Morning Dew

Morning Dew
284


__ADS_3

"Merayu ?. Apa Dia akan menyobek bagian belakang bajunya untuk merayu Kakakmu" tanya Pangeran Sera dingin.


"Jadi Kau menuduhku memfitnah istrimu ?" Tanya Panglima Perang Jaibar geram.


"Biarkan Pengadilan kerajaan yang memutuskan. Yang Mulia Raja Bardhana. Aku Sera Madza dari Argueda meminta pengajuan penyelidikan pada pengadilan kerajaan untuk kasus yang menyeret istriku dan Panglima Perang Jaibar" Kata Pangeran Sera tegas.


Panglima Perang Jaibar tampak terkejut  Dia tidak menyangka Pangeran Sera akan meminta pengadilan kerajaan. Jika terbukti bahwa Dia mencoba menyerang Yuki, Dia akan kehilangan nyawanya.


"Silahkan jika Pangeran ingin mengajukan kasus ini ke pengadilan kerajaan dan mengikuti prosedur yang berlaku. Kami akan membantu sebisa mungkin dan tidak akan berpihak dengan siapapun" Kata Raja Bardhana bijak.


"Yang Mulia Raja Bardhana, Aku tidak terima ini. Artinya Kalian menuduhku menyerang istri dari Sera" elak Panglima Perang Jaibar berusaha menghentikan kasusnya tanpa melibatkan pengadilan kerajaan secara resmi.


"Tidak ada yang mengatakan Kau menyerangnya Panglima. Tidak, sampai pengadilan kerajaan dapat membuktikan kebenarannya. Jika Kau memang tidak bersalah, seharusnya Kau tidak perlu merasa takut" balas Bangsawan Voldermont sinis.


"Kakakku mempunyai selera yang tinggi pada wanita. Dia tidak akan sudi menyentuh istrimu. Aku percaya Putri Yuki lah yang telah menggoda Kakakku" bela Putri Marsha lagi dengan lantang.


"Putri Marsha cukup" perintah Raja Bardhana tegas. Menghentikan pertingkaian yang ada.


"Terimakasih" Kata Pangeran Sera dingin.


Pangeran Sera mengangkat Yuki ke dadanya. Menggendongnya dengan sangat hati-hati. Tampak jelas kemarahan yang ada di dalam dirinya. "Minggir" ucap Pangeran Sera pada Putri Marsha yang mencoba menghalangi langkahnya. 


 


 


 


"Aku tidak merayunya juga tidak menggodanya sama sekali. Dia menculikku" bisik Yuki di tengah kesadarannya yang simpang siur saat Mereka sudah jauh dari kerumunan.


Pangeran Sera mempererat pelukannya. Menatap dingin ke depan. "Aku tahu, sekarang diamlah Yuki. Aku akan membawamu kembali ke rumah" kata Pangeran Sera cepat.


 


Pangeran Sera membawa Yuki kembali ke kediaman keluarga Olwrendho. Membaringkan Yuki dengan lembut ke atas tempat tidur dan membiarkan Pendeta Naru untuk memeriksa luka Yuki dan memberikan Yuki resep obat berupa salep. Pangeran Sera sendiri yang mengoleskan salep ke setiap lebam yang ada di tubuh Yuki. Dia melakukannya dengan sabar.


Setelah memastikan Yuki nyaman dan tidak ada luka yang cukup berbahaya. Pangeran Sera menunggu Yuki sampai Dia tidur. Kemudian meninggalkannya dengan penjagaan yang ketat menuju istana kerajaan Garduete untuk mengajukan permohonan persidangan kerajaan. 


Pangeran Sera tidak main-main dengan ucapannya. Dia bahkan menolak dengan dingin tawaran berdamai yang di cetuskan oleh keluarga Panglima Perang Jaibar.


 


 

__ADS_1


Akibat luka yang di terima Yuki, Yuki nyaris tidak dizinkan bangun dan berjalan sendiri turun dari tempat tidur meskipun Dia hanya ingin pergi ke kamar mandi. Pangeran Sera dengan sabar merawat luka Yuki dan akan menggendong Yuki ke kamar mandi jika Yuki butuh buang air. Dia sangat memperhatikan Yuki. Yuki merasa beruntung memiliki seorang suami yang mempercayainya dan begitu baik padanya.


Setiap hari tabib yang di tunjuk oleh Pendeta Naru akan datang dan memeriksa kondisi Yuki.


 


 


Yuki dan Pangeran Sera duduk berdua di dalam kamar. Pangeran Sera mengoleskan salep di lengan Yuki. Beberapa lebam si tubuh Yuki sudah mulai memudar. Dia sudah bisa bergerak lebih banyak dari sebelumnya tanpa rasa sakit yang menganggu pergerakan Yuki.


Curly muncul mendekat ketika Pangeran Sera baru akan mengambil salep di jarinya.


Memandang Yuki dengan mata yang besar, dengan kedua telinga panjang yang terlipat melintang ke depan wajahnya. Sehingga memperlihatkan matanya saja.


