Morning Dew

Morning Dew
15


__ADS_3

Semakin mendekati bulan biru, Sasaran pembunuhan semakin tidak menentu, semua kalangan dibunuh tanpa ampun dan tidak memandang umur. Jika dulu penyerangan hanya di fokuskan pada para bangsawan dan putri disekolah, sekarang sasaran mencapai pedagang, petani bahkan pengemis di jalan. Setiap hari kerajaan menerima laporan orang hilang atau penemuan mayat baru. Orang gila ini seolah tidak pernah puas membunuh, Dia terus dan terus membunuh. Baginya nyawa manusia tidak berarti sama sekali.


Aku harus segera bertindak untuk mencegah hal ini semakin merajalela. Tapi bagaimana caranya ?. Sedangkan Aku sendiri berada dalam tawanan di istana Pangeran Riana. Aku terus memikirkan hal ini berkali-kali tapi tetap saja belum menemukan jalannya.


"Putri, Ada pesan untuk Putri" Ujar Rena sembari berbisik padaku, Aku dan Dia berada di dalam kamar setelah selesai berpakaian. Para pelayan baru saja keluar. Rena mengingatku bahwa harus berhati-hati berbicara di dalam istana, karena tembok pun bisa mendengar.


"Pesan ?" tanyaku tidak mengerti.


"Maafkan hamba, tapi Dia memaksa hamba untuk menyampaikan pada Putri. Karena Dia terus memaksa, Saya akhirnya berjanji membantunya sekali ini saja." bisik Rena gusar. "Saya tidak bisa terus menerus membantunya, jika sampai ketahuan oleh kerajaan Saya bisa dihukum gantung" lanjut Rena. Aku menerima dengan cepat pesan yang diberikan Rena. Secarik kertas yang digulung sedemikian rupa.


"Terimakasih, Aku pastikan tidak akan ada masalah untukmu ke depannya karena ini" Janjiku padanya. Rena nampak lega melihat kesunguhanku. Dia berbalik dan segera pergi dari tempatnya.


Aku memastikan sudah tidak ada orang di kamar. Aku tidak tahu siapa pengirimnya, yang jelas siapapun itu pasti pesan ini sangat penting karena Rena mau mengambil resiko untuk menyampaikannya. Sehelai kelopak mawar jatuh ke pangkuan ketika Aku membukanya. Disusul helaian lain yang sengaja dimasukkan ke dalam kertas. Aku langsung mengenali tulisan tangannya. Ini adalah tulisan Bangsawan Dalto.


Aku berhasil menyelinap masuk ke dalam kereta kuda yang membawa perbekalan keluar istana. Jantungku berdebar kencang saat kereta melewati penjagaan. Aku menunduk sedalam mungkin agar mereka tidak menemukanku. Sang supir mengobrol sebentar dengan para penjaga dengan akrabnya sebelum akhirnya Dia menjalankan kereta kudanya pergi.


Aku bernafas lega ketika Kami keluar istana dengan selamat. Entah apa yang terjadi, begitu membaca surat dari Bangsawan Dalto Aku langsung nekat menyelinap keluar kamar Pangeran. Keberanianku mendadak muncul, menguar berkali lipat daripada sebelumnya. Aku sudah tidak peduli pada resiko yang harus Aku hadapi jika sampai tertangkap dalam pelarianku, Yang Aku pikirkan hanya Aku harus segera menemukan Bangsawan Dalto sebelum terlambat. Aku melepaskan semua perhiasanku, mengikat gaunku sedemikian rupa sehingga Aku dapat bergerak bebas. Aku mengambil selimut dan juga kain kelambu dari yg tempat tidur, mengikatnya membentuk tali panjang. Dari balkon kamar, setelah memastikan ikatan pada tiang cukup kencang, Aku melemparkannya ke bawah,lalu menggunakannya untuk meloncat turun ke bawah. Aku sangat terkejut mendapati diriku bisa berbuat senekat ini. bersembunyi di mana selama ini keberanianku yang sekarang ini muncul dari diriku ?. Para penjaga yang menjaga kamar pangeran tidak menyadari bahwa Aku telah berhasil keluar. Aku mengedap-edap disepanjang lorong. Agak lebih sulit karena istana ini cukup luas dengan banyak ruangan. Aku hampir tersesat karenanya. Setelah berhasil mencuri pakaian seorang pelayan yang sedang dijemur, Aku langsung menganti pakaianku, mengubah gaya rambut dan menghapus riasan wajahku.


