
Pangeran Riana turun dari kudanya. Berjalan cepat ke arah Kami. Rahangnya terkantup Rapat. Tanpa banyak bicara Dia langsung menghantamkan tinju pada Bangsawan Dalto. Bangsawan Dalto jatuh tersungkur, gengaman tangan Kami lepas. Refleks Aku berteriak. Pangeran kembali mendekati Bangsawan Dalto, Dia menghujamkan kembali tinju ke wajahnya. Aku memeluk Pangeran Riana, menariknya mundur untuk melepaskan Bangsawan Dalto.
"Hentikan....Pangeran....Aku mohon...hentikan" pintaku memohon.
Pangeran menepis tanganku kasar, membuatku terdorong menjauh. Aku segera bangkit dan kembali menariknya. Kupeluk lengannya erat. Mencegahnya memukul Bangsawan Dalto lagi. "Ini salahku...Aku yang melarikan diri...tidak ada hubungannya dengannya. Aku yang harusnya Pangeran hukum, Bukan Dia" Teriakku lagi.
"Lepaskan Aku Yuki" Perintah Pangeran dingin. Aku mengelengkan kepala menolak, Tanganku semakin erat memeluk lengan Pangeran Riana.
Dibelakang Kami bangsawan Voldermon muncul bersama Pendeta Serfa. Mereka segera turun dari kuda dan berlari menghampiri Kami untuk melerai. Bangsawan Voldermon langsung menarik Pangeran Riana agar berdiri.
"Riana sudah cukup." Pinta Bangsawan Voldermon dengan nada mengingatkan. Pangeran diam sebentar, sementara Bangsawan Dalto sudah terbaring dengan mulut berdarah. Dia terbatuk-batuk, Ada lebam di pipinya.
Pangeran Riana berdiri sambil menarikku agar ikut berdiri. Tangannya mengengam tanganku bagaikan belenggu baja yang sukar dilepaskan. "Sekali lagi Kau menyentuh wanitaku, Akan kukirim Kau ke penjara tanpa ampunan" Ancam Pangeran terdengar penuh amarah.
Bangsawan Dalto terbatuk kembali. Dia berdiri dengan susah payah, Ketika akhirnya Dia dapat menyeimbangkan badannya, Dia memandang ke arah Pangeran dengan Pandangan yang sukar kutebak. "Wanita milik Pangeran, Bahkan jelas sekali terlihat Dia tidak menginginkan jadi wanitamu. Tapi Pangeran memaksanya dengan menggunakan kekuasaan. Apakah itu yang Pangeran maksud dengan wanita milikmu itu ?" Ujar Bangsawan Dalto dengan senyum mengejek. Aku tidak mengerti bagaimana Dia dapat keberanian untuk membalas perkataan Pangeran. Selama ini keberanian seperti inilah yang kuharapkan ada padanya jika ada seseorang yang membulynya. Tapi Aku jelas tidak mengharapkan sekarang Dia menunjukan padaku disituasi seperti ini.
"Kau.." Pangeran kembali maju. Beruntung Bangsawan Voldermon menghadangnya. Aku memegang Pangeran kuat. Memandang penuh permohonan kepada Bangsawan Dalto agar tidak gegabah. Pangeran sedang sangat marah, Dia beruntung hanya mendapatkan luka saja. Jika Dia terus memancing Pangeran, Aku takut Pangeran akan langsung menggantungnya saat ini juga.
"Sudah hentikan, Aku yang bersalah. Aku yang kabur dari kereta saat ada kesempatan. Dia tidak ada hubungannya dengan pelarianku. Aku baru bertemu dengannya tadi" jelasku lantang.
"Jangan pikir Aku tidak akan mengurusmu setelah ini" Pangeran kembali berpaling padaku. Memandangku dingin.
"Kalian pergilah, biar Aku dan Serfa yang mengurusnya" Ujar Bangsawan Voldermon memotong. Ini pertama kalinya Aku bersyukur Dia ada disini untuk membantu meredam situasi.
