Morning Dew

Morning Dew
59


__ADS_3

"Lalu apa hubungannya dengan semua ini ?" Tanya Pangeran Riana melirik ke arah gedung masih dengan sikap waspada.


"Para Bangsawan dan Putri yang dilaporkan menghilang telah di ketemukan dalam peti di ruang ganti pakaian dengan kondisi terpotong-potong" 


Yuki nyaris pingsan saat mendengarnya.


"Jika di lihat dari kondisi mayat yang ada, Mereka di potong-potong dalan kondisi masih hidup"


Yuki langsung membenamkan wajahnya ke dada Pangeran Riana. Dia berharap dapat menghilangkan suara kekacauan di sekitarnya. Terdengar suara gemeletuk yang cukup kencang, Yuki baru menyadari itu adalah suaranya sendiri. Dia menggigil ketakutan dan merasa tidak berdaya.


Pangeran Riana langsung mengangkat Yuki ke dadanya dan membopongnya. Yuki melingkarkan tangannya ke leher Pangeran Riana. Dia kembali menyembunyikan wajahnya. Berusaha menahan rasa mual yang seolah menghantamnya.


"Vold, Kau urus kekacauan ini dan Xasfir cari kemungkinan adanya korban lain di tempat lain. Selidiki masalah ini secepatnya dan laporkan segera padaku" perintah Pangeran Riana tegas. "Aku akan menyusul setelah membawa Yuki ke tempat aman"


Pangeran Riana mengabaikan Putri Humaira yang mencoba menyapanya. Dia bahkan berjalan tanpa memandang Pangeran Sera yang masih di tempatnya. Yuki melihat sorot kebencian Putri Humaira yang di tujukan pada dirinya. Seolah Putri Humaira akan menelannya bulat--bulat sampai tidak bersisa.


Pangeran Riana membawa Yuki ke ruang istirahatnya. Ruangan itu telah di manterai Pendeta Serfa. Siapapun yang berniat jahat akan terbakar di dalamnya.


"Aku akan pergi untuk melihat situasi. Kau istirahatlah di sini dan jangan kemana-mana" Kata Pangeran Riana sembari merapikan selimut menutupi Yuki yang masih menggigil ketakutan.


Yuki ingin mengatakan sesuatu, Tapi Pangeran Riana sudah keburu mengusap rambut Yuki perlahan. Seketika Yuki merasa sangat mengantuk. Dia bahkan tidak punya tenaga untuk membuka kelopak matanya.


"Jangan seperti ini" bisik Yuki dengan kekuatan yang Dia punya.


"Apa ?"


"Memaksaku tidur.." Yuki tidak bisa meneruskan perkataannya. Dia sudah tenggelam dalam rasa kantuk yang menyerangnya. 

__ADS_1


Pangeran Riana menunggu sampai Yuki benar-benar tertidur. Dia kemudian beringsut keluar kamar dan memerintahkan penjaga untuk mengawasi Yuki.


"Laporkan segera jika Dia bangun" kata Pangeran Riana sebelum meninggalkan kamar.


Ketika Pangeran Riana tiba di lokasi penemuan mayat. Bangsawan Asry sedang berjongkok untuk memeriksa salah satu peti yang berisi tumpukan potongan tubuh manusia. Sementara itu Bangsawan Xasfir memerintahkan para Prajurit untuk membawa peti jenasah datang untuk membawa jenasah ke balai pemeriksaan. 


"Ada apa ?" Tanya Pangeran Riana melihat wajah muram Bangsawan Asry.


"Pekerjaan berat, dalam satu peti ini tidak hanya berisi satu tubuh manusia. Siapapun pembunuhnya meletakan Mereka di sana seperti Mereka adalah seekor ayam yang akan di olah"


"Berapa tubuh yang Kau temukan ?"


"Aku menghitung dari jumlah kepala yang sementara di ketemukan. Sekitar delapan orang. Ini daftarnya" Bangsawan Asry memberikan catatan pemeriksaan kepada Pangeran Riana yang langsung di baca Pangeran. Dia membaca satu per satu nama yang dikenali dari kepala Mereka.


"Tidak ada tanda-tanda penyiksaan, tapi coba lihat ini" Bangsawan Asry menunjuk pergelangan tangan dari tiga tubuh yang berbeda. Dia menjajarkan sedemikian rupa tanpa merasa jijik. "Mereka diikat, kemungkinan besar Mereka melihat saat yang lain di cacah oleh sang pembunuh"


"Apa ada hubungannya dengan sihir hitam ?" 


