba salah. Pelayan itu mengulurkan tangan sopan. Mengambil gelas teh di tangan Yuki dan memeriksa isinya yang telah kosong. Hanya tersisa beberapa tetes. Dia langsung menjadi panik.
"Kenapa...bukankah ini hanya air teh biasa ?" Tanya Yuki sesaat.
"Tidak Putri, tapi ini...ini adalah obat perangsang yang di buat khusus untuk Pangeran Sera"
Jawaban dari pelayan langsung membuat Yuki membantu. Otaknya seperti tidak berfungsi untuk beberapa saat.
Obat perangsang ?.
Pantas saja Yuki merasakan teh itu berbeda seperti biasanya.
Yuki langsung berlari ke kamar mandi dan berusaha memutahkan semua yang di minum. Tapi percuma. Obat itu sudah masuk ke dalam saluran pencernaannya.
"Untuk apa ada obat perangsang di dalam kamar, Aku kira itu adalah teh biasa" tuntut Yuki marah sembari mengelap mulutnya.
__ADS_1