Aku menemukan kereta kuda pengangkut susu terpakir begjtu saja. Tanpa pikir panjang Aku langsung melompat masuk ke dalam. bersembunyi diantara drum yang ada didalamnya.


Karena itulah kenapa Aku berakhir di tumpukan guci susu kosong di dalam kereta yang bergerak menjauhi istana.


Sambil menunggu kereta berjalan sampai ke kota, Aku mulai berpikir. Aku tidak mengerti apa yang Bangsawan Dalto pikirkan. Aku membaca kembali surat yang di berikan Rena tadi pagi. Kenyitan wajahku terlihat cukup jelas.


Dalam surat itu Dia mengatakan menemukan petunjuk mengenai pasukan pemberontak dan ilmu hitam yang akhir-akhir ini merajalela. Dia akan menyelidiki petunjuk itu, berharap dapat membersihkan nama baik kedua orang tuanya. Dia juga meminta maaf karena telah mengacuhkanku selama ini, Dia hanya ingin fokus menemukan petunjuk itu. Dia sangat yakin kedua orang tuanya tidak bersalah, mereka pasti mempunyai alasan kenapa harus membunuh semua orang dulu.


jika Aku tidak selamat akan hal ini, Sampaikan kepada Kerajaan mengenai kecurigaanku. Tapi Aku harap sampai saat itu tiba, Kau tidak mengatakan pada siapapun dulu. Aku ingin memastikan dengan kepalaku sendiri demi orang tuaku.


Begitulah baris terakhir dalam suratnya. Aku tidak menyangka Dia akan senekat ini. Siapapun dalang pembunuhan itu bukanlah orang yang waras. Dia berencana untuk menantang bahaya sendirian. Aku tidak akan membiarkannya.


Aku berhasil memasuki area sekolah tanpa ada yang mencurigai kehadiranku. Berjalan tenang menghindari keramaian. Menyapa satu dua orang yang mengenaliku, tapi tidak mencurigai kehadiranku di sekolah sebagai hasil melarikan diri dari istana pangeran. Aku berjalan melewati taman sekolah, berbelok dengan cepat menuruni bukti dekat area pacuan kuda. Menuju hutan di belakang sekolah, Aku yakin Dia ada disana sekarang. Aku harus segera menemuinya.


Aku menyusuri sungai kecil, melangkahkan kakiku dengan mantap. Ketika Aku telah sampai di pondok mawar Bangsawan Dalto, Aku menemukannya berdiri melamun di atas batu besar yang berada di pinggir sungai. Ada pergulatan batin yang besar terlihat dari caranya berpikir. wajahnya tampak serius dengan kedua Alis yang terpaut satu sama lain.


"Bangsawan Dalto" Panggilku. Dia berpaling dan terbengong saat melihatku. Aku bergegas berlari ke arahnya. "Aku tahu Aku akan menemukanmu disini"


"Yuki.." katanya terkejut. "Bagaimana Kau bisa ada disini ?" Dia menengok dibelakangku, mencari orang lain di sekitarku.


"Lebih baik Kita tidak usah membahasnya" Kataku canggung.


"Kau pergi dengan siapa ?" Katanya lagi lebih tegas. Aku memberengut melihat sikapnya yang seolah tidak senang saat melihatku.


"Aku kabur dari istana" jawabku Akhirnya.


"Kabur !!" Bangsawan Dalto menatapku tak yakin. "Kau..."


"Ya...Aku meloncat dari cendela menggunakan kain yang kuikat di tiang. Sudahlah ceritanya akan panjang kalau kita membahas hal ini" kataku berusaha mengakhiri topik pembicaraan.


"Apa ada orang yang tahu pelarianmu ini ?"


Aku mengeleng penuh keyakinan.


"Bagaimana Kau bisa senekat itu, Apa Kau tidak tahu kondisi sekarang sedang tidak aman. Apa Kau sama sekali tidak berpikir hal itu sebelum bertindak ?"


"Kenapa Kau menyalahkanku, Aku kemari karena mengkhawatirkan dirimu. Kau sendiri akan melaksanakan misi bunuh diri seperti itu tapi bisa-bisanya Kau menceramahiku soal tindakanku. Apa Kau pikir tindakanmu tidak lebih nekat dariku ?."


"Aku hanya mengecek kebenaran bukan bertindak nekat sepertimu" bantah Bangsawan Dalto lagi.

