Morning Dew

Morning Dew
7


__ADS_3

Aku terbelalak saat melihat keramaian didepanku. Hampir seluruh kursi penonton penuh terisi. Diantara mereka Aku melihat Baginda Raja, Pangeran Sera,Pangeran Riana dan teman-teman bangsawannya. "Astaga,bukankah ini hanya pertaruhan biasa ?, kenapa seramai ini" tanyaku pada Elber kaget. Kami mengintip dibalik panggung, tadi utusan Putri Norah menyampaikan bahwa pertandingan dirubah dari kelas menari ke panggung utama. Tapi, Aku tidak menyangka penontonnya sampai seperti ini, Aku mengira hanya para Putri saja yang menyaksikan tapi ternyata sampai Baginda Raja pun ikut hadir.


"Putri Norah memang berniat mempermalukanmu.Dia tidak bisa menyentuhmu,karena posisimu sekarang sebagai kekasih pangeran jelas tidak akan menguntungkannya, tapi jika seperti ini, Dia tidak akan terkena hukuman karena pertaruhan ini atas persetujuan kalian berdua" jelas Elber dibelakangku. "Habislah Kau kali ini Yuki, Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya tapi Kau tidak perduli. Sekarang Kau sudah tidak bisa mundur lagi"


"Kau tau....masalahku bukan pada pertaruhan ini tapi lebih apa yang menantiku setelah ini" Aku meringis sembari menunjuk kearah Pangeran Riana dengan daguku. Wajahnya luar biasa menyeramkan. Siap membunuh kapanpun. Aku meringis kelu,Dia pasti sudah mendengar pertaruhan ini untuk apa, kurang lebih untuk Bangsawan Dalto. Aku tidak dapat membayangkan apa yang akan Kuhadapi nantinya.


"Pangeran sudah menghentikan pertaruhan ini tapi Raja melarang, Dia bilang ingin juga melihatmu menari, apakah kemampuanmu sama atau lebih baik daripada Putri Ransah. tapi sepertinya bukan hanya Pangeran Riana yang tidak menyetujui pertaruhan ini, lihat wajah Pangeran Sera hampir sama"


"Jangan hubungkan dengannya" hardikku tidak suka. "Jika ada yang mendengar mereka pasti akan salah paham, Aku sudah menjelaskan padamu. Waktu itu, Pangeran Sera hanya berniat menolongku karena melihat Pangeran Riana bersikap kurang baik padaku. Tidak lebih"


"Tapi Dia tampak peduli padamu, padahal Kau hanya begini tapi kenapa malah bisa menarik dua pangeran itu"


"Terimakasih pujianmu" dengusku pada Elber.


Genderang dimainkan. Putri Norah memasuki panggung pertunjukan. Seluruh murid bersorak menyambutnya. Putri Norah memakai atasan yang tampak seperti pakaian dalam bagiku. Perut,dada dan punggungnya terbuka bebas. Sedangkan bawahanya berupa rok dengan belahan sepuluh cm diatas lutut pada masing masing sisinya. Bagaimana Dia bisa begitu nyaman dengan pakaian seperti itu ?. Dia tampak percaya diri bak pemenang yang telah memenangkan pertandingan. Aku merapatkan kain yang menutupi pakaianku. Bersembunyi dibalik tirai panggung. Aku telah berusaha mencari pakaian yang pantas, tapi hampir semua pakaian Elber juga terbuka sama seperti pakaian Putri Norah saat ini. Akhirnya setelah mempertimbangkan cukup lama Aku berhasil mendapatkan pakaian yang sedikit tertutup, tapi masih tidak bisa menutupi setiap lekuk tubuhku. Pakaian ini digunakan Elber saat Dia masih berumur 11 tahun.


"Elber apa kau yakin Aku harus mengenakan pakaian ini,tidakah Kau rasa pakaian ini cukup terbuka ?" tanyaku ragu.


"Kau pikir pakaian menari itu seperti apa, lihatlah penampilan Norah sekarang...Dia lebih berani daripada dirimu"


"Apa Kau yakin Kau tidak punya pakaian yang lebih tertutup ?"