Pangeran tidak banyak berucap. Dia langsung menarik tanganku untuk mengikutinya. Langkah kakiku terseok mengimbangi langkahnya.
Aku dinaikkan ke atas kuda. Dia langsung memacu kudanya pergi. Derap langkah Kuda mengimbangi dinginnya malam ini. Aku tahu, Aku berada dalam masalah besar.
Kami tiba di istana. Aku melihat Rena dan beberapa pelayan mengintip dari kejauhan. Wajah Rena seperti para pelayan lainnya, mereka terlihat ketakutan. Tidak ada satupun yang berani menghampiri Kami. Semuanya memilih menghindar untuk mencari Aman. Pangeran hanya diam. Tidak mengatakan apapun sepanjang perjalanan ini. Aku berjalan didepannya sementara Dia mengikutiku dari belakang. Kami telah sampai di kamar. Pangeran menutup pintu. Berjalan melewatiku yang berdiri mematung tanpa memandangku. Dia bersikap membisu seperti Ini dari tadi, sikapnya yang sekarang justru sangat menakutkan. Dia lebih menyeramkan daripada biasanya.
Dia duduk di sofa ruang kerjanya, menuangkan Anggur di gelas dan meminum semuanya dengan sekali teguk. Aku tidak tau harus bagaimana menghadapinya kali ini. Aku hanya diam memandangnya sembari berdiri di pojok kamar. Berharap Dia melupakan kehadiranku.
"Puas berkencan dengan Dalto ?" Tanyanya dingin Tanpa memandangku.
"Sudah kubilang Aku baru bertemu dengannya sesaat sebelum Kau datang. Dia tidak Ada hubungannya dengan pelarian ini" jawabku lirih.
"Oh ya, Lalu kenapa Aku melihat kalian berdua berpelukan dengan mesra sekali ?"
"Kami..." Aku binggung harus mengatakan apa. "Ini tidak seperti yang Kau pikirkan"
"Pikirkan apa ?. Atau Kau ingin mengatakan padaku bahwa Kau menghilang karena Bersama Sera seharian"
"Tidak seperti itu kejadiannya" bantahku cepat.
"Kenapa saat Kau menghilang Dia juga tidak ditemukan dimanapun. Bukankah itu suatu hal yang kebetulan" desak Pangeran tak puas.
"Kenapa Kau ini, Sikapmu sekarang ini seperti orang yang sedang cemburu"
Pangeran langsung menghampiriku. Mendorongku dengan kasar ke tembok di belakangku . Aku merasakan nyeri di punggungku ketika terhantam tembok.
"Cemburu ?!" Dia mencengkramku kuat. Aku berusaha melepaskan diri. "Ya Aku cemburu, Aku cemburu saat melihatmu bersama Dalto, Aku cemburu saat memikirkanmu bersama Sera. Aku cemburu pada semua laki-laki yang mendekatimu. Rasanya Aku ingin membunuhmu agar tidak ada seorang pun yang dapat merebutmu. Apa Kau puas sekarang ?!" Teriak Pangeran Riana penuh Amarah.
"Lepaskan Aku" Pintaku memberontak.
"Apa lagi yang Kau ingin tahu ?. Apa lagi yang ingin Kau ketahui ?"
"Lepaskan Aku..." Kataku kini semakin merasa tidak nyaman dengan sikap yang ditujukan Pangeran. "Kau gila...lepaskan Aku". Aku terus memberontak tapi rasanya tenagaku sama sekali tidak berarti untuknya.
"Melepaskanmu...Jangan mimpi. Matipun Aku tidak akan melepaskanmu"
Pangeran menarikku, memaksaku untuk mengikutinya. Aku berusaha memberontak. Kami masuk ke dalam kamarnya. Pintu ditutup dengan kasar. Aku dilempar dengan kasar ke atas tempat tidur. Saat berbalik Pangeran sudah berada di atasku. Tatapannya bagaikan elang yang telah menangkap mangsanya.
