
"Aku.." Yuki terbatuk. Tenggorokannya kering kerontang. Pangeran Sera dengan sigap duduk di samping Yuki. Membantu Yuki duduk. Menyandarkan tubuh Yuki di tumpukan bantal di belakang, dengan lengan masih menopang punggungnya. Dan mengambilkan Yuki segelas air yang telah di sediakan di samping meja.
Yuki menerima gelas yang di berikan Pangeran Sera. Rasa getir terasa di ujung lidah, bercampur dengan aroma dedaunan yang khas.
Pangeran Sera memberi Yuki permen gula-gula. Untuk mengurangi rasa tidak enak di mulutnya akibat ramuan yang baru di minumnya.
Setelah memastikan Yuki tidak memutahkan kembali ramuannya, Pangeran Sera kembali menyadarkan Yuki di bantal.
"Aku akan meminta penjaga untuk memanggil Naru agar bisa memeriksamu" ujar Pangeran Sera lembut. Tanpa menunggu persetujuan Yuki Dia langsung berjalan menuju pintu keluar untuk memanggil penjaga pintu.
"Panggilkan Naru, katakan Putri Yuki baru saja sadar" perintah Pangeran Sera tegas. Penjaga Pintu langsung pergi untuk melaksanakan perintah. Pangeran Sera tidak menunggu untuk menerima konfirmasi. Dia berbalik menghampiri Yuki. Tidak ingin membiarkan Yuki sendiri terlalu lama.
Yuki sudah jauh lebih sadar, melihat sekeliling dengan wajah kebingungan. "Aku ada di mana ?" Tanya Yuki binggung.
"Kita berada di balai pengobatan milik Naru. Tenang saja, jangan khawatirkan apapun. Naru akan segera datang dan memeriksa kondisimu" Pangeran Sera memeluk Yuki lembut. Dia tersenyum menghibur Yuki, tapi sesungguhnya Dia sedang meyakinkan dirinya sendiri.
"Sudah berapa lama Aku tidak sadarkan diri. Apa yang sebenarnya terjadi ?"
Pangeran Sera mempererat pelukannya. Punggungnya tampak tegang. "Kita akan membicarakan hal ini jika Naru sudah memastikan kondisimu. Sekarang jangan pikirkan apapun. Fokus saja akan kesembuhanmu" pinta Pangeran Sera sembari memperbaiki selimut yang menutupi kaki Yuki.
Yuki menganggukan kepala mengerti. Dia memutuskan untuk tidak membantah Pangeran Sera.
Tidak berapa lama, pintu terbuka. Pendeta Naru masuk diikuti Rena dari belakang. Rena nyaris menangis melihat Yuki akhirnya sadar dari komanya. Tapi Dia berhasil menahan diri dan membantu Pendeta Naru untuk menyiapkan keperluannya saat memeriksa Yuki.
Yuki membiarkan Pendeta Naru memeriksa denyut nadinya. Dengan tenang menjawab beberapa pertanyaan Naru mengenai kondisi tubuh yang di rasakan. Pangeran Sera duduk dengan tenang, mendengarkan dengan seksama. Dia tidak menyela sama sekali pembicaraan Yuki dengan Pendeta Naru. Pangeran Sera juga tidak bergeming di tempatnya. Sepertinya Dia tidak ingin berpisah dengan Yuki meskipun hanya satu detik.
__ADS_1
"Bagaimana ?" Tanya Pangeran Sera akhirnya ketika Pendeta Naru selesai memeriksa Yuki.
"Putri baru saja melewati kondisi kritisnya. Hanya saja saat ini kesehatan Putri belum stabil, jadi meskipun Putri telah sadar dari komanya, Saya terpaksa menahan Putri untuk tetap tinggal di ruangan ini tujuh hari atau lebih, sampai kondisi Putri benar-benar stabil dan siap di pindahkan kembali ke kamar"
"Lakukan yang menurutmu baik" jawab Pangeran Sera tenang.
"Hamba akan menyiapkan obat-obatan untuk memperbaiki kondisi Putri"
Pendeta Naru berdiri, Dia berjalan ke meja kerjanya dan mulai memilih bahan obat yang di butuhkan dari rak di belakang Meja. Dengan tenang, mulai menggiling semua campuran bahan sampai bercampur rata.
Rena membantu dengan mempersiapkan tungku. Menjerang air di atasnya. Menyusun kembali semua benda yang di ambil Pendeta Naru ke tempatnya.
Pendeta Naru memasukkan beberapa daun dan akar kering ke panci tanah liat, tempat Rena menjerang air. Tercium aroma menyengat yang membuat Yuki mual.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku ?" Tanya Yuki tidak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya.
