
"Bukan begitu, kenapa Pangeran bisa ada di sini. Bukankah Pangeran Sera sudah mengecoh kalian agar menuju ke arah yang berlawanan jauh dari sini" tanya Yuki keheranan.
Pangeran Sera tersenyum angkuh. Dia bersedekap duduk dengan dada membusung. "Aku sudah tahu kalian akan melewati tempat ini. Karena itu Aku berpura-pura mengikuti petunjuk palsu Sera dan ketika orang-orang Sera yang mengikuti rombonganku lengah, Aku menyelinap memisahkan diri dan menunggu Kalian kemari"
"Sejak kapan Pangeran berada di sini ?" Yuki mengangumi kecerdasan Pangeran Riana. Dia tidak gampang di bodohi. Sesuatu yang berguna di saat yang tepat.
"Tiga hari yang lalu. Aku membangun tenda di tempat tersembunyi sembari menunggu Kalian. Akhirnya ketika Aku melihat jejak kalian, Aku menunggu waktu yang tepat untuk membawamu pergi. Tapi, Aku tidak menyangka saat menunggu kesempatan itu, Aku malah mendapati Kau berendam sendirian di dalam danau yang terletak di tengah hutan, dan..tanpa busana"
Kata-kata terakhir Pangeran Riana membuat Yuki refleks menunduk untuk melihat tubuhnya. Di balik selimut yang menutupinya, Dia mengenakan pakaian lengkap. Dia ingat dengan jelas saat tenggelam Dia memang tanpa busana sama sekali.
Yuki kembali menatap Pangeran Riana was-was. Pangeran tampak tenang, tapi senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Siapa yang menolongku dan memakaikan pakaianku ?" Tanya Yuki perlahan. Tenggorokannya tersengkat saat mengatakannya. Pangeran Riana tidak menjawab, ada pancaran kepuasan di dalam dirinya yang terlihat di matanya. Yuki terperangah, Dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
Wajah Yuki memerah seperti kepiting rebus, menahan malu dan rasa marah.
"Jadi..Jadi Kau melihat semuanya" tanya Yuki lagi dengan panik.
Pangeran Riana diam. Tidak mengelak tuduhan Yuki. Memang Dia yang telah menolong Yuki dan memakaikan gadis itu pakaian.
Pangeran Riana tidak menyangka, Gadis kecil di depannya ini memiliki tubuh yang indah. Semua yang Dia miliki sangat pas dan natural sesuai porsinya.
"Dari raut wajahmu sepertinya Kau menginginkan hal lain terjadi" guman Pangeran Riana melihat wajah Yuki yang masih memerah saking malunya. Wajahnya sangat menggemaskan sekarang, Riana jadi ingin melihat ekpresi lain pada Yuki ketika Mereka berada di atas ranjang dan Yuki berada di bawahnya.
"Jangan bercanda !" Sergah Yuki cepat.
Pangeran Riana mendekati Yuki, Dia menahan Yuki ketika Yuki mundur untuk menghindarinya.
Jika Riana tidak ingat Dia harus membawa Yuki pergi dari sini. Riana pastikan Yuki tidak akan bisa melarikan diri darinya. Tapi dia harus menahannya, Sera pasti sudah menyadari Yuki menghilang. Cepat atau lambat jika Mereka masih berada di sini, Mereka akan menemukannya.
Jadi Riana bangun sekaligus untuk menahan diri dari keinginannya pada gadis di depannya.
__ADS_1
"Bersiaplah, Kita harus segera pergi sebelum Sera menemukan Kita" kata Pangeran Riana sembari berjalan keluar tenda.
Yuki tidak menunggu terlalu lama. Ucapan Pangeran Riana menyadarkannya bahwa Pangeran Sera bisa datang kapanpun. Dia tidak ingin ada perkelahian antara Pangeran Riana dan Pangeran Sera. Mengabaikan kondisi tubuhnya yang masih lemah pasca tenggelam di danau. Yuki beringsut bangun merapikan pakaiannya. Dia mengikat rambutnya ke belakang. Setelah siap Yuki keluar tenda dan menemukan Pangeran Riana berdiri di samping seekor naga berwarna merah kehitaman.
Yuki berteriak nyaring.
Dia tidak pernah melihat seekor naga seimur hidupnya. Matanya melotot ketakutan memandang naga di depannya.
Naga itu memiliki sayap di punggungnya dengan ujung ekor mengeluarkan api. Menatap Yuki dengan pandangan mengejek.
Pangeran Riana menghampiri Yuki dengan tenang sementara Naga di belakangnya berpaling, menjulurkan leher ke pucuk pohon untuk mendapatkan daun muda yang dapat di makan.
"Ayo Kita harus pergi" Kata Pangeran Riana sembari memeluk bahu Yuki agar Dia tidak ketakutan. Riana tidak banyak waktu untuk menjelaskan, teriakan Yuki cukup keras terdengar. Sera mungkin juga mendengarnya.