Jantungku berdebar kencang. Aku mencium aroma bahaya. Situasiku sekarang sungguh tidak menyenangkan.
"Kenapa Kau melakukan ini padaku ?" bisikku tertahan.
"Sudah kubilang, Kau wanitaku. Milikku" jawabnya tegas tanpa keraguan. Dia mengelus pipiku, memandangku dengan sorot aneh yang membuatku tidak nyaman. Sorot seorang pria dewasa kepada seorang wanita dalam konteks yang paling intim.
"Itu bukan alasanmu untuk memaksaku menjadi milikmu. Aku tidak menginginkan posisi ini. Bahkan...Aku sama sekali tidak mencintaimu" Kataku berusaha mengacuhkan pandangannya.
__ADS_1
Aku terdiam menyadari kesalahanku. Aku telah mengucapkan sesuatu yang salah. Sesuatu yang seharusnya tidak kuucapkan. Sesuatu yang akibatnya akan kusesali seumur hidupku. Sirine tanda bahaya meraung-raung di kepalaku. Menyuruhku untuk segera melarikan diri. Tapi inilah saatnya, Sudah terlanjur basah. Aku harus mengatakan kebenaran walau itu menyakitkan. Dia harus mengerti itu.
"Di hatiku sudah ada orang lain. Maafkan Aku. Aku mohon biarkan Aku pergi"
Luapan emosi terasa di mata Pangeran. Cengkramannya di kedua pergelangan tanganku mengerat. "Aku tidak peduli siapa yang ada di hatimu sekarang. Apakah itu Dalto atau Sera atau lelaki lain yang kau tuju." Katanya tegas. "Bahkan meskipun Kau mempunyai sayap sekalipun, Aku akan dengan senang hati menangkapmu, Akan kupatahkan sayapmu dan memenjarakanmu ke dalam istanaku. Jika saat itu tiba, Aku pastikan Kau tidak akan bisa keluar selangkahpun dari sana"
"Dimana nuranimu ?" Tanyaku merasa ngeri dengan ancamannya. Aku tahu itu bukan hanya sekedar ancaman kosong, Dia sangat serius dengan ucapannya. Bulu kudukku sampai berdiri dibuatnya.
Pangeran tersenyum mengejek.
"Kesabaranku sudah habis. Kau sudah berani mempermainkanku dan malah mengobral omong kosong tentang perasaan padaku. Sekarang,Tanpa memperdulikan perasaanmu atau hal-hal lainnya. Akan kujadikan Kau milikku. Kau berpikir selama ini Aku bajingan bukan ?. Akan kuperlihatkan padamu seperti apa bajingan sesungguhnya"
"Tidakkk...jangannn...Aku mohon Pangeran
..tidakk" Aku mengelengkan kepala memohon saat melihat keseriusan dalam matanya.
Aku memalingkan wajahku ketika Pangeran Riana mendekatkan wajahnya ke arahku. Dengan beringas Dia mencium wajah dan leherku secara bergantian.
"Tidakk...jangaann..Pangeran,Kau tidak boleh melakukan itu"
Aku terus melawan. Air mataku mengalir deras di pipi. Terdengar suara robekan bajuku Akibat ditarik paksa olehnya.
Tapi perlawananku bukanlah masalah baginya. Pangeran berhasil membuka paksa seluruh Pakaianku. Menjadikannya serpihan yang tidak berarti. Bertebaran di lantai dan tempat tidur. Tangisanku tidak membuatnya berhenti, malah memotivasinya untuk terus melakukan tujuannya sampai selesai. Dia mengangkat kedua kakiku. Memposisikan dirinya di antara keduanya. Aku mengeleng menolak. Namun kedua kakiku di tekuk ke dada sedemikian rupa sehingga Aku tidak bisa bergerak bebas.
