
Yuki kembali mengalami mimpi buruk. Namun mimpi ini lain dari mimpi yang pernah di alami sebelumnya. Mimpi ini seperti di luar nalar. Yuki melihat kehancuran besar dari dunia.
Di dalam mimpi Yuki berdiri di tengah hutan yang baru terbakar. Dia dapat mencium bau hangus yang terbawa semilir angin. Sejauh mata memandang, Dia tidak dapat melihat apapun yang tersisa. Sekeliling terasa panas terbakar.
Pendeta Serfa menjelaskan dengan wajah tegang. Dia memperingatkan Yuki dengan serius untuk tidak mempercayai orang lain selain Pangeran Riana.
Mimpi yang Yuki alami adalah gambaran yang akan terjadi di masa datang, jika Yuki sampai jatuh ke tangan yang salah.
Setelah bertemu dengan Raja Bardana dan makan siang bersama. Yuki memutuskan akan segera pulang ke istana Pangeran sebelum matahari terbenam ,dan beristirahat di kamar sembari menunggu kepulangan Pangeran Riana.
Akhir-akhir ini Pangeran Riana sangat sibuk sehingga Mereka jarang bertemu. Pangeran Riana sering pulang larut malam ketika Yuki sudah tidur, dan pergi sebelum fajar ketika Yuki belum terbangun.
Yuki naik ke atas kereta kuda yang telah menunggu. Barisan kuda berjalan cepat menggerakan roda kereta. Para Pengawal mengampit dengan sikap waspada di kanan kiri barisan.
Yuki duduk di pojok kereta, agak tersembunyi dari pandangan. Namun mampu melihat pemandangan di luar cendela dengan leluasa. Pangeran Riana sudah memperingatkannya untuk tidak duduk di depan cendela, yang terekpose dengan dunia luar dengan mudah.
Pangeran Riana tidak mau mengambil resiko terjadi penyerangan kembali. Panah bisa dengan mudah datang dari arah mana saja di luar kereta.
Menurut Pangeran Riana, kondisi di luar istana jauh lebih berbahaya daripada di dalam istana. Apalagi untuk Yuki sekarang.
Yuki memutuskan untuk menghabiskan perjalanannya dengan membaca buku pelajarannya. Dia sudah ketinggalan cukup jauh. Jika Yuki tidak mengejar, di ujian nanti nilai-nilainya pasti akan jatuh.
Iringan kereta sampai di tengah kota, tepat saat jam sibuk. Suasana ramai. Banyak orang berlalu-lalang. Jalanan ibukota padat oleh aktifitas penduduknya.
Para prajurit dengan menunggangi kuda, berusaha mengurai kerumunan agar Kereta Kuda dapat lewat.
Terdengar suara nyaring yang memekakan telinga. Disusul suara hantaman keras, berakhir suara benda-benda terjatuh dengan kencang.
__ADS_1
Yuki yang tenggelam dengan buku bacaannya terkejut, Dia refleks membungkuk untuk mengintip keluar melalui cendela. Dua buah kereta barang yang bermuatan cukup banyak saling bertabrakan dan terguling, sehingga menutupi jalan.
Isinya berhamburan di jalan, menarik perhatian pendudik sekitar. Dua orang supir kereta turun dari kendaraanya dan saling berdebat. Menarik perhatian sekitar.
Para penduduk sekitar, berdiri untuk menonton keributan yang terjadi. Ada juga yang diam-diam menjarah barang yang terjatuh di jalan.
Para prajurit semakin sibuk untuk menghalau kerumuman dan meredakan pertikaian.
Adu mulut antara dua orang supir kereta semakin memanas. Bahkan supir kereta tempat Yuki berada, harus turun untuk ikut membantu melerai keributan yang terjadi.
Yuki memansang dari dalam kereta dengan cemas. Dia sampai tidak menyadari ada orang yang mendekatinya dengan cepat. Pintu kereta di buka paksa. Ketika Yuki menoleh, Tangannya sudah di tarik keluar. Dalam sekejap Yuki sudah menginjakan kaki ketanah.
Yuki tidak mengerti apa yang terjadi. Tanpa perlawanan, Dia di bawa menjauhi kereta kuda kerajaan. Berlari di antara kerumunan, tangan yang menggegam pergelangan tangannya begitu hangat.
"Berhenti.." teriak Yuki dengan nafas tersenggal karena lari. Dia sudah tidak kuat lagi. "Berhenti..Aku sudah tidak kuat lagi" ujar Yuki memohon.
Orang itu menggengam Yuki erat untuk terus mengikutinya. Menerjang kerumunan, berbelok menuju gang sempit. Yuki nyaris terjatuh ketika Mereka menuruni gang kayu. Suara langkah kaki Mereka bergema di udara.
