
"Hormat Kami kepada Pangeran"
Yuki refleks berbalik ketika para pelayan serentak bersujud memberi penghormatan.
Pangeran Riana berdiri dengan bersandar di pintu, terlihat tenang. Dari gesturnya, Dia jelas sudah berada di sana beberapa saat yang lalu tetapi tidak ada yang menyadarinya.
Yuki berdiri.
Pangeran Riana masih di posisinya, hanya diam dan memandangi Yuki.
Bangsawan Voldermon menyeruak masuk ke dalam kamar dengan sikap tidak sabar. Setelah memberi hormat, para pelayan mengambil nampan mereka dan berjalan keluar dengan tertib.
"Lihat penampilanmu, terlihat pas layaknya seorang Ratu kerajaan, Kau sangat cantik" puji Bangsawan Voldermon.
Namun bukannya merasa senang akan pujian itu, Yuki justru merasa Bangsawan Voldermon sedang mengejeknya.
"Aku benar kan Riana ?" Tanya Bangsawan Voldermon berbalik kepada Pangeran Riana yang masih diam di tempatnya.
"Dia terlihat sama saja seperti biasanya" jawab Pangeran Riana acuh.
Bangsawan Voldermon berdecak tidak puas. "Kau payah" ujarnya kesal.
Pangeran tidak memperdulikan protes Bangsawan Voldermon. Dia berjalan mendekati Yuki, bergeser ke samping gadis itu. Kemudian menarik tangan Yuki, meletakkannya di lengannya.
"Kita berangkat" kata Pangeran tidak mau banyak berkomentar. Yuki berjalan dengan patuh mengikutinya.
Mereka menuju sekolah. Yuki mendengar di gedung Basmana diadakan jamuan yang di hadiri murid-murid yang pernah bersekolah di sekolah ini.
Yuki ingat karena acara ini, para putri di sekolah heboh sendiri termasuk Elber. Konon kabarnya, ada Pangeran dari Negeri Argueda, Sera Madza turut hadir dalam perjamuan ini.
Pangeran Sera pernah menempuh pendidikan di sekolah ini selama beberapa tahun sebelum pada akhirnya Dia kembali ke negerinya. Dia sangat tampan dan merupakan perwaris tahtah kerajaan Argueda.
Yuki pernah melihat lukisan Pangeran Sera. Dia sangat tampan. Bahkan menurut pandangan Yuki secara pribadi, jauh lebih tampan daripada Bangsawan Voldermon.
Pangeran Sera memiliki rambut bergelombang berwarna pirang keemasan dengan kulit putih bersih. Postur tubuhnya tinggi dan langsing. Terlihat ramah dan baik hati. Secara spesifik Dia seperti matahari hangat di pagi musim semi. Banyak putri yang tergila-gila padanya.
Konon, di negara Argueda ada Putri yang bahkan menolak dinikahi pria lain hanya untuk berharap Pangeran Sera menjadikannya istri atau selirnya.
__ADS_1
Yuki mendengar Pangeran Sera belum menikah, Dia juga tidak memiliki selir atau kekasih. Bahkan Dia tidak menyimpan satu wanitapun untuk menghiburnya di istana. Hal itu membuat para Putri semakin penasaran terhadapnya.
Semua Putri begitu bersemangat saat Dia dikabarkan akan datang ke sekolah. Dari jauh hari Mereka sudah merawat diri untuk penampilan sempurna didepan Pangeran Sera.
Seluruh tamu yang ada di ruangan serentak menoleh ketika Pangeran Riana masuk, Yuki berjalan beriringan dengan Pangeran Riana. Sebelum memasuki ruangan, Yuki melepaskan tangannya dari lengan Pangeran Riana. Tapi Pangeran Riana kembali mengalungkan di lengannya dan menahannya di sana.
Semua pandangan mata mengarah kepadanya.
Bahkan, ketika pada akhirnya Yuki duduk di meja yang telah diatur,dan Pangeran duduk di sebelahnya, tatapan penasaran masih mengikutinya.
Beberapa orang datang untuk menyapa dan berbasa-basi. Yuki berusaha mengabaikan tatapan menyelidik yang diarahkan padanya dan bersikap tidak peduli.
Jika bisa, sebenarnya yuki sangat ingin melarikan diri dari tempat ini. Tapi Dia menahan diri demi keluarganya.
"Kau harus terbiasa dan menerimanya" ujar Pangeran Riana ketika akhirnya Mereka hanya berdua.
Yuki menatap Pangeran Riana tidak mengerti.