"Jangannn...aaa....sa...sakittt"
Aku berteriak nyaring ketika sesuatu berusaha memasukiku. Rasa nyeri tidak dapat terbayangkan di antara kedua kakiku. Pangeran sama sekali tidak peduli ketika Aku menjerit kesakitan, berteriak memohon ampunannya. Keringat membanjiri Kami berdua. Ada emosi dan hasrat yang menyatu di mata Pangeran. Aku tahu ini lah saat yang paling ku takutkan. Tidak ada yang bisa menghentikannya kali ini. Tidak ada pula keberuntungan seperti sebelumnya yang membuatku dapat bebas dari masalah.
Suatu sentakan menembusku. Aku terkesiap, menyadari apa yang terjadi. Rasa nyeri menjalar. Tanpa sadar Aku mencakar lengan Pangeran. seluruh sarafku menegang, merespon benda asing yang baru merobekku secara paksa.
"Sakit..." Rengekku keras. "Sakit sekali..."
Pangeran menarik rambutku untuk menatapnya. Ada sorot kepuasan terpancar di senyumnya. Aku kembali meringis ketika Dia memasukiku lebih dalam. Aku berusaha mendorongnya, Tapi tubuh kami seolah menyatu. Tubuh Ku terasa lengket oleh keringat dan air mata. Nafasku tersengal-senggal, Buliran Air mataku mulai memenuhi rongganya.
Dia memberiku jeda untuk bernafas. Kemudian ketika Dia melihatku sudah mulai menerimanya didalam diriku. Dia memposisikan diri untuk bersiap.
Pangeran merengkuh wajahku memalingkan kearahnya, sebuah ciuman yang penuh tuntutan ditujukan kepadaku. Aku diam tidak membalas ataupun melawan. Nafasku tersenggal-senggal menahan sakit dan perasaan aneh yang seolah mengelitik rahimku. Pangeran tiba-tiba *** lenganku kuat. Sebuah eraman panjang disusul rasa hangat yang menyembur keluar menyebar dalam rahimku. Setelah itu Dia ambruk diatasku. Desah kepuasan terdengar ditelingaku. Pangeran tidak melepaskan diri dari posisinya. Berat badannya ditumpukan padaku. Nafasku sudah tersenggal-senggal. Seluruh tenagaku seolah tersedot habis tidak bersisa. Pangeran mencium pipiku puas. Tidak ada penyesalan hanya ada kemenangan atas diriku yang ditunjukannya.
Setelah terdiam beberapa saat, Dia bangkit dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Kami berdua. Dengan tanpa perasaan Dia berbaring di sampingku dan tertidur.
Aku memejamkan mata. Merasakan buliran air mata mulai jatuh di pipiku. Rasa sakit mendera sekujur tubuhku. Aku berharap mimpi buruk ini segera berakhir.
Pangeran baru saja keluar kamar mandi. Sinar matahari menerobos melalui jaring-jaring cendela. Aku memalingkan badanku tidak ingin melihatnya. Rasa lelah yang amat sangat mengelayutiku. Semalam Dia sama sekali tidak membiarkanku tidur nyenyak, memaksaku untuk terus melayaninya hingga pagi menjelang. Tenagaku lemah, tersedot habis dari tubuhku. Aku merasakan Dia berjalan mendekatiku dari belakang.
"Aku tidak menyesal melakukannya. Sekarang suka tidak suka Kau telah menjadi milikku seutuhnya" Pangeran duduk di sampingku. "Bahkan Aku tidak peduli walaupun Kau bersikap dingin seperti ini padaku" Tubuhku dipalingkan paksa menghadapnya.
"Kau bajingan" Makiku marah. Pangeran mencengkram kedua tanganku keatas tempat tidur, meredam penolakanku.
"Kau bisa istirahat sekarang, Jaga tubuhmu baik-baik karena sekarang ini tugasmu adalah melayani ranjangku dan melahirkan anakku"
Pangeran berdiri melepaskan cengkramannya. Dia berjalan membuka pintu.
