
Yuki mundur selangkah, Tampak kebingungan. Dia tidak siap dengan pertemuan ini.
Pangeran Sera berbalik memandangnya. Penampilannya tidak seperti biasanya. Wajah Pangeran Sera pucat dan agak berantakan.
Yuki membuka mulutnya. Ingin mengatakan sesuatu. Tapi Dia kembali urung.
"Raja Garduete sudah mengizinkanku untuk bertemu denganmu" Kata Pangeran Sera tenang menjawab rasa penasaran Yuki, mengenai keberadaanya di dalam aula istana Kerajaan.
Yuki menghela nafas lega. Dia menurunkan bahunya yang tegang. Menundukkan pandangannya, tidak berani menatap Pangeran Sera.
"Aku dengar Kau sakit apa Kau baik-baik saja ?" Tanya Pangeran Sera lagi dengan nada lembut. Sikap Pangeran Sera yang tetap baik seperti biasanya, seolah tidak terjadi apapun. Justru membuat Yuki merasa sedih.
"Seharusnya Aku yang bertanya seperti itu. Pangeran tampak tidak sehat, Apa Pangeran baik-baik saja ?" Tanya Yuki canggung. Tanpa sadar Dia meremas rok nya dengan kuat.
Pangeran Sera tersenyum. "Aku baik-baik saja" jawabnya menenangkan.
Pangeran Sera mengambil satu langkah kecil, mencoba mendekati Yuki dengan perlahan. Yuki tercekat. Dia kembali tegang dan panik. Salah langkah sedikit saja, Pangeran Sera merasa Yuki bisa mati ketakutan.
Ketika Pangeran Sera tepat di depan Yuki. Yuki nyaris terjatuh ke belakang. Dia sudah tidak mampu mempertahankan ketenangannya.
"Kenapa Pangeran kemari ?" Tanya Yuki lirih, ada isak tangis yang berusaha di tahannya. Suaranya bergetar.
"Tentu saja Aku ingin bertemu dengan tunanganku" bisik Pangeran Sera lembut. Pangeran Sera mengusap lembut pipi Yuki dengan ujung jemarinya. Ada cinta yang begitu besar tersirat di matanya. Cinta yang dalam dan tanpa syarat. Yuki memalingkan wajahnya, menolak menerima kenyataan itu.
"Tidak seharusnya Pangeran berada di sini. Pangeran sudah melihatku, lebih baik Pangeran segera kembali" Yuki berbalik untuk pergi, tapi Pangeran Sera langsung menahannya.
Pangeran Sera memeluk Yuki kuat dari belakang. Jantung Yuki berdebar tidak karuan. Perasaannya sangat kacau. Yuki tidak tahu bagaimana harus menghadapi rasa cinta Pangeran Sera yang nyatanya cukup dalam untuknya.
__ADS_1
"Biarkan Aku pergi Pangeran" pinta Yuki dengan nada memohon. Yuki berusaha melepaskan pelukan Pangeran Sera. Tapi Pangeran justru semakin mempererat pelukannya.
"Apa yang Pangeran harapkan, Apa Pangeran tidak mendengar apa yang sudah terjadi ?. Kenapa Pangeran masih bersikap seperti ini ?" Kata Yuki kesal. "Aku sudah tidak.."
Yuki tergagap. Dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Pangeran Sera sudah mengetahui apa yang telah terjadi di antara Yuki dan Pangeran Riana. Dia sudah tau Yuki kehilangan keperawanannya. Tapi Pangeran Sera bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Membuat Yuki merasa sangat bersalah dan malu.
"Kenapa Pangeran bersikap seperti ini. Taukah Pangeran Aku sekarang bahkan tidak memiliki muka untuk bertemu dengan Pangeran" Kata Yuki menahan tangis. "Aku sudah rusak. Aku tidak pantas untuk Pangeran. Aku mohon Pangeran, pergilah"
Pangeran Sera membalikkan badan Yuki untuk menghadapnya. Dia kembali memeluk pinggang Yuki dengan erat. Tanpa peringatan, Pangeran Sera langsung mencium bibir Yuki.
Yuki terpaku sesaat. Dia tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Ketika kesadarannya pulih, Yuki langsung memberontak mencoba melepaskan diri. Akan berbahaya jika ada yang melihat kejadian ini.
"Aku akan menutup mata dan telingaku dari hal-hal buruk mengenai dirimu. Tidak perduli seperti apa Kau sekarang atau apa yang menimpamu. Tidak akan mengurungkan niatku untuk melanjutkan pertunangan Kita. Meskipun Kau pada akhirnya tidak mempunyai tangan dan kaki sekalipun, Aku akan tetap memilihmu menjadi satu-satunya istriku. Bisakah Kau melihat cintaku ini Yuki ?"
