Morning Dew

Morning Dew
80


__ADS_3

Yuki mencium aroma tubuh yang sangat Dia kenal saat orang itu memeluknya kuat.


"Bang..Bangsawan Dalto" panggil Yuki tidak percaya. 


"Darimana saja Kau, Apa Kau tidak berpikir semua orang sangat mencemaskanmu" teriak Bangsawan Dalto marah. 


Bangsawan Dalto bergegas pergi mencari Yuki begitu kerajaan Garduete datang ke rumahnya untuk mengkonfirmasi keberadaan Yuki. Dia merasa takut jika Yuki telah menjadi korban pembunuhan yang sedang terjadi di ibukota. Seharian ini Dia mengendarai kuda ke sana kemari untuk mencari keberadaan Yuki. 


Sampai akhirnya ketika Dia ingin merasa kalah, Dia melihat Yuki berjalan di depannya seorang diri. 


Yuki menatap Bangsawan Dalto tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Bangsawan Dalto tampak sangat berantakan. Keringat mengalir di keningnya. Tapi yang lebih penting adalah kenyataan semua itu terjadi karena Dia berkeliling mencari Yuki ke penjuru kota. Tidak ada lagi permusuhan di dalam matanya, hanya rasa cemas yang tidak terbayang. 


Spontan air mata Yuki menetes keluar ketika menyadari Bangsawan Dalto telah kembali menjadi sosok yang di kenalnya selama ini.


"Kenapa Kau menangis ?" Tanya Bangsawan Dalto binggung. "Apa Kau terluka ?. Apa aku terlalu keras membentakmu ?" 


Yuki menggelengkan kepala kuat. Dia menutupi wajahnya dengan satu lengannya yang bebas. Sementara tangan lainnya masih dalam gengaman Bangsawan Dalto. Tangis Yuki pecah seketika. "Aku pikir..Aku pikir Kau sudah tidak peduli padaku" isak Yuki di sela tangisannya.


Bangsawan Dalto tertegun memandang gadis di depannya. Dia sama sekali tidak berdaya menghadapi Yuki. Sesaat Dia hanya djam memandangi Yuki yang sedang menangis, kemudian Dia mengusap lembut rambut Yuki dan menariknya ke dalam pelukannya.


"Bodoh, mana mungkin Aku bisa membencimu" bisiknya di telinga Yuki.


Yuki menyurukan wajahnya ke dada Bangsawan Dalto. Perasaanya bercampur aduk menjadi satu. Ada kelegaan tersendiri saat bersama Bangsawan Dalto. Yuki sangat merindukan suasana yang seperti ini.


"Maafkan Aku Yuki...Maaf..." Ucap Bangsawan Dalto akhirnya dengan tulus sambil mengusap lembut rambut Yuki. "Maaf atas sikap burukku selama ini. Sudah jangan menangis" 


Yuki melingkarkan tangannya memeluk Bangsawan Dalto. Enggan untuk melepaskannya. 

__ADS_1


Terdengar suara ringkik kuda di belakang punggung Yuki. Seketika hawa dingin menerpa punggungnya membuat Yuki merinding.


"Pangeran Riana..." Bisik Bangsawan Dalto membuat Yuki mengerti alasan di balik keberadaan aura membunuh yang dirasakannya sekarang.


Yuki langsung berbalik.


Pangeran Riana berada di atas kudanya. Tidak jauh dari tempat Yuki berada. Memandang dingin ke arah Mereka berdua. Hawa membunuh terpancar dalam diri Pangeran Riana. Ada kemarahan yang cukup besar tersirat dalam pergerakannya.


Yuki menelan ludah. Dia merasakan kemarahan Pangeran Riana seolah mampu menembus setiap sumsum tulangnya.


Pangeran Riana turun dari kudanya. Dia tidak berbicara sama sekali, hanya berjalan cepat ke arah Yuki. Tubuhnya tegap seperti seorang prajurit yang siap bertempur. Tidak ada yang berani menahannya sekarang.


Rahangnya terkatup rapat. Begitu sudah berada dalam jangkauan, Dia langsung menghantamkan tinjunya ke wajah Bangsawan Dalto hingga Bangsawan Dalto tersuruk ke tanah.


Tangan yang menggegam Yuki terlepas, Yuki terpekik kaget. 


Belum Bangsawan Dalto bangkit, Pangeran Riana sudah kembali melayangkan tinju ke wajahnya dengan kekuatan penuh. Darah keluar dari hidung dan mulutnya. Yuki langsung memeluk Pangeran Riana dari belakang, mencoba memisahkannya dari Bangsawan Dalto.


Sebelum sempat Dia melayangkan tinjunya, Yuki berhasil memeluk lengannya kuat dengan kedua tangannya.