"Apa...apa Aku tidak boleh disini !" tanyanya sinis pada seseorang. Pintu ditutup. Terdengar langkah kaki kecil mendekatiku.
"Putri Yuki" Aku berbalik mendapati Rena menatapku sedih. Sepertinya Dia mengetahui apa yang terjadi antara Aku dan Pangeran semalam.
Aku langsung memeluk Rena erat.
"Rena...." kataku tergugu. Tangisku pecah.
Aku duduk melamun di balkon kamar ketika Rena datang membawakan nampan berisi teh gingseng. "Putri, Udara sedang tidak begitu baik, lebih baik kita masuk ke dalam"
"Aku bosan berada dikamar. Dari sini setidaknya Aku bisa melihat pemandangan diluar"
Senja mulai menampakan warnanya di langit. Warna orange tersirat bagaikan karya pelukis ternama. Angin semilir menyapu rambutku. Aku duduk bersandar menikmati kelembutan itu.
Pangeran kembali mengurungku dalam kamar. Dia menambahkan penjagaan dengan ketat. Aku belum bertemu dengannya sejak malam itu dan Aku mensyukurinya. Aku sana sekali tidak ingin melihat wajahnya. Bayangan pemerkosaan itu membekas di ingatanku. Sekarang selain mimpi mengenai kematian para bangsawan dan putri Aku juga mengalami mimpi buruk di malam pemerkosaan itu. Mungkin karena tekanan yang kuhadapi dan kejadian itu Aku jatuh sakit. Suhu tubuhku meningkat dratis. Menurut Rena yang merawatku, setiap malam Aku akan mengingau saking panasnya tubuhku.
Seluruh istana sudah mengetahui bahwa Aku dan Pangeran Riana telah melalui malam bersama. Semenjak itu mereka memberiku obat dan ramuan yang katanya dapat menyuburkan kandungan. Semua obat dan ramuan itu Aku buang di luar cendela kamar. Aku tidak peduli jika Pangeran mengetahuinya. Sepertinya mereka sangat ingin agar Aku segera mengandung anak Pangeran.
__ADS_1
Dari Rena Aku mendapat kabar bahwa malam saat Pangeran memperkosaku, Terjadi bentrok yang nyaris memicu pertempuran di istana Pangeran Riana. Pangeran Sera berusaha masuk ke dalam, Dia tampak sangat marah. Beruntung Pendeta Naru dan Bangsawan Voldermon datang untuk meredakan ketegangan. Dari sikap Pangeran Sera Aku yakin Dia telah melihat Kami melalui cermin seperti yang biasa Dia lakukan. Karenanya, Dia kemari berusaha untuk mencegah. Tapi sayangnya, seluruh kerajaan sangat mendukung Pangeran Riana dan Aku dapat bersatu. Dengan bersatunya Kami, Diharapkan Pangeran Sera akan mengurungkan niat untuk menjadikanku istrinya.
Memang siapa yang mau menikahi wanita yang telah disentuh orang ?
Aku merapatkan pakaianku. Mengigil kedinginan.
"Putri lebih baik Kita masuk saja" Ujar Rena lagi. Aku tidak menyadari bahwa Dia memperhatikanku.
"Aku baik-baik saja" Tolakku cepat. Aku kembali menyandarkan diri di sofa. menaikkan kakiku di bantalan kursi yang ada didepanku. Menerima secangkir teh yang diberikan Rena. Dia duduk disampingku, menungguku dengan setia.
Pangeran Sera telah mengetahui hal ini. Hal baik untuknya jika Dia mundur. Aku tidak ingin Dia terlibat hal-hal yang tidak perlu. Konflik kerajaan tidak hanya bisa di selesaikan dengan kata maaf saja. Aku mulai menyadari hal itu semenjak tinggal disini. Aku tidak ingin Dia terlibat masalah atau bahkan kehilangan nyawa. Jika sesuatu terjadi padanya di negeri ini, Pertempuran besar akan terjadi. Pangeran Sera adalah perwaris tahtah kerajaan. Mereka tidak akan diam saja jika ada yang melukai Pangerannya.