__ADS_1


"Aku tidak susah payah datang kemari untuk berdebat denganmu"


Bangsawan Dalto berjalan acuh. "Sudah waktunya, sebaiknya Kau pulang sekarang"


"Apa ?" Kataku tak mengerti.


Bangsawan Dalto memasukkan peralatan yang telah disiapkan di atas bangku kayu yang berada di teras pondok.


"Malam ini bulan biru akan tepat bersinar bulat sempurna, Aku harus segera pergi sekarang sebelum terlambat. Kau lebih baik juga segera pergi, sebentar lagi sore. Aku tidak bisa mengantarkanmu pulang"


"Kau tidak perlu mengantarkanku pulang"


"Bagus kalau Kau mengerti. Sekarang pulanglah"


"Aku akan ikut denganmu"


"Apa.." Bangsawan Dalto terkejut. "Tidak...Kau tidak bisa ikut"


"Kenapa ?"


"kenapa ?, disana sangat berbahaya. Kau bisa saja tidak kembali hidup-hidup"


"Itu semakin membulatkan tekatku untuk ikut. Sekarang Kau pilih, mengajakku atau Aku akan pulang dan menceritakan kepada Pangeran bahwa Kau mengetahui sesuatu soal pemberontakan ini"


"Kau" Bangsawan Dalto tampak tidak suka. Aku tidak mungkin membiarkannya pergi begitu saja menempuh bahaya sendirian. Aku juga punya kewajiban untuk menuntaskan misteri ini. Tidak mungkin Aku membiarkan lagi orang-orang yang kucintai mati karena hal ini. Aku harus menghentikan kekacauan ini secepatnya.


"Seharusnya Aku tidak mengatakan padamu" Ujar Bangsawan Dalto setelah berpikir cukup lama dengan wajah menyerah. Aku tersenyum penuh kemenangan. Menghampiri Dia dan membantunya membereskan perlengkapannya.


Aku tidak tahu berapa lama kami berjalan memasuki hutan di sekolah. Hutan ini lebih luas daripada yang ku duga. Diatas sana matahari perlahan meredup.Warna orange menampakan diri di sela bayangan pohon yang menjulang tinggi diatas kepala. Beberapa kali Aku terpeleset saat harus melewati bukit atau turunan. Seringnya kulitku tergores oleh duri semak ketika kami harus menyibakkan rimbunan untuk melewati jalan setapak.


"Bagaimana bisa Kau menemukan tempat itu" Tanyaku sambil berjalan di belakangnya. Bangsawan Dalto berjalan tenang, Dia tampak sudah sangat familiar dengan jalan yang harus di tempuh.


"Apakah masih jauh ?" Tanyaku kepayahan.


"Masih tiga jam perjalanan lagi. Belum terlambat untukmu jika ingin kembali. Aku sudah memberikan tanda-tanda disepanjang jalan, berjaga jaga jika Kau ingin kembali pulang"


"Jika ingin kembali, Kita harus kembali bersama"


"Sudah terlambat untukku" Bangsawan Dalto terdiam lagi, Dia mengayuhkan parangnya ke depan, menebas semak didepannya.


Akhirnya warna Orange mulai digantikan gelap malam, Bulan biru samar terlihat di langit. Tidak ada bintang ataupun cahaya lain diatas sana. Langit terlihat mencekam malam ini. "Kita istirahat dulu di sini" Ujar Bangsawan Dalto. Dia meletakkan perbekalan di dekat pohon besar.


"Dimana kuilnya ?" kataku sambil berjalan untuk duduk disamping perbekalan. Keringat mengalir di keningku. Kedua lutut dan tanganku penuh goresan akibat perjalanan kali ini.


"Di sana, Apa Kau bisa melihatnya ?"


Aku menatap kearah yang ditunjuk Bangsawan Dalto, Terlihat Atap kuil yang sudah sangat tua. Penuh lumut dan berwarna kusam. Persis Atap yang kulihat di mimpiku ketika Melihat Sei. Aku belum melihat Kuil itu secara keseluruhan karena masih tertutup pohon dibelakang kami. Mungkin jaraknya masih ada 100 meter dari Kami.


"Ya, Aku melihatnya"


"Kau tunggulah disini dulu, Aku akan memantau kondisi. Kita tidak bisa kesana begitu saja secara gegabah" Ujar Bangsawan Dalto mengingatkan. Kali ini Aku tidak membantah. Dia yang lebih paham situasi kali ini, jika Aku bertindak diluar perhitungan selain bisa membahayakan nyawaku tentu juga akan membahayakan nyawanya.