Nyonya Hazel selaku guru menari sudah memasuki area. Dia akan menjadi juri yang menentukan jalannya pertandingan. Aku tidak menyangka, jika pertaruhan ini akan seperti ini.


"Giliranmu tampil" Elber menarik kain yang kugunakan untuk menutupi tubuhku. "Hentikan merengek seperti anak kecil dan keluarlah" tanpa tedeng aling-aling Aku didorong memasuki area. Aku nyaris saja jatuh jika tidak berpegangan pada tirai.


"Elber" Aku memandang Elber kesal. Dia meringis sambil mengatupkan kedua tangannya tanda minta maaf. Sorak-sorai terdengar, antusias penonton seakan membuat panggung bergetar. Dengan canggung Aku berjalan ketengah panggung. Kukatubkan kedua tanganku didada untuk menutupi tubuhku. Putri Norah tersenyum mengejek saat melihat penampilanku.


"Sudah siap mencium kambing?" tanya Putri Norah angkuh.


"Kau sudah siap kalah ?" tanyaku balik.


"Kita lihat saja nanti"


Nyonya Hazel membagikan masing-masing sepasang kipas. Aku melihat kesekeliling mencari sosok Bangsawan Dalto. Tapi Aku tidak melihatnya. Hatiku sakit saat Dia mengacuhkanku seperti tadi. Dia harus tahu, Aku tetap Yuki yang sama. Yuki temannya. Aku peduli padanya.


"Peraturannya siapa yang menjatuhkan kipasnya Dia kalah, apa kalian siap ?"


Aku menganggukan kepala. Tepat ketika musik mulai dimainkan, pintu terbuka. akhirnya Aku menemukan apa yang kucari. Bangsawan Dalto memasukki ruangan. Dia kemudian bersembunyi disudut tergelap. Dari tempatku Aku masih bisa melihat tatapan matanya.


Semua penonton menyorakiku yang hanya diam mematung. Aku tersadar dari lamunanku. Putri Norah telah menari dengan lues. Tarian ini tarian yang sulit. Kita harus bisa menyesuaikan gerakan kaki,kecepatan irama musik,lenggokan tubuh sembari berputar memainkan kipas dikedua tangan. Butuh waktu yang sangat lama untuk mempelajarinya. Tidak semua orang bisa menari tarian ini. Putri Norah tersenyum penuh kemenangan. Aku menghela nafas. kemudian...


Aku membetangkan kipas dan mulai menari mengimbangi gerakan Putri Norah. sorak penonton terdengar. Putri Norah tampak sangat terkejut. Sepertinya Dia tidak menyangka Aku bisa menari tarian ini dengan lancar. Sial bagi Putri Norah, Aku telah menguasai tarian ini ketika umurku 10 tahun. Mama memang penari terburuk, Dia menyadari itu. Tapi Aku, semenjak kecil Mama dan Bibi Sheira mewajibkanku untuk mengikuti sanggar menari dengan sangat disiplin. Di rumah Bibi Sheira melatihku secara pribadi. Mungkin demi hari ini, jika ada yang mengejekku Aku bisa membuktikan bahwa keturunan Putri Ransah bisa menari dengan baik.


Dipertengahan tarian, mungkin karena kurang fokus Putri Norah menjatuhkan kipasnya. Dia otomatis telah kalah. Aku terus menari. Sekali gerakan Aku mengambil satu kipas miliknya yang terjatuh didekatku. Tepuk tangan semakin meriah ketika kini Aku menari dengan tiga kipas. Aku melenggak-lenggok, mengikuti musik sembari memutar kipas dikedua tangan. Bagaikan merak jantan yang menebarkan pesonannya pada si betina. Bangsawan Voldermon sampai melongo saat melihatku. Ketika Kami bertatapan mata Aku sengaja mengedipkan mata menggodanya. Dia tertawa.


Musik berakhir. Tepuk tangan terdengar membahana. Elber memelukku senang. "Kau hebat, Aku tidak menyangka Kau bisa menari sebagus itu."


"Sudah kubilang, percaya padaku" kataku mengedip. Elber tertawa puas.


Aku menoleh dan mendapati Bangsawan Dalto sudah menghilang. Putri Norah masih berdiri diatas panggung kesal. Aku mengambil kain ditangan Elber,menutupi tubuhku dengan kain tersebut.