Aku tidak ingin terjadi pertempuran lagi. Cukup sudah nyawa yang melayang karena ku. Aku bertekad akan menyelesaikan masalah Ayah lalu mencari jalan pulang ke duniaku sana. Aku tidak ingin lagi terlibat apapun mengenai urusan kerajaan dan ***** bengeknya.
Duniaku bukan disini. Aku tidak menemukan apapun selain kemalangan dan kehilangan. Jika tidak teringat janjiku pada kedua orang tuaku, Aku sudah berpikir untuk mengakhiri hidup ketika pangeran memperkosaku. Elber pernah mengatakan bahwa itu tidak penting. Dia sendiri kehilangan keperawanannya saat usianya baru 15 tahun. Tapi Aku tidak menganggap hal itu tidak penting. Jika memang Aku ingin menyerahkan kesucianku, Aku ingin dengan dasar suka sama suka. Bukan seperti ini.
Aku berjalan menuju Aula di istana Pangeran Riana. Raja tiba-tiba mengutus utusan untuk memanggilku ke sana. Para pengawal tidak berani menolak. Rena dalam waktu sekejap sudah menganti bajuku dan mendandaniku sedemikian rupa. Aku sama sekali tidak peduli dengan penampilanku. Tapi Rena tidak ingin Aku mendapat masalah lagi hanya karena penampilanku saat bertemu Baginda Raja.
Aku berjalan dengan pengawalan ketat. memasuki ruang Aula tempat Raja menunggu. Namun, Bukan Raja yang ada disana. Melainkan Pangeran Sera. Aku memandangnya kebingungan. Ada apa ini...?.
Pangeran tampak pucat dan berantakan. Aku sama sekali tidak menyukai penampilannya yang sekarang.
"Raja Garduete sudah mengizinkanku untuk bertemu denganmu." Ujarnya sebelum Aku sempat bertanya mengenai keberadaannya di Aula istana Pangeran Riana. "Aku dengar Kau sedang sakit, Apa Kau sudah sehat ?"
Dia bertanya begitu lembut padaku. Seolah tidak terjadi apapun. Hatiku bergetar melihat kebaikannya.
"Seharusnya Aku yang bertanya begitu, Pangeran tampak sedang tidak sehat. Apa Pangeran baik-baik saja ?" Kataku canggung. Aku berusaha agar suaraku tidak bergetar.
Pangeran tersenyum. "Aku baik-baik saja".
Pangeran melangkah pelan mendekatiku. Dia tampak berhati-hati seolah salah langkah sedikit Aku akan mati ketakutan.
Aku terkesiap saat Dia sudah tepat didepanku. Perasaan malu menguar dalam diriku. Aku sudah tidak punya muka lagi bertemu dengannya.
"Kenapa kemari" isakku tertahan.
"Apa Aku salah jika ingin menemui tunanganku ?" Bisiknya ditelingaku. Dia mengelus pipiku lembut. Ada cinta yang begitu besar terpancar di matanya. Aku berpaling menolak kenyataan itu.
"Tidak seharusnya Pangeran ada disini" Ujarku gusar. "Pangeran sudah melihatku. Lebih baik Pangeran pulang sekarang" Aku berbalik untuk pergi. Tapi tangannya mencegahku.
Jantungku berdebar tidak karuan. Aku tidak tau harus bagaimana menghadapinya. Perasaanku bercampur aduk.
