
Yuki baru saja selesai menjemur pakaian di halaman belakang asrama gedung Kuldhi. Ketika Dia akan kembali ke dalam kamar dan meneruskan pekerjaannya, Dia melihat Pangeran Sera bersandar tenang di batang pohon yang tumbuh di halaman belakang. Matanya terpejam. Dia sedang tidur.
Kenapa Dia ada di sini ?.
Yuki melihat ke sekeliling dan Dia tidak menemukan siapapun di sekitarnya. Untuk memastikannya, Yuki berbisik lirih pada Curly yang sedang tidak menampakan sosoknya. Namun Dia berada di dekat Yuki.
"Curly, apakah ?" Tanya Yuki perlahan.
"Tidak ada orang lain di sekitar Kita dan Dia benar-benar tertidur" kata Curly menjawab pertanyaan dalam pikiran Yuki.
Setelah mendapatkan kepastian dari Curly. Yuki memberanikan diri untuk berjalan mendekati Pangeran Sera. Dia berjalan dengan hati-hati agar tidak membangunkan Pangeran Sera.
Selama berada di Garduete Yuki hanya berani menatap Pangeran Sera dari kejauhan. Dia selalu menghindari pertemuan dengan Pangeran Sera secara langsung. Yuki terlalu pengecut untuk menghadapi Pangeran Sera dengan apa yang telah di lakukan Yuki selama ini pada Pangeran Sera. Dia masih belum berani menemui Pangeran Sera meskipun Yuki telah menyamar seperti sekarang.
Penyamaran yang Yuki lakukan tidak akan bisa membohongi Pangeran Sera. Dia tahu itu. Pangeran Sera cukup mengenal Yuki lebih dari Yuki mengenal dirinya sendiri. Sangat tidak mungkin Yuki bisa mengelabui Pangeran Sera begitu saja.
Ketika jarak Mereka hanya tinggal satu langkah. Yuki berhenti dan menatap Pangeran Sera dengan sedih. Terlihat jelas beban berat yang di tanggung Pangeran Sera dari raut wajahnya. Yuki merasa sangat bersalah karenanya.
Pangeran Sera selama ini bertahan menghadapi tekanan yang di berikan padanya. Dan semua tekanan itu karena Yuki. Karena Dia belum menampakan dirinya di Garduete.
Yuki memberanikan diri untuk menjulurkan tangannya dan menyibakkan rambut yang menutupi wajah Pangeran Sera.
Padahal Yuki berharap Pangeran Sera dapat hidup jauh lebih baik dan melupakan Yuki ketika Yuki memutuskan untuk meninggalkannya. Tapi Pangeran Sera justru memilih untuk menghentikan Waktu dan tetap setia menunggu Yuki hingga Yuki kembali.
Pangeran Sera tetap menunggu Yuki dengan sabar. Tanpa lelah, tidak pernah berpaling ataupun menyerah.
"Sebenarnya cinta seperti apa yang Pangeran punya. Terbuat dari apakah dirimu ini ?"
Yuki terus menatap Pangeran Sera sembari terus bertanya dalam hati.
Melihat Pangeran Sera sekarang, membuat Yuki mendapatkan sebuah ide untuk membantu mengurangi beban Pangeran Sera. Dia tidak perlu membongkar penyamarannya dan muncul di depan semua orang yang menantinya sekarang, agar semua orang tahu bahwa Dia telah datang di Garduete untuk menjawab Panggilan Pendeta Suci.
__ADS_1
Yuki cukup muncul di suatu tempat, di Ibukota. Di mana ada orang yang masih mengenalinya. Dengan begitu Mereka akan mengetahui bahwa sebenarnya Yuki sudah berada di dalam Ibukota Garduete. Namun Dia memang belum masuk ke istana untuk melapor secara resmi.
Jadi yang pertama Dia lakukan adalah Yuki harus membeli dua kilo apel untuk Curly.
"Aku mau yang manis dan merah" ujar Curly senang di telinga Yuki.
Pangeran Sera terbangun ketika Kepala Penjaga Gererou menggoyangkan tubuhnya, hari sudah lewat makan siang.
"Maaf membangunkan Pangeran, Tapi akan lebih baik jika Pangeran bisa memakan sesuatu sebelum rapat hari ini" ujar Kepala Prajurit Gererou perlahan.
"Kau benar, terimakasih telah membangunkanku"
Pangeran Sera mengusap wajahnya yang masih mengantuk. Dia akan berdiri, tapi gerakannya terhenti ketika terdengar suara gemerincing perhiasan yang jatuh dari badannya.