Pangeran Riana diam setelah mendapat laporan dari Bangsawan Asry. Dia memperhatikan para korban itu dan berpikir. Firasatnya tidak enak. Sesuatu akan terjadi. 


Sementara itu, Yuki yang masih tertidur merasa terganggu dengan kegaduhan yang terjadi di dekatnya.


Suara dentuman benda berat yang jatuh dan denting pedang serta keadaan yang baru saja terjadi membuat kesadaran Yuki lebih cepat pulih. Dia bangun dan langsung menegakkan badannya untuk mendengar lebih seksama ketika pintu di dobrak dengan kencang.


Yuki terbelak kaget, tubuhnya serasa membeku ketika di depannya seorang laki-laki yang menutupi wajah dan rambutnya dengan kain menyeruak masuk. Di belakangnya, dua prajurit penjaga yang di tugaskan menjaga Yuki roboh tak berdaya. 


Yuki mengenali laki-laki di depannya. Mereka pernah bertemu sebelumnya saat terjadi penyerangan rombongan Pangeran Riana oleh Prajurit yang terhipnotis ketika Mereka berada di tengah hutan.

__ADS_1


"Siapa Kau ?" Tanya Yuki dengan suara bergetar karena ketakutan. 


Apakah Dia pimpinan pemberontak yang saat ini sedang di cari ?. Jika benar begitu kenapa Dia malah menolong Yuki dari kematian tempo hari.


Yuki bergerak mundur ketika Laki-laki itu bergerak maju tanpa keraguan. Yuki terpekik panik dan berusaha menjauh. Tapi tubuhnya sudah keburu di cekal dari belakang. Kain berisi obat yang menyengat di letakkan di hidungnya. Perlahan rontaannya Yuki mulai melemah. Dia kembali tidak sadarkan diri.


Yuki merasakan tubuhnya terus terguncang dengan keras. Terdengar derap langkah kuda di sekelilingnya. Angin berhembus cukup kencang. Tapi Dia tidak kedinginan. Seseorang memeluknya hangat. Aromanya menyenangkan. Yuki membenamkan wajahnya di dada orang itu. Terdengar detak jantungnya yang berirama.


Yuki ingin membuka mata, tapi tenaganya seolah menghilang. Namun pada akhirnya, Dia berhasil dengan susah payah. Mendongak untuk melihat orang di dekatnya. Mata birunya sangat indah, biru laut yang menyenangkan. Kesadaran Yuki kembali menghilang. Dia tidak mampu lagi melawan dan hanya membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan.


Hari sudah larut malam. Kuda-kuda perlu di istirahatkan. Mereka sudah empat hari melakukan perjalanan darat tanpa henti. Sedikit lagi Mereka akan tiba di kapal yang menunggu. Jika tidak ada perubahan rencana, Mereka akan meneruskan perjalanan dengan berlayar.


Tapi Dia harus waspada dengan Riana. Riana memiliki naga, Jika Dia menemukan Mereka pertempuran akan terjadi.


Para Prajurit duduk di depan tenda sambil memakan rusa hasil buruan. Seorang lainnya membakar ikan di atas bara. Kuda-kuda berbaris rapi di tempatnya juga asyik memakan daun dan rumput yang di sediakan. Dia telah berkeliling di sekitar dan memastikan semua aman. Kemudian Dia masuk ke dalan tenda di mana gadis itu sedang tertidur.


Yuki baru saja terbangun karena suara-suara di sekitarnya. Ketika Dia membuka mata dan menyadari Dia berada di dalam sebuah tenda. Dia terkejut dan langsung bangun. Dia memandang ke sekeliling. Ingatannya kembali pada kejadian di ruang peristirahatan Pangeran Riana.


Saat sedang kebingungan, pintu tenda terbuka. Laki-laki yang menutupi wajah dan rambutnya dengan kain masuk ke dalam.


Tubuh Yuki seketika membeku. Dia terpaku menatap laki-laki di depannya.


Laki-laki itu menunggu sejenak untuk melihat reaksi Yuki. Tapi karena gadis itu hanya diam akhirnya Dia memutuskan untuk memulai pembicaraan.


"Kau sudah bangun ?" Tanyanya lembut.


Tapi suaranya mampu menghantam Yuki. Yuki menatap orang di depannya tidak percaya dengan apa yang di dengar. Dia mengenali suara itu. Suara yang tidak asing di telinganya.

__ADS_1


Suara lembut milik Pangeran Sera.


 


__ADS_2