"Aku sudah tidak kuat lagi" Kata Yuki ketika pada akhirnya Dia berhasil meraih tiang kayu di dekatnya. Menghentikan langkah orang di depannya. Nafas Yuki memburu, keringat mengalir di pelipisnya.
Yuki perlahan mampu menenangkan diri. Dia menghirup nafas dalam, mengambil udara banyak-banyak. Paru-parunya terasa mering kerontang, Dia membutuhkan suplay udara.
Semenjak tinggal di istana Pangeran Riana, Yuki menjadi jarang berolahraga. Alhasil, baru berlari beberapa meter saja membuatnya kepayahan. Yuki mulai mempertimbangkan untuk mengatur waktunya agar bisa kembali berolahraga di kemudian hari.
Orang di depannya kembali menarik Yuki untuk berlari. Tapi Yuki melepaskan tangan itu. Dia menggelengkan kepala menolak. "Pangeran, biarkan Aku bernafas sebentar" pinta Yuki memohon.
Pangeran Sera membuka kain yang menutupi wajahnya. Rambutnya diikat kebelakang. Dia sangat tampan dengan penampilannya yang sekarang.
__ADS_1
Yuki berjongkok di tanah kepayahan. Yuki tidak habis pikir, bagaimana Pangeran Sera bisa muncul secara tiba-tiba dan nekat membawanya pergi dari pengamanan Prajurit kerajaan Garduete. Pangeran Sera mengenakan pakaian kain biasa, kain yang digunakan untuk menutupi wajahnya tergantung di lehernya. Yuki langsung mengenali sosok Pangeran Sera, begitu Dia membuka pintu kereta. Karenanya, Yuki urung untuk berteriak memanggil bantuan.
"Tahan sedikit lagi, Kita harus segera pergi dari sini sebelum para prajurit menyadari Kamu menghilang" ujar Pangeran Sera sembari menarik lengan Yuki. Memintanya untuk berdiri dan melanjutkan pelarian Mereka.
Yuki menatap Pangeran Sera keheranan. Dia tidak tampak kelelahan seperti Yuki. Nafasnya teratur.
Pangeran Sera menyentakan tangan Yuki lagi karena Yuki masih belum mau beranjak dari posisinya. Akhirnya, Yuki berdiri dan memutuskan untuk mengikuti kemauan Pangeran Sera.
Pangeran Sera mengandeng tangan Yuki. Mereka tidak lagi berlari seperti sebelumnya. Keduanya berjalan cepat menyusuri gang kecil dan beberapa lorong di antara bangunan ibukota.
Jalan yang Mereka lewati cukup sepi. Nyaris tidak ada orang yang lewat. Yuki merasa sedikit cemas, jika tiba-tiba pemberontak istana yang menemukan Mereka. Bukannya di tangkap kembali oleh Prajurit kerajaan menyenangkan, hanya resikonya lebih besar jika harus berhadapan dengan pemberontak istana yang menguasai ilmu sihir.
Saat akhirnya Mereka tiba di ujung gang, Pangeran Sera berbelok ke kiri. Menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu dari bagian belakang sebuah bangunan kecil yang tertutup. Pintu tua dari kayu mahoni berderit ketika Pangeran Sera membukanya. Mereka masuk ke dalam sebuah lorong bangunan, dengan dinding kusam yang di penuhi poster.
Lorong itu berakhir di pintu lainnya, Mereka keluar dan terlihat di seberang Mereka sebuah rumah, yang berada di tengah halaman yang cukup luas. Di kelilingi oleh pagar terbuat dari batu setinggi leher manusia. Pangeran Sera menghampiri gerbang masuk rumah itu. Dia mengetuk pintunya.
Suara besi dari tengah pintu bergeser. Sepasang mata mengintip dari dalam.
"Ini di mana ?" Bisik Yuki kebingungan. Belum sempat Pangeran Sera menjawab, pintu terbuka. Seorang Pria separuh baya muncul dan mempersilahkan keduanya masuk.
"Ayo Yuki" ajak Pangeran Sera sembari mendorong punggung Yuki dengan lembut. Pangeran Sera menunggu Yuki masuk terlebih dahulu, baru Dia menyusul ke dalam.
Mereka memasuki pekarangan rumah. Terdengar suara keramaian dari kejauhan.
Yuki kembali mencondongkan tubuhnya kepada Pangeran Sera. "Kita di mana ?" Tanya Yuki lagi penasaran, sembari mengikuti langkah kaki Pangeran Sera yang berjalan tenang di sampingnya.
__ADS_1