"Dengan ....dengan ini ?" Yuki menunjuk naga di depannya tergagap. Dia nyaris mundur tapi Pangeran Riana menahannya.
"Terlalu lama jika berkuda, Kita sudah mendekati wilayah Argueda. Akan beresiko jika melewati jalur darat" jelas Pangeran Riana sembari mengarahkan Yuki mendekati naga peliharannya.
Perbatasan wilayah Garduete dan Argueda ?. Yuki tidak menyangka sudah sejauh ini Pangeran Sera membawanya.
Pangeran Riana menghela nafas. "Dia tidak akan memakanmu" kata Pangeran Riana mengungkapkan ketakutan Yuki.
Untuk membuktikannya, Pangeran lebih dulu mengelus tubuh naga peliharaannya. Dia mengulurkan tangan agar Yuki ikut memegang naga itu bersamanya.
Naga itu bereaksi. Dia memalingkan kepalanya untuk mengendus Pangeran Riana sembari mengunyah daun. Terdengar dengkur ringan yang dikeluarkan naga peliharaan Pangeran Riana. Mengingatkan Yuki dengan seekor kucing peliharaannya semenjak kecil yang senang mendengkur ketika diusap kepalanya.
"Radolft perkenalkan ini Yuki" ujar Pangeran Riana mengenalkan Yuki pada Naga yang di beri nama Radolft olehnya.
Radolft melirik sejenak ke arah Yuki yang langsung berdiri diam bagaikan patung. Dia menjulurkan lehernya untuk mengendus Yuki. Yuki nyaris saja lari jika Pangeran Riana tidak menahannya.
Radolft menatap Pangeran Riana seolah memprotes. Pangeran Riana mengulurkan tangan mengelus Radolft dengan penuh sayang.
__ADS_1
"Dia takut karena belum mengenalmu. Tapi Aku tahu Kau menyukainya" guman Pangeran Riana membuat mata Yuki semakin terbuka lebar.
"Kau bisa berbicara dengan naga ?" Tanya Yuki tidak mempercayai pendengarannya.
"Kami telah tumbuh bersama semenjak kecil, biasanya Dia tidak pernah membiarkan sembarang orang menaikinya, tapi kali ini Dia memberi pengecualian padamu" ujar Pangeran Riana tenang.
"Mirip seperti tuannya" bisik Yuki di samping Pangeran Riana tanpa sadar.
"Apa katamu ?" Tanya Pangeran langsung untuk mengkonfrontasi Yuki.
"Tidak ada apa-apa" kilah Yuki menolak mengulangi ucapannya. Pangeran Riana mencubit pipi Yuki. Yuki meringis kesakitan.
"Aku mendengar semuanya" ujar Pangeran masih mencubit Yuki.
"Sakit...lepaskan Aku" pinta Yuki memohon.
"Panggil Aku sayang, baru Aku akan melepaskanmu"
"Apa..Tidak mau..aduhhhh" Yuki meringis ketika Pangeran Riana semakin menekan kedua jari yang mencubit pipinya.
"Katakan" perintah Pangeran lagi.
"Kenapa Kau kekanakan sekali...Aaa...Sakit..Sayang, lepaskan Aku" ujar Yuki akhirnya mengalah. Pangeran Riana melepaskan cubitannya puas.
Yuki memegang pipinya yang merah akibat cubitan Pangeran Riana. Dia memasang wajah cemberut.
"Sudah waktunya Kita pergi, sebentar lagi Sera akan tiba kemari" ujar Pangeran Riana sembari memasang telinganya, mendengar derab langkah kuda dari kejauhan. Yuki juga mendengar suara pasukan Pangeran Sera. Dia tahu jika Mereka bertemu sekarang akan terjadi pertempuran. Pangeran Riana seorang diri. Sehebat apapun Dia, tidak mungkin melawan pasukan Pangeran Sera seorang diri. Hal itu akan membahayakan nyawanya.
Yuki merasa sesak ketika memikirkan banyaknya hutang budi pada Pangeran Riana.
Pangeran Riana mengulurkan tangannya. Tanpa di komando Yuki menerima uluran tangan Pangeran Riana. Mereka naik ke atas punggung Radolft.
__ADS_1
Sisiknya berkilauan tertimpa cahaya matahari yang menerobos dari sela pepohonan. Yuki mencengkram Pangeran Riana erat. Dia takut Radolft akan berubah pikiran dan melemparkan Yuki ke tanah.
Radolft mengepakan sayapnya, menggoyangkan pepohonan di sekitar. Pangeran Sera melihat gerakan itu, tapi terlambat ketika Dia mengarahkan kudanya ke sana, dari atas Radolft sudah terbang melesat menuju ketinggihan.