Morning Dew

Morning Dew
196


__ADS_3

"Kucing kecil, jangan berwajah seperti itu" Bangsawan Voldermont mencubit kedua pipi Yuki sehingga membuat Yuki mengerang kesakitan. Dia langsung menepis tangan Bangsawan Voldermont dan bergeser duduk menjauh. Yuki mengelus kedua pipinya kesakitan.


"Kalau Kau berwajah seperti itu. Aku takut Aku bisa berubah pikiran dan membawamu kabur dari istana ini" seloroh Bangsawan Voldermont sembari memasang wajah menderita.


Yuki tersenyum mendengar ucapan Bangsawan Voldermont. Dia tidak menyangka, Dia akan sesenang ini duduk bersama dengan Bangsawan Voldermont. Mengingat pertemuan pertama Mereka yang kurang baik. Semua di sebabkan sifat flamboyan Bangsawan Voldermont yang menurut Yuki sagat berlebihan.


Dulu Dia sangat membenci Bangsawan Voldermont. Sekarang Yuki justru di hibur olehnya.


"Bagaimana rapat hari ini ?" Tanya Yuki akhirnya.


Bangsawan Voldermont tampak terkejut. Tapi dengan cepat Dia menyembunyikan perasaannya dan mengubah ekpresi di wajahnya, bersikap datar seolah tidak tahu apa-apa. 


"Kau tidak perlu tau rahasia negara. Otakmu tidak akan sampai jika memikirkannya. Lebih baik Kau pikirkan saja, Bagaimana agar ponakanku ini tetap sehat selama di dalam perutmu" ujar Bangsawan Voldermont mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Apakah rapat mengenai kandunganku juga merupakan rahasia negara ?" Tanya Yuki lagi. Menolak untuk mengubah topik pembicaraan.


Yuki tahu. Hari ini kerajaan mengadakan rapat tertutup untuk membahas mengenai gosip yang sedang beredar mengenai kehamilan Yuki. 


Karena Yuki adalah calon ratu yang di tunjuk oleh dewa. Dia tidak mungkin akan di singkirkan. Tapi tidak begitu dengan anak yang ada dalam kandungan Yuki. Kerajaan tidak mau mengambil resiko dengan membiarkan anak yang di kandung Yuki hidup. 


Yuki tahu, kerajaan sangat bersikeras agar kandungan Yuki di gugurkan. Karena Mereka tidak yakin anak yang ada dalam kandungan Yuki adalah anak dari Pangeran Riana. Karena jika anak yang di kandung Yuki adalah anak dari Pangeran Sera. Pertempuran dua kerajaan besar akan terjadi. Dan ancaman kehancuran negeri sangat nyata menghantui Mereka.


Bangsawan Voldermont menepuk punggung tangan Yuki yang terkulai lemah di pangkuan. Menatap mata Yuki dalam. "Aku dan Nenek akan berusaha sebaik mungkin untuk melindungi kalian berdua" bisik Bangsawan Voldermont lirih. Yuki menundukan kepala. Menangis dalam diam. 


Dia tidak mengerti. Apa salahnya dan apa salah anak yang di kandungnya. Bukan Yuki yang menginginkan keturunan terlebih dahulu. Tapi Mereka. Sekarang, ketika Yuki telah mengandung. Mereka justru tidak mempercayai Yuki dan berniat mencelakakan anak yang ada di kandungannya.


Anak yang ada di perut Yuki adalah anak Pangeran Riana. Meskipun Yuki belum bisa memberikan jawaban, tapi Dia sangat menjaga diri untuk tidak di sentuh laki-laki lain termasuk Pangeran Sera. Seperti Pangeran Riana yang menyentuhnya.


Yuki tidak tahu lagi harus berbuat apa. Perasaanya terasa kebas.


Bangsawan Voldermont menarik Yuki yang menangis tergugu. Memeluk Yuki dengan hangat. Satu hal yang tidak di ketahui Yuki. Ucapannya mengenai membawa Yuki keluar istana adalah serius. Tapi Bangsawan Voldermont memilih menjadikan itu sebagai rahasia dalam hidupnya. Dia tidak mungkin mengkhianati Riana. Mereka adalah saudara.

__ADS_1


Meskipun sekarang, Bangsawan Voldermont sangat menentang sikap yang di ambil Riana pada Yuki.


Yuki terisak. Hatinya hancur. Ketidak percayaan Pangeran Riana yang lebih menghancurkan Yuki. Apa gunanya jika yang lain percaya tetapi Pangeran Riana tidak.


 


Apa gunanya semua itu bagi Yuki dan janinnya.


 


Yuki berjalan dengan gotai menuju kamarnya sambil mengusap perutnya. Wajahnya sembab. Tapi Dia sudah jauh lebih tenang. Bangsawan Voldermont membiarkan Yuki menangis sampai puas sebelum akhirnya pergi meninggalkan Yuki. Dia berjanji akan memperjuangkan Yuki dan anak di kandungan Yuki.