Bangsawan Dalto berjalan pelan, memasukki rimbunan semak, sejurus kemudian sosoknya sudah menghilang.


Aku mengekeret sendirian, bersandar di batang pohon. Memperhatikan sekeliling dengan halusinasi horor yang seharusnya tidak kupikirkan di situasi seperti ini. Pohon pohon tampak seperti bayangan monster dengan cakar yang tajam. Aku menahan mati-matian perasaan takut yang menderaku. Rasanya otakku selalu memerintahkan untuk lari sejauh mungkin dari sini. Aura yang tidak menyenangkan terasa dari arah kuil. Rasanya seperti menantikan detik-detik ketika hantu yang menakutkan muncul dari sana.


Aku sudah menunggu hampir satu jam, Tapi Bangsawan Dalto belum juga muncul. Malam semakin larut. Mencarinya bukan solusi, bagaimana jika Dia kembali ketika Aku pergi, selain itu jika Aku masih nekat Aku malah akan tersesat atau tertangkap pasukan pemberontak. Aku tidak boleh jatuh ditangan mereka, Serfa mengatakan jika sampai itu terjadi maka Aku membangkitkan iblis yang akan menyebabkan kehancuran seluruh mahkluk. Aku percaya Dia pasti akan segera datang, Dia tidak mungkin meninggalkanku seperti ini.

__ADS_1


Pangeran Riana pasti sudah menyadari bahwa Aku menghilang. Aku tidak bisa membayangkan kemarahannya diseluruh istana. Pasti semua orang akan terkena imbasnya. Aku merasa bersalah terhadap para pelayan dan prajurit istana. Mereka terkena masalah karenaku. Semoga Pangeran tidak menghukum mereka. Tenggorokanku terasa kering. Aku mengambil tas milik Bangsawan Dalto, rasanya Aku menyimpan Botol air minum disini. Aku mengaduk-aduk isinya berbekal cahaya dari sela pohon. Tas itu penuh sekali. Akhirnya, Aku terpaksa mengeluarkan isinya satu persatu untuk mencari botol air. Tanganku menyentuh kain hitam yang digulung rapi didalam tas.


Saat Aku menariknya, sebuah cincin jatuh dari dalam bungkusan itu.


Aku memungutnya. Jantungku berdebar kencang ketika mengenali cincin tersebut. Itu adalah cincin milik Ayah. Aku tidak mungkin salah, Ayah selalu memakainya bahkan didalam mimpiku ketika Ayah terbunuh. Kenapa cincin ini ada di dalam tas Bangsawan Dalto ?. Aku tidak ingat Bangsawan Dalto menghadiri pemakaman Ayah. Aku memang tidak begitu memperhatikan sebelumnya karena kesedihanku waktu itu, Aku hanya melihat barang-barang yang dipakai Ayah terakhir kali dikumpulkan Rena didepanku. Tapi Aku ingat tidak menemukan cincin ini didalam barang-barang itu. Tidak ada satu orang pun yang menyentuh jenazah Ayah sampai kerajaan memeriksa sendiri identitasnya, Apalagi Bangsawan Dalto.


tidak mungkin kan....


Aku merasa tubuhku bergetar menyadari kemungkinan terburuk yang ada didepan mataku. Rasanya satu persatu kebenaran terpapar jelas didepanku. Aku mengambil kain hitam dan membentangkannya dengan kedua tanganku. Terkesiap saat melihat bentuknya, itu adalah jubah yang dikenakan pemberontak istana.


Krakk


terdengar suara langkah kaki di belakangku. Aku berbalik tepat ketika hantaman mendarat di punggungku. Tubuhku langsung jatuh ke tanah dengan kepala membentur akar pohon yang mencuat.


Bangsawan Dalto berdiri di belakangku. Memandangku dengan tatapan yang sukar ditebak. Aku merasakan tidak ada lagi kehangatan dan persahabatan di dalam dirinya yang selama ini kukenal, semua diganti dengan wajah dingin dan sadis. Aura hitam terpancar didalam tubuhnya.


Kepalaku terasa pusing, mataku berkunang-kunang. Pandanganku mulai mengabur.


semua terasa gelap.


Bau busuk terasa menyengat di hidungku. Aku telah memutahkan semua isi perutku ketika sebelumnya telah menyadari dari mana bau itu berasal. Tumpukan mayat yang dibiarkan tergeletak di dalam gerobak. Mereka semua adalah para korban yang menghilang. Mereka mati dengan cara yang mengenaskan. Aku tidak bisa membayangkan siksaan yang mereka hadapi sebelum kematiannya.