"Kau ingat janjimu ?"tanyaku pada Putri Norah. Dia tidak menjawab. Berjalan melewatiku sembari mendorong bahuku dengan bahunya dan turun dari panggung.


"Pertunjukan yang bagus Putri, dengan bakatmu Aku heran kenapa Kau tidak memperlihatkan sebelumnya" tanya Nyonya Hazel heran.


"Aku tidak begitu suka menari" kataku beralasan.


"Begitukah, sayang sekali"


Aku memberi penghormatan pada Raja dan Pangeran, lalu berjalan menuruni panggung.


Aku berjalan didampingi pengawal kerajaan. Begitu turun dari panggung empat orang pengawal sudah menungguku. Aku masih merasa beruntung bukan Pangeran sendiri yang menjemputku. Aku terus memikirkan Bangsawan Dalto. Kenapa Dia berubah seperti itu. Sekarang Dia begitu membenciku. Kami berjalan dilorong menuju ruang ganti pakaian. Saat berbelok dilorong yang sepi, Aku menabrak seseorang didepanku.


"Pangeran Sera" kataku terkejut saat melihat siapa orang itu. Pangeran menatapku datar. Aku melepaskan diri dari pelukannya, memberi hormat padanya.Para pengawal tampak tegang.


"Bagaimana kabar Pangeran ?" tanyaku berbasa basi. "Maksudku luka Pangeran. aku benar-benar minta maaf"


"Bisakah Kau berjanji padaku?" tanyanya dengan suara yang manis.


Aku menatap Pangeran Sera binggung.


"Jangan lagi menari seperti itu didepan umum. Bisakah Kau melakukannya ?"


Apa tarianku jelek. Kenapa Dia terlihat marah seperti ini.


"Tarianmu tidak jelek" ujar Pangeran akhirnya seolah Dia bisa membaca isi hatiku. "Kau sangat pandai menari Yuki. Tapi, Aku tidak suka mengetahui pikiran pria yang melihatmu. Aku juga lelaki, Aku tahu apa yang mereka pikirkan dengan baik. Jadi maukah Kau berjanji padaku ?"


Aku menganggukan kepala menyetujui. Pangeran tersenyum lembut. "Gadis pintar"


"Pangeran maaf, Kami harus segera pergi" seorang pengawal menunduk penuh hormat.


Pangeran Sera menyingkir. Aku kembali memberi hormat, kemudian melanjutkan perjalanan. "Yuki "


Aku berbalik saat Pangeran memanggil namaku. Pangeran menghampiriku dan menyerahkan bungkusan kecil. "Selamat ulang tahun" bisiknya. Pangeran tidak memberiku kesempatan untuk membalas, Dia langsung pergi menjauh.

__ADS_1


Aku melihat kado ditanganku binggung. Ulang tahun ?. Ah...benar hari ini Aku berulang tahun yang keenambelas. Bagaimana bisa Aku melupakannya. Aku berjalan kembali dengan hati riang. Penasaran Aku membuka bungkusan itu dan terpaku.


Sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu yang sayapnya dapat bergerak jika digoyangkan atau tertiup angin. Barang yang sudah lama Aku inginkan semenjak dulu. Tapi yang ini lebih indah. batunya berpedar ringan.


bagaimana bisa ? Aku berbalik, Tapi sosok p


Pangeran Sera sudah tidak ada lagi.


Aku ingat, tidak ada satu orangpun yang mengetahui hari ulang tahunku kecuali Ayah didunia ini. Tidak ada juga yang mengetahui bahwa Aku menginginkan jepit rambut seperti yang dihadiahkan Pangeran, termasuk Ayah. Tapi bagaimana Dia tau semuanya ?. Aku sering merasa Pangeran Sera sangat mengenalku lebih dari Aku mengenal diriku sendiri. Tidak mungkin hanya perasaanku saja jika Dia mengetahui hari ulang tahunku dan hadiah yang kuinginkan. Siapa sebenarnya Pangeran Sera itu ?.


