Morning Dew

Morning Dew
116


__ADS_3

"Aku sudah terlalu tua untuk menggantikan Ratu melaksanakan tugasnya" ujar Ibu Suri membuka percakapan. "Jika Raja menangani masalah di dalam dan luar negeri, Maka Ratu dan wanita di istana harem berkewajiban membantu Raja menyokongnya dari belakang, menciptakan generasi penerus dan mendidik Mereka agar memiliki kualitas untuk memimpin Negeri dalam berbagai aspek kehidupan. Menjaga martabat Raja sebagai wanita pilihan. Karena apapun yang Kita lakukan sebagai wanita Raja, akan mempengaruhi penilaian masyarakat terhadap Raja itu sendiri"


Yuki diam. Menundukan pandangan. Tidak berani membantah Ibu Suri. 


"Meskipun sebagai manusia biasa Aku mempunyai banyak kelemahan, tapi Aku telah melakukan semua tugasku sampai di titik ini. Dan Aku pikir tugasku telah berakhir. Namun ternyata Aku salah, tugas yang akhirku paling berat adalah menyerahkan singasanaku pada orang yang tepat, yang mampu mendukung Pemerintahan Raja" Ibu Suri menghirup teh nya. Matanya tajam menatap Yuki. "Semenjak kerajaan mengangkatmu sebagai kekasihnya, Aku selalu mengawasi gerak-gerikmu. Namun, Aku sangat kecewa padamu Putri Yuki"


Tangan Ibu Suri sampai gemetar karena amarah. Ibu Jaena membantu Ibu Suri meletakan kembali teh ke meja.


"Kerajaan sudah memberimu status sebagai wanita milik Pangeran Riana, meskipun Kau di besarkan di dunia yang jauh berbeda, tapi Kau juga mendapatkan pendidikan di sekolah terbaik di negeri ini. Seharusnya Kau sudah paham sebagai wanita milik Pangeran, Kau tidak boleh lagi berhubungan dengan laki-laki manapun di luar batas kewajaran. Namun apa yang Kau lakukan ?. Kau tetap menjalin hubungan dengan Pria lain bahkan sampai nyaris membuat dua negara besar berselisih"


Yuki semakin menundukan kepala, Dia tetap duduk dengan sopan di depan Ibu Suri. Hanya diam mendengarkan. 


"Aku masih mengerti jika Kau menolak tidur dengan Pangeran karena alasan Kau masih terlalu muda, tapi sikapmu terhadap Pangeran sering kali tidak terpuji. Berulang kali Kau membantah perintahnya dan menolak kehadiran Pangeran di dekatmu. Aku merasa Kau perlu banyak belajar untuk menjadi Puteri yang pantas. Selama ini Riana sudah terlalu banyak memanjakanmu. Aku sudah sering menasehatinya untuk memberikan pelatihan khusus dengan guru-guru terbaik yang Aku pilihkan. tapi Dia selalu menolak, mengatakan Kau tidak perlu semua itu. Tapi lihat apa hasilnya ?"


Yuki mendengarkan semua kritikan pedas yang di lontarkan Ibu Suri selama lebih dari setengah jam. Ibu Suri tidak menyukai sikap Yuki pada Pangeran Riana. Yuki tidak tahy apakah semua pelatihan yang di sebut-sebut Ibu Suri akan berguna untuknya. Dia bukan calon ratu, dan lagi Yuki tidak berminat dengan persaingan di istana wanita.


Yuki menundukan kepala penuh hormat setelah berpamitan dengan Ibu Suri. Setelah Ibu Suri puas mengkoreksi semua kesalahan Yuki, Dia mengizinkan Yuki meninggalkan kamar. 


Yuki sangat ingin segera pergi dari Kamar Ibu Suri. Dia sudah over dosis nasehat. Ibu Suri menganggap Yuki sebagai seorang wanita yang tidak tahu adap.


Dia telah mempersiapkan guru-guru untuk mengajari Yuki secara pribadi mulai besok di istana Pangeran Riana. Dan semua akan di awasi langsung oleh Ibu Jaena yang kemudian di laporkan ke Ibu Suri.


Yuki terkejut ketika Dia keluar kamar. Di depan pintu masuk Pangeran Riana sudah berdiri. Dia sepertinya sudah cukup lama berada di sana. Yuki memalingkan wajah, menghindari tatapan menyelidik Pangeran Riana.

__ADS_1


Pelayan Tua menyebalkan yang bernama Ibu Warsy berdehem pelan di dekat Yuki.


