Morning Dew

Morning Dew
53


__ADS_3

"Matipun Aku tidak akan mengatakan di mana Putri Yuki berada !!" Teriak Sei dengan sisa tenaga. Dia meludah ke tanah. Ekpresi wajahnya menunjukan rasa jijik. "Keluarga Olwrendho sangat baik padamu, tapi Kau malah berniat mencelakai Mereka, dasar binatang !!"


Kilau pedang di tangan orang bertudung hitam dari cahaya bulan yang terpantul. Tanpa keraguan orang itu mengangkat pedangnya. 


"Seii...Jangan...Seiiii..Jangan bunuh Dia...Hentikannn !!!" Yuki berteriak histeris sembari mengoncangkan jeruji besi dengan seluruh kekuatannya.


Pedang di ayuh dengan cepat. Debuman keras terdengar saat kepala Sei menghantam tembok di samping, di susul semburan darah dari badannya. Badan Sei terguncang beberapa saat kemudian terkulai seperti pohon yang layu.


Yuki terpaku memandang kejadian itu. Dia merasa mual. 


Air mata mengalir deras. 


"Tidak.." bisik Yuki lirih. Dia terduduk di lantai. "Tidakkkkk !!" Jerit nya kemudian seolah menguarkan kemarahannya.


"Yuki" Pangeran Riana terkejut ketika tiba-tiba Yuki berteriak histeris dalam tidurnya dan memberontak tak terkendali. Dengan sigap Dia menarik kengkang kuda agar berhenti.


Mata Yuki masih terpejam, tapi tangannya menggapai-gapai seolah ada sesuatu mengerikan di depannya. Pangeran Riana mencekal bahu Yuki dan mengoyangkan badannya dengan kencang. "Yuki !!" Panggil Pangeran Riana lagi lebih keras.


Yuki membuka matanya ketakutan. Keringat dingin mengalir di keningnya. Dia gemetaran. Saat melihat Pangeran Riana di depannya, Dia merasa lega dan langsung memeluk Pangeran Riana sembari menangis.


Mimpi apa tadi ?.


Yuki tidak mengerti kenapa Dia selalu bermimpi mengerikan seperti itu. Tidak hanya sekali dua kali Dia memimpikan kematian orang-orang di sekitarnya, bahkan saat kematian ibunya, Dia memimpikannya dengan jelas.


Saat Yuki masih menangis, tiba-tiba angin dingin menerpanya. Bulu kuduknya berdiri. Suasana sekitar menjadi hening. 


Perasaan Yuki menjadi tidak enak, bathinnya memberi tahu bahwa orang yang mengejarnya berada cukup dekat.


Tercium wangi yang aneh, bau yang tidak seharusnya ada di tengah hutan. Kuda-kuda meringkik, bergerak dengan gelisah. Kaki mereka menghentak ke tanah berkali-kali. Para prajurit berusaha untuk menenangkan Mereka.


Yuki menatap wajah para prajurit nanar. Mereka sudah di mantrai oleh Pendeta Serfa sehingga tidak mungkin dapat terpengaruh mantera hitam. Tapi tetap saja Yuki merasa tertekan jika memikirkan akan ada lagi nyawa yang hilang karenanya.


Perdana Menteri Olwrendho, Para Prajurit dan Pelayan di rumahnya, semuanya dibunuh karena Yuki. Sekarang siapa lagi yang akan jadi korban ?. Dada Yuki terasa sesak. Bayangan kematian Sei menghantamnya. Yuki yakin itu bukan mimpi. Dia ada di sana saat Sei di bunuh dengan sadis demi melindunginya.

__ADS_1


"Kalian pergilah, tinggalkan Aku di sini" bisik Yuki memohon kepada Pangeran Riana. "Yang Mereka incar adalah Aku, jika kalian meninggalkanku di sini, Kalian akan selamat"


"Jangan bodoh, sampai matipun Aku tidak akan meninggalkanmu" tolak Pangeran Riana tegas.


Para Prajurit sudah mencabut pedangnya dengan posisi bersiap. Mereka membentuk formasi untuk melindungi Pangeran Riana dan Yuki. Bangsawan Xasfir berada di dekat Mereka, memandang waspada ke setiap penjuru. Prajurit istana adalah orang-orang pilihan. Ilmu bela diri Mereka di atas rata-rata prajurit biasa. 


Yuki menunggu dengan jantung berdebar. Tanpa sadar Dia mencengkram lengan Pangeran Riana kuat.


Akhirnya apa yang di tunggu muncul. Terdengar suara ranting diinjak. Dari kegelapan malam, prajurit kerajaan yang terhipnotis muncul mengelilingi Mereka.


Mata Mereka berwarna gelap, kosong seolah tidak memiliki jiwa. Di dahi Mereka ada simbol berwarna merah darah yang bersinar. Aura hitam menyelimuti Mereka.


