
"Bangsawan Voldermont" tanya Yuki lirih.
"Ya..."
"Apa Kau belum pernah mendengar istilah tutup bacotmu ?"
Mendengar kata-kata Yuki, Bangsawan Voldermont tergelak. Yuki berusaha mempercepat langkahnya. Tapi justru membuatnya nyaris kehabisan nafas. Sementara Bangsawan Voldermont dengan mudah menyusul Yuki. Yuki mendesah lirih. Dia tahu tidak akan mudah untuk membuat Bangsawan Voldermont pergi dan meninggalkannya begitu saja.
"Aku antar ke rumahmu" tawar Bangsawan Voldermont ramah pada Yuki.
Yuki langsung menggelengkan kepala menolak. "Aku tidak lagi tinggal di rumah Ayah, sekarang Aku kembali tinggal di sekolah"
"Apa ada masalah ?"
"Lekky pergi ke utara bersama dengan Lazzar dan Varmount. Agar tidak bolak balik ke sekolah, Aku memutuskan kembali tinggal di kamar Pangeran Sera" jelas Yuki lagi.
"Kenapa Dia pergi secepat itu ?"
Yuki lalu menceritakan pembicaraannya dengan Lekky ketika Dia datang untuk berpamitan. Bangsawan Voldermont mendengarkan dengan serius.
"Jika memang begitu, lebih baik Kau kembali tinggal di rumahku. Di sekolah terlalu berbahaya untukmu"
"Jangan" Kata Yuki cepat dengan raut wajah gusar. "Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu selama ini"
"Apa Kau tidak tahu, banyak yang berusaha untuk membunuhmu selama ini. Jika Mereka tahu Kau sendirian, akan tidak baik untukmu dan bayi dalam perutmu"
"Jangan khawatir, Aku bisa menjaga diriku dengan baik. Lagipula Aku tidak mau menambah masalah lagi untukmu" tolak Yuki lagi.
"Aku tidak mau mendengar alasanmu. Sudahlah, Ayo kembali ke rumahku. Aku sudah lapar" Bangsawan Voldermont menangkap pergelangan tangan kiri Yuki dan menariknya agar Yuki mengikuti langkahnya. Dengan cepat Yuki melepaskan tangan Bangsawan Voldermont. Dia menepis tangannya hingga pegangan tangan Bangsawan Voldermont terlepas. Gerakannya justru membuat Yuki terhuyung ke belakang dan menabrak seseorang di belakangnya.
Ternyata orang itu adalah Pendeta Serfa yang sedang berjalan beriringan dengan Putri Marsha dan Bangsawan Asry. Barang-barang milik Pendeta Serfa, yang di bawa di kotak kayu yang ada di tangannya, berjatuhan di lantai.
"Apa Kalian tidak bisa bercanda di tempat lain. Bagaimana bisa seorang wanita yang telah bersuami bisa bebas bersenda gurau dengan lelaki lain saat suaminya tidak ada di tempat umum begini" sindir Putri Marsha keras.
"Jaga mulutmu Marsha" Kata Bangsawan Voldermont memperingatkan dengan nada keras.
__ADS_1
Yuki segera berjongkok untuk membantu Pendeta Serfa mengumpulkan barang-barangnya. Dia tidak mau mengubris Putri Marsha dan ingin segera pergi meninggalkan tempat ini.
"Maafkan Aku Pendeta Serfa" kata Yuki menyesal sambil memasukkan barang-barang Pendeta Serfa dengan cepat ke dalam kotak kayu.
Namun....
Gerakan tangannya tiba-tiba terhenti saat Yuki memegang batu amara.
Ada sesuatu yang salah sedang terjadi.
Perlahan, Yuki membuka tangannya, ada batu Amara di telapak tangan Yuki. Batu itu bersinar terang.
Sinarnya berwarna biru es.
Seperti warna mata milik Pangeran Riana.
Seolah tersadar, Yuki langsung melempar batu itu ke lantai. Dia berdiri sambil mengusap telapak tangannya dengan rok bajunya. Menatap Batu Amara yang kembali menjadi kerikil biasa di lantai dengan wajah kebinggungan.
Tidak hanya Yuki. Pendeta Serfa, Bangsawan Voldermont, Bangsawan Asry dan Putri Marsha memandang batu Amara itu kemudian memandang ke arah Yuki. Semua tampak terkejut. Sama seperti Yuki.
Pendeta Serfa berdiri sambil menatap Yuki dalam. Dia menyembunyikan perasaan terkejutnya. Tapi dalam hatinya, Dia sudah menduga hal ini akan terjadi saat melihat Pangeran Riana dan Putri Yuki tempo hari. Dia hanya diam, seperti berada di dalam pikirannya sendiri.
Yuki masih memandangi batu amara di lantai. Dia sudah membuat permohonan lima tahun lalu dan permohonan itu di kabulkan dewa. Terakhir kali Yuki memegang batu Amara, batu itu sudah tidak lagi dapat bersinar jika di sentuh oleh Yuki.
