
"Aku akan membuat pikiranmu hanya di penuhi olehku saja" Pangeran Sera terus menciumi leher Yuki.
"Pangeran..bisakah Kau berjanji satu hal padaku.."
Pangeran Sera melihat nada serius dalam perkataan yang di sampaikan Yuki. Jadi Dia berhenti untuk melihat Yuki.
"Di pertempuran yang akan terjadi nanti, berjanjilah padaku. Kau akan kembali dengan selamat. Apa Pangeran bisa melakukan hal itu untukku ?"
Pangeran Sera tersenyum. Dia mengecup dahi Yuki lembut.
"Apapun yang terjadi kedepannya, tidak perduli seberapa lama Aku harus menunggu atau sejauh apapun jarak Kita. Aku akan kembali padamu Yuki" bisik Pangeran Sera membuat Yuki merasa lega. Pangeran Sera mengalungkan tangan Yuki ke lehernya dan kembali mendekati Yuki.
Dia mencium bibir Yuki penuh perasaan.
Hari ini Yuki akan ke kuil untuk melakukan doa. Puncak dari perayaan Jabaran sebentar lagi akan di adakan. Di seluruh kota pernak-pernik perayaan mulai menghiasi setiap sudut jalan.
Sebelum berdoa, Yuki telah selesai membersihkan kamar Lekky dan mencuci semua bajunya. Lekky tidak senang jika ada orang lain yang datang dan menyentuh barang-barangnya. Jadi Yuki yang membersihkan semuanya sendiri. Pangeran Sera tidak melarang Yuki. Membiarkan Yuki melakukan kebiasaannya selama ini meskipun Yuki sudah kembali menjadi seorang Putri.
Yuki sudah menceritakan mengenai kondisi Lekky, terutama setelah Dia di tinggal pergi oleh istrinya. Meskipun Pangeran Sera tidak banyak membantu mengatasi masalah Lekky, karena di lihat dari sudut lain tetap Lekky telah salah karena menganggu rumah tangga orang lain dan membunuh seluruh penghuni Bangsawan Tua di Argueda. Tapi Pangeran Sera mengerti dan membiarkan Yuki untuk terus menemani Lekky.
Sekarang Yuki mengenakan sebuah anting yang di hiasi permata yang berisi jiwa istri Lekky di telinga kirinya. Sementara Lekky mengenakan pasangannya yang lain di telinga kanannya. Yuki sengaja meminta anting Lekky sebagai jaminan kepada Yuki, bahwa Lekky akan tetap hidup dan kembali padanya di manapun nanti Lekky berada.
Yuki mencuci baju di halaman belakang dengan di bantu oleh Curly.
Setelah mencuci baju dan menjemur pakaian. Yuki mengangkat keranjang kosong. Di langit udara cukup cerah. Yuki optimis hujan tidak akan turun untuk beberapa hari ke depan.
Curly berada di pundaknya. Sedang memakan apel yang di berikan Pangeran Sera sebelum Pangeran Sera pergi untuk melakukan rapat.
__ADS_1
Mereka berjalan dengan tenang, menyusuri jalan untuk kembali ke kamar Pangeran Sera yang ada di sekolah.
Pangeran Sera belum selesai rapat. Jika iya Dia pasti sudah menghubungi Yuki. Lekky pun sudah menghilang entah kemana semenjak pagi. Sedangkan keluarga Darmount yang lain sibuk dengan tugas yang di berikan pada Mereka.
Yuki lapar. Dia akan segera kembali ke dalam kamar dan meminta sesuatu yang bisa di makan. Sebenarnya baru saja Bangsawan Voldermont menghubunginya untuk mengajak Yuki makan siang bersama. Tapi Yuki menolak dengan berbagai alasan.
Yuki merasa tidak sehat semenjak pagi. Mungkin karena cuaca yang tidak menentu ditambah dengan beban pikiran yang harus di tanggung Yuki. Membuat kesehatannya sedikit terganggu. Jadi Yuki memutuskan lebih baik Dia tetap berada di dalam kamar dan menunggu Pangeran Sera atau Lekky kembali.
Dalam perjalanan kembali, Yuki tertegun saat melihat seorang nenek berada di tengah kolam ikan yang terletak di taman belakang gedung Basmana. Tempat yang Dia lewati sangat sunyi dan jarang di lalui orang. Nenek itu sedang membungkuk di tengah kolam, satu tangannya menggengam erat tongkat yang membantunya untuk berdiri, sementara tangan yang lain mengaduk air di depannya.
Dia seperti sedang mencari sesuatu.
