Morning Dew

Morning Dew
42


__ADS_3

Yuki terkejut saat mendengar perkataan Bangsawan Asry.


"Apa !!" 


Bangsawan Asry yang melihat ekpresi Yuki ganti terkejut.


"Memangnya Putri tidak tahu ?" Tanyanya keheranan. Biasanya perempuan sangat pandai menilai perhiasan.


Yuki menggelengkan kepala panik. "Jangan mengerjai ku, bukankah ini hanya hiasan biasa terbuat dari kaca ?"


"Apa maksud Putri ?, Semua batu di hiasan rambut itu adalah berlian berkualitas tinggi. Aku tidak mungkin salah menilainya"


Berlian ??. Sejak kapan ada orang yang mau menghadiahkan berlian pada orang yang sama sekali tidak akrab dengannya ??.


"Darimana Putri mendapatkannya ?" Tanya Bangsawan Asry kemudian ketika melihat wajah kebingungan milik Yuki. Dengan seluruh kekayaan keluarga yang di miliki Perdana Menteri Olwrendho, seharusnya Mereka tidak akan mampu membeli semua perhiasan itu. Bangsawan Asry juga tidak mendengar Riana menyinggung soal memberikan hadiah jepit rambut bertabur berlian untuk Yuki. Bahkan Bangsawan Asry sendiri yang diperintahkan Riana untuk mencarikan batu berlian berukuran kecil berwarna biru es, yang akan dijadikan hiasan untuk cincin. Cincin itu rencananya akan diberikan untuk Yuki.


Bangsawan Asry pernah bertanya kepada Riana, apakah tidak terlalu sederhana memberikan sebuah cincin bermata berlian sebesar kacang kedelai. Riana hanya mengatakan Yuki tidak akan mau memakainya jika lebih besar dari itu. 


Jadi Bangsawan Asry menyimpulkan Yuki sebagai wanita yang tidak peduli dengan kemewahan atau perhiasan seperti wanita lainnya. Jadi mana mungkin Dia akan membeli jepit rambut itu jika Dia tidak tertarik dengan perhiasan.


"Aku mendapatkannya sebagai hadiah ulang tahunku hari ini...tapi Aku tidak menyangka.."Yuki tidak dapat melanjutkan lagi kata-katanya.


"Putri berulang tahun ?" Tanya Bangsawan Asry tidak percaya.


"Kau berulang tahun hari ini ?" Bangsawan Voldermont datang dari arah belakang bersama Pangeran Riana. "Kenapa Kau tidak memberitahukan Kami"


"Untuk apa Aku harus memberitahukan kalian" kata Yuki gusar menyadari seharusnya Mereka tidak perlu mengetahuinya. 


"Kau pasti takut Riana akan menyentuhmu jika Dia tahu Kau sudah genap berusia enam belas tahun kan ?" Tanya Bangsawan Voldermont usil. Tanpa menunggu jawaban Dia berbalik dan bergaya seolah sedang berbisik kepada Pangeran Riana yang berada di sampingnya. "Riana, Dia sudah aman untuk Kau sentuh"


"Bisa tidak, Untuk tidak memprovokasinya seperti itu" ujar Yuki keki. Rasanya Dia sangat ingin menyumpal mulut Bangsawan Voldermont dengan kain.


Bangsawan Voldermont tertawa puas.


Sebuah kesialan bagi Yuki karena Mereka akhirnya mengetahuinya. Padahal Yuki berusaha merahasiakannya.


Terdengar suara ceburan di susul jerit tawa dari arah danau. Beberapa orang berlari ke arah danau. Perasaan Yuki tidak enak. Jadi Dia ikut berlari. Apalagi saat Dia melihat Bangsawan Doldores dan Putri Ransah di sana, Dia merasa semakin tidak nyaman.


Benar saja, Mereka baru saja melempar Bangsawan Dalto ke danau. Bangsawan Dalto menggapai-gapai. Dia tidak bisa berenang. Sementara yang lain tidak menolong, malah ikut menertawakannya.

__ADS_1


Yuki terus berlari dengan kencang. Dia berhasil.menerobos kerumunan. Tanpa berpikir panjang, Dia melompat masuk ke dalam danau.


Yuki berenang secepat yang Dia bisa. Bangsawan Dalto tidak muncul di permukaan. Yuki akhirnya mengambil nafas panjang dan langsung menyelam ke dalam danau.


Tapi air danau sangat keruh. Yuki kembali muncul di permukaan untuk mengambil nafas.Bangsawan Dalto sudah tidak terlihat.


"Dia mati...hey Dia mati !!"


"Astaga itu Putri Yuki !!"


"Pangeran Riana..ada Pangeran" 


Kepanikan terjadi ketika Mereka menyadari kehadiran Pangeran Riana. Ditambah Yuki yang kembali menyelam di dalam danau. Kaki Bangsawan Doldores gemetar. Dia nyaris kencing di celana. Jika sampai terjadi sesuatu dengan Yuki, kepalanya dan seluruh keluarganya akan jadi taruhan. 


