
"Memang bukan" jawab Pangeran Riana lagi dengan acuh. Mereka saling bertatapan dalam emosi. Pangeran Riana kembali menarik Yuki untuk mendekati Dia. Tapi Yuki menolak dan mencoba untuk memberontak melepaskan dirinya. Akibatnya, Dia justru terduduk di sofa yang ada di dekat Mereka.
Pangeran Riana langsung mengurung wajah Yuki dengan kedua tangannya. Sebuah ciuman yang panjang dan menuntut di rasa di bibir Yuki. Yuki terus berusaha menjauhkan dirinya tanpa menimbulkan kegaduhan. Dia tidak bisa berbuat banyak, jika Dia semakin kuat melawan, suaranya akan membuat para penjaga curiga dan masuk ke dalam kamar. Yuki tidak ingin ditemukan dalam kondisi sekarang bersama Pangeran Riana.
"Lepaskan..." Bisik Yuki di telinga Pangeran Riana ketika Pangeran Riana menciumi wajah dan leher Yuki dengan rakus. Tali pakaian Yuki sudah turun di bahu.
Pangeran Riana tidak mengabulkan keinginan Yuki. Bahkan Dia semakin berani menjamah tubuh Yuki. Merebahkan Yuki di atas sofa dan mulai memposisikan dirinya.
Dia menggigit daun telinga Yuki saat tubuh bagian sensitifnya di benamkan ke dalam tubuh Yuki. Kehangatannya membuatnya hilang kendali. Dia ingin lebih merasakan tubuh Yuki.
Yuki menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan. Mencoba fokus untuk menahan suaranya yang keluar akibat gesekan otot yang terjadi. Pangeran Riana mulai bergerak di dalam tubuhnya. Mengaduk-aduknya sedemikian rupa sehingga Dia tidak berdaya.
Pangeran Riana memakai kembali pakaiannya. Duduk dengan tenang di pinggir tempat tidur sementara Yuki berbaring di sampingnya. Setelah membenahi pakaiannya. Dia membungkuk, wajahnya mendekati telinga Yuki. "Kau tidak akan bisa lolos dariku. Sampai tujuanku tercapai, Kau tidak akan pernah bisa menghindar dariku" bisik Pangeran Riana dengan nada puas.
Yuki memalingkan wajah sambil mengatupkan rahangnya rapat. Tidak mau meladeni ucapan Pangeran Riana.
Dia kemudian bangkit dan keluar dari kamar melalui jendela yang terbuka.
Lekky sangat marah saat Dia pulang dan mengetahui apa yang terjadi dari kemampuannya membaca pikiran. Yuki tidak bisa menyembunyikannya dari Lekky, Dia tidak bisa mengendalikan pikirannya agar tidak di ketahui Lekky.
Namun untungnya, Yuki dapat membujuk Lekky agar tenang dan tidak terpengaruh dengan masalahnya. Yuki tidak ingin Lekky bersikap nekat dan menyerang Pangeran Riana. Berkali-kali Dia mengingatkan Lekky pada janjinya, untuk tidak membuat masalah dengan Pangeran Riana maupun Pangeran Riana apapun yang terjadi.
Tapi meskipun Lekky menyanggupinya, Dia bersikap sangat menjengkelkan dengan terus menerus memancing kemarahan Pangeran Riana.
Seperti ketika sehabis rapat antar negara, Yuki mendengar terjadi keributan di antara Pangeran Riana dengan Lekky. Pangeran Riana yang biasanya bersikap tenang, berjalan meninggalkan kursinya dan langsung mendekati Lekky. Kemudian terjadi perkelahian yang pada akhirnya dapat segera di pisahkan.
Yuki duduk di dekat Lekky yang sedang sibuk melakukan olahraga ketika Bangsawan Voldermont muncul bersama teman-temannya. Dia tersenyum senang ketika melihat kehadiran Yuki.
"Kalian di sini rupanya" seru Bangsawan Voldermont riang.
__ADS_1
"Ada apa ?" Tanya Yuki penasaran dengan antusias dari Bangsawan Voldermont yang meledak-ledak.
"Hari ini Aku akan mabuk untuk merayakan kesembuhanku. Kalian ikutlah bergabung"
"Aku tidak mau jika Mereka ikut bergabung" sahut Putri Marsha sambil melotot tajam ke arah Yuki.
"Kau bisa pulang, Aku tidak memaksamu untuk ikut" ujar Bangsawan Voldermont acuh. Membuat Putri Marsha sangat kesal.
"Malam ini ayo Kita berpesta" seru Bangsawan Voldermont mengabaikan Putri Marsha sambil menggoyangkan dua buah kantung di depan Yuki penuh semangat. Berisi anggur dengan kualitas terbaik yang di curinya dari istana Ibu Suri Agung.
"Ide bagus. Aku memang butuh beberapa tetes anggur untuk menyegarkan telingaku karena seseorang terus menceramahiku hari ini" ujar Lekky menyindir Yuki.