Aku selesai berganti baju dan menyisir rambutku diruang ganti pakaian. Hadiah yang diberikan Pangeran Sera bergerak ketika Aku mengoyangkan kepalaku. Setidaknya Aku sedikit terhibur sebelum apa yang akan kuhadapi nanti. Aku mendesah. Sudah satu setengah jam Aku berada disini. Aku rasa sudah tidak mungkin lagi Aku mengulur-ulur waktu. Aku menutup lemariku, menguncinya rapat dan kemudian berjalan keluar. Para pengawal sudah menungguku. Aku berjalan mengikuti mereka.


"Kau menari sangat bagus" ujar Bangsawan Asry saat Kami hanya berdua. Beruntung Aku bisa selamat. Pangeran sedang sibuk dengan persiapan festival. Aku hanya dilarang jauh darinya dan harus mengikutinya kemanapun Dia pergi.


"Terimakasih" Aku nyengir lebar. Moodku sedang sangat bagus sekarang.


"Jepit rambut yang bagus"


"Benar kan...Aku juga berpikir demikian"


"Harganya sangat mahal, semua batunya terbuat dari berlian kualitas tinggi"


"Apa" kataku terkejut. Bangsawan Asry melihat ekpresiku.


"Nadi Lutri tidak tahu sama sekali"


"Bukankah ini hanya jepit rambut biasa yang terbuat dari kaca"


"Tidak, smua batu-batunya terbuat dari berlian. Aku tidak akan salah mengenai itu"


berlian ??. $ejak kapan ada seorang yang menghadiahi orang lain dengan sekumpulan berlian.


"Darimana Putri mendapatkannya?"


"Aku mendapatkannya sebagai hadiah ulang tahunku hari ini. Tapi Aku tidak menyangka.." Aku tidak bisa meneruskan kata-kata.


"Putri berulang tahun ?"


"Kau berulang tahun hari ini" Bangsawan Voldermon datang bersama dengan Pangeran Riana. "Kenapa Kau tidak memberitahukan Kami"


"Untuk apa Aku memberitahukanmu" Kataku gusar.


"Kau pasti takut Riana akan segera menyentuhmu jika Dia tahu Kau sudah genap berusia enam belas tahun kan ?...Hey Riana....Dia sudah aman untuk Kau sentuh"


Bangsawan Voldermon tertawa puas. Sial. Aku memang berniat merahasiakan ini. Kenapa mereka malah mengetahuinya.


Terdengat suara ceburan disusul jerit senang dan sorak sorak dari arah danau. Beberapa orang berlari kesana. Perasaanku tidak enak. Aku ikut berlari untuk melihat apa yang terjadi. Benar saja, Bangsawan Doldores baru saja melemparkan Bangsawan Dalto ke danau. Mereka tertawa puas. Sementara Bangsawan Dalto menggapai-gapai. Dia tidak bisa berenang. Tanpa pikir panjang Aku langsung berlari dan menceburkan diri ke danau. Aku berenang secepat yang Kubisa.


Bangsawan Dalto sudah tidak ada dipermukaan.


"Dia mati..Hey Sia mati" kepanikan mulai terjadi dikelompok mereka ketika melihat Bangsawan Dalto tengelam. Aku mengambil nafas lalu menyelam. Menemukan Bangsawan Dalto sudah tidak sadarkan diri. Aku menariknya. Dari belakang seseorang menepukku.


Pangeran Sera datang, membantuku membawa Bangsawan Dalto kepermukaan. "Berenanglah kepinggir, biar Aku yang urus Dia" ujar Pangeran. Kami berenang ke pinggir, Pangeran merebahkan Bangsawan Dalto. Aku mencoba memberinya pertolongan pertama.


"Bangun...." teriakku. Aku terus menekan dadanya. Kubuka mulutnya dan kuberikan natas buatan. "Ayo...bangun..."


Akhirnya setelah beberapa saat Bangsawan d


D6alto berhasil memutahkan air yang dia minum. para pengawal datang membawa tandu. Pangeran Riana dengan wajah dingin menarikku agar bangun didekatnya. Aku menyetakkan tangannya sampai terlepas. Tanpa memperdulikannya Aku berlari menghampiri Bangsawan Doldores dan Putri Norah. Aku langsung menampar Putri Norah keras.