Pangeran menatap lurus ke depan, tidak membalas tatapan Yuki. "Dengan posisimu yang sekarang Kau bisa mendapatkan kehormatan yang tidak dimiliki sembarang orang, Kau juga bisa mendapatkan seluruh harta di dunia ini, Kau bahkan bisa memenuhi seluruh tubuhmu dengan emas dan berlian, tapi semua itu tentu ada imbalannya"
"Kau akan mulai kehilangan sebagian dari hidupmu, Jalan yang Kau lalui tidak lagi sama seperti apa yang Kau lalui biasanya"
"Kenapa harus Aku ?" Tanya Yuki dengan frustasi, pada akhirnya setelah memahami ucapan Pangeran Riana.
Dengan posisinya yang sekarang, Dia akan kehilangan teman-temannya, jati dirinya dan kebebasannya. Bagaikan boneka dengan tali, aturan kerajaan akan mengendalikan kehidupannya.
"Kenapa itu Kau ?" Ujar Pangeran Riana kali ini lebih bertanya kepada dirinya sendiri. "Aku juga ingin tau kenapa harus Kau"
Yuki ingin mengatakan sesuatu, tapi sebelum Dia membuka mulutnya, Pangeran sudah berdiri dari duduknya ketika ada rombongan yang baru datang mendekati Mereka.
Seorang Pria separuh baya, dengan rambut dan jenggot panjang berwarna putih sempurna. Memakai jubah panjang berwarna abu-abu, Dia datang dengan diampit dua orang di masing-masing sisinya.
Yuki terkejut saat mengenali salah satu orang yang sedang menuju ke mejanya. Dia adalah Pangeran Sera. Wajahnya lebih bersih dan mulus daripada yang digambarkan di lukisan. Sosoknya lebih tampan daripada yang di bayangkan, wajahnya bersih dan mulus bagaikan pualam.
Yuki mengikuti Pangeran Riana berdiri. Pangeran Riana memeluk pingang Yuki dan mengeser badannya ke sampingnya.
Rombongan yang baru tiba itu mendekati Mereka.
__ADS_1
"Guru" Pangeran Riana memberikan salam dengan sikap takjim. Guru itu mengangkat tangan menerima hormat Pangeran Riana.
"Senang bertemu denganmu lagi Pangeran"
Pandangan mata Yuki tidak sengaja bertumbuk dengan Pangeran Sera. Pangeran Sera tampak terkejut melihatnya, tapi dengan cepat Dia merubah ekpresinya.
Yuki sendiri merasa aneh, Pangeran Sera seolah mengenalinya padahal Mereka baru saja bertemu.
Bukan mengenali seperti "kekasih Pangeran Riana". Tapi Dia mengenali seperti seseorang yang sudah saling mengenal cukup lama.
Yuki mengerjap, kemudian menundukkan kepala menghindari tatapan Pangeran Sera. Wajahnya terasa panas. Yuki sangat menyukai warna mata Pangeran Sera, matanya berwarna biru laut yang hangat.
Tapi, Yuki juga sadar, semua orang saat ini mengenalinya sebagai kekasih Pangeran Riana. Meskipun Yuki tidak menginginkan status itu, tapi tidak sopan juga berpandang-pandangan seperti tadi dengan Pria lain di samping Pangeran Riana. Jika Pangeran Riana mengetahuinya, Yuki pasti akan terkena masalah.
"Pangeran Sera"
"Pangeran Riana"
Kedua Pangeran saling memberi salam.
Pangeran Sera datang bersama Pendeta kerajaan sekaligus pengawal pribadinya-pendeta Naru. Penampilannya nyaris menyerupai Pendeta Serfa, pendeta Naru memiliki rambut panjang berwarna hitam yang diikat kebelakang.
Yuki akan jengah saat menyadari Pendeta Naru terus memandanginya dengan tatapan tidak suka.
Jika boleh memilih, Dia sebenarnya juga tidak ingin berada di sini.
Mereka kembali duduk di meja bersama rombongan Pangeran Sera, diikuti tamu lain yang duduk di meja masing-masing yang telah disediakan.
Para pelayan masuk membawa nampan berisi makanan, memutari setiap meja menyuguhkan hidangan yang menggiurkan. Yuki sangat lapar, Dia belum makan semenjak bangun tadi. Aroma makanan yang mengelilinginya mengelitik perutnya. Dia berharap suara cacing yang berdemo didalam perutnya tidak terdengar keluar.
Yuki duduk di antara Pangeran Riana dan Pendeta Naru. Pangeran Sera duduk di sisi lain pendeta Naru bersebelahan dengan guru besar Alzire. Yuki terus menundukkan kepala, pandangannya lurus menatap meja.
Dia tidak berani mendongak sementara Pangeran Sera terus menatapnya secara terang-terangan. Yuki jadi salah tingkah dipandangi seperti itu oleh Pangeran Sera, Dia sampai ingin menanyakan kepada Pangeran Riana apakah penampilannya cukup aneh sehingga orang-orang terus menatapnya.
Yuki makan dalam diam sementara Pangeran Riana dan yang lain mengobrol dengan pembahasan yang tidak sesuai kapasitas otaknya.
__ADS_1