Tanpa di komando. Lekky dan Bangsawan Voldermont menarik sebuah meja kayu bulat ke tengah ruangan. Yuki menerima sebuah kursi yang di berikan Bangsawan Asry. Anggur-anggur di letakan di atas meja. Para pelayan masuk dengan membawa berbagai peganan yang cukup menggoda.
Mereka semua duduk mengelilingi meja bulat. Yuki duduk dengan di ampit oleh Lekky dan Bangsawan Voldermont.
"Aku tidak minum" ujar Yuki saat seorang pelayan akan menuangkan anggur di gelasnya. Dia menarik gelasnya dan menolak di isi anggur.
Lekky yang duduk di sampingnya telah meneguk habis anggurnya dan meminta pelayan untuk kembali menuangkan anggur untuknya.
"Memang anggur di istana Ibu Suri Agung adalah yang terbaik" ujar Bangsawan Voldermont puas.
Permainan lima jari adalah permainan dengan menurunkan jarinya jika di rasa pertanyaan yang di berikan oleh penanya adalah kebenaran. Barang siapa yang semua jarinya lebih dulu turun maka Dia harus meminum satu botol anggur sebagai hukuman.
"Aku tidak ikut"
"Tidak bisa !!" Jawab Bangsawan Asry, Bangsawan Voldermont dan Lekky secara serempak saat Yuki menyuarakan penolakannya.
Yuki memandang sekeliling dengan pandangan kebingungan.
Bangsawan Voldermont mengambil sebuah botol yang telah kosong. Membaringkannya di tengah meja. "Kita undi siapa yang lebih dulu bertanya dengan memutar botol"
Tidak ada yang membantah. Semua setuju.
Botol mulai di putar. Terdengar gesekkan yang awalnya cukup kencang, kemudian perlahan melambat mengikuti pergerakan botol di atas meja.
Tutup botol itu tepat mengarah kepada Bangsawan Asry.
"Siapa yang sudah menikah ?" Tanya Bangsawan Asry cepat.
Semua orang yang sudah pernah menikah langsung menurunkan jarinya.
__ADS_1
"Pertanyaaan macam apa itu ?" Protes Bangsawan Xasfir muram karena Dia juga orang yang harus menurunkan jarinya.
"Aku yang bertanya kenapa Kau yang senewen"
Botol kembali di putar.
Kali ini berhenti di depan Bangsawan Xasfir. "Oke...sekarang Aku yang akan bertanya" kata Bangsawan Xasfir sambil berpikir. Mungkin sedang mencari pertanyaan yang membuat Bangsawan Asry kalah.
"Siapa yang tiga tahun ini tidak memiliki hubungan khusus dengan lawan jenisnya ?"
Yuki menurunkan tangannya. Bangsawan Xasfir langsung terkejut. Dia melihat ke arah Lekky dan Yuki bergantian. Namun Lekky tidak memberi respon penolakan atas jawaban Yuki.
Yuki memang tidak pernah memiliki hubungan khusus dengan laki-laki lain selama Dia bersama Lekky.
Bangsawan Asry ganti mengatupkan rahang muram. Dia terpaksa menurunkan jarinya. Memang di antara teman-temannya yang lain, Bangsawan Asry cenderung jarang berminat dengan hubungan percintaan dan lawan jenis. Dia lebih menyukai pekerjaan.
Botol kembali berputar dan mengarah ke Bangsawan Asry lagi.
"Siapa yang senang mempermainkan perasaan orang lain ?"
"Apa tidak ada pertanyaan lain yang bisa Kau tanyakan ?" Tanya Bangsawan Voldermont ganti tidak setuju.
Dia menurunkan satu jarinya.
Yuki menarik tangan Lekky dan dengan penuh semangat menurunkan satu jari Lekky. Lekky diam dan memandang Yuki penuh arti.
"Apa ?" Tanya Yuki ketika menyadari tatapan Lekky padanya.
"Kau tidak menurunkan jarimu ?" Tanya Lekky tenang.
"Aku...untuk Apa ?" Tanya Yuki kebingungan.
"Bukankah dalam hal mempermainkan perasaan orang, kau adalah ahlinya"
"Apa maksudmu ?" Ujar Yuki dengan kening berkerut. "Memang siapa yang kupermainkan ?"
"Kau masih menyangkal ?. Baik. Coba Aku hitungkan dulu untukmu. Barangkali Kau lupa"
Lekky menatap Yuki dengan sorot senang. Dia mulai menurunkan jari-jarinya sembari menghitung dalam hati. Jarinya turun satu persatu mengikuti hitungannya. Sampai di hitungan ke delapan, Yuki langsung menyambar nampan kosong yang di bawa seorang pelayan di dekatnya, yang baru saja meletakan peganan di meja. Tanpa keraguan Dia langsung memukul kepala Lekky dengan nampan tersebut.
__ADS_1