Aku berada di sebuah penjara yang gelap dan berbau busuk. Lantainya penuh lumut dan bercak darah yang mengering. Ada juga bekas kotoran manusia yang teronggok di berbagai sudut. Saat sadar Aku mendapati diriku berada di tempat ini. Terkurung dalam sel yang lembab seorang diri. Dari tempatku, Aku bisa melihat jelas ruangan penyiksaan yang beberapa kali muncul di mimpiku. Aku sama sekali tidak membayangkan jika akan melihatnya langsung dengan kedua mataku. Beberapa tawanan duduk diam dalam sel mereka. Menunggu saat-saat mereka akan menghadapi kematiannya.


Sudah berapa lama Aku pingsan ? Sudah berapa lama Aku disini. Aku melihat ke langit yang terlihat dari cendela kecil berjeruji besi diatas kepalaku. Bulan hampir mendekati puncaknya. Dua orang prajurit yang terhipnotis datang, membuka pintu sel ku. Aku ditarik keluar dengan kedua tangan terikat di belakang. Aku dibawa menaiki tangga, berusaha mengindahkan ketika dari lorong tempat kami berjalan Aku melihat beberapa orang terpasung dengan badan sudah tidak utuh lagi. Mereka semua baru saja terbunuh. Darah masih menetes dari tubuh mereka.


Aku dibawa ke sebuah ruangan. Mereka meninggalkanku dengan tangan masih terikat ke belakang.


"Kau sudah sadar rupanya" Bangsawan Dalto keluar dari sebuah pintu yang ada dalam ruangan itu. Dia mengenakan pakaian berwarna gelap. Aku nyaris tidak mengenalinya karena penampilannya yang sekarang.


"Kenapa Kau melakukan semua ini" bisikku marah. Aku ingat Sei saat terakhirnya bertanya dengan lantang pada orang yang membunuhnya. Rupanya yang dimaksudkan oleh Sei adalah Bangsawan Dalto. Kenapa Ayah menerima tamu di larut malam bahkan mempersiapkan jamuan makan untuk tamunya di malam sebelum Dia terbunuh, Karena yang mengunjunginya adalah teman baik Putrinya. Bahkan sebenarnya Bangsawan Doldores pun sudah memberiku petunjuk, hanya Aku yang terlalu naif. Menolak pemikiran bahwa Bangsawan Dalto lah pengkhianat itu. "Kenapa Kau bisa menjadi sekejam ini" isakku menahan emosi yang membucah.


"Aku tanpa sengaja menemukan sebuah catatan rahasia milik kakekku ketika membersihkan barang-barang miliknya di ruang kerjanya. Itu adalah Malam sebelum Aku membawakanmu sepatu yang tertinggal di pesta ketika Aku melihatmu bersama Riana" Bangsawan Dalto berbicara dengan angkuh, tidak ada lagi sifat rendah diri dalam dirinya. Dia bahkan berani memanggil Pangeran Riana dengan nama saja. Itu bukan seperti dirinya. "Dari catatan itu Aku menemukan tempat ini dan memperoleh kenyataan yang sebenarnya. Kedua orang tuaku membunuh semua orang di kuil untuk menyelamatkan negeri ini dari kehancuran. Semua orang yang berada di sana ternyata penganut aliran sesat yang memuja Iblis. Tapi pada akhirnya mereka yang berusaha menyelamatkan negeri ini malah digantung atas pembunuhan yang mereka lakukan. semenjak itu Keluargaku yang dulu bahagia menjadi seolah hidup dalam neraka. Kau lihat sendiri bagaimana mereka memperlakukanku, menganggapku iblis atas tindakan orang tua ku...padahal merekalah yang selama ini hidup dengan memuja setan. Para munafik yang tidak pantas hidup didunia ini....berbekal buku yang kutemukan itu Aku berhasil membangkitkan kekuatan gelap untuk membalas dendamku. Kegelapan yang selama ini mereka puja akan menghancurkan mereka sendiri."


"Lalu kenapa Kau membunuh Ayahku, dan para pelayan di istanaku. Apa salah mereka padamu ?"