"Apa-apaan Kau" teriak Bangsawan Doldores. Dia mendorongku hingga terjatuh.


"Tamparan itu pantas untuknya, bukankah Dia sendiri yang menyetujui pertaruhan itu, nyatanya belum ada beberapa jam kalian sudah hampir membunuhnya"


"Sialan Kau" Putri Norah hendak melayangkan tamparan balasan padaku, namun Pangeran Riana sudah lebih dulu menangkap tangan Putri Norah. Bangsawan Doldores dan teman-temannya diam membeku.


"Sudah cukup, Norah jangan Kau kira karena Kau Anak Raja lantas Kau bisa seenaknya menyentuh wanitaku. Sekali lagi kalian berbuat begini, Aku tak akan segan mencambuk kalian"


Pangeran Riana menarik tanganku untuk mengikutinya.


Aku diam saat Pangeran menaikanku keatas kudanya. Dia sama sekali tidak berbicara, ini makin membuatku takut.Kuda melaju kencang, menyibakkan keramaian kota.Lalu Kami pada akhirnya sampai di istana. Dia menurunkanku, kemudian kembali mencekal tanganku.


"Semuanya pergi dari sini" perintah Pangeran Riana tegas. Para pelayan dan pengawal memberi hormat, kemudian perlahan mereka menghilang. Pangeran menarikku masuk kedalam kamar. Aku berusaha memberontak tapi pegangannya kuat. Aku dilempar keatas tempat tidurnya.


"Aduhh..."


"Jadi begini caramu, Aku sudah ingatkan Kau untuk tidak berhubungan lagi dengan Dalto ataupun Sera tapi Kau malah berciuman di depanku"


"Kau gila, itu bukan berciuman Aku hanya berusaha memberinya nafas buatan untuk pertolongan" kataku ketakutan.


"Berapa banyak laki-laki yang Kau cium dengan alasan menolong. Apa Kau bisa gila jika tidak berurusan dengan mereka ?"


Kedua tanganku dicengkram keatas tempat tidur, Aku sama sekali tidak dapat bergerak.


"Lepaskan Aku" pintaku memohon.

__ADS_1


"Kau terus menerus menguji kesabaranku Yuki. Kau bahkan rela mempertontonkan tubuhmu hanya untuk Dalto."


"Lepaskan Aku"


Pangeran mencengkram wajahku untuk menatapnya. "Haruskah Aku menunjukanmu siapa yang berkuasa atas dirimu sekarang ini ?"


Aku mengeleng.Berusaha menjauh saat Pangeran mendekatiku. "Jangann" teriakku tertahan. Ketakutan menjalariku. Pangeran menciumku dengan beringas. Aku tidak mampu melawan karena kedua tanganku dicengkramnya. Air mataku turun membasahi pipiku. "Tidak....Aku mohon...Jangannn" Pangeran terus saja menciumku. "Tidakk"


Lengan bajuku ditarik hingga robek. Pangeran menciumi dada dan leherku seolah tidak pernah mencium wanita sebelumnya. Aku terus memberontak, berteriak dan memohon tapi Pangeran seolah tidak peduli. Dia terus dan terus melakukan apa yang inginkan.


tok tok tok


Terdengar suara pintu diketuk keras.


"Aku sudah bilang pergi dari sini" teriak Pangeran marah.


"Maaf Pangeran tapi ada berita penting dari kerajaan. Raja memerintahkan Pangeran untuk menghadap ke istana segera" ujar suara dari luar.


Pangeran diam sebentar. kemudian Dia bangun. Nafasku masih tersegal-segal. Aku menutupi pakaianku yang terbuka khususnya didaerah dada.Tanpa memperdulikanku Dia langsung keluar kamar. Pintu ditutup keras. Aku menangis sesegukan seorang diri.


Aku sangat malu saat para pelayan membantuku mandi. Mereka pasti melihat bekas ciuman Pangeran menyebar di leher dan dadaku. Bulu kudukku berdiri saat teringat apa yang Pangeran lakukan padaku.


Aku mengenakan pakaian yang bagian dadanya lebih tertutup. Untuk bagian leher Aku mengenakan selendang yang kulilitkan seperti sebuah syal.