Yuki membungkukan badan penuh hormat kepada Pangeran Riana yang berdiri di depannya. "Salam hormat kepada Pangeran Riana, Pangeran perwaris tahtah Negeri Garduete" 


"Aku ingin menemui Ibu Suri. Ibu Warsy Kau ikut Aku" kata Pangeran Riana tegas. Ibu Warsy tampak keberatan namun Dia tidak berani menolak Pangeran Riana. Ibu Warsy hanya diam, menundukan kepala memberi hormat dan kemudian berjalan mengikuti Pangeran Riana yang lebih dulu masuk ke dalam Kamar Ibu Suri.


Pintu di tutup rapat.


Yuki terdiam sesaat di depan pintu. Dia kemudian berjalan dengan lesu. Rombongan pelayan dan pengawal mengikuti di belakangnya. Yuki merasa lelah baik secara fisik maupun mental. 


Kereta kuda kerajaan berjalan sesaat setelah Yuki masuk ke dalam. Dia membuka penutup cendela dan memandang keluar. Hujan turun sembari pagi, dan belum juga menunjukan tanda-tanda akan berhenti. Menimbulkan kumbangan air di beberapa titik jalanan. Warna hijau tersebar luas di sepanjang jalan. Anak-anak berlarian dengan senang. Mereka tertawa riang. Gelak tawa Mereka terdengar menarik perhatian Yuki. Yuki memandang Mereka dengan perasaan iri. 


Anak-anak itu tampak bebas dan tanpa beban.


Hati Yuki terasa sakit. Ketika Mereka melewati taman kota, tempat yang sering di kunjungi Yuki dan Bangsawan Dalto ketika Mereka masih bersama. 


Yuki memalingkan wajah. Air mata kembali membasahi pipinya. Dia membungkukan badan. Memeluk dirinya dengan erat. Sudah empat belas bulan berlalu, seharusnya Dia sudah bisa menerima kepergian Bangsawan Dalto. Tapi sakitnya seperti baru kemarin terjadi. Dia menutup mulutnya rapat. Berusaha menyembunyikan isak tangisnya.


Yuki tidak ingin ada yang melihatnya menangis. Kemudian memandangi Yuki dengan perasaan iba. Dia tidak mau di kasihani.


"Aku ingin berjalan di taman seorang diri sebentar saja" pinta Yuki kepada pelayan yang membantunya turun dari kereta.


Sesaat Para Penjaga yang mendengar hendak memlrotes. Tapi ketika melihat sesuatu di wajah Yuki mereka urung melakukannya.

__ADS_1


Yuki tidak menunggu persetujuan para penjaga. Dia berjalan menaiki tangga. Kemudian berbelok menuju lorong yang membawanya ke taman tengah.


Bau tanah yang basah begitu terasa di ujung hidung. Memenuhi setiap sudut taman tempat Yuki berdiri seorang diri. Bunga-bunga mulai bermekaran. Musim semi telah tiba.


Beberapa penjaga memutuskan untuk memperhatikan Yuki dari jauh dan tidak menganggu Yuki. 


Yuki merasa kewarasannya kembali goyah. Tekanan yang di rasa membuatnya sesak. Yuki hanya ingin hidup damai dengan jalan yang di pilih. Nyatanya, Dia bahkan tidak punya hak atas hidupnya sendiri.


Mereka menginginkan Yuki bersikap sempurna seperti layaknya seorang Putri terpelajar. Tapi itu bukan Yuki..Yuki tidak memilih kehidupan yang di jalaninya sekarang. Dia di paksa masuk ke dalamnya tanpa di beri kesempatan untuk memilih.


Hujan turun kembali dengan perlahan. Gerimis rintik membasahi rambut Yuki. Yuki tidak bergeming. Dia diam di tempatnya. Memandang kosong ke atas langit.


Dia seperti kehilangan arah. Tidak menemukan pegangan yang dapat menyelamatkannya.


Yuki melihat pantulan dirinya dari cendela di dekatnya. Sosoknya seperti bukan manusia. Dia seperti zombie. Tidak punya pancaran kehidupan di matanya. 


Yuki memerluhkan seseorang yang dapat menolongnya. Menemukan pegangan agar Dia kembali berpijak dengan benar. 


Siapa ?


Yuki menyipitkan matanya sesaat. Bulu matanya yang mulai basah bergetar. Dia terus menatap bayangan dirinya dalam. Mencari jawaban dari permasalahan yang sedang di hadapi.


"Tolong Aku Pangeran Sera, Tolong selamatkan jiwaku" bisik Yuki lirih.

__ADS_1


 


 


__ADS_2