Morning Dew

Morning Dew
143


__ADS_3

Yuki terbangun ketika mendengar suara berisik di luar. Pintu kamar terbuka perlahan. Dengan malas, Yuki membuka matanya. Dia terkejut saat menyadari Dia sudah berada di atas ranjang bersama Pangeran Sera. 


Pangeran Sera berada cukup dekat dengan Yuki. Satu tangannya berada di atas tubuh Yuki. Memeluknya hangat. 


Sontak Yuki bangun ketika menyadari posisi Mereka yang terlalu dekat, dan mundur sedikit menjauh dengan linglung. 


Yuki tidak tahu bagaimana Dia bisa sampai di atas tempat tidur. Seingat Dia, Dia sedang duduk mendengarkan permainan gitar Pangeran Sera sebelum akhirnya jatuh tertidur.


Apakah Pangeran Sera yang membawa Yuki ke atas tempat tidur ?.


Rena masuk ke dalam kamar diikuti barisan pelayan di belakangnya. Yuki melirik ke jendela. Bulan baru beranjak dari peraduannya. Dia sedikit heran karena Pangeran Sera masih berada di dalam kamar. Biasanya Pangeran Sera hanya datang sebentar untuk menemani Yuki makan malam atau hanya duduk mengobrol. Kemudian Dia pergi lagi entah kemana sampai larut malam. 


"Permisi Pangeran Sera dan Putri Yuki. Mohon maaf menggangu" ujar Rena sopan. Pangeran Sera mengerjap dari tidurnya. Beringsut bangun dengan wajah setengah mengantuk.


"Kau sudah bangun ?" Tanya Pangeran Sera pada Yuki.


"Maaf telah membangunkan Pangeran Sera dan Putri Yuki" ujar Rena lagi penuh hormat. 


"Sudah waktunya ya" Pangeran Sera melingkarkan tangannya memeluk pinggang Yuki. 


Rena yang melihat hal ini hanya terdiam. Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Gosip sudah terdengar sepanjang sore ini. Pangeran Sera mewarnai kuku kaki Putri Yuki dan memainkan gitar untuknya. Para Putri di luar sudah ribut dan semakin menghina Putri Yuki dengan tuduhan yang menyakitkan.


Dia sangat senang karena Putri Yuki yang di layaninya, mampu menarik hati Pangeran Perwaris tahtah. Meskipun Putri Yuki tidak melakukan apapun untuk itu. Tapi Dia tidak menyangka jika Putri Yuki membuat dua Pangeran Perwaris tahtah kerajaan besar memperebutkannya. 


Kedua Pangeran itu sangat keras kepala dan masing-masing memiliki dukungan yang kuat dari kerajaan. Rena sangat khawatir hal ini jika tidak diselesaikan dengan baik, akan menimbulkan pertempuran besar di kedua negara.


"Ada apa ?" Tanya Yuki tidak mengerti.


"Hari ini, Ayah mengadakan pesta penyambutan untuk menyambut kedatanganmu. Kita harus segera bersiap. Aku akan memperkenalkanmu pada keluargaku"


"A..apa.." kata Yuki gugup.


Pesta penyambutan. 

__ADS_1


Yuki sama sekali tidak memikirkannya. Dia tahu suatu saat Pangeran Sera pasti akan membawanya bertemu dengan kedua orang tuanya. Tapi sekarang, ini sangat mendadak. Yuki tidak punya persiapan apapun untuk bertemu dengan Raja Jafar dan Ratu Warda. Mereka orang tua Pangeran Sera. Yuki belum punya pengalaman untuk menghadapi situasi yang akan terjadi nanti. Dia sangat binggung, apa yang akan di lakukannya.


"Kenapa Kau terlihat tidak senang Yuki ?" Tanya Pangeran Sera ketika melihat ekpresi wajah Yuki.


Yuki menggelengkan kepala pelan. Menatap Pangeran Sera dengan pandangan memelas. "Aku khawatir, bagaimana jika Raja Jafar dan Ratu Warda tidak menyukaiku" ujar Yuki jujur.


Pangeran Sera tersenyum mendengar jawaban Yuki. Dia mengelus lembut rambut Yuki. "Mereka pasti akan menyukaimu. Percayalah padaku" ujar Pangeran Sera menenangkan Yuki. "Magitha sangat ingin bertemu denganmu. Dia sebaya denganmu. Kalian bisa menjadi teman baik di kemudian hari"


Yuki sudah sedikit mendengar mengenai keluarga Pangeran Sera. Putri Magitha adalah adik kandung Pangeran Sera. Saudara kembar dari Pangeran Arana.


