Morning Dew

Morning Dew
151


__ADS_3

Terdengar gelak tawa para Putri memenuhi seisi ruangan. Mereka tertawa bahagia mengobrol dengan akrab. Yuki mengalihkan perhatiannya dengan memakan beberapa kue kering di atas meja. 


Yuki merasa para Putri sedang berusaha menarik perhatian Pangeran Sera. Tapi Dia segera menepis prasangka buruk itu. Dia kembali berpikir apa prasangka yang muncul karena Dia merasa cemburu ?.


Pandangan Yuki tanpa sengaja tertumbuk pada Putri Alena. Putri pendiam yang sangat mencintai Pangeran Sera. Dia duduk sedikit menjauh dari kelompoknya. Wajahnya menyimpan kesedihan. Dia menundukkan kepala sembari memainkan sesuatu di tangannya. Menolak untuk berinteraksi dengan sekitar. 


Melihat Putri Alena, Yuki menjadi sangat bersalah di buatnya. 


"Pangeran, jangan menemani Putri Yuki saja. Mari berkumpul bersama Kami" ajak Putti Nadira membuka obrolan. Dia mendekati Pangeran Sera dengan sikap manja. "Aku baru saja mempelajari lagu baru. Apa Pangeran ingin mendengar ?"


"Aku juga Pangeran, Jika Pangeran mau melihat tarianku"


"Bagaimana kalau Aku bermain kecapi untuk Pangeran"


Sontak seperti mendapatkan komando. Para Putri langsung mengelilingi Pangeran Sera. Yuki sampai tercengah melihat keributan yang terjadi. Dia memilih menyingkir keluar dari lingkaran yang mengelilingi Pangeran Sera.


"Terimakasih atas maksud baik kalian Putri, tapi Maaf Aku tidak bisa menerimanya" tolak Pangeran Sera tegas. "Tolong kembali ke tempat Kalian sekarang"


"Pangeran jangan begitu. Kasihan para Putri" sergah Ratu Warda yang sembari tadi diam memperhatikan.


"Tapi Ibu.." ujar Pangeran Sera serba salah.


"Aku tahu Kau sangat ingin bersama dengan Putri Yuki. Tapi ada baiknya Kau juga berteman dengan yang lain. Dengan begitu Putri Yuki juga punya kesempatan untuk menjalin persahabatan dengan semuanya" ujar Ratu Warda menatap Pangeran Sera dalam. Memohon pengertian Pangeran Sera.


"Kakak tahu yang namanya basa basi tidak sih ?" Tanya Putri Magitha dengan nada sarkatis. 


"Magitha jaga bicaramu, Aku tidak pernah mengajarimu bersikap tidak sopan seperti sekarang" hardik Ratu Warda tegas.


"Maafkan Aku Ibu, tapi bukankah yang Aku sampaikan adalah sebuah kebenaran. Kakak jelas tidak menginginkan Mereka, Dia hanya ingin bersama dengan Putri Yuki. Tapi Mereka bersikap seolah tidak tahu atau memang tidak tahu malu. Terus saja menempeli Kakak seperti seekor lalat"


"Magitha" tegur Ratu Warda lebih tegas daripada sebelumnya.

__ADS_1


Suasana menjadi tegang. Semua diam tidak ada yang berani berbicara. 


Tiba-tiba Yuki merasakah hawa dingin di punggungnya. Keringat mengalir di keningnya. Kedua telapak tangannya terasa dingin seperti es. Bukan hanya itu saja, Yuki merasakan perutnya seperti di aduk dengan cepat. Jantungnya berdegub kencang. Nafasnya menjadi sesak.


Apa yang terjadi ? 


Yuki mengusap hidungnya ketika Dia merasa sesuatu mengalir dari dalam lubang hidung. Ada noda darah di sana. Warna merah kehitaman terlihat di tangannya dengan bau seperti besi berkarat. Terus menetes hingga membasahi gaunnya.


Yuki menutup mulutnya saat Dia terbatuk dengan keras. Darah keluar dari mulutnya. Pangeran Sera berpaling ketika mendengar suara batuk Yuki.


"Yuki.."


Pangeran Sera terkejut. Dia segera melompat meninggalkan para Putri dan menghampiri Yuki yang masih terbatuk-batuk. Setiap Dia batuk, darah akan keluar dari mulut dan hidungnya.


"Putri Yuki.." panggil Putri Magitha dan Ratu Warda berbarengan.


Yuki mengalami sesak yang sangat hebat. Seolah semua udara meninggalkan tubuhnya. Pangeran Sera menompang tubuh Yuki dengan panik. Sementara Yuki tetap saja tidak berhenti mengeluarkan darah.


"Panggil Naru cepat" teriak Pangeran Sera pada para penjaga yang masih berdiri dengan pandangan tidak mengerti. 


