
Yuki menatap nanar bayangannya di dalam cermin.
Apa yang sebenarnya Aku inginkan dari semua ini ?.
Rasanya kedua Pangeran itu justru membuat tekanan tersendiri untuk Yuki. Sementara tujuan Yuki datang kembali di depan Mereka, bukan untuk kembali ke salah satunya. Dia datang untuk mengorbankan nyawanya. Menghindarkan kedua Pangeran itu dari kematian.
Jika Yuki mati nanti. Apa yang akan terjadi pada Mereka ?.
Yuki mendesah. Dia tidak menemukan penyelesaiannya. Semua tampak buntu. Dengan perasaan lelah, Yuki mengulurkan tangan ke air dan mencuci tangannya. Memutuskan untuk segera kembali ke ruangan sebelum Pangeran Sera mencarinya.
Ketika Yuki berjalan di lorong untuk kembali ke dalam gedung. Dia berhenti ketika melihat Pangeran Riana bersandar di tembok tidak jauh dari tempatnya. Satu tangannya di perban asal. Pangeran Riana tampak acuh menatap langit. Seolah Dia memang di sana untuk menyendiri.
Yuki menghentikan langkahnya sejenak. Bimbang apakah Dia akan melanjutkan langkahnya atau berbalik menghindari Pangeran Riana.
Tapi Pangeran Sera ada di dalam gedung. Dia pasti akan bertanya macam-macam jika Yuki tidak kembali. Dan Yuki tidak bisa menyembunyikan sesuatu pada Pangeran Sera. Dia pasti curiga. Dan pasti akan menyelidiki masalah yang terjadi.
Jadi Yuki mengepalkan tangan, melangkah dengan cepat. Dia berusaha sebisa mungkin agar tidak terlalu menarik perhatian Pangeran Riana.
Tapi....
Ketika Yuki melewatinya, Pangeran Riana dengan cepat langsung mencekal tangan Yuki. Menariknya paksa agar Yuki mengikuti langkahnya. Yuki berusaha memberontak, tapi Pangeran Riana tetap menyeretnya. Membawanya ke sebuah lorong yang cukup sunyi dan jarang di lewati orang.
Mereka sampai di sebuah pintu. Pangeran Riana langsung membuka pintu dan melempar Yuki hingga terjatuh di atas sofa. Yuki mencoba berdiri tapi Pangeran Riana sudah berada di atas Yuki. Mencekal Yuki dengan kuat. Menahannya di tempatnya.
Yuki sangat panik. Dia takut ada seseorang yang melihat Mereka dan menjadi salah paham.
"Aku mohon lepaskan Aku Pangeran" pinta Yuki akhirnya ketika Dia tidak berhasil melepaskan diri. "Jika ada yang melihat Kita, ini akan menjadi kesalahpahaman yang tidak perlu"
"Kenapa Kau bisa dengan mudahnya kembali padanya, tapi tidak bisa kembali denganku ?" Pertanyaan Pangeran Riana membuat Yuki tertegun. Yuki menatap Pangeran Riana dan menemukan sirat emosi di dalamnya. Rahangnya terkatup rapat menahan amarah.
"Jawab Aku Yuki" kata Pangeran Riana lagi lebih tegas. "Kenapa Kau bisa kembali padanya, tapi denganku tidak"
__ADS_1
"Kami sudah menikah" jawab Yuki akhirnya. Mencoba memberi alasan yang logis.
"Menikah, jika Kau memang menikah dengannya karena cinta. Lalu kenapa Kau malah pergi meninggalkannya"
"Apapun yang telah terjadi dengan rumah tanggaku Pangeran Riana. Itu bukanlah hal mu untuk mencampurinya. Dan Aku tidak punya kewajiban apapun untuk menjelaskan padamu" Yuki kembali berusaha melepaskan diri. Dia memalingkan wajahnya saat merasakan wajah Pangeran Riana begitu dekat dengannya. Yuki bahkan bisa merasakan nafas Pangeran Riana di pipinya.
Situasi yang sangat berbahaya. Yuki harus kembali ke aula. Dia khawatir Pangeran Sera akan mencarinya karena Yuki tidak juga kembali dan menemukan Mereka dalam keadaan yang sekarang.
"Aku tanya sekali lagi, Kenapa Kau bisa kembali padanya tapi tidak bisa kembali bersamaku ?"
Terdengar suara langkah kaki mendekat. Jantung Yuki langsung berdebar dengan kencang. Yuki semakin memberontak. Berusaha melepaskan diri. Dia bagaikan membeku ketika terdengar suara klik pintu dibuka dari luar.
"Pangeran Riana...Anda di sini rupanya. Kita harus..." Pendeta Serfa masuk dan tertegun saat melihat pemandangan di depannya.
Yuki langsung menyentakan Pangeran Riana kuat. Meskipun Pangeran Riana menolak tapi pada akhirnya Yuki berhasil lepas dan berdiri menghindar.
