Morning Dew

Morning Dew
46


__ADS_3

"Mamamu benar Yuki, Kau tidak boleh menaikinya" ujar Perdana Menteri Olwrendho sembari meremas lembut bahu Yuki. Ketika Yuki ingin membantah, Dia buru-buru mengatakan dengan nada tegas khas seorang Ayah yang sedang memberi nasehat kepada Putrinya. "Jangan khawatir, Kami akan selalu bersamamu, dengarkan kata hatimu, Kau akan menemukan Kami di sana" 


Yuki tidak mampu mengatakan apapun, Dia hanya memandang kedua orang tuanya dengan sedih. Putri Ransah berpandangan sebentar dengan Perdana Menteri Olwrendho, kemudian Dia mendekati Yuki dan kembali memeluknya lembut.


"Jadilah gadis baik" tegur Putri Ransah berusaha menguatkan hati Yuki. "Kami sangat menyayangimu, hiduplah dengan baik dan penuhi takdirmu" Dia mengecup kening Yuki. Kemudian mundur, Perdana Menteri Olwrendho segera mengantikan tempatnya.


"Waktumu masih panjang Yuki" 


Perdana Menteri Olwrendho mendorong Yuki menjauhi perahu. Yuki mundur beberapa langkah. Terpaku menatap kedua orang tuanya.


Perlahan, Perahu bergerak menjauhi tepi sungai tempat Yuki berdiri diam.


Makin lama sosok kedua orang tuanya menghilang di telan kabut.


Sedetik kemudian, sungai di depan Yuki menghilang. 


!


Yuki merasakan perasaan dejavu seperti ketika Dia bermimpi berada di tengah padang rumput yang luas. Sunyi, tidak ada siapapun dan apapun. Terakhir Dia bermimpi seperti itu, besoknya Dia di jemput paksa ke dunia ini.


Jadi, Apa sekarang Dia malah akan kembali ke dunianya ?. 


Yuki sangat berharap hal itu dapat terjadi.


"Yuki..."


Seseorang memanggilnya dengan cemas. Pemandangan di depan Yuki kembali berubah dengan cepat. Kini Dia merasa terombang-ambing dalam kegelapan tanpa dasar.


Membingungkan. Yuki berjalan ke sana kemari seperti anak ayam kehilangan induknya. Kesadarannya hilang timbul. "Yuki bangunlah"


Seseorang terus menepuk wajahnya. 


Perlahan, Yuki menemukan pegangannya. Dia merangkak keluar dari kegelapan. 


"Yuki !!'

__ADS_1


Yuki membuka mata, mendapati Pangeran Riana di depannya. Air mata berlinang membasahi wajah Yuki. Dia buru-buru bangun dan melihat sekeliling. Ternyata Dia berada di kamar tidur Pangeran Riana. 


Yuki memeluk dirinya. Dia merasakan dingin yang seolah menggerogoti hingga sumsum tulang. "Ayah.." bisik Yuki kelu.


Pangeran Riana menarik Yuki mendekatinya, memeluk Yuki di dada dengan sikap melindungi. Yuki menangis. 


"Aku akan menyelidiki masalah ini, Kau tenanglah" janji Pangeran Riana tulus.


Yuki tidak mengatakan apapun. Dia masih menangis meratapi kehilangannya. Perasaannya hancur.


Pangeran mengulurkan tangannya untuk mengambil gelas air yang di letakan di samping meja. Serfa sendiri yang mengantarkannya setelah memberinya mantera dan doa pada air di dalamnya. Yuki hanya perlu minum air itu jika Dia histeris agar Dia bisa tenang.


"Minumlah ini agar perasaanmu tenang" ujar Pangeran Riana sembari menyodorkan gelas di tangannya.


Yuki langsung menepis dengan marah. Dia sangat marah dan juga sedih dalam waktu yang bersamaan. Emosinya membuncah tidak terkendali. 


"Tidak !" Tolak Yuki memalingkan wajahnya.


"Jika tidak minum, Kau tidak akan bisa tidur tenang" bujuk Pangeran Riana lagi. Dia kembali menyodorkan gelas di tangannya tapi lagi-lagi Yuki langsung menolak. Alih-alih mengambil gelas yang di sodorkan Pangeran Riana, Yuki malah mencengkram kerah baju Pangeran Riana dengan kuat. 


Pangeran Riana sudah siap dengan kondisi mental Yuki yang kacau. Dia meletakan kembali gelasnya dengan tenang. Tidak terpengaruh dengan emosi yang di luapkan Yuki.


"Tenang"


"Jangan mengujiku lagi, pulangkan Aku sekarang juga" 


Yuki mendorong kan tubuhnya ke arah depan sehingga membuat Pangeran Riana berbaring di atas tempat tidur. Dia kini berada di atas Pangeran Riana dengan tangan mencengkram kuat pakaian Pangeran sampai buku-buku jarinya terasa sakit. Air matanya kembali jatuh membasahi pipi, menetes ke wajah Pangeran Riana di bawahnya. 