Yuki akhirnya menemukan Bangsawan Dalto mengapung di dalam air. Dia langsung menarik tubuh Bangsawan Dalto yang sedang tidak sadarkan diri. Membawanya kembali ke permukaan.


Nafas Yuki terenggah-enggah karena terlalu lama berada di dalam air.


Seseorang menepuknya dari belakang.


"Berenang ke pinggir sekarang, Biar Aku yang mengurusnya" ujar Pangeran Sera. 


Ketika akhirnya sampai di atas permukaan tanah, Pangeran Sera langsung merebahkan tubuh Bangsawan Dalto. Yuki menekan dadanya, mencoba memberikan pertolongan pertama.


"Bangun..." Teriak Yuki memerintah.


Dia terus melakukan gerakan memompa untuk membuang air yang di minum Bangsawan Dalto. Namun tidak ada reaksi. Akhirnya Yuki membuka mulut Bangsawan Dalto dan memberinya nafas buatan.


"Ayo bangun !!"


Akhirnya setelah beberapa saat, Bangsawan Dalto terbatuk dan menumpahkan semua air yang ditelannya.


"Bangsawan Dalto apa Kau baik-baik saja ?"


Dua orang pengawal datang membawa tandu, Pangeran Riana dengan wajah yang dingin langsung menarik Yuki agar berdiri di dekatnya.


Yuki menghentakkan tangannya hingga terlepas. Dia berlari mengikuti para pengawal yang membawa Bangsawan Dalto pergi.


Pangeran Riana berdiri di tempatnya. Dia sangat marah. Tidak ada yang berani berbicara. Pangeran Sera sudah meninggalkan tempat ketika Yuki pergi mengikuti Bangsawan Dalto.

__ADS_1


Dia memandang Bangsawan Doldores dan Putri Norah bergantian. Merasa muak dengan keduanya.


Dia berbalik dan memandang Bangsawan Voldermont sesaat,lalu pergi tanpa suara.


"Cambuk Bangsawan Doldores dua puluh kali dan Putri Norah sepuluh kali" ujar Bangsawan Voldermont tenang. 


"Pangeran tidak memerintahkan apapun untuk menghukum kami" protes Putri Norah tidak terima.


Bangsawan Voldermont memandang Putri Norah dengan ekpresi tak berdaya. "Seharusnya Kau merasa beruntung, Jika Dia yang mengucapkan hukumanmu...kepalamu yang akan jadi incarannya" 


Putri Norah langsung mundur. Kakinya lemas. 


Bangsawan Voldermont merasa sudah tidak ada lagi yang perlu untuk dijelaskan, jadi Dia pergi menyusul Riana.


Setidaknya, Dia harus mencari Riana dan meredakan kemarahannya. Kucing kecil itu akan mendapatkan masalah. 


Yuki mengantar kereta yang membawa Bangsawan Dalto kembali ke kediamannya. Tepat ketika Dia berbalik, Pangeran Riana sudah berada di dekatnya dan langsung menarik tangannya untuk mengikutinya. Kali ini Yuki diam tidak membantah.


Dia di naikkan ke atas kuda milik Pangeran Riana. Pangeran Riana sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun dan ini membuat Yuki takut.


Kuda berlari kencang, dari belakang para prajurit menyusul. Menyibak keramaian kota. Lalu, ketika Mereka akhirnya sampai ke istana Pangeran Riana, Yuki langsung diturunkan dari kuda. Tangannya kembali di cekal dengan kuat. 


Semua orang berusaha menghindari bertemu dengan Pangeran Riana. Wajahnya sangat tidak bersahabat. Nyaris bisa membunuh orang. 


Yuki dibawa sampai ke depan kamar. "Tinggalkan Kami sendiri !!" Perintah Pangeran Riana dengan nada tidak mau dibantah.


Dalam sekejap, setelah memberi hormat. Seluruh pelayan dan pengawal yang ada dj sekitar kamar pergi meninggalkan Mereka berdua.


Pangeran Riana membuka pintu kamar, Yuki berusaha melepaskan cekalan di tangannya. Dia sangat takut. Lebih baik menerima hukuman cambuk daripada bersama Pangeran Riana seorang diri dalam situasi seperti ini.


Tanpa peringatan, Yuki dilempar ke atas tempat tidur.


"Aduhh !!"


Yuki langsung berbalik dengan sikap waspada. Pangeran Riana menatapnya dingin. 


"Jadi begini caramu, Aku sudah peringatkan Kau untuk tidak berhubungan lagi dengan Dalto maupun Sera. Tapi Kau malah berciuman di depanku"


"Kau gila !!, Itu bukan berciuman. Aku hanya berusaha memberikan nafas buatan untuk pertolongan pertama" Teriak Yuki, ada nada takut dalam suaranya yang tidak bisa Dia pungkiri.

__ADS_1


 


__ADS_2