Aku duduk didalam kamar Pangeran melamun. Pangeran melarangku untuk keluar kamar, apa sekarang Aku harus tinggal disini ? dikamar bersamanya. Ketika Pangeran memasuki kamar, hari sudah sangat larut. Untuk apa Dia datang kemari. Aku mengengam erat selendang didadaku. Menatapnya ketakutan. Pangeran menghampiriku, Dia merebut selendangku dan melepaskannya secara kasar dari tubuhku.


"Aku tidak senang Kau menutupi bekasku ditubuhmu"


"Kau gila..." teriakku marah. "Bagaimana jika ada orang melihat. Mereka pasti mengira yang tidak-tidak"


"Bagus jika mereka tau apa yang kulakukan.Kau sebagai wanitaku, sudah seharusnya Kau menjaga dirimu bukan malah menjadi liar seperti berciuman dengan orang lain didepanku"


"Aku sudah katakan itu bukan ciuman, untuk apa Kau kembali kemari. keluar, Aku ingin tidur" sergahku marah. Pangeran berjalan mendekat,Aku mundur hingga terjatuh diatas tempat tidur.


"Aku ingin tau sampai mana kau menguji batas kesabaranku" ujar Pangeran dingin. Dia berbalik dan menuju kamar mandi. Jika Dia ingin tidur malam ini disini itu sangat gawat. Dia tau Aku sudah berumur enam belas tahun. Secara sah Dia sudah bisa menyentuhku. Aku tidak ingin melakukan hal itu dengan paksaan. Aku selalu menjaga kesucianku untuk calon suamiku kelak. Tidak seperti ini. Aku menarik selimut yang berada dikasur .


"Apa yang Kau lakukan ?" Pangeran muncul dibelakangku tanpa suara. Membuatku terperanjat.


"Aku...Aku akan tidur disofa" kataku tergagap.


Pangeran memijit tulang hidungnya. Dia bertelanjang dada. Ototnya yang basah begitu mengoda. Aku mengalihkan diri dengan tidak memandangnya. Apa Dia tidak tahu jika Aku ini wanita normal, apa Dia sengaja memancingku dengan tidak berpakaian seperti itu.


"Apa Kau tidak lelah memicu pertengkaran seperti ini ?" tanya Pangeran dingin.


"Aku tidak berniat bertengkar denganmu. dengarkan Aku...Kau akan menjadi penerus tahtah kerajaan dan Kau sudah menemukan calon Ratumu. Untuk apa Kau mengurungku seperti ini bersamamu. Jika...Jika orang tau Kita bersama dalam satu kamar semalaman apa yang akan orang pikirkan. Apa Kau tidak takut jika calon ratumu mendengarnya ? Dia pasti kecewa. Bukankah syarat agar negara ini makmur dibawah kepemimpinanmu nanti adalah membuat calon ratu jatuh cinta dan bersedia menikah denganmu ?" jelasku panjang. "Aku tidak akan kabur, tapi Aku mohon biarkan Aku kembali ke kamarku"


"Kau sangat takut sekali jika ada orang yang tahu kita tidur satu kamar ? Kau mengkhawatirkan perasaan Calon r


Ratuku atau Dalto?" Aku terkejut mendengar perkataan Pangeran. Pangeran menatapku mencoba membaca isi hatiku.


"Tidak seperti itu"


"Lalu seperti apa ?"


"Kenapa Kau sangat membenci bangsawan Dalto ?" tanyaku balik. "Sebagai seorang Pangeran Kau harusnya tau pasti tentang kabar disekolah dan apa yang menimpanya selama ini. Tapi Kau berpura-pura tidak tahu.... atau memang tidak mau tau ?. Kau bisa menghentikan penyiksaan itu, tapi Kau tidak melakukannya. Tidak mungkin keluargamu jadi salah satu korban kejadian itu.Aku telah memikirkan hal ini berkali-kali, hanya satu yang membuatmu melakukannya. Kau tidak ingin orang yang sama denganmu memiliki kehidupan yang baik. Aku benarkan ?"