Ada kesedihan yang terlihat di wajahnya.
"Apa yang di lakukannya di sana Curly ?" Tanya Yuki dalam hati.
Curly yang menghilangkan sosoknya dan bersandar di bahu Yuki mendongak sesaat untuk melihat orang yang di maksud Yuki.
"Dia sedang mencari cincin kawinnya yang baru saja di lempar anak angkatnya ke dalam kolam"
"Apa ?. Kenapa ?" Tanya Yuki terkejut.
"Saat mendapat kabar bahwa Anak gadisnya akan melangsungkan pernikahan dengan seorang Panglima perang dari negeri Garduete, nenek itu datang dari desa untuk menemui anaknya. Dia ingin memberikan cincin kawinnya agar bisa di gunakan untuk mas kawin sesuai tradisi negeri ini. Tapi karena malu jika kehidupannya di ketahui orang banyak, anak gadisnya justru menolak dan langsung mengusir Nenek itu pergi. Dia juga melemparkan cincin kawin yang di berikan ke kolam. Padahal hanya itu satu-satunya harta berharga yang di miliki Nenek itu"
"Tega sekali"
"Memang tega. Namanya manusia itu makhluk paling hina, Mereka sama sekali tidak tahu berterimakasih dan serakah. Makanya Aku tidak mempercayai orang lain selain Tuan Lekky"
__ADS_1
"Aku selalu memberimu makanan yang Lekky tidak mau memberikannya padamu" tegur Yuki pelan.
"Baiklah, selain Kau dan Tuan Lekky. Aku tidak mempercayai orang lain" Curly kembali memakan apelnya. "Kasihan Nenek itu, Dia merawat dan membesarkan bayi yang di temukannya di hutan seperti anak sendiri. Tapi ketika besar, anak itu malah tidak tahu diri dan justru membuat susah. Dia menjual semua tanah Nenek itu untuk pergi kemari dan hidup mewah tanpa memikirkan nasib ibunya"
"Ayo bantu Dia. Aku akan membelikanmu dua kilo apel segar jika Kita berhasil menemukan cincin itu" ajak Yuki cepat. Yuki meletakan keranjang cuciannya di pinggir kolam dan tanpa ragu langsung masuk ke dalam kolam. Dia sangat terkejut, meski kolam ikan ini dangkal tapi airnya sangat dingin. Sebentar saja Yuki sudah mengigil kedinginan.
Dengan hati-hati melangkah agar tidak terpeleset jatuh. Yuki berjalan menghampiri Nenek yang masih membungkuk untuk mencari cincin kawinnya. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran Yuki di dekatnya.
Pakaiannya terbuat dari kain katun biasa, yang penuh dengan tambalan. Ada gurat kesedihan yang jelas di wajahnya. Masih terlihat bekas air mata di sudut matanya ketika Yuki mendekat dan menepuk lembut bahu nenek itu.
Nenek Marple, terkejut dan langsung menoleh untuk melihat siapa di dekatnya. Harapannya seketika sirna ketika menyadari gadis yang berada di dekatnya bukan anak yang di harapkannya datang. Namun gadis di depannya sangat cantik. Kulitnya putih bersih dengan wajah yang ayu menawan. Membuat siapapun tidak akan bosan ketika memandangnya.
"Nenek...apa yang Nenek lakukan di sini ?" Tanya Yuki berpura-pura tidak mengerti.
Nenek Marple terkejut dan kemudian berkata dengan suara bergetar menahan dingin dan perasannya. "Maafkan Aku nak, Aku hanya mencari cincinku yang terjatuh di kolam. Tolong jangan laporkan Aku kepada tuanmu. Aku berjanji setelah menemukannya, Aku akan pergi dari sini"
Yuki terdiam. Nenek Marple rupanya mengira Yuki adalah seorang pelayan. Yuki tidak menyalahkan siapapun jika Nenek Marple mengiranya begitu.
Yuki hanya mengenakan pakaian dari kain biasa, dengan sedikit make up tipis di wajahnya dan tanpa mengenakan perhiasaan apapun selain satu anting di telinga kiri dan cincin kawin di jari manis. Lagipula tidak lucu jika Yuki berdandan ala Putri Kerajaan hanya untuk mencuci baju di sumur belakang sekolah.
"Aku tidak akan memberitahu siapapun" ujar Yuki tulus. "Tapi di sini sangat dingin. Badan Nenek sudah gemetar begini. Lebih baik Nenek menepilah dan biarkan Aku membantu untuk mencari cincinmu"
__ADS_1