"Aku tidak akan memulangkan mu, di sinilah tempatmu seharusnya berada. Bersamaku. Kau harus pahami itu"


"Brengsek Kau" teriak Yuki marah. Dia memberontak dan memukul dada Pangeran Riana bertubi-tubi. Pangeran Riana dengan tenang meredam penolakan Yuki. Dia memeluk Yuki erat. 


Tiba-tiba saja Yuki merasakan kantuk yang luar biasa. Tenaganya seolah menguap entah kemana. Yuki langsung ambruk di dada Pangeran Riana tanpa peringatan. Dia merasa lemas.


Rasa kantuk menghantam dengan cepat, Yuki bahkan nyaris tidak mampu membuka matanya.

__ADS_1


"Apa...apa yang Kau lakukan padaku ?" Bisik Yuki lemah.


"Tidurlah, semua akan baik-baik saja"


Yuki ingin membuka mata tapi justru Ia semakin menutupkan matanya. Dia ingin memastikan bahwa Dia tidak salah dengar. Pangeran Riana bicara begitu lembut. Terdengar detak jantung Pangeran Riana di telinga Yuki, ketika Pangeran Riana menyandarkan dirinya di tempat tidur untuk menompang Yuki. Aroma tubuh Pangeran Riana membuatnya merasa nyaman, Dia tidak sendirian. Ada Pangeran Riana bersamanya.


Yuki menghela nafas dan akhirnya tertidur lelap.


Pangeran Riana dengan tenang terus bersandar. Tangannya membelai rambut Yuki. Dia memicingkan mata menatap lurus ke depan.


Ada sesuatu di pikirannya yang terus berputar. Dia memikirkan semua mayat penjaga Perdana Menteri Olwrendho yang di temukan. Ada yang tidak biasa di sana. Jumlah mayat itu terlalu banyak dari yang seharusnya.


Dua minggu berlalu dengan cepat semenjak kematian Perdana Menteri Olwrendho. Sampai sekarang, penyelidikan tentang kematiannya masih berlanjut. Belum ada titik terang mengenai apa yang terjadi.


Kasus ini di selidiki oleh Pangeran Riana sendiri dengan cukup hati-hati. Tidak ada yang berani berkomentar, semua orang takut salah berspekulasi.


Pangeran Riana sudah menemui saksi-saksi di tempat Perdana Menteri Olwrendho menginap. 


Dari keterangan para saksi didapat fakta yang justru semakin membuat kasus tidak jelas arah tujuannya. Para saksi mata mengatakan hal yang sama. Perdana Menteri Olwrendho mendapatkan kunjungan dari seorang tamu yang sangat misterius pada larut malam. 


Tamu itu memakai jubah berwarna hitam, dan mengenakan tudung sehingga tidak ada yang mengetahui apakah Dia perempuan atau laki-laki. Tapi dari gerak-gerik Perdana Menteri Olwrendho, Dia cukup mengenal dengan baik tamunya dan orang itu tidak berbahaya bagi Perdana Menteri Olwrendho.


Perdana Menteri Olwrendho bahkan meminta pelayan untuk menyiapkan jamuan makan malam untuknya.


Namun, tidak berapa lama setelah menerima tamu tersebut, Perdana Menteri menjadi marah bahkan mengusir tamu itu dengan keras. Wajah Perdana Menteri Olwrendho pucat, Dia terlihat cemas dan ketakutan.


Dia langsung memerintahkan pasukannya untuk bersiap kembali menuju istana, hal yang tidak biasa dilakukan Perdana Menteri Olwrendho di tengah tuntutan tugasnya sebagai Perdana Menteri yang sedang menjalankan tugas negara.


"Jika Putriku sampai jatuh ke tangan orang itu, Dunia akan berada dalam bahaya. Aku harus mencegahnya, Kerajaan akan memaklumi kepulangan ku ini" ujar Perdana Menteri Olwrendho ketika Dia berpamitan kepada pemilik penginapan yang sudah lama di kenalnya. 


Tidak banyak yang di sampaikan Perdana Menteri Olwrendho. Namun, Dia sempat mengirim.pesan kepada pelayan kepala rumah tangga di rumah, untuk menyampaikan permohonan kepada Raja Bardana agar bersedia menjaga Yuki seperti ketika Raja Bardana menjaga Putri Ransah, jika sampai terjadi sesuatu pada diri Perdana Menteri Olwrendho di sepanjang jalan.


Tidak ada yang tahu bahaya apa yang di maksud Perdana Menteri Olwrendho. Tapi kerajaan merespon dengan cepat peringatan Perdana Menteri Olwrendho. Pangeran Riana menambahkan penjagaan untuk Yuki. Dia sendiri yang memilih orang-orang yang bertugas menjaga Yuki.


 

__ADS_1


 


__ADS_2