Aku bisa melihat. walau disekeliling Pangeran begitu banyak orang yang menghormatinya, tapi sebenarnya tidak banyak orang yang bisa dipercayainya. Dia berada dikerumunan orang tapi Dia tidak merasa aman. Orang-orang itu disetiap waktu bisa menusuknya. Dia merasa sepi ditengah keramaian. Dia dan Bangsawan Dalto adalah orang yang memiliki nasib sama dengan garis cerita yang berbeda. Jika Bangsawan Dalto hidup dalam tekanan akibat perbuatan orang tuanya. Maka Pangeran hidup dalam tekanan karena posisinya sebagai satu-satunya calon perwaris tahtah. Dia memiliki beban dan tekanan yang begitu besar. Aku sudah mendengar selama hidupnya Dia selalu terancam akan percobaan pembunuhan. Berkali-kali Dia nyaris terbunuh.Dia tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ibu, sedangkan Ayahnya sendiri sibuk dengan tugasnya sebagai seorang Raja. Pangeran dibesarkan dari satu wanita ke wanita lain. Dia tidak memiliki satu wanita yang bisa disebut Ibu. Mungkin karena inilah Dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan benar sehingga membentuk karakter yang seperti sekarang.


Dia merasa iri dengan Bangsawan Dalto karena akhirnya menemukan satu orang yang bisa dipercaya. Karena itulah Dia merampas orang itu dengan kekuasaannya.


"Sebagian apa yang Kau ucapkan itu benar." pangeran tersenyum sinis. "Namun hanya sebagian. Suatu saat Kau akan mengerti." ujarnya lagi dengan sikap acuh.


Pangeran melewatiku. Menuju ke meja kecil dan menuangkan anggur dalam gelas. Bau sabun tercium dari tubuhnya. Darah gadis yang baru menginjak dewasa terasa bergejolak. Aku mati-matian untuk tidak melihatnya.


"Aku sudah cukup bersabar menghadapimu hari ini. Jadi jangan uji kesabaranku lagi." Pangeran menatapku dengan sorot mata tidak terbantahkan. "Jika Kau ingin tidur di sofa silahkan. Tapi jangan salahkan Aku, saat Aku tidak bisa mengontrol diriku nanti seperti sekarang. atau Kau memang ingin melanjutkan yang tadi Kita lakukan ?"


Aku langsung menutup dadaku dengan menggunakan kedua tanganku.


"Aku memberimu dua pilihan, pertama Kau naik keatas tidur dan tidur bersamaku atau..kedua Kau bisa tidur dimanapun dikamar ini dengan resiko Aku akan menyentuhmu bahkan lebih dari apa yang telah Kau dapatkan. Aku sudah katakan padamu Aku tidak akan segan melakukannya"


Aku tidak menjawab. Aku menuju tempat tidur dan berbaring dengan posisi berada di paling ujung ranjang. Mungkin jika Aku salah bergerak sedikit Aku bisa jatuh. Aku menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Bersembunyi dibaliknya. Terasa tempat tidur bergerak disebelahku. Pangeran menaiki tempat tidur dan berbaring tepat disebelahku. Aku hampir tidak bisa tidur. Setiap ada pergerakan disampingku refleks aku langsung membuka mata. Berkali-kali seperti itu sampai Aku jatuh tertidur.


Aku tidak ingat berapa lama Aku tertidur. terdengar ketukan keras di pintu kamar. Astaga sudah jam berapa ini ?. Aku merasakan hembusan nafas ditengkukku. Teringat bahwa sekarang Aku tidur bersama Pangeran. Aku langsung membuka mata dan mendapati Pangeran berada disampingku, memelukku dari belakang.Astaga, kenapa bisa begini. Pangeran bangun karena ketukan semakin keras. Aku hendak beranjak tapi Pangeran menarikku kembali kepelukannya.


"Ada apa" tanya Pangeran setengah mengantuk.


"Maaf Pangeran, Raja memerintahkan agar Pangeran dan Putri Yuki segera keistana"


Pangeran tampak tegang. Dia langsung bangkit dan mengenakan pakaiannya.


"Ada apa ?"


"Kau akan mengerti nanti" ujar Pangeran sambil mengulurkan tangan untuk membantuku turun.


Hari masih sangat malam ketika Kami melaju menuju istana Raja.

__ADS_1


__ADS_2