Pangeran Sera mengelus rambut Yuki dengan lembut. Dia terdiam beberapa saat, sedang berpikir apakah Dia akan memberitahukan hal yang sebenarnya kepada Yuki atau tidak.
"Kau terkena racun Gautri" ujar Pangeran Sera setelah menimbang cukup matang. Dengan memberitahukan bahaya pada Yuki, meskipun Dia khawatir Yuki akan ketakutan ketika mendengarnya. Dia berharap untuk ke depannya Yuki akan jauh lebih waspada daripada sebelumnya.
Yuki mengerjap, menatap Pangeran Sera dengan wajah kebingungan.
"Racun gautri..?" Tanya Yuki dengan suara pelan.
"Racun Gautri adalah racun kuat yang di ambil dari sepuluh bisa hewan berbahaya. Jika terkena racun Gautri, syaraf tubuh akan melemah dan organ akan kehilangan fungsinya. Jika terlambat memberikan pertolongan sedikit saja, maka orang yang meminumnya tidak akan dapat di selamatkan" ujar Pendeta Naru sambil menyaring rebusan obat ke sebuah gelas.
__ADS_1
"Cukup, jangan membuat Yuki semakin takut" hardik Pangeran Sera tidak suka. Pendeta Naru langsung membungkukan badan tanda meminta maaf.
Yuki tercenung ketika mendengar penjelasan dari keduanya. Ingatannya kembali lagi pada kejadian di aula. Ketika tiba-tiba nafasnya terasa sesak, tenggorokannya seperti di bakar dari dalam. Tubuhnya lemas tidak bertenaga. Perlahan rasa terbakar di tenggorokannya menjalar ke seluruh tubuhnya. Saat Dia terbatuk karena berusaha mencari udara untuk bernafas, darah menyembur keluar melalui hidung dan mulutnya.
Yuki nyaris tidak mengerti bagaimana caranya sampai Dia terkena racun mematikan seperti itu. Dia makan satu meja dengan Pangeran Sera. Memakan apa yang di makan Pangeran Sera. Tapi nyatanya hanya Yuki yang terkena racun.
"Aku sudah menyelidiki bagaimana racun itu tidak mengenaiku" ujar Pangeran Sera menyuarakan pikiran Yuki. "Kau tenang saja, Aku pasti akan menangkap pelakunya dan menemukan motif di balik kejadian ini" janji Pangeran Sera bersungguh-sungguh.
Pangeran Sera tidak banyak bercerita mengenai racun Gautri. Jadi ketika Yuki hanya berdua dengan Rena. Yuki meminta Rena menceritakan padanya secara terperinci mengenai apa yang Rena ketahui.
Racun Gautri di letakkan pada sari buah yang di hidangkan di meja Yuki dan Pangeran Sera. Sementara penawarnya di letakkan di botol anggur yang terletak di meja yang sama. Itulah sebabnya Pangeran Sera tidak terkena racun Gautri.
Siapapun orang yang meletakan racun dan penawar di minuman itu adalah orang yang berani. Pangeran Sera sangat yakin, orang itu telah memersiapkan semua dengan matang. Dia cukup dekat dengan Yuki, sehingga tahu bahwa Yuki hanya minum sari buah dan menghindari minuman berakohol seperti anggur yang di minum Pangeran Sera.
Pelakunya adalah orang berdarah dingin, cerdas dan tidak terburu-buru dalam bertindak. Seseorang yang sangat berbahaya.
Tidak ada yang tahu motifnya melakukan tindakan itu. Apakah dengan tujuan untuk melengserkan Pangeran Sera dari kedudukannya. Atau memang bertujuan untuk menyingkirkan Yuki untuk selamanya.
"Sumpah Ksatria yang di lakukan Pangeran Sera sebelumnya, membuat Pangeran hanya bisa menikahi Putri. Jika suatu saat nanti Putri dan Pangeran mampu memiliki anak laki-laki, kedudukan Pangeran Sera sebagai perwaris tahtah akan semakin kuat. Namun jika terjadi sesuatu dengan Putri, atau Putri sampai terbunuh. Kedudukan Pangeran Sera pasti akan dengan mudah di lengserkan. Jika hal itu terjadi. Perebutan kekuasaan akan kembali terjadi. Dan di khawatirkan akan menimbulkan banyak korban yang tidak bersalah" jelas Rena pelan. Dia takut ada orang yang melaporkan pembicaraannya dengan Yuki.
Yuki sudah di pindahkan ke kamarnya, ketika Pendeta Naru sudah memastikan Dia stabil dan tidak perlu lagi tinggal di dalam balai pengobatan. Yuki benci tempat itu. Bau obat dan ramuan pahit yang di paksa untuk di minum dengan alasan kesehatannya. Sekarang Dia lega sudah terbebas dari penderitaan seperti itu.
__ADS_1