Morning Dew

Morning Dew
136


__ADS_3

"Sepertinya Aku pandai membuat calon istriku salah tingkah"


"Jangan mengangguku" hardik Yuki menghindar. Dia berusaha menyembunyikan rasa malunya. Tapi Pangeran Sera menarik tangannya dan langsung memeluknya erat.


"Diam Yuki" pinta Pangeran Riana ketika Yuki mencoba memberontak. Yuki akhirnya diam. Pangeran Sera mempererat pelukan di pinggang Yuki. "Rasanya Aku masih tidak percaya, Aku bisa membawamu pada akhirnya"


"Pangeran.." bisik Yuki lirih.


"Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu" bisik Pangeran Sera lagi.


Yuki diam. Tidak membalas ucapan Pangeran Sera.


Terdengar keramaian di bawah. Yuki melepaskan diri dari pelukan Pangeran Sefa dan melongok ke bawah. Semua orang tampak girang. Berdiri di buritan sambil memandang ke satu titik yang ada di tengah lautan.


Para pelayan dan Prajurit berjalan keluar dengan senyum riang. Seorang pelayan mendongak dan melihat Yuki yang memandang penasaran. "Pangeran, Putri Yuki. Sebentar lagi Kita akan tiba di ibukota" seru Pelayan itu memberitahu. 


Yuki mendongak, menatap lautan di depannya. Burung camar terbang di langit lepas, menandakan sebentar lagi Mereka akan mendekati daratan.


Menunggu dengan jantung berdebar. Yuki tidak percaya jika pada akhirnya Dia akan berada di Argueda. Sebentar lagi Dia akan menginjakan kaki di negeri asal Pangeran Sera. Seperti apa negeri itu ?. Apakah Negeri yang sama dengan Garduete ?. 


Yuki sangat penasaran untuk menemukan jawabannya. 


Setitik hitam di tengah laut perlahan membentuk garis panjang yang membentang luas. Sorak Sorai semakin membahana. Yuki memicingkan mata untuk dapat melihat lebih jelas. Sementara, Kapal kerajaan terus melaju, tidak ada tanda-tanda kecepatannya berkurang.


Semakin lama, garis membentuk daratan luas di sepanjang mata memandang, dengan gunung yang menjulang tinggi. Bagaikan sebuah mahkota di atasnya.

__ADS_1


"Selamat datang di negeri Argueda Yuki. Akhirnya Aku bisa menunjukan Negeri ini padamu" bisik Pangeran Sera lembut di telinga Yuki. Dia memeluk pinggang Yuki yang masih terpaku dengan pemandangan di depannya.


Bangunan kota mulai terlihat. Samar terdengar suara genderang yang di pukul nyaring bertubi-tubi. Kapal memperlambat kecepatannya. Mengikuti arus air dengan tenang, membawa Mereka mendekati dermaga.


Saat kapal mulai merapat. Sorak-sorak semakin terdengar, membahana sampai penjuru langit.


Ketika kapal akhirnya berlabuh dengan sempurna. Awak kapal tampak jauh lebih sibuk daripada sebelumnya. Jangkar-jangkar di turunkan. Suara rantainya bergemericing memekakkan telinga. Tali di lempar ke bawah untuk diikat pada patok yang di siapkan. Semuanya berkerja dengan cepat dan terlatih.


"Kenapa ramai sekali ?" Tanya Yuki tidak mengerti.


Penduduk sekitar berkumpul di sepanjang dermaga. Mereka terus bersorak menyambut kedatangan kapal, seolah ada sesuatu yang spesial yang telah lama di nantikan.


Pangeran Sera mengulurkan tangan dan menuntun Yuki dengan lembut ke geladak bawah. Menuju di mana pasukan Pangeran Sera dan kuda putih milik Pangeran Sera menunggu.


"Kabar berita mengenai kedatanganmu telah tersebar di seluruh penjuru ibukota. Banyak yang merasa penasaran dan ingin melihat secara langsung seperti apa wanita yang akan menjadi istriku nanti" jawab Pangeran Sera sambil membantu Yuki naik ke atas kuda. 


Pangeran Sera ikut naik di belakang Yuki. Sementara Semua pasukan sudah bersiap untuk membuka jalan.


"Apakah istana jauh dari sini ?" Tanya Yuki penasaran ketika melihat begitu Pangeran Sera naik ke atas kuda. Semua pasukan di sekeliling Mereka berada dalam posisi siap siaga. 