"Bersiaplah" ujar Pangeran Sera menepuk punggung Yuki.


Yuki beringsut dari tempatnya. Turun ke bawah tempat tidur. Memakai alas kaki dan kemudian mengikuti Rena untuk mandi dan mempersiapkan diri.


Yuki mandi dengan di liputi perasaan cemas. Meskipun Pangeran Sera mengatakan semua akan baik-baik saja, tetap saja Yuki merasa khawatir.


Yuki mengenakan pakaian formal kerajaan yang disiapkan oleh para pelayan. Rambutnya di tata sedemikian rupa. Ada untaian mutiara cantik, yang di sematkan di rambutnya.


Yuki selesai berdandan. Para pelayan menuntun keluar kamar, tempat Pangeran Sera telah menunggu.


Seketika atmosfir berubah saat pintu di buka. Para pengawal membungkuk penuh penghormatan ketika Yuki melewatinya. Rombongan pelayan yang mengikuti di belakangnya berbaris rapi dengan sikap takjim.


Mereka sampai di halaman depan. Pangeran Sera sudah berdiri menunggu di dekat kereta. Dia menatap bulan dengan alis berkerut. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Tapi ekpresinya segera berubah ketika menyadari keberadaan Yuki. 


Yuki melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Mendekati Pangeran Sera yang tersenyum menyambutnya.


"Sudah Ku duga, Kau sangat cantik mengenakannya" Pangeran Sera menyentuh hiasan rambut yang di kenakan Yuki dengan ujung jarinya.


"Aku dengar hiasan rambut ini adalah milik Ratu Warda yang di berikan oleh Yang Mulia Raja Jafar ketika mengangkatnya sebagai wanitanya. Apakah pantas jika Pangeran memberikan barang berharga ini padaku ?" Tanya Yuki ragu.


"Ibu memberikan perhiasan ini padaku, untuk kuberikan kepada wanita yang akan ku pilih menjadi ratuku kelak"


"Pangeran.."

__ADS_1


Pangeran Sera meletakan telunjuk di bibir Yuki. Merendam protes Yuki. Dia menatap Yuki dalam. "Keputusanku sudah bulat Yuki. Aku harap Kita tidak perlu memperdebatkan masalah ini" ujarnya serius.


Yuki diam.


Pangeran Sera mengulurkan tangannya. "Ayo, Sudah waktunya Kita pergi. Ayah dan Ibu sudah menunggu kedatangan Kita di istana"


Yuki tidak membantah. Dia menyambut uluran tangan Pangeran Sera. Sebenarnya Yuki sangat gugup, Tapi Dia tidak bisa lari dari situasi yang ada. Jadi sebisa mungkin Yuki akan datang dan menghadapinya dengan lapang. 


Pangeran Sera membantu Yuki menaiki kereta kuda. Perlahan, Kereta yang membawa Mereka melaju meninggalkan istana Pangeran Sera di belakangnya.


 


Istana Raja Jafar penuh dengan bangunan berbentuk kubah. Terletak di atas tebing yang tinggi. Deburan ombak dan angin yang kencang menyambut kedatangan Yuki di istana. Ketika melangkahkan kaki keluar istana, Yuki sedikit menggigil karena angin malam yang berasal dari laut di dekat istana.


Lampu-lampu malam dari kota di bawahnya berkelap-kelip. Seperti bintang di langit. Membawa keindahan tersendiri bagi yang memandangnya.


"Indah sekali" bisik Yuki terpana melihat pemandangan di depannya.


"Jika Kau suka, nanti jika ada waktu Aku akan mengajakmu berjalan-jalan ke kota"


Yuki menganggukan kepala. Menatap Pangeran Sera senang. Pangeran Sera mengandeng tangan Yuki. Menuntunnya untuk masuk ke dalam istana. Yuki semakin gugup ketika mendengar genderang di bunyikan dari jauh. Menyambut kedatangan Mereka. Tangannya sampai basah oleh keringat.


"Tenang Yuki. Semua akan baik-baik saja," hibur Pangeran Sera pelan.


Wajah-wajah penasaran terus mengikuti langkah Yuki. Beberapa kelompok Putri memandang Yuki dari kejauhan dengan sorot dengki. Yuki merasakan kebencian yang nyata di wajah Mereka. Membuat perasaan tidak nyaman. 


Yuki menghela nafas. Dia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kebencian yang di berikan oleh para Putri. Terasa genggaman tangan Pangeran Sera. Yuki mendongak dan menyadari Pangeran Sera sedang memperhatikannya.


Apakah Pangeran Sera juga menyadari kebencian para Putri terhadap Yuki ?.


 


 

__ADS_1


__ADS_2