
Pelayan Tua terkejut. Tidak menyangka Dia akan di bentak oleh Yuki di depan pelayan lain yang statusnya jauh di bawahnya.
"Saya tidak terima. Saya akan melaporkan masalah ini pada Ibu Suri" kata Pelayan Tua itu mengancam.
Yuki menghela nafas. Dia sudah cukup banyak tekanan, kesabarannya sudah habis. Jadi Dia kemudian berkata dengan tenang namun tegas kepada Pelayan Tua yang sedang berakting seperti korban kejahatan. "Anda sudah tahu di mana pintu keluar kan ?. Jadi silahkan pergi dan adukan masalahmu. Aku tidak melarang"
Pelayan Tua itu terkejut. Dia menahan kesal. Memberi hormat kepada Putri Yuki dan langsung meninggalkan ruangan. Semua pelayan tampak lega ketika melihatnya keluar.
Yuki duduk di kursi, mencoba mengendalikan diri sejenak.
"Kenapa Dia di penjara ?" Tanya Yuki ketika Dia jauh lebih tenang.
Para pelayan saling berpandangan sejenak. Kemudian salah satu dari Mereka dengan takut-takut menjawab "Kerajaan menganggap Rena telah lalai dalam tugas, sehingga Putri dapat kabur dari istana dan Kembali ke dunia asal"
Yuki menarik nafas mendengar penjelasan pelayan. Dia merasa bersalah karena Rena di hukum atas perbuatan Yuki sendiri.
"Beberapa pelayan dan penjaga yang bertugas di kamar Putri saat itu juga di penjara atas tuduhan yang sama"
"Siapa yang memenjarakan Mereka ?" Tanya Yuki dengan suara tercekat.
Para pelayan saling berpandangan dengan wajah ketakutan. Kemudian Mereka menjawab secara bersamaan. "Pa..Pangeran Riana, Putri"
Yuki sudah menduga. Pasti Pangeran Rianaakan melampiaskan pada orang-orang terdekatnya. Tapi Dia tidak menyangka, Pangeran Riana akan bertindak sejauh ini.
__ADS_1
"Sudah berapa lama Mereka di penjara ?" Tanya Yuki akhirnya.
"Sudah satu tahun lebih Putri. Tepatnya Empat belas bulan. Mereka langsung di penjara begitu ada laporan bahwa Putri berhasil melarikan diri ke dunia lain masuk ke dalam istana"
Empat belas bulan. Yuki tahu sekali bagaimana suasana di penjara istana. Dia pernah ke sana untuk menemui Bangsawan Dalto. Perasaan bersalah mengelayuti Yuki. Dia selama ini hanya mementingkan diri sendiri. Sehingga mengabaikan orang sekitarnya yang akhirnya terkena dampak dari tindakannya.
Dia hanya sibuk meratapi kemalangannya. Tapi tidak melihat orang lain ikut menderita karena ulahnya. Yuki sangat menyesal karenanya.
"Aku akan mandi, tidak usah di lakukan perawatan dan semacamnya. Biarkan Aku sendiri" perintah Yuki lagi. Tanpa menunggu jawaban dari para pelayan, Dia berjalan dengan gotai menuju kamar mandi. Melepaskan selimut yang melilit tubuhnya dan langsung berendam di dalam bak untuk menjernihkan pikirannya.
Yuki selesai mandi dan mencuci rambut. Dia membiarkan pelayan membantunya mengeringkan rambutnya. Rambut Yuki sudah panjang mencapai punggung. Yuki sengaja tidak memotongnya setelah terakhir Dia terpaksa mengunting rambutnya, setelah rambutnya di tebas oleh Bangsawan Dalto di pemakaman Putri Norah.
Setelah selesai berpakaian dan berdandan. Yuki langsung menuju ke Istana Raja untuk menemui Ibu Suri yang telah menunggu.
Pangeran Riana juga sedang berada di istana Raja. Dia sedang membahas masalah penobatan calon ratu bersama Raja Bardana. Yuki masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Pangeran Riana, jika Dia akan melakukan penobatan calon ratu lalu untuk apa membawa Yuki kembali. Bukankah Dia memiliki kewajiban untuk membuat calon ratu jatuh cinta padanya dengan tulus. Tapi Dia malah membawa wanita lain masuk ke istananya dan meniduri wanita itu.
Wanita bodoh mana yang mau menikah dengan laki-laki hidung belang seperti Pangeran Riana. Dia bahkan jauh lebih kejam daripada Bangsawan Voldermont.