Yuki mundur. Dia terpana dengan rasa cinta yang di tunjukan Pangeran Sera padanya. Rasa cintanya tidak main-main. Yuki sudah menyadarinya semenjak dulu tapi Dia berusaha mengikari kebenaran itu.
"Aku datang kemari untuk mengatakan hal ini padamu. Jangan bersusah hati. Apapun yang terjadi tidak akan merubah pendirianku" kata Pangeran Sera lagi dengan tegas.
Kemudian berbalik pergi menuju pintu keluar. Pangeran Sera tidak mengejarnya. Dia memandang Yuki dengan raut wajah sedih. Membuat Yuki semakin merasa bersalah. Yuki mendorong pintu aula hingga terbuka dan terkejut ketika melihat Pangeran Riana berdiri di depan pintu. Wajahnya tidak bersahabat. Yuki tidak bisa menebak apakah Pangeran Riana telah mendengar semua percakapannya dengan Pangeran Sera.
Yuki memberanikan diri mengacuhkan Pangeran Riana. Dia melewati Pangeran Riana tanpa memberi salam atau memandangnya. Berlari meninggalkan aula dengan cepat.
Pangeran Riana masih diam memandang Pangeran Sera. Dia langsung datang kemari begitu mendengar Raja Bardana memanggil Yuki untuk bertemu dengan Pangeran Sera. Dia mendengar penegasan yang di berikan Sera untuk Yuki dan penolakan Yuki terhadap Sera. Tapi tetap saja Pangeran Riana merasa tidak senang mengetahui Sera masih tidak menyerah untuk memiliki Yuki.
Gadis itu adalah miliknya. Dia tidak akan memberikannya kepada siapapun.
Pangeran Sera berjalan tenang dengan bahu tegap. Melewati Pangeran Riana dengan acuh.
__ADS_1
Yuki terus berlari melewati lorong istana. Berbelok menuju taman tengah yang sepi. Dia menjatuhkan tubuhnya. Duduk tersungkur di atas tanah.
Mama apa yang harus ku lakukan padanya ?. Laki-laki yang Kau pilih sungguh orang yang baik. Aku tahu Aku akan bahagia jika bersamanya. Tapi hatiku...
Yuki menggengam erat dadanya. Dia takut akan pecah menjadi berkeping-keping. Rasanya menyesakkan.
Aku bahkan tidak tahu kemana hatiku ini mengarah. Dia datang terlambat, keadaan tidak seperti yang ku duga Mama. Kedua Pangeran itu memaksaku untuk memilihnya. Bersiap berperang kapanpun untuk memperebutkanku. Aku sungguh tidak mengerti alasan apa yang membuat Mereka bersikap seperti ini. Mereka tidak menanyakan kemana hatiku berada...dan hanya memaksakan keinginannya. Aku tidak ingin melihat lebih banyak lagi orang yang terbunuh karena Aku. Tolong berikan Aku petunjuk...kemanakah Aku harus melangkahkan kakiku ini Mama...
Butiran air mata menetes di kedua pipi Yuki. Dia sangat tertekan. Tidak tahu arah melangkah.
Yuki bahkan tidak di beri kesempatan untuk memilih hidupnya. Dia tidak mau lagi menjadi penyebab kematian orang lain. Dunia yang di tinggalinnya sekarang tidak seindah dalam cerita dongeng.
Tiba-tiba Yuki merindukan Bibi Sheira....Dia merindukan Phil...bahkan, Yuki juga merindukan Raymond.
Kehidupan yang biasa tanpa harus di bayangi kematian. Dia ingin kembali ke dunianya. Yuki bahkan tidak menemukan alasan untuk tetap bertahan di dunia ini.
Kilat menyambar di langit malam. Hujan turun dengan derasnya membawa kesunyian yang mencekam. Sosok bertudung gelap masuk melalui pintu kayu yang sudah lapuk. Dia bersenandung kecil. Hari ini pemburuannya tidak begitu mengecewakan. Perasaan saat menghabisi para korban membuat adrenalinnya meningkat dratis. Tapi Dia harus segera mendesak orang itu untuk menangkap Yuki. Bulan biru akan datang dan Mereka masih belum bisa menyentuh Yuki. Keadaan ini sangat berbahaya. Dia harus menemukan cara untuk mendapatkan Yuki, hidup atau mati.
Suara langkah kakinya bergema di sepanjang lorong.
Pada akhirnya Dia sampai di kamarnya yang temaram. Kilat petir bagai lampu blitz yang di jepretkan terus-menerus. Dia ingin mandi untuk membersihkan tubuhnya, ketika suara berderak terdengar dari luar kamar.
Ketika berbalik...
Sepasang sayap hitam merentang ke udara. Menutupi hampir separo pemandangan di cendela. Dia pernah melihat iblis sebelumnya, tapi tidak seperti iblis di depannya.
__ADS_1