Hati Yuki terasa hampa. Namun Dia bertekad. Tidak peduli apa pendapat orang lain. Tapi Dia akan mempertahankan bayinya. Yuki tidak perduli bahkan jika itu bisa membuatnya kehilangan nyawa. Bagi Yuki, nyawa kecil dalam perutnya ini sangatlah berarti.


Yuki sangat menyayanginya.


Dia adalah hidup Yuki.


Yuki berhitung dalam hati. Sudah berapa lama Pangeran Riana tidak masuk ke kamar ini. Semenjak liburan itu. Sudah tiga minggu lamanya. Yuki tidak pasti. Tapi Dia tidak perduli Pangeran Riana akan datang atau tidak.


Dengan acuh Yuki berjalan melewati Pangeran Riana. Tapi Pangeran Riana sudah keburu mencekal tangan Yuki kuat. Menghentikan langkah Yuki.


"Dari mana saja Kau" Kata Pangeran Riana dingin menahan amarah.


"Bukan urusanmu" Kata Yuki sembari menepis tangan Pangeran Riana sampai lepas. Yuki mundur beberapa langkah sambil memegangi perutnya. Dia takut Pangeran Riana akan melakukan sesuatu yang menyakiti anaknya.


Yuki kembali berbalik tapi Pangeran Riana kembali mencekal tangan Yuki dan memaksa Yuki untuk menatapnya.


"Katakan padaku dengan jelas Yuki. Anak siapa yang sedang Kau kandung ini"


"Anakku. Ini adalah anakku" jawab Yuki lantang. Dia tidak takut apapun. Seperti seorang Ibu yang siap mati demi melindungi anaknya. "Aku tidak akan pernah membiarkan Kalian menyakiti anakku. Tidak akan pernah. Aku tidak perduli soal urusan kerajaan kalian, yang pasti. Aku akan melindungi anak ini sampai mati"

__ADS_1


Pangeran Riana mengepalkan tangannya sampai seluruh ototnya terlihat.


"Jika sampai terjadi sesuatu dengan anakku karena ulah Kalian. Ingat ini Pangeran Riana, Aku.. tidak akan memaafkanmu sampai mati" ujar Yuki lagi di tengah ketegangan yang terjadi.


Yuki melangkahkan kaki menjauhi Pangeran Riana. Berjalan kembali keluar kamar. Terdengar suara benda pecah dan teriakan amarah Pangeran Riana dari dalam kamar. Yuki sudah tidak perduli. Dia terus melangkah. Menuju taman tengah. Yuki duduk di bangku taman. Menangis seorang diri.


 


"Putri, Kami membawa sup untuk Putri" ujar pelayan saat memasuki kamar. Di tangannya Dia membawa nampan berisi sup dalam mangkok yang uapnya masih mengepul. Yuki yang sedang duduk membaca di tengah ruangan, menoleh saat mencium aroma menggiurkan dari sup yang di bawa pelayan. Ketika mangkuknya di letakan di depan Yuki. Yuki merasa langsung lapar.


"Wanginya enak sekali" kata Yuki senang.


Dia mengambil sendok dan tanpa menunggu lama, Yuki langsung memakan sup itu. Perutnya terasa hangat. Yuki memakan semuanya dengan lahap.


Setelah selesai. Dia meletakan sendok dan mengelap mulutnya.


"Sup apa ini ?" Tanya Yuki penasaran. Dia belum pernah makan sup yang di hidangkan hari ini sebelumnya.


Dua orang pelayan yang membawa sup saling berpandangan sejenak dengan wajah serba salah. Kemudian menundukan kepala, tidak berani menatap Yuki.


Membuat Yuki menjadi waspada.


Yuki ingin berdiri. Tapi tiba-tiba perutnya terasa melilit yang sangat hebat. Para pelayan langsung meraih Yuki, ketika Yuki nyaris ambruk ke lantai kamar.


"Putri.." panggil Mereka panik.


"Perutku..sakit sekali..." Kata Yuki meringis. Saking sakitnya, air mata Yuki sampai menetes. Para pelayan mengalungkan lengan Yuki di bahu Mereka. Membantu Yuki untuk berjalan. Yuki melangkah dengan susah payah. Dia mengerang kesakitan saat gelombang sakit menghantam dari dalam perutnya. Keringat dingin mengalir di keningnya. "Ada apa ini.." isak Yuki tidak mengerti.


Dia terus melangkah ketika terasa cairan merembes di kakinya. Ketika Yuki menundukan kepala untuk melihat. Dia terkejut.


Darah keluar dari pangkal pahanya. Mengalir sampai betisnya.

__ADS_1


 


__ADS_2