"Biarkan Aku pergi pangeran" Kataku menolak cekalannya. Tapi Pangeran mengengam lenganku erat. Aku berusaha melepaskan diri, Tapi tenaganya lebih besar daripada kelihatannya. "Apa yang Pangeran harapkan, Apa Pangeran tidak mendengar apa yang sudah terjadi. Kenapa Pangeran masih bersikap seperti ini" Kataku kesal. "Aku sudah tidak..." Aku tergagap. Tidak dapat melanjutkan kalimatku. Dia sudah tahu kejadian antara Aku dan Pangeran Riana. Dia sudah tau Aku sudah tidak suci lagi. Tapi Dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, membuatku merasa bersalah dan malu yang amat sangat.
"Kenapa Pangeran menyiksaku seperti ini, Taukah Pangeran bahkan sekarang pun Aku sama sekali tidak punya muka untuk bertemu dengan Pangeran" kataku lagi, suaraku semakin gemetar menahan tangis.
"Aku sudah rusak...Aku tidak pantas untuk Pangeran. Aku mohon mengertilah"
Pangeran menarik tanganku dan langsung mencium bibirku. Aku memberontak semakin keras berusaha menolaknya. Jika ada yang melihat Kami akan terjadi masalah yang lebih besar pada Pangeran.
"Aku akan menutup mata dan telingaku dari hal-hal buruk mengenaimu. Tidak peduli seperti apa Kau sekarang atau Apa yang menimpamu. Walaupun Kau tidak mempunyai kaki dan tangan sekalipun, Aku akan tetap memilihmu sebagai satu-satunya istriku. Aku mencintaimu Yuki...dapatkah Kau melihat cintaku ini ?"
Aku mundur, terpana dengan rasa cinta yang ditunjukan padanya. Rasa cintanya tidak main-main. Aku menyadari nya semenjak dulu, Tapi Aku berusaha mengikarinya.
"Aku hanya ingin mengatakan hal ini padamu. Jangan bersusah hati. Apapun yang terjadi tidak akan merubah perasaanku padamu"
"Tapi Aku yang tidak bisa menerima diriku sendiri" Kataku tertahan. Aku menyentakkan tanganku hingga gengamannya lepas. Tanpa berbalik Aku berlari menuju pintu. Pangeran Sera tidak mengejarku. Dia hanya berdiri memandangku dengan ekpresi sedih. Saat membuka pintu aula, Pangeran Riana sudah berdiri disana dengan wajah yang kurang bersahabat. Aku terdiam sejenak. Sejak kapan Dia ada disana ? Apakah Dia mendengar pembicaraan Kami ?.
Aku memberanikan diri mengacuhkannya. Melewatinya tanpa memandangnya. Aku berlari menyusuri lorong istana. Suara langkah kakiku bergema disepanjang dinding. Berbelok menuju taman yang sepi. Aku duduk tersungkur disana.
mama apa yang harus kulakukan padanya ?. Laki-laki yang Kau pilih sungguh orang yang baik. Aku tahu Aku akan bahagia jika bersamanya. Tapi hatiku....
Aku mengengam dadaku erat.
hatiku tidak menjadi miliknya. Dia cukup terlambat untuk datang. Dan lagi....keadaannya tidak seperti yang Kau duga Mama. Kedua Pangeran itu memaksaku memilihnya, bersiap berperang kapanpun untuk memperebutkanku. Aku sungguh tidak tau alasan apa yang membuat mereka berdua begini. Mereka tidak menanyakan kemana hatiku berada dan hanya memaksakan keinginannya. Aku tidak ingin lagi melihat orang terbunuh karenaku. Tolong beri Aku petunjuk...kemana Aku harus melangkahkan kakiku Mama...
Butiran air mataku mengalir di kedua pipi. Aku menangis.
Aku tidak bisa memilih salah satu diantaranya. Aku juga tidak ingin lagi menjadi penyebab kematian orang lain. Dunia ini tidak seindah kelihatannya. Aku merindukan Bibi Sheira, Aku merindukan Phil....bahkan sekarang Aku merindukan Raymond. Aku ingin kembali ke duniaku sana dan melupakan kehidupan disini. Aku tidak mempunyai alasan untuk tinggal.
__ADS_1