"Hentikan Pangeran, Aku mohon..hentikan!!" Pinta Yuki memohon. "Ini salahku, Aku yang melarikan diri. Tidak ada hubungannya dengan Bangsawan Dalto. Aku yang seharusnya Pangeran hukum, bukan Dia"


"Lepaskan Aku Yuki" perintah Pangeran Riana dingin. Yuki menggelengkan kepala menolak permintaan Pangeran Riana. Dia malah mempererat pelukan di kedua lengannya. 


Bangsawan Voldermont dan Pendeta Serfa muncul dari belakang dan langsung turun dari kuda. Berlari untuk memisahkan keduanya. Bangsawan Voldermont menarik bahu Pangeran Riana menjauh.


"Riana, sudah cukup" ujar Bangsawan Voldermont mengingatkan dengan tegas. Dia berhasil membuat Pangeran Riana berdiri menjauhi Bangsawan Dalto. Bangsawan Dalto masih terbaring di tanah, terbatuk. Ada lebam di pipi Bangsawan Dalto, menandakan bagaimana kerasnya tenaga yang di gunakan Pangeran Riana.

__ADS_1


Pangeran Riana menarik Yuki ke belakang punggungnya. Satu tangan Yuki di cekal kuat olehnya, seperti sebuah belenggu baja yang tidak mudah lepas. 


"Sekali lagi Kau menyentuh wanitaku, Akan kukirim Kau ke penjara tanpa ampunan" ancam Pangeran Riana dingin dengan nada memperingatkan yang cukup keras.


Bangsawan Dalto terbatuk sekali. Perlahan Dia berdiri dengan susah payah. Langkah kakinya sedikit goyang. Ketika ada akhirnya Dia berhasil menyeimbangkan badannya, Dia memandang Pangeran Riana dengan tatapan yang sukar di tebak. Yuki bahkan merasa seperti tidak mengenal Bangsawan Dalto di depannya. 


"Wanita milik Pangeran ?" Kata Bangsawan Dalto menahan tawa. "Meski Pangeran terus mengatakan hal itu ke semua orang, tapi jelas sekali Dia tidak menginginkan menjadi wanitamu. Dia di sampingmu karena Kau memaksanya menggunakan kekuasaanmu. Apakah Pangeran berbangga mendapatkan gadis dengan cara seperti itu, dimana harga dirimu sebagai laki-laki ?" 


Yuki terkejut dengan perkataan yang di ucapkan Bangsawan Dalto. Sesaat Dia tertegun. Dia tidak mengerti darimana Bangsawan Dalto mendapat keberanian untuk membalas ucapan Pangeran Riana. Keberanian yang seperti inilah yang selalu di harapkan Yuki ketika ada yang membullynya dulu. 


Yuki tidak habis pikir, kenapa justru dalam situasi seperti ini Bangsawan Dalto malah menunjukan keberaniannya. Jelas ini membuat Yuki semakin cemas.


"Kau.." Pangeran hendak melangkah maju untuk menyerang Bangsawan Dalto. Beruntung Bangsawan Voldermont segera menghalangi langkahnya. Yuki sendiri langsung memeluk lengan Pangeran Riana untuk menahan Pangeran Riana di tempat.


Yuki memandang Bangsawan Dalto, tatapan matanya menyiratkan permohonan agar Bangsawan Dalto tidak gegabah dan menyulut kemarahan Pangeran Riana. 


Pangeran Riana sangat marah sekarang. Meskipun wajahnya babak belur, tapi Bangsawan Dalto masih bisa di bilang beruntung. Tapi akan lain ceritanya jika Bangsawan Dalto terus memancing kemarahan Pangeran Riana, Yuki khawatir Pangeran Riana akan langsung mengeluarkan dekrit untuk menggantungnya dengan tuduhan melawan kerajaan.


"Sudah hentikan, Dia benar-benar tidak ada hubungannya dengan pelarianku. Aku sendiri yang memutuskan kabur begitu ada kesempatan. Kami baru saja bertemu di sini" ujar Yuki mencoba membela Bangsawan Dalto agar tidak ada lagi kesalahpahaman. 


Pangeran Riana menyentakan lengannya yang di pegang oleh Yuki. Dia balik memegang lengan Yuki dengan keras. Matanya memandang Yuki tajam. 


"Jangan Kau pikir Aku tidak mengurusmu setelah ini" Kata Pangeran Riana dingin.


"Kalian kembalilah ke istana, Biar sisanya Aku dan Serfa yang mengurus" potong Bangsawan Voldermont mencoba menengahi. Untuk pertama kalinya Yuki bersyukur Bangsawan Voldermont ada di sini untuk meredam situasi.


Pangeran Riana berbalik tanpa mengatakan apapun. Dia menarik lengan Yuki untuk mengikutinya. Langkah kaki Yuki terseok ketika mencoba mengimbangi langkah kaki Pangeran Riana. 

__ADS_1


Yuki langsung di naikkan ke atas kuda. Pangeran Riana segera menyusul. Dia masih tidak mengatakan apapun, membuat Yuki takut. Langkah kaki kuda terdengar di tengah malam yang mulai sunyi. 


 


__ADS_2