"Tidak, justru sebaliknya.Letak istana sangat dekat dari sini. Tapi Kita tidak mungkin pergi dengan berjalan kaki melewati kerumunan ini" jelas Pangeran Sera datar.


Yuki memandang kerumunan yang telah menunggu di bawah. Dia bahkan tidak bisa menebak sampai di mana barisan orang yang berkumpul ini berakhir. Wajah-wajah tidak di kenal memandanginya sedemikian rupa. Butuh keberanian besar untuk berjalan melewatinya dengan berjalan kaki.


Pangeran Sera memandang kepala pengawal di samping. Memberikan perintah melalui isyarat mata. Aba-aba di berikan. Pasukan pengawal yang menunggu di bawah kapal merangsek maju untuk membuka jalan. Perlahan papan terbuat dari baja kuat, yang digunakan untuk menyebrangi kapal sampai ke daratan di turunkan perlahan. Suaranya berdebam saat menyentuh tanah.

__ADS_1


Pangeran Sera memacu kudanya di kawal ketat oleh para Prajurit. Wajah-wajah tidak dikenal silih berganti. Yuki memandangi Mereka, hati kecilnya berharap Dia menemukan Pangeran Riana di antara Mereka.


Genderang di bunyikan bertalu-talu mengikuti setiap langkah kaki kuda. Pangeran Sera tidak mengurangi kecepatan, meskipun rakyatnya terus mengelu-elukan namanya. Dari sikap Mereka, jelas terlihat Pangeran Sera adalah Pangeran yang di cintai oleh rakyatnya.


"Kenapa Pangeran begitu tegang ?" Tanya Yuki pada akhirnya. Dia tidak lagi dapat membendung rasa penasarannya. Yuki harus mengeraskan suaranya agar dapat mengimbangi keributan di sekelilingnya.


"Akan lebih baik jika Kita segera berada di istana. Dengan begitu Aku bisa mengurangi kemungkinan ada yang akan membawamu pergi lagi dari sisiku" jawab Pangeran Sera terus terang. Membuat Yuki terdiam.


Setelah berbelok di ujung jalan, Terdapat bukit yang di kelilingi padang rumput. Tepat di atas bukit dekat dengan kumpulan batu karang yang menjulang tinggi, istana Pangeran Sera berdiri dengan kokohnya. Suara deburan ombak yang memecah karang terdengar dari kejauhan. Bau asin air laut tercium di udara. 


"Buka gerbang istana" terdengar suara nyaring dari dalam istana. Penjaga pintu bergegas menarik tuas. Pintu besi setinggi tiga meter perlahan mulai terbuka.


Yuki mendongak untuk melihat tembok-tembok tinggi yang mengelilingi Mereka. Ketika Mereka memasuki gerbang istana, Mereka di sambut lorong panjang yang terbuat dari batu hitam. Istana Pangeran Sera sangat berbeda dengan istana Pangeran Riana. 


Suara langkah kaki kuda bergema menimbulkan irama tersendiri.


Akhirnya di ujung jalan, sebuah pintu gerbang menunggu. Begitu masuk ke dalamnya, suasana langsung berubah. Mereka memasuki halaman depan istana yang begitu luas, di hiasin berbagai macam jenis bunga yang di tata apik. Angsa, burung, rusa, kucing, tupai dan anjing di biarkan bebas berkeliaran di taman. 


Jika di istana Pangeran Riana, tamannya cenderung di isi pepohohan rimbun. Di istana Pangeran Sera justru di penuhi warna-warni yang ceria. Seperti menggambarkan kepribadian Pangeran Sera, hangat dan menyenangkan.


Dari kejauhan, di atas bukit. Duduk berkerumun para Putri yang sedang menikmati angin sore. Entah apakah Yuki salah, Dia merasakan tatapan permusuhan dari Para Putri yang di tujukan padanya. 


"Ayo.." ajak Pangeran Sera sembari mengulurkan tangan untuk membantu Yuki turun. Yuki menerima uluran tangan Pangeran Sera yang sudah terlebih dulu turun dari kuda. Satu tangan Pangeran Sera memegang pinggang Yuki. Menarik Yuki ke bawah hingga Dia mendarat dengan selamat. 


Pangeran Sera menggengam tangan Yuki erat. Mereka menaiki tangga. Para prajurit berdiri di setiap anak tangga sambil menghentakan kaki. Menyanyikan lagu penyambutan dengan suara lantang.

__ADS_1


 


__ADS_2