Morning Dew

Morning Dew
134


__ADS_3

Yuki menghela nafas. Dia hanya harus bersabar menunggu kedatangan Pangeran Riana. Dia pasti akan datang menjemput Yuki.


Pulang...


Yuki tidak percaya Dia bisa memikirkannya. Beberapa waktu lalu Dia merasa Garduete bukanlah tempatnya. Tapi sekarang justru Dia merasa di sanalah tempatnya kembali untuk pulang.


Seharusnya Yuki merasa senang, Pangeran Sera membawanya pergi dari Garduete seperti yang selalu Dia inginkan. Pangeran Sera selalu bersikap baik kepada Yuki, tidak seperti Pangeran Riana. Dan lagi Mereka telah bertunangan. Tapi Yuki merasakan perasaan yang mengganjal di dalam hatinya.


Dia justru merasa seharusnya sekarang Dia bersama Pangeran Riana. Yuki tidak tahu kenapa perasaannya bisa berubah seperti sekarang. Mungkin karena selama ini Dia sudah terbiasa dengan kehadiran Pangeran Riana di dekatnya.


Sehingga kemanapun Yuki melangkahkan kaki, Dia akan kembali ke tempat Pangeran Riana berada. Seperti sebuah rumah, tujuan terakhir untuk pulang. 


Entah seberapa buruknya perlakukan Pangeran Riana pada Yuki. Tapi Pangeran Riana adalah tempat Yuki dapat berlindung dengan aman di dalamnya. Dia sudah terbiasa, terbangun di pagi hari dan mendapati Pangeran Riana tidur di sampingnya. Yuki sudah terbiasa melihat Pangeran Riana di sepanjang waktunya. Jadi rasanya aneh jika sekarang Dia harus berpisah dengan Pangeran Riana.


Atau ini hanya imajinasi Yuki ?.


Dia sebenarnya hanya memikirkan para pengungsi di perbatasan. Tidak mungkin perasaan Yuki berubah begitu cepat pada Pangeran yang dingin dan tidak berperasaan seperti Pangeran Riana.


Terdengar derit pintu di buka. Membuyarkan lamunan Yuki. Pangeran Sera masuk ke dalam ruangan. Dia telah berganti pakaian. Lengan yang terluka akibat gigitan Yuki sudah di perban rapi. 


"Maaf telah membuatmu lama menunggu" ujar Pangeran Sera sembari tersenyum lembut menghampiri Yuki yang terdiam di tempatnya.


"Tidak apa-apa" ujar Yuki dengan nada canggung. Dia binggung harus berbuat apa. Pangeran Sera mengulurkan tangan ke arah Yuki.


"Sudah malam, di luar sangat dingin" 


Yuki menggigil. Dia menyambut uluran tangan Pangeran Sera. Masuk kembali ke dalam kamar yang hangat.


Pangeran Sera menuntun Yuki untuk duduk di kursi yang terletak di tengah ruangan. Jauh dari cendela yang membawa masuk angin dingin ke dalam kamar.


Kemudian Dia sendiri duduk di kursi di seberang Yuki. 

__ADS_1


Para pelayan masuk dan membawakan makanan. Yuki sangat mengantuk dan lapar. Dia belum sempat makan apapun semenjak siang. 


Mereka makan bersama. Pangeran Sera jauh lebih perhatian. Dia membantu Yuki mengupas kerang, para pelayan memandang Yuki diam-diam dengan tatapan iri.


"Jadi bagaimana Yuki" tanya Pangeran Sera sambil menepuk tangan Yuki lembut. Yuki mengerjap. Tersadar dari lamunannya. Dia memandang Pangeran Sera sesaat. Otaknya masih belum berfungsi dengan benar.


"Ya..apa ?" Tanya Yuki kebingungan. Yuki tidak menyimak apa yang di katakan Pangeran Sera barusan. Pikirannya sedang tidak berada di tempat.


"Yuki.." panggil Pangeran Sera dengan nada mengeluh. Matanya terlihat sedih. Membuat Yuki merasa bersalah.


"Maafkan Aku Pangeran Sera" kata Yuki lirih. 


Pangeran Sera tiba-tiba berdiri menghampiri Yuki. Tanpa peringatan Dia langsung menarik tangan Yuki dan mengendong Yuki di dadanya. Yuki terkejut, berusaha menolak. 


"Apa yang Pangeran lakukan" ujar Yuki panik. Pangeran Sera menahan Yuki dengan kuat ketika Yuki mencoba melepaskan diri dari pelukannya. 


Para pelayan menundukkan kepala dengan hormat. Perlahan Mereka meninggalkan kamar tanpa membereskan peralatan. Pintu di tutup dari luar. 


Pangeran Sera membawa Yuki ke atas tempat tidur. Dan membaringkan Yuki di sana. Jantung Yuki berdetak cukup kencang ketika Pangeran Sera berada di atasnya.