Pendeta Serfa menatap Pangeran Riana dan Yuki bergantian. Dia tidak menuntut penjelasan apapun. Wajahnya datar. Hanya bibirnya terkatup rapat.
Tanpa mengatakan apapun, Yuki bergerak menuju pintu keluar. Melewati Pendeta Serfa. Tarikan yang cukup kuat di lengan Yuki kembali membuatnya berbalik paksa. Pangeran Riana langsung merengkuh wajah Yuki dan mencium bibir Yuki kuat.
Melepaskan ciuman Pangeran Riana dari bibirnya. tapi Pangeran Riana terus mendesak Yuki dan kembali menempelkan bibirnya dengan kuat di bibir Yuki.
Yuki kembali mendorong Pangeran Riana dan refleks menampar wajah Pangeran Riana.
Tanpa banyak bicara lagi, Yuki langsung berlari meninggalkan ruangan.
Terdengar suara tembok di pukul dengan keras di belakangnya. Yuki tidak berbalik untuk melihat dan terus melangkah pergi.
Pendeta Serfa masih berdiri di tempatnya. Menunggu sampai Pangeran Riana tenang dari kemarahannya.
Setelah beberapa lama menunggu. Pendeta Serfa kemudian berkata masih dengan wajah tanpa ekpresi. "Pangeran....Wanita yang tidur bersama Anda adalah Putri Yuki"
Pendeta Serfa tidak bertanya. Dia menyatakan semua dengan tegas dan tanpa keraguan. Pangeran Riana tidak menjawab. Dia berjalan melewati Pendeta Serfa dan berlalu pergi.
__ADS_1
Yuki langsung mencari Pangeran Sera. Setelah sebelumnya memastikan penampilannya agar tidak membuat Pangeran Sera curiga. Dengan alasan sakit perut karena salah makan, Yuki meminta izin untuk pulang lebih cepat.
Pangeran Sera tidak curiga. Dia mengantar Yuki untuk berpamitan pada Bangsawan Voldermont dan langsung meninggalkan sekolah menuju Kediaman Rumah Perdana Menteri Olwrendho.
Hari ini Yuki terpaksa harus bertemu lagi dengan Pangeran Riana. Dia tidak bisa menghindari masalah itu. Pangeran Sera tidak bisa menemani Yuki karena Dia ada rapat penting.
Yuki menuju gedung sekolah dan bertemu dengan pelayan Putri Marsha yang berjalan beriringan dengan Namura.
"Penampilan istri perwaris tahtah harus menarik perhatian orang. Bagaimana bisa Kita membiarkan Putri Kami kalah dengan rakyat jelata" sindir Namura saat Yuki lewat di dekatnya. Yuki sebenarnya tidak mau menggubris Namura. Tapi dua orang pelayan yang menemani Yuki di belakang langsung menyetop Yuki. Wajah Mereka tampak kesal.
"Biarkan saja, tidak perlu di gubris" kata Yuki mencoba meredakan suasana.
"Putri...Ayo Kita kembali ke kamar"
"Apa ?"
Tanpa menunggu persetujuan dari Yuki, dua orang pelayan langsung melingkarkan tangan Mereka di lengan Yuki dan menyeret Yuki pergi.
Sesampai di kamar Pangeran Sera yang ada di sekolah. Mereka langsung mendudukan Yuki di depan meja rias.
"Lebih baik Putri diam. Kami akan mendadani Putri hingga semua orang yang melihat Putri akan berpaling pada Putri"
"Kalian....orang yang tidak mau kalah saing" Kata Yuki tertegun.
Yuki berjalan ringan, beberapa orang berpaling saat melihatnya. Memberi salam yang di sambut Yuki dengan ramah. Mereka berada di halaman sekolah. Menyaksikan pasukan yang akan berangkat menuju titik yang di tunjuk. Ada begitu banyak prajurit dari berbagai negara. Mereka membawa panji-panji yang melambangkan kehormatan.
Yuki memilih berdiri di samping pendeta suci. Mengekorinya kemanapun Dia pergi. Menurutnya jauh lebih aman jika bersama dengan Pendeta suci daripada Dia harus bersama satu rombongan dengan Pangeran Riana.
Tapi tidak selamanya Dia juga bisa menemani Pendeta Suci. Satu hal membuatnya terpaksa harus duduk berdekatan dengan Pangeran Riana. Tidak ada Pangeran Sera atau Lekky yang menemani. Suasana menjadi sangat canggung. Sementara itu dari tempatnya, Putri Marsha menatap Yuki tidak senang.
Pangeran Riana tampak acuh. Dia duduk tenang di tempatnya. Menatap ke depan. Sementara Yuki merasa tidak nyaman dengan situasi yang terjadi.
Beruntung, Bangsawan Voldermont datang dan langsung duduk di dekat Yuki.
Visual Bangsawan Asry
__ADS_1