"Aku menyesal atas kematian Perdana Menteri Olwrendho. Aku sudah menawarkan jalan yang baik untuknya agar mau bekerja sama memberikan sedikit darahmu. Tapi Dia menolak. Aku tidak mungkin membiarkan Dia melaporkanku ke istana dan menghalangi jalanku untuk menuntut keadilan orang tuaku. Percayalah Yuki Aku tidak punya pilihan waktu itu"


"Kau kejam" kataku marah.


"Para pelayanmu tidak mau bekerja sama, mereka mengenaliku, Jadi mereka harus mati." Bangsawan Dalto terus bercerita dengan tenang. Dia tidak peduli akan kemarahanku. Seolah Apa yang dibicarakan ini adalah hal yang wajar terjadi. "Para bangsawan dan putri itu adalah keturunan iblis yang pantas untuk dibunuh. Sepanjang hari mereka meneriakkan hinaan padaku, Tapi mereka tidak menyadari bahwa mereka lebih hina dariku. Sampah-sampah yang tidak perlu ada didunia ini" Bangsawan Dalto memandang keluar cendela tempat dimana bertumpuk mayat bergelimpangan di sana. "Dan yang lainnya, Kerajaan mulai mencurigaiku ketika mereka menyadari para bangsawan yang terbunuh adalah yang sering berhubungan denganku. Riana bahkan memperketat penjagaan dan memutuskan aksesku untuk bertemu denganmu. Aku sudah mencoba bersandiwara dengan menyelamatkanmu di pemakaman pelacur Norah. Tapi kecurigaan Riana tidak teralihkan. Jika terus begini Aku akan susah bergerak, sehingga Aku membunuh korban lain tanpa pandang bulu untuk mengaburkan penyelidikan. Sial bagi Mereka karena bertemu denganku di saat yang kurang tepat"


Bangsawan Dalto berbalik kembali, berjalan tenang ke depanku. Menunduk untuk menatap mataku secara langsung. "Taukah Kau ketika Aku berhasil membangkitkan kekuatan gelap itu Dia masih sangat lemah. Seperti seorang bayi yang tidak bisa diandalkan. Aku harus membunuh seribu perawan untuk memulihkan sedikit kekuatannya agar bisa bertahan, Tapi nasib beruntung kembali menimpaku ketika Dia tanpa sengaja mencium aroma darahmu yang menempel di duri mawar ketika Kau tertusuk di gubuk tempo hari. Saat itulah Aku tau Kau adalah seorang Ciel. Dari Aroma darahmu saja Dia menjadi kembali kuat seperti sedia kala"


Jadi Akulah yang memang menyebabkan kematian mereka semua. Karena Darahku, Apakah dewa pembawa kesialan selalu bersamaku ketika Aku masuk ke dunia ini ?.


"Yuki...Aku tau Aku telah bersalah telah membunuh keluargamu. Tapi jika Kau mau memaafkanku dan bekerja sama denganku, Kita akan bisa menguasai dunia ini. Kau dan Aku sebagai Raja dan Ratu yang menguasai seluruh semesta. Tidak ada yang akan berani melawan kita. Kau juga dapat dengan mudah membalas dendam kepada kerajaan terutama Riana yang telah menghancurkan hidupmu"


Aku mengelengkan kepala menolak. "Aku tidak akan mengorbankan orang lain hanya demi kebencian di hati ku." Kataku tegas. "Pangeran Riana memang telah menghancurkan hidupku, Tapi itu bukan alasan untukku bekerja sama dengan iblis dan membunuhi orang yang tak bersalah hanya untuk memuaskan nafsuku"


Aku menatap Bangsawan Dalto, mencoba mencari sisa-sisa dirinya yang ku kenal. Tapi Aku sama sekali tidak menemukannya. Pemuda yang selalu tersenyum ramah penuh kebaikan, yang tetap tegar menghadapi hinaan dan lembut ketika memperlakukan bunga-bunganya sudah lenyap berganti sosok penuh kebencian di depanku.


"Apa Kau tidak menginginkan kekuasaan mutlak dimana semua akan tunduk patuh padamu"


"Kedua orang tua mu mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, Tapi Kau malah menghancurkannya seperti ini. Apa Kau tidak malu terhadap mereka ?"


"Tujuanku jelas Yuki. Aku akan menguasai dunia dan membersihkan dunia ini dari para munafik seperti norah dan kawan-kawannya"

__ADS_1


Bangsawan Dalto memakai jubahnya. "Aku memberimu kesempatan terakhir. Putuskan sekarang juga, Kau akan ikut bergabung denganku atau tidak ?"


"Tidak !!" Kataku lantang tanpa keraguan.


__ADS_2