Yuki telah tiba di istana kecil tempat Ibu Suri tinggal untuk menghabiskan masa tuanya. Di istana tersebut, rata-rata setengah penghuninya adalah pelayan Tua yang telah lama melayani Ibu Suri, bahkan sebelum Ibu Suri menikah. Mereka adalah orang pilihan yang memiliki kesetiaan tinggi.
Yuki paham, untuk mendapatkan posisi Mereka yang sekarang tidaklah mudah. Mereka pasti banyak menempuh bahaya selama melayani tuannya. Para pelayan yang mengiringi Yuki tampak sangat menghormati Pelayan senior Mereka.
Yuki sampai di depan pintu kamar Ibu Suri. Dia melihat Pelayan Tua yang di marahinya berada di jajaran pelayan Tua. Wajah liciknya terlihat jelas, Dia telah mengadu kepada Ibu Suri.
__ADS_1
Seorang pelayan tua lain muncul, Dia adalah Ibu Jaena. Pelayan Pribadi yang telah melayani Ibu Suri sejak remaja. Semua pelayan tampak sangat hormat pada Jaena.
Jaena tidak menakutkan. Justru Dia sangat baik dan lembut. Namun sangat di segani oleh rekan kerjanya.
"Silahkan Putri, Ibu Suri sudah menunggu" kata Ibu Jaena memberikan jalan kepada Yuki untuk masuk ke dalam kamar. Yuki menganggukan kepala lirih. Dia tahu, Ibu Suri akan memarahinya karena berani menegur pelayan utusannya.
Tapi Pelayan Tua yang di tugaskan Ibu Suri memang sangat menjengkelkan.
Yuki hanya sendiri masuk ke dalam. Tercium aroma kayu manis di dalam kamar ketika Yuki memasuki ruangan. Ruangan ini tampak sangat berwarna. Khas seperti kamar wanita tua jaman dulu. Berbagai benda seni dan kerajinan tangan di pajang dengan rapi di rak kayu besar. Ibu Suri menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membuat kerajinan tangan di dalam ruangan, jika Dia tidak harus keluar untuk menyelesaikan pekerjaannya mengantikan posisi Ratu. Dengan hormat Yuki beringsut maju dan membungkuk untuk memberi hormat.
Yuki duduk seperti seorang pesakitan yang akan mendengarkan vonis. Seorang wanita tua duduk di dekatnya, menuangkan segelas teh hangat ke depan Yuki.
Seorang wanita tua berusia sekitar tujuh puluh tahun, memakai pakaian kebesaran kerajaan, duduk dengan tenang di depan Yuki. Tatapan matanya tajam. Meski terlihat tua, tapi Yuki merasakan aura intimidasi yang begitu kuat di pancarkan Wanita di depannya. Sekilas, Yuki merasakan ada sedikit bagian dari Pangeran Riana pada wanita itu.
"Ibu Suri silahkan" Ibu Jaena menyuguhkan segelas teh kepada Ibu Suri. Dia kemudian duduk dengan tenang di antara Yuki dan Ibu Suri. Telapak tangan Yuki basah oleh keringat, saking gugupnya Dia saat ini. Yuki terus menundukan pandangan tidak berani menatap Ibu Suri secara langsung.
Ibu Suri mengaduk teh di depannya. Tangannya sudah keriput di makan usia. Memperhatikan Yuki dengan seksama.
Ibu Suri sudah cukup banyak melihat gadis cantik seumur hidupnya. Tapi hanya Dua gadis yang berkesan seumur hidupnya. Yang pertama adalah Putri Ransah. Dan yang kedua adalah gadis di depannya.
Seperti Ibunya, Yuki memiliki kecantikan unik yang berbeda dengan gadis lain. Voldermont pernah menggambarkan Yuki seperti seekor kucing kecil dan lemah. Tapi seekor kucing juga mampu menundukan hati orang yang tidak menyukainya. Penilaian Voldermont ada benarnya.
Ibu Suri melihat kepolosan dan kelembutan hati pada diri Yuki. Tapi Dia juga melihat ketidakpatuhan pada gadis itu. Yuki adalah gadis yang berbahaya. Dia tidak perlu menjadi penggoda untuk menarik perhatian laki-laki manapun. Sifat dan daya tariknya seperti medan magnet itu sendiri. Yang menarik perhatian orang kepadanya tanpa di sadari Yuki.
__ADS_1
Tak heran Pangeran Sera dari Argueda bersikeras untuk tidak membatalkan pertunangan meski Dia tahu Yuki telah tidur bersama Pangeran Riana.