Yuki merasa seperti terombang-ambing dalam kegelapan abadi. Bukan kali ini saja Dia merasakan perasaan seperti ini. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Seperti di tusuk oleh besi panas dengan kecepatan konstan di setiap sendi.


Tenggorokannya terasa panas, tubuhnya seperti terbakar. Tapi sekuat apapun Yuki berusaha melarikan diri dari rasa sakit yang menyerangnya, Dia tetap berada di tempat, diam tidak berdaya.


Kesadaran Yuki hilang timbul. Ada saat Dia mampu mendengarkan suara di dekatnya. Tapi Yuki tidak mampu untuk membuka mata atau mengeluarkan suara. Bahkan untuk menggerakan ujung jarinya pun Dia tidak sanggup.


"Pangeran, biarkan Saya mengantikan Pangeran menjaga Putri Yuki. Pangeran belum tidur semenjak kemarin. Ada baiknya Pangeran beristirahat terlebih dahulu"  pinta Rena kepada Pangeran Sera yang duduk diam di samping ranjang.


"Pergilah" ujar Pangeran Sera dengan nada sedih. Dia enggan untuk meninggalkan Yuki. Kemarin sore jantungnya sempat berhenti.. membuat Pangeran Sera nyaris kehilangan kendali.


"Sudah seminggu ini Pangeran kurang beristirahat karena menjaga Putri. Jika begini terus kesehatan Pangeran justru akan terganggu. Biarkan Saya menggantikan tugas menjaga Putri, dan Pangeran beristirahatlah sejenak" bujuk Rena lagi di dekat Pangeran Sera.

__ADS_1


Yuki dalam keadaan sadar ketika Mereka berbicara. Tapi Dia tidak punya kekuatan untuk bergerak atau berbicara. Dia sangat terkejut ketika mendengar bahwa sudah satu minggu Yuki berbaring tidak berdaya seperti sekarang.


"Pergilah" Kata Pangeran Sera masih keras kepala.


"Kakak apa yang di katakannya benar. Aku yang akan menjaga Putri Yuki. Kakak pergilah ke kamar sebelah untuk beristirahat" seru Pangeran Arana membantu Rena.


Yuki ingin bangun dan mengatakan pada Pangeran Sera agar jangan cemas. Dia baik-baik saja. Tapi kegelapan terus menguasainya. Dia tidak bisa berbuat apapun untuk melawannya.


Perasaan marah menguasainya. Lidahnya terasa kaku dan kebas. Dalam usahanya untuk keluar dari kegelapan, tiba-tiba kabut tebal menyelimuti sekitar. Yuki kembali tenggelam dalam kegelapan. Dia kembali terombang-ambing dalam batas kesadaran.


 


Yuki membuka mata perlahan. Perlahan cahaya masuk menembus penglihatannya. Dia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan dengan cahaya sekitar. Kepalanya terasa berat. Seolah ada batu besar yang di letakan di atas kepalanya.


Sunyi dan juga sepi.


Setelah kesadarannya pulih. Yuki menemukan dirinya pada sebuah kamar dengan dinding yang tinggi menjulang ke atas. Aroma obat-obatan tercium memenuhi seluruh ruangan. Di sebelah kiri terdapat cendela besar yang memperlihatkan pemandangan ibu kota dari kejauhan. Kemudian ada rak berisi berbagai macam bahan herbal untuk membuat obat. 


Yuki berbaring di atas ranjang kecil yang terletak di tengah ruangan. Perapian masih di nyalakan untuk memberikan rasa hangat saat angin dingin menerpa di luar bangunan.


Di mana Aku ?


Yuki merasakan seseorang menggengam tangannya. Ketika Dia menunduk, Yuki menemukan Pangeran Sera duduk di samping tempat tidur. Tertidur dengan wajah menyusup ke atas tempat tidur. Dia terlihat lelah. Yuki terkejut ketika melihat Pangeran Sera jauh lebih kurus daripada sebelumnya. Terlihat kumis dan janggut tipis yang biasanya selalu rajin di bersihkan olehnya. Bahkan kantung matanya terlihat jelas di kedua matanya.


Yuki menggerakan tangan dan mengelus rambut Pangeran Sera dengan tangannya yang bebas. Gerakannya membuat Pangeran Sera bergerak dari tidurnya.


"Pangeran.." bisik Yuki lemah ketika Pangeran Sera terbangun dan mata Mereka saling beradu. Yuki memberikan senyum hangat seolah menunjukan bahwa tidak ada lagi yang perlu di cemaskan. Dia sudah baik-baik saja sekarang.


Pangeran Sera langsung bangun dan beringsut mendekati Yuki. Dia merengkuh wajah Yuki. Menyentuhkan dahi Mereka dengan perasaan haru.


"Syukurlah" bisik Pangeran Sera dengan suara bergetar.

__ADS_1


 


__ADS_2