Morning Dew

Morning Dew
280


__ADS_3

"Bolehkah ?" Tanya Bangsawan Voldermont sopan pada Pangeran Sera. Tangannya terulur kepada Yuki. Meminta izin untuk mengajak Yuki berdansa.


Pangeran Sera mengangkat tangannya mempersilahkan. Dia mundur dan memilih untuk menyapa beberapa jendral kenalannya.


Yuki berjalan dengan di tuntun Bangsawan Voldermont. Memasuki lantai dansa dan mulai berdansa. Mengikuti irama lembut dan langkah kaki Bangsawan Voldermont.


"Kau semakin mahir berdansa" Kata Bangsawan Voldermont tenang. "Tampaknya kehidupan pernikahanmu baik-baik saja sekarang"


"Segera temukan calon pendamping untukmu, berhentilah untuk mempermainkan perasaan wanita" ujar Yuki sembari menatap Bangsawan Voldermont khawatir.


Bangsawan Voldermont terkekeh. Dia menatap Yuki dengan pandangan dalam. "Aku sudah cukup nyaman dengan hidupku yang sekarang" Akunya tanpa keraguan. "Lagipula, Jika Aku memaksakan diriku menikah, Aku hanya akan membawa sebuah penderitaan yang panjang bagi wanita yang kunikahi nanti. Tidak..Aku tidak akan Melakukannya meski Kau membujukku"


"Apa Kau tidak ingin memiliki anak ?"


"Aku akan merawat anak-anakmu nanti. Jadi Yuki, jika Mereka sudah besar. Ajarilah Mereka untuk berbakti padaku terutama ketika Aku sudah tua dan menjengkelkan" 


Yuki mengernyit ketika mendengar jawaban Bangsawan Voldermont. Dia ingin mengatakan sesuatu untuk membantah. Tapi Bangsawan Voldermont kembali berbicara.


"Siapa yang akan senang, jika tahu suaminya tidak mencintainya dan hanya mencintai wanita lain seumur hidupnya ?"


Bangsawan Voldermont tersenyum lembut. Yuki menghela nafas. Menatap Bangsawan Voldermont dengan raut sedih.


"Kau benar-benar keras kepala" kata Yuki akhirnya.


"Satu lagu lagi" pinta Bangsawan Voldermont ketika musik berakhir. 


 


 


Musik berganti. Yuki mengerjap sesaat mengenali lagu yang di mainkan sekarang.


"Ada apa ?" Tanya Bangsawan Voldertmont saat mengenali ekpresi wajah Yuki.


"Lagu ini diciptakan Lekky untuk istrinya" jawab Yuki jujur.


"Lekky ?" Tanya Bangsawan Voldermont tidak percaya.


"Lekky pintar membuat lagu, beberapa lagunya sering di nyanyikan di berbagai negara"

__ADS_1


"Jadi Lake itu adalah Lekky ?" Tanya Bangsawan Voldermont kemudian. Pencipta lagu terkenal yang misteris bernama Lake ternyata adalah Lekky Darmount. "Aku masih tidak menyangka. Bajingan sepertinya mampu membuat lagu seperti ini. Kalau begitu biar Aku tebak, Lake punya patner dalam membuat lagu empat tahun terakhir ini. Apakah Kau adalah Yue ?"


"Ya...Dia mengajariku membuat lagu. Sebenarnya itu pekerjaan sambilan Kami di waktu senggang" kata Yuki merasa malu.


"Ingatkan Aku nanti untuk mendengarkan lagu-lagumu"


"Lebih baik tidak usah. Isinya sangat membosankan" ujar Yuki cepat.


Mereka berputar dengan serasi. Membuat orang tertarik untuk melihat keduanya. 


 


Musik kedua telah berakhir. Bangsawan Voldermont menerima ajakan seorang Nyonya Bangsawan untuk berdansa. Yuki berpamitan dan meninggalkan lantai dansa. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan Pangeran Sera.


Ketika Yuki menemukannya, Pangeran Sera sedang di kerumuni dua orang Putri yang sangat cantik. Mereka meminta untuk dapat berdansa dengan Pangeran Sera. Namun dengan tegas Pangeran Sera menolak keinginan Putri tersebut.


"Kau sudah selesai ?" Tanya Pangeran Sera ketika menyadari kehadiran Yuki. Dia langsung berjalan menghampiri Yuki. Mengabaikan dua orang Putri yang kini menatap Yuki dengan sorot tidak senang.


Yuki menganggukan kepala.


"Ayo Kita mencari tempat duduk" ajak Pangeran Sera sembari memeluk pinggang Yuki dengan mesra. Yuki tidak membantah. Seorang pelayan mengantarkan Mereka ke meja yang telah di tentukan.