Curly menggengam kedua telinganya kuat dengan tangan gemetar. Wajahnya memancarkan ketakutan. Membuat Yuki merasakan firasat yang tidak enak.


"Ada apa ?. Apa terjadi sesuatu dengan Lekky dan yang lainnya ?" Tebak Yuki dengan suara tercekat. 


Curly menggelengkan kepala pelan, namun matanya semakin membesar. Menatap Yuki tanpa berkedip. "Tuan Lekky berada di ruang makan" kata Curly parau. 


"Lalu kenapa Kau sangat ketakutan. Katakan padaku tanpa berbasa-basi. Ada apa ?"


"Lekky dan Aku tiba di sekolah. Lalu Dia mendengar masalahmu dengan Panglima Perang Jaibar. Jadi sekarang Dia mencari Panglima Perang Jaibar untuk membunuhnya"


"Tuan Lekky sendiri mempunyai kemampuan membaca pikiran. Dia mendengarkan semua dari pikiran orang lain. Kenapa Kau malah menyalahkanku" kilah Curly mengelak tuduhan Yuki. 


Yuki tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Curly. Dia memaksakan diri menggerakan badannya untuk turun dari tempat tidur. Tampak panik.


"Pangeran, Aku harus menemukan Lekky sekarang" pinta Yuki ketika Pangeran Sera akan mencegah Yuki turun dari tempat tidur. Sesuatu di wajah Yuki akhirnya membuat Pangeran Sera mundur dan membiarkan Yuki. 


Yuki tidak mau menunda waktu. Dia langsung menyambar sepatunya dan memakainya secepat kilat. Mengabaikan rasa sakit dan luka-luka di tubuhnya. Yuki berlari keluar kamar untuk mencari Lekky.


 


 


Pangeran Sera di samping Yuki. Membantu Yuki jika Dia mulai goyah untuk kembali menyeimbangkan tubuhnya. Karena memang kondisi tubuh Yuki yang belum pulih benar. 


"Apa Kau bisa menjelaskan padaku situasinya ?" Tanya Pangeran Sera akhirnya dengan wajah penasaran sambil terus menyeimbangkan langkahnya di samping Yuki.


"Ekpresi wajah Curly tadi memjelaskan betapa marahnya Lekky sekarang. Aku takut Lekky akan nekat dan membahayakan dirinya serta orang di sekitarnya" jelas Yuki tertahan karena telah mendengar teriakan disertai pecahan kaca dari ruang makan.


Yuki tersentak. Dia seperti membantu dan tidak mampu melangkah. Kekacauan dari ruang makan terdengar sampai di tempat Yuki berada. 

__ADS_1


Seperti tersadar, Yuki kembali mempercepat langkahnya untuk menemui Lekky.


 


 


Ketika Yuki sampai dan mencoba masuk ke dalam ruang makan. Dia nyaris kesulitan karena banyaknya orang yang menyeruak keluar ruangan untuk menyelamatkan dirinya. Semua orang tampak ketakutan.


Pangeran Riana bersama teman-temannya dan beberapa prajurit kerajaan berdiri dengan sikap siaga. Sementara itu di lantai yang ada di tengah ruangan, lebih dari sepuluh mayat dari prajurit Panglima Perang Jaibar tergeletak berlumuran darah segar. 


Warna merah di mana-mana.


Panglima Perang Jaibar menatap Lekky ketakutan. Sedangkan Lekky berdiri dengan tenang, menatap lurus ke arahnya dengan wajah datar tanpa ekpresi.


Yuki langsung menghampiri Lekky, mencoba untuk membujuknya. Di sampingnya sudah ada Varmount yang sembari tadi sudah berupaya menghentikan Lekky, namun gagal.


"Lekky, lihat Aku. Hentikan semua ini. Kau tidak perlu bertindak seperti ini. Aku baik-baik saja" bujuk Yuki sambil menggoyangkan lengan Lekky untuk menarik perhatian Lekky.


"Hey Lekky, Lihat Yuki ada di sini. Jadi bagaimana kalau Kau tenang dan Kita bisa membicarakan masalah ini dengan kepala dingin" ujar Varmount membantu Yuki.


"Lekky, Aku mohon hentikan..Aku.." Yuki langsung menghentikan ucapannya ketika Lekky berpaling menatapnya. Mata Mereka bertemu. Bola mata Lekky berwarna merah terang. Dia tampak dingin dan berbahaya. Membuat Yuki tertegun. Tanpa sadar Yuki melepaskan kedua tangannya secara perlahan dari lengan Lekky.


Pangeran Sera langsung menarik Yuki untuk mundur. Dia tampak sangat tegang seperti semua orang yang ada di dalam ruangan. 


Tidak ada yang berani bergerak atau mengatakan sesuatu. Hanya diam menunggu dengan perasaan cemas, apa yang akan di lakukan Lekky selanjutnya.


visual Sera Madza



 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2