Tapi...Yuki tidak mungkin salah lihat. Batu Amara kembali bersinar di tangan Yuki. Kenapa ?. Berbagai pertanyaan berputar di kepala Yuki.
Dia sama sekali tidak mengerti.
"Ada apa ini, kenapa Batu Amara kembali bersinar di tanganmu. Apa yang telah Kau lakukan ?" Tanya Putri Marsha keras, memecah keheningan yang terjadi.
Yuki diam.
Dia sendiri tidak tahu mengapa. Jadi bagaimana Dia bisa menjelaskan kepada Putri Marsha yang sudah histeris karena amarah.
Melihat Yuki tidak memberi respon. Putri Marsha maju dan memukuli Yuki dengan garangnya. "Jelaskan sekarang, apa yang Kau lakukan pada batu itu...cepat katakan ?" Teriak Putri Marsha marah.
Bangsawan Asry dan Bangsawan Voldermont langsung memisahkan keduanya. Bangsawan Voldermont berdiri di tengah Yuki dan Putri Marsha. Menghalangi Marsha yang terus menerus berusaha menyerang Yuki.
__ADS_1
Yuki masih sangat shock saat mengetahui batu amara kembali bersinar di tangannya. Dia masih terdiam kebingungan, bahkan Dia tidak sadar ada luka bekas cakaran Putri Marsha di bahu Yuki.
"Aku tidak tahu" jawab Yuki akhirnya lebih kepada dirinya sendiri.
"Kau bohong, Kau pasti memakai cara licik kan ?" Tuduh Putri Marsha masih tidak puas dengan jawaban Yuki.
"Aku benar-benar tidak tahu" jawab Yuki setengah berteriak.
Keributan yang terjadi langsung menarik orang sekitar Mereka.
"Serfa" tanya Bangsawan Voldermont langsung, kepada Pendeta Serfa yang masih diam di tempatnya.
Pendeta Serfa tersentak seolah baru terbangun dari lamunannya. Dia memandang Yuki dengan wajah datar. "Batu Amara akan kembali bersinar di tangan Putri Yuki, jika Putri Yuki mengandung seorang anak laki-laki yang akan menjadi penerus tahtah kerajaan Garduete selanjutnya. Sebelum Pangeran Riana memiliki anak laki-laki dari wanita lainnya"
"Tapi anak yang di kandung Yuki adalah anak dari Pangeran Sera" kata Bangsawan Asry turut berkomentar.
"Tidak. Anak yang di kandung Putri Yuki bukan anak Pangeran Sera" tegas Pendeta Serfa penuh keyakinan. "Tapi Anak Pangeran Riana"
"Anak Riana ?" Tanya Bangsawan Voldermont terkejut. Lantas Dia melihat Yuki dan Pendeta Serfa masih dengan raut wajah kebingungan. "Kapan Mereka...."
"Tidak...tidak mungkin. Ini tidak mungkin" tolak Yuki cepat. Dia menggelengkan kepala kuat. Tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Saya berani di hukum jika Saya berbohong. Yang jelas, anak dalam kandungan Putri Yuki bukanlah anak dari Pangeran Sera. Batu Amara tidak mungkin kembali bersinar jika anak yang di kandung Putri Yuki bukanlah anak dari Pangeran Riana" kata Pendeta Serfa lagi dengan tegas.
"Tidak !!" Yuki berteriak. Berusaha menyangkal semuanya. Dia merasa lemas. Terhuyung ke belakang. Bangsawan Voldermont langsung menangkap Yuki. Air mata memenuhi kelopak mata Yuki. Dia tidak tahu, dosa apa yang telah di lakukannya di masa lalu. Kenapa takdir mempermainkannya dengan begitu kejam.
Seharusnya bukan begini.
"Ini tidak mungkin, Aku tidak bisa mempercayainya" rancau Yuki masih berusaha mengikari informasi yang di berikan Pendeta Serfa.
"Kau pasti telah merayunya, dasar ****** sialan. Kau merayu tunanganku padahal Kau sudah mempunyai suami" Putri Marsha berhasil melepaskan diri dari pegangan Bangsawan Asry. Dia kembali memukuli Yuki dengan kedua tangannya secara histeris. Yuki hanya bisa menundukkan kepala untuk melindungi perutnya. Rambutnya terasa perih saat Putri Marsha menjambaknya dengan kuat.
Bangsawan Voldermont langsung melepaskan cekalan Putri Marsha. Dia berteriak kencang menahan amarah. "Hentikan Marsha, cukup"
Putri Marsha kembali di pegang dari belakang oleh Bangsawan Asry.
"Kenapa ?" Tantang Putri Marsha sembari mengangkat dagunya. "Kau selalu membelanya padahal Dia jelas bersalah"
"Berhenti membuat keributan" ujar Bangsawan Voldermont keras.
"Apa yang di berikan wanita ****** ini sehingga Kau terus membelanya. Apa Karena Dia telah menyelamatkan Negeri ini dari kehancuran ?. Jadi Kau begitu melindunginya ?"
__ADS_1
visual Putri Yuki Orrie Olwrendho