Dari tempatnya, Yuki bisa melihat dengan jelas Pangeran Riana dan Putri Marsha. Yuki memalingkan wajahnya kembali dan bersikap biasa. Memutuskan untuk tidak mengubris Mereka dan berbincang dengan Pangeran Sera atau menikmati pertunjukan lagu yang di bawakan seorang penyanyi di atas panggung.


 


Pangeran Sera menganggukan kepala. Dia sedang berbicara serius dengan seorang Bangsawan yang duduk satu meja. Yuki berdiri. Melewati beberapa orang dengan cepat. Dia merasa lega, untuk sementara jauh dari jangkauan penglihatan Pangeran Riana. Yuki merasa tidak bisa bernafas di bawah tatapan tajam milik Pangeran Riana yang seolah bisa membunuh Yuki dalam sekejap.


Yuki mengambil piring kecil. Musik bernuasa lembut kembali di mainkan. Putri Marsha sedang berdansa dengan Panglima Perang Jaibar, setelah sebelumnya gagal mengajak Pangeran Riana. Sementara itu Bangsawan Voldermont masih bertahan dengan pasangannya.


 


Yuki sedang sibuk memilih kue yang di hidangkan di depannya. Memindahkannya ke dalam piring kecil di depannya. Ketika Dia merasakan bulu kuduknya berdiri. Saat mendongak, Yuki langsung bertatapan dengan Pangeran Riana.


 


Meskipun Pangeran Riana sedang duduk mengobrol dengan lawan bicaranya. Tapi tatapannya tidak melepaskan Yuki. Seperti seekor elang yang mengintai mangsanya. Yuki membeku seketika. Diam mematung. Tidak tahu harus bagaimana.


 

__ADS_1


"Ini cukup enak" 


Yuki terkejut saat Pangeran Sera tau-tau sudah di samping Yuki. Dia meletakkan beberapa kue ke piring Yuki. Sikapnya sangat tenang. 


Apakah Pangeran Sera menyadari situasi di antara Yuki dan Pangeran Riana ?.


"Sudah cukup. Aku tidak mungkin memakan semua ini" ujar Yuki ketika Pangeran Sera meletakan sepotong kue lagi ke atas piring.


Pangeran Sera menuntun Yuki dengan memegang pinggangnya. Membawa Yuki kembali ke mejanya. 


Semua orang bersenang-senang di dalam pesta. Seolah melupakan apa yang akan menanti Mereka di kemudian hari. 


 


 


Waktu berlalu dengan cepat dan semua orang masih berada di dalam pesta. "Aku akan ke kamar mandi sebentar" ujar Yuki pelan kepada Pangeran Sera. 


"Apa mau di antar ?"


"Tidak perlu" Kata Yuki cepat dengan wajah memerah karena malu. Yuki merasa canggung jika Dia harus pergi ke kamar mandi untuk buang air dan Pangeran Sera menunggunya di luar pintu. Pangeran Sera tersenyum memahami Yuki. 


"Aku akan menunggu di sini. Hubungi Aku jika Kau butuh bantuan"


Yuki menganggukan kepala. Dia langsung berjalan keluar ruangan menuju kamar mandi. Tapi kamar mandi yang terdekat penuh dengan orang. Yuki akhirnya berputar lebih jauh menuju bagian tengah gedung. Turun keluar di taman tengah dan berhasil menemukan kamar mandi yang tidak ada orang di dalamnya.


Setelah selesai buang air. Yuki tidak langsung kembali. Dia berdiri sebentar di depan cermin. Memercikan air dari wastafel untuk menjernihkan pikirannya. Rasanya berat untuk kembali ke dalam ruangan, suasana di dalamnya sangat canggung. Pangeran Riana terus melihat ke arah Yuki dengan perasaan tidak senang. Yuki menahan diri untuk tidak meminta pulang, karena menghormati Bangsawan Voldermont sebagai temannya. Dia tidak ingin merusak suasana. 


 


 


Di tengah acara tadi, gelas di tangan Pangeran Riana pecah. Setelah itu Pangeran Riana pergi seorang diri meninggalkan acara dan menolak siapapun mengikutinya. Sementara itu Pangeran Sera sendiri tampak acuh dan tidak mau tahu. Dia sama sekali tidak terganggu dengan situasi yang terjadi.


Tapi semua membuat Yuki merasa tidak nyaman.


Perasaan bersalah terus menghantui Yuki. Apa yang di pikirkan Pangeran Sera, jika Dia tahu Pangeran Riana telah berhasil meniduri Yuki ketika Yuki sudah menjadi istrinya. Lekky melarang Yuki untuk menceritakannya dan meminta Yuki bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. 


Tapi bukankah hal itu tidak baik. Namun jika sampai Pangeran Sera mengetahuinya, Yuki sama sekali tidak siap dengan konsekuensinya. Meskipun Yuki tidak bisa disalahkan. Dia di perkosa. Bukan keinginannya untuk berhubungan intim dengan Pangeran Riana.

__ADS_1


Visual Lekky Darmount



__ADS_2