Ketika Dia melihat gelang itu, Dia langsung terdiam.
Dia mengenali perhiasan itu. Itu adalah gelang yang di berikan Magitha pada Yuki ketika Mereka berada di pantai saat berbulan madu. Yuki menyukai gelang itu, tapi karena terlalu kebesaran di pergelangan tangannya, Yuki tidak memakainya dan memutuskan untuk memperbaiki ketika Mereka sudah tiba di Argueda.
"Kumpulkan semua kepala prajurit di kamarku sekarang" Kata Pangeran Sera cepat.
Lekky sudah pergi entah kemana sebelum makan siang. Yuki menduga Dia sekarang sedang bersenang-senang dengan teman wanitanya yang Dia temui di tempat hiburan semalam.
Curly duduk tenang di atas ranjang sambil memakan apelnya. Yuki berhasil menyonggok Curly dengan dua kilo apel merah segar, agar Curly bersedia untuk membantu Yuki untuk menjalankan misi yang telah Dia rencanakan hari ini.
Yuki selesai memakai pakaian pelayan yang telah di curi Curly dari tempat penyimpanan pakaian kerajaan. Dia menggelung rambutnya ke atas. Tidak lagi memakai cadar dan selendang yang biasa Dia gunakan untuk menyamar. Mengenakan make up tipis di wajah hanya supaya terlihat segar.
__ADS_1
"Meskipun Kau berpenampilan seperti itu, orang tetap tidak akan percaya kalau Kau ini seorang pelayan" kata Curly sambil melemparkan sisa apelnya yang ketiga di keranjang sampah.
"Bukankah sudah jadi tugasmu untuk membantuku agar bisa masuk ke dalam kamar Ibu Suri tanpa ketahuan. Ingat, Kau sudah mendapatkan imbalan lebih dari yang seharusnya dariku" ujar Yuki sambil menunjuk ke kantung apel yang ada di samping Curly.
"Satu kilo lagi dan Aku akan membantumu sampai akhir" tawar Curly dengan licik.
"Jangan serakah. Lekky akan memarahi Kita hanya karena berat badanmu naik"
"Kenapa Kau selalu memakai nama Lekky untuk mengancamku"
"Aku hanya mengingatkanmu"
Yuki berdiri. Dia telah siap. Tanpa sengaja Dia menyentuh pergelangan tangannya. Gelang kesayangan Yuki hilang siang ini entah kemana. Dia sudah mencarinya kemana-mana tapi tetap tidak dapat menemukannya. Dulu pengaitnya sempat rusak, Yuki belum sempat membenahinya dengan benar. Hari ini Dia ingat masih memakainya saat mencuci baju. Tapi begitu Dia makan siang, Dia sudah tidak menemukan gelang itu di tangannya.
Curly menggerutu.
Yuki kembali memperhatikan penampilannya di cermin. Setelah cukup yakin, Dia menghampiri Curly yang asyik menggerogoti apelnya yang ke empat.
"Sudah, Ayo Kita pergi" ajak Yuki pada Curly.
Curly tidak menjawab. Dia hanya mengibaskan telinganya dan meloncat ke arah Yuki. Alih-alih terhantam tubuh Curly, Yuki justru merasa hembusan angin yang cukup kencang. Saat membuka mata Dia sudah berada di atas tubuh Curly yang membesar, sebesar beruang kutub. Mereka terbang di atas atap bangunan tertinggi sekolah. Terus merayap naik, menuju istana kerajaan Garduete.
Bau dupa terasa menyengat tajam di dalam ruangan. Para pelayan tua baru saja keluar dari kamar Ibu Suri. Hanya ada Ibu Jaena yang dengan setia menemani Ibu Suri di dalam kamar. Yuki berhasil menyelinap masuk di dalam kamar berkat bantuan Curly. Setelah memastikan kondisi aman. Perlahan Yuki melangkah keluar. Mendekati ranjang tempat Ibu Suri berbaring di temani Ibu Jaena di sampingnya.
"Kau..." Ibu Jaena tampak terkejut ketika melihat kedatangan Yuki. Yuki menganggukan kepala pelan.
"Bagaimana keadaannya ?" Tanya Yuki lirih.
Yuki memandang Ibu Suri dengan tatapan sedih. Tertegun saat melihat kondisi Ibu Suri sekarang. Seluruh tubuhnya hanya berisi kulit yang melapisi tulangnya.
__ADS_1