Sosok bertudung gelap muncul. Dia tidak menunjukan wajahnya dengan jelas, tapi Yuki melihat perutnya berbentuk aneh. Dari pengalamannya selama ini, Yuki menebak orang itu adalah seorang wanita yang sedang hamil.


"Tinggalkan gadis itu, dan Kalian bisa pergi dengan selamat" tunjuk wanita bertudung sembari berkata lantang ke Pangeran Riana.


Pangeran Riana menyimpitkan mata dingin. "Langkahi dulu mayatku"


Wanita bertudung itu memiringkan kepala sembari terdiam, kemudian Dia tersenyum lebar dengan angkuhnya.


Kedua pasukan mengangkat pedang dan bergerak maju ke depan. Pangeran Riana mengangkat pedang, bersiap menyerang.


Denting pedang beradu nyaring. Pangeran Riana mengayuhkan pedang, menebas lawan-lawannya tanpa ampun. Dia melompat turun dari kuda, dengan tangkas memblokir setiap serangan yang mengincar Yuki.


Bau darah, ringkikan kuda dan teriakan bersatu. Yuki menyaksikan semuanya dari atas kuda terpaku. Darah dimana-mana. Dari tempatnya, Dia dapat melihat semuanya dengan jelas. 


Pasukan Pangeran Riana kalah jumlah. Sehebat apapun pasukannya, tidak mungkin menghadapi pasukan kerajaan yang jumlahnya jauh lebih banyak tanpa rencana.


Pandangan Yuki tertuju pada Pangeran Riana, Dia bertempur dengan perhitungan yang matang. Yuki merasa cemas, jika Pangeran Riana sampai terbunuh, kerajaaan akan hancur. Hal ini tidak boleh terjadi. 


Yuki tidak mau hanya karena melindunginya, orang lain terkena getahnya.


"Yuki Awas !!" 

__ADS_1


Yuki berbalik ketika Pangeran Riana memperingatkannya. Namun terlambat, Seorang Prajurit kerajaan meloncat menerjang Yuki sehingga Mereka berdua terjatuh di atas kuda. 


Pangeran Riana tidak bisa menghampiri Yuki karena di hadang enam orang Prajurit lain. 


Yuki berhasil menendang Prajurit yang menyergapnya dan melepaskan diri. Dia mengambil pedang yang terjatuh di dekatnya dan langsung mengayunkan ke Prajurit itu. Prajurit menjadi semakin marah ketika lengannya tergores.


Dia mengayuhkan pedangnya, menghempaskan pedang di tangan Yuki hingga terpental jauh. Kemudian Dia kembali mengayuhkan pedang untuk menebas Yuki yang terduduk di depannya.


"YUKIIII !!!!"


"PUTRI YUKI !!" 


Seluruh teriakan bersatu ketika Yuki berguling ke kanan. Pedang menancap setengah senti di samping  kepala Yuki. Nyaris mengenainya.


Yuki kembali menendang prajurit kerajaan dengan kuat dan merangkak untuk menjauh. Dia merasa lemas, tapi Dia akan sebisa mungkin melawan meskipun pada akhirnya Dia pasti kalah.


Dia berhasil mengapai kembali pedangnya. Pangeran Riana dan Bangsawan Xasfir disibukkan dengan serangan para prajurit yang seolah di pusatkan kepada Mereka. Tujuannya jelas, untuk menjauhkan Mereka dari Yuki.


Yuki berdiri, Dia mengenggam erat pedangnya bersiap menerima serangan ketika Prajurit kerajaan mendekatinya dengan cepat sembari mengayuhkan pedang ke atas.


Inikah akhirku ?


Bisik Yuki dalam hati.


Dia memejamkan mata, bersiap menerima kematiannya ketika sebuah anak panah melesat dengan cepat dari belakang kepalanya. Menusuk Prajurit di depannya tepat di jantung. Prajurit itu langsung terjatuh dan tidak bergerak.


Yuki berteriak mundur ketika sebuah anak panah melesat lagi membunuh Prajurit kerajaan lainnya. 


Seorang memakai kain penutup yang menutupi wajah dan rambutnya muncul dari belakang Yuki. Dia menarik Yuki ke belakang punggungnya dan berdiri dengan posisi melindungi. Dia memegang pedang dan menyerang siapapun yang mendekat dengan ilmu pedang terlatih.


Sementara itu, panah-panah terus menghujani para Prajurit kerajaan.


Terdengar teriakan nyaring mendekat disusul derab langkah kaki kuda. Yuki menoleh, memandang ke sumber suara dengan panik.

__ADS_1


Apakah masih ada lagi Pasukan Kerajaan yang terhipnotis datang ?


Pasukan Pangeran Riana sudah kelelahan dalam tenaga dan kekurangan orang. Meskipun ada bantuan tapi bantuan belum cukup untuk membuat Mereka semua merasa aman.


__ADS_2