Pangeran Sera berada di atas Yuki sedemikian rupa. Jarak Mereka cukup dekat. Yuki bisa merasakan hembusan nafas Pangeran Sera di pipi Yuki.


Matanya menyiratkan hasrat yang besar. Yuki bisa melihatnya dengan jelas. Sirat yang sama, yang beberapa kali terlihat di mata Pangeran Riana, dan berakhir Mereka berdua di atas ranjang.


Pangeran Riana sudah berkali-kali meniduri Yuki. Tapi sampai sekarang Yuki mampu menjaga agar tidak hamil dengan diam-diam menggunakan ramuan pencegah kehamilan, yang di sembunyikan Yuki di laci kamar paling terdalam.


Meski begitu, bukan artinya Yuki bisa dengan mudah tidur bersama Pria. Termasuk Pangeran Sera. 


Kepanikan memenuhi pikiran Yuki. Dia tidak membawa ramuan itu sekarang. Bagaimana jika Pangeran Sera memaksanya. Apa yang harus di lakukan. Tidak akan ada yang bisa menolongnya sekarang.


"Pangeran.." bisik Yuki ketakutan ketika Pangeran Sera mendekatkan wajahnya. Yuki sangat gugup dan panik. Dia mencengkram kuat pakaian di dadanya.

__ADS_1


Di satu sisi, Yuki banyak berhutang budi pada Pangeran Sera. Kebaikan yang di berikan pada Yuki sangat besar. Namun di sisi lain, Yuki tidak siap jika harus bersama dengan Pangeran Sera dalam keadaan yang intim seperti yang diinginkan Pangeran Sera sekarang.


Terjadi pergolakan batin yang begitu hebat dalam diri Yuki. Dia tidak tahu bagaimana mengatakan keinginannya agar tidak melukai Pangeran Sera.


Pangeran Sera merengkuh wajah Yuki dengan kedua tangannya. Dia mencium Yuki begitu mesra. Ciuman yang manis dan hangat milik Pangeran Sera mengaburkan akal sehat Yuki. Yuki berusaha keras agar tetap berpikir jernih dan tidak larut dalam godaan di depannya.


Ketika akhirnya Pangeran Sera melepaskan ciumannya. Dia beringsut berbaring di sisi Yuki. Menarik Yuki mendekat untuk berbaring di atas lengannya. 


Pangeran Sera memejamkan mata.


"Apa yang Pangeran lakukan ?" Tanya Yuki tidak mengerti setelah beberapa saat kemudian. Yuki tidak mungkin salah mengartikan tatapan mata Pangeran Sera sebelumnya. Tapi Pangeran Sera hanya mencium Yuki kemudian berbaring di sampingnya.


"Memelukmu" jawab Pangeran Sera tanpa membuka matanya.


"Me .memelukku" Yuki semakin binggung mendengar jawaban yang di berikan Pangeran Sera.


Pangeran Sera membuka matanya. Menatap Yuki dengan penuh rasa sayang. Dia mengusap pipi Yuki dengan jemarinya. "Jangan takut Yuki..Aku tidak akan menyentuhmu sampai Kau siap untuk melakukannya bersamaku" 


Pangeran Sera tahu isi hati Yuki. Dia tahu Yuki ketakutan dengan pikiran Dia akan menyentuh Yuki.


"Sebagai laki-laki Aku sangat ingin menyentuhmu sekarang. Kau sangat menggoda" Aku Pangeran Sera tenang. "Tapi Aku bisa bersabar sampai Kau bisa menerimaku untuk bersatu denganmu"


"Pangeran.." bisik Yuki terharu. Pangeran Sera sangat baik. Dia mengerti perasaan Yuki dan tidak memaksa Yuki untuk menuruti keinginannya, meskipun Yuki tahu Pangeran Sera bisa melakukannya dengan mudah. Dia selalu mampu mengerti Yuki tanpa Yuki harus mengatakannya. Apa yang tidak bisa Yuki ucapkan, Dia lebih dulu bisa memahaminya. "Terimakasih" Kata Yuki tulus. Dia mengucapkan dari lubuk hatinya yang terdalam.


Pangeran Sera.menarik Yuki mendekat. Dengan lembut mencium dahi Yuki sebagai balasan ucapan terimakasih dari Yuki.


"Kita baru saja melalui situasi yang menegangkan untuk dapat sampai kemari. Sekarang sudah larut malam. Kau pasti sangat lelah. Tidurlah" bisik Pangeran Sera lembut.


Yuki menganggukan kepala. Dia tidak membantah saat Pangeran Sera kembali menariknya lebih dekat. Seolah jarak Nereka yang sekarang belum cukup dekat untuknya. Pangeran Sera memeluk Yuki dengan hangat. Dia begitu proktetif dengan Yuki.  


Perlahan Yuki melihat nafas Pangeran Sera mulai teratur. Dia sudah